Lydia CSES - Tetap Mengasihi Ketika Hidup Tidak Sesuai Harapan
- 10 Feb
- 16 menit membaca
Catatan Khotbah: “Tetap Mengasihi Ketika Hidup Tidak Sesuai Harapan.”
Ditulis ulang dari sharing Ibu Pdt. Lydia CSES di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 8 Februari 2026.
Biasanya seseorang itu tidak selalu langsung marah terhadap Tuhan, tetapi dia akan marah pada Dia ketika melihat hidupnya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharap dan diinginkan.
Contohnya. Ada seseorang yang memiliki harapan bisa menjalani kehidupan pernikahan dapat berjalan sampai selamanya, tetapi di tengah perjalanan, salah satu dari pasangan tersebut dipanggil Tuhan untuk berpulang ke rumah Bapa di Surga. Ada juga yang berharap bahwa anak-anaknya dapat bertumbuh dengan baik dan taat pada kedua orang tuanya, tetapi ketika anak-anak mulai menginjak usia remaja.. mereka mulai mencari apa arti dan jati diri, dan tak sedikit dari pihak orang tua yang menilai bahwa ekspresi anak-anak mereka sebagai tindakan pemberontakan melawan otoritas kedua orang tuanya.
Karena itulah tim Pastoral selalu memberi nasihat dalam konseling pernikahan, bahwa kehidupan di dunia pernikahan itu tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang indah saja, tetapi bisa jadi diizinkan melalui beberapa kesusahan, luka batin yang bisa didapat dari pasangan, dan harapan yang tak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Ada juga orang-orang yang dulunya setia melayani Tuhan di dalam gereja-Nya, tetapi mereka lalu merasa diabaikan dan tak diperhitungkan. Sehingga pada akhirnya mereka merasa kecewa, lalu memutuskan untuk berhenti dan tidak mau lagi melayani Dia.
Melalui semua pergumulan ini, kita merasa capai dan bertanya-tanya sampai kapan waktunya kita harus bertahan melalui semuanya ini?
Tetapi kita dapat belajar dari kisah seseorang di dalam Alkitab, yang bisa jadi sebagian besar dari kita belum pernah mendengar kisahnya. Melalui dirinya kita dapat belajar bagaimana caranya tetap mengasihi walau harapan terasa sudah runtuh. Bagaimana caranya untuk tetap setia terhadap panggilan di dalam kehidupan kita, walau keadaan yang terjadi masih banyak mengalami kesulitan dan diizinkan melalui berbagai pergumulan.
Seseorang ini tidak memiliki gelar yang hebat, Alkitab tidak mencatat bahwa dirinya telah melakukan berbagai mukjizat yang spektakuler, merupakan bekas gundik / selir raja.. tetapi apa yang dilakukannya telah menggerakkan hati Allah, mengubah keputusan raja, memulihkan martabat keluarga, dan juga memulihkan bangsanya.
Pada Mulanya..
Kisah ini dimulai dari akal orang Gibeon,
“Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai, maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali, dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka. Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: “Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami.”” (Yosua 9:3-6).
Menganggapi hal ini, firman Tuhan menulis:
“Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN. Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.” (ayat 14-15).
Setelah mengetahui bahwa orang-orang Gibeon tinggal di dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka.. Yosua memanggil mereka dan berkata demikian,
“Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami ini tinggal sangat jauh dari pada kamu, padahal kamu diam di tengah-tengah kami? Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku.” (ayat 22-23).
Dari ayat di atas kita mendapati bahwa Yosua dan bangsa Israel pada saat itu tidak meminta keputusan pada Tuhan terlebih dahulu, mereka terburu-buru mengambil keputusan:
“mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.” (ayat 15).
Melanggar Perjanjian..
Tuhan memandang perjanjian sebagai ikatan yang suci dan tidak boleh dilanggar. Di dalam zaman Raja Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut. Ketika Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN, berfirmanlah Dia:
“Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.” (2 Samuel 21:1).
Di ayat selanjutnya dijelaskan bahwa,
“Lalu raja memanggil orang-orang Gibeon dan berkata kepada mereka, orang-orang Gibeon itu tidak termasuk orang Israel, tetapi termasuk sisa-sisa orang Amori dan walaupun orang Israel telah bersumpah kepada mereka, Saul berikhtiar membasmi mereka dalam kegiatannya untuk kepentingan orang Israel dan Yehuda,” (ayat 2).
Memang tidak semua masalah yang terjadi itu diakibatkan oleh dosa, tetapi setiap dosa yang dilakukan pasti memiliki konsekuensinya. Tak sedikit yang mengalami “langit tembaga” dan banyak orang yang setelah itu menyalahkan Tuhan.. alih-alih mereka bertanya dan merenung dosa apa yang sudah dilakukannya terhadap Dia.
Tetapi kita dapat belajar dari keteladanan Daud, dia bertanya benar, dan mendapatkan jawaban yang benar dari-Nya. Kita dapat belajar bahwa Dia adalah Tuhan atas covenant / perjanjian. Dia menghargai setiap covenant yang telah dibuat oleh umat-Nya.
Dari ayat di atas kita juga telah belajar bahwa Yosua pada saat itu telah membuat covenant dan tidak bertanya pada Tuhan terlebih dahulu. Melaluinya kita dapat belajar bahwa, jangan pernah terkecoh dengan penampilan luar karena sesungguhnya penampilan itu tidak menunjukkan apa yang susungguhnya berada di dalam dirinya.
Kalau kita terburu-buru membuat sebuah janji dan kita harus menghadapi berbagai konsekuensi.. bersungguh hatilah berbalik pada Tuhan. Mintalah hikmat dan kemurahan-Nya untuk menuntun, apa yang harus kita lakukan di selanjutnya.
Sekalipun Yosua tahu bahwa dirinya telah ditipu, tetapi dia tetap setia memegang covenant. Hal ini kita dapati di ayat selanjutnya ketika kelima raja orang Amori berkumpul dan bergerak maju: raja Yerusalem, raja Hebron, raja Yarmut, raja Lakhis dan raja Eglon, mereka beserta seluruh tentara mereka. Mereka berkemah mengepung Gibeon dan berperang melawannya (Yosua 10:5).
Di ayat selanjutnya dikatakan,
“Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu. Tidak seorangpun dari mereka yang akan dapat bertahan menghadapi engkau.” Lalu Yosua menyerang mereka dengan tiba-tiba, setelah semalam-malaman bergerak maju dari Gilgal. Dan TUHAN mengacaukan mereka di depan orang Israel, sehingga Yosua menimbulkan kekalahan yang besar di antara mereka dekat Gibeon, mengejar mereka ke arah pendakian Bet-Horon dan memukul mereka mundur sampai dekat Azeka dan Makeda.” (ayat 8-10).
Tetapi kemudian Raja Saul melanggar perjanjian / covenant ini, dan Daud terkena dampaknya, karena Daud telah menggantikan posisi dari Saul.
Lalu Daud bertanya pada orang-orang Gibeon,
“Apakah yang dapat kuperbuat bagimu dan dengan apakah dapat kuadakan penebusan, supaya kamu memberkati milik pusaka TUHAN?” (2 Samuel 21:3).
Lalu berkatalah orang-orang Gibeon itu kepadanya di ayat 4-6:
“Bukanlah perkara emas dan perak urusan kami dengan Saul serta keluarganya, juga bukanlah urusan kami untuk membunuh seseorang di antara orang Israel.” Tetapi kata Daud: “Apakah yang kamu kehendaki akan kuperbuat bagimu?” Sesudah itu berkatalah mereka kepada raja:
“Dari orang yang hendak membinasakan kami dan yang bermaksud memunahkan kami, sehingga kami tidak mendapat tempat di manapun di daerah Israel, biarlah diserahkan tujuh orang anaknya laki-laki kepada kami, supaya kami menggantung mereka di hadapan TUHAN di Gibeon, di bukit TUHAN.”
Lalu berkatalah raja:
“Aku akan menyerahkan mereka.”
Tujuh orang anak laki-laki harus digantung di hadapan TUHAN di Gibeon, di bukit TUHAN.
Hal ini mengingatkan kita pada kematian yang harus dijalani Tuhan Yesus, yakni digantung di atas salib. Cara kematian ini adalah cara yang paling memalukan, di mana Tuhan Yesus disalib di Golgota, yang artinya Tempat Tengkorak.
Raja Daud merasa sayang kepada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul. Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu, kemudian diserahkannyalah mereka ke dalam tangan orang-orang Gibeon itu. Orang-orang ini menggantung mereka di atas bukit, di hadapan TUHAN. Ketujuh orang itu tewas bersama-sama. Mereka telah dihukum mati pada awal musim menuai, pada permulaan musim menuai jelai (ayat 7-9).
Rizpa binti Aya, selir dari Saul tidak memiliki kesempatan untuk membela dan menjelaskan pada Daud saat itu, kedua anaknya langsung ditarik dengan paksa dan selanjutnya di depan matanya sendiri, melihat mereka digantung di atas bukit bersama dengan lima anak laki-laki dari Merab binti Saul. Detik demi detik Rizpa melihat kedua anak yang disayanginya, meregang nyawanya di atas tiang gantungan.
Melalui kisah Rizpa yang kehilangan kedua putranya, bisa jadi kita mengalami sesuatu yang sangat berharga, entah itu posisi, jabatan, harta, apa pun juga.. diambil paksa dari hidup kita.
Hal inilah yang juga dipergumulkan Daud,
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.” (Mazmur 13:2-5).
Rizpa: The Grieving Mother / Ibu yang Berduka.
Bila kita membaca di 2 Samuel 21:10-14 dengan sekilas, mungkin kita dapat membacanya dengan mudah dan cepat. Tetapi coba perhatikanlah bagaimana perasaan dan reaksi Rizpa yang telah kehilangan kedua putranya dengan terpaksa.
Zaman dahulu memiliki tradisi kalau ada anak laki-laki yang telah meninggal dunia selama Ibunya masih hidup, berarti sudah tidak ada lagi keturunan yang dapat melanjutkan garis keluarganya dan juga bertanggung jawab memelihara Ibunya.
Di ayat ini kita juga akan belajar bagaimana respon Rizpa dapat memberkati hidup kita.
Pertama. Love that stays in the place of pain. Kasih tetap tinggal di tempat yang menyakitkan.
“Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset,” (ayat 8).
Rizpa tidak memiliki kesempatan untuk membela, Saul sudah mati, kini anaknya diambil paksa untuk dikorbankan pada orang-orang Gibeon. Tetapi kita dapat melihat bagaimana kasihnya sebagai seorang Ibu yang terus menyayangi kedua putranya, dia tetap tinggal di tempat yang pahit..
“Lalu Rizpa binti Aya mengambil kain karung, dan membentangkannya bagi dirinya di atas gunung batu, dari permulaan musim menuai sampai tercurah air dari langit ke atas mayat mereka; ia tidak membiarkan burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari.” (ayat 10).
Biasanya seseorang yang cara matinya memalukan, martabatnya hilang. Tetapi Rizpa ini bukanlah seorang nabiah, dan tidak memiliki posisi spiritual apa pun. Dia melakukan kegiatan sederhana tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Dia membentangkan kain karung di atas gunung batu, dan menemani jenazah kedua anaknya sendirian.
Ada kalanya di dalam hidup ini kita bertindak dan berjuang sendirian, tidak ada seorangpun yang mau peduli terhadap apa yang kita kerjakan.. sama seperti yang diperbuat Rizpa, yang tetap berada di dekat jenazah kedua anaknya dan tidak membiarkan “burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari.” (ayat 10).
Rizpa mengalami kesedihan mendalam karena telah kehilangan kedua putranya, menahan malu teramat sangat karena cara mati anak-anaknya tidak terhormat, dan dirinya sama sekali tidak dapat mengubah situasi yang telah terjadi.
Tetapi Rizpa memutuskan untuk tetap berdiri tegak dan mempertahankan martabat keluarganya. Semua yang dilakukannya bukan karena dia kuat dengan tetap tinggal di atas gunung batu tersebut, tetapi karena kasihnya yang besar sebagai seorang Ibu yang menyayangi kedua putranya.. dia menolak untuk pergi meninggalkan jenazah mereka.
Hari-hari ini banyak orang meninggalkan begitu saja dunia pernikahan, hanya karena keadaannya sudah tidak lagi membahagiakan. Mereka sudah merasa capai, lelah, dan ingin dengan bersegera untuk mengakhiri. Demikian pula dengan banyak orang juga meninggalkan dunia pelayanan hanya karena mereka selama ini telah diabaikan, tidak diperhatikan, dan tidak lagi diperhitungkan. Kita merasa pelayanan yang selama ini dilakukan, tidak ada seorangpun yang mau menghargainya.
Bahkan ada orang-orang tertentu yang selama ini tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi dirinya harus menghadapi berbagai konsekuensi hukum. Padahal dirinya tidak memiliki andil 100 persen di dalam kasus yang sedang dihadapinya.
Hal ini sama seperti yang dialami Rizpa.
Sebagai seorang Ibu, dia menyayangi anak-anaknya walau situasi yang terjadi sudah menghancurkan hatinya. Hal ini sebagai gambaran dari kedua orang tua kita yang bisa jadi, tidak selalu dapat mengekspresikan kasih sayang yang mereka miliki sesuai dengan apa yang kita ingin dan harapkan. Tetapi kasih tetap setia berada di sana.
Ada seorang suami yang tetap mempertahankan kehidupan pernikahannya, walau dirinya sedang memasuki “masa kekeringan”. Dirinya tetap bertahan habis-habisan, dan Ibu Pdt. Lydia terus mendoakan dan memberi semangat agar Tuhan terus menguatkan dan memberikan mukjizat pada waktu dan kehendak terbaik-Nya.
Bisa jadi pada saat kita berdoa, masih belum terlihat ada satupun perubahan.. sama seperti Rizpa yang tetap bertahan di atas gunung batu tersebut.
Tetapi kita dapat belajar bahwa kasih yang sejati dapat terjadi bukan pada saat semuanya sedang berjalan dengan baik-baik saja, tetapi saat semuanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita ingin dan harapkan, kita memutuskan untuk tetap bertahan di tempat tersebut.
Rizpa sedih dan bisa jadi mengeluh mengapa anak-anaknya mati dengan tidak terhormat. Tetapi kasihnya sebagai seorang Ibu yang menyayangi anak-anaknya, memutuskan untuk tetap tinggal di tempat yang menyakitkan / gunung batu tersebut.
Kedua. Love that protects dignity when hope seems dead. Kasih yang tetap menjaga martabat, sekalipun harapan terlihat sudah tiada.
Bisa jadi semua orang menertawakan apa yang dilakukan Rizpa. Banyak orang menilai sudah sepantasnya ketujuh anak Saul digantung karena perbuatan Saul. Tetapi ini bukanlah salah dari kedua anak Rizpa dan juga Merab binti Saul. Mereka tidak tahu apa-apa, dan kini mereka harus menanggung perbuatan Saul di masa lalu.
Demikian pula dengan apa yang terjadi di dalam hidup kita, mungkin saja hari-hari ini kita harus menanggung akibat dari perbuatan seseorang di masa yang lampau.
Tetapi kisah Rizpa yang “tidak membiarkan burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari.” (ayat 10).. kita dapat belajar dari kasihnya sebagai seorang Ibu yang menyayangi kedua anaknya, dia tetap menjaga martabat mereka, sekalipun mereka sudah tiada dengan cara yang tidak terhormat. Semua hal ini didorong oleh kasihnya yang luar biasa sebagai seorang Ibu, bukan karena kekuatannya semata.
“..dari permulaan musim menuai sampai tercurah air dari langit ke atas mayat mereka..” (ayat 10).
Penggalan ayat di atas diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih selama 5 bulan, dan selama masa itu, Rizpa tetap setia menemani jenazah kedua putranya. Tanpa bersuara, tanpa kejelasan pasti sampai kapan dirinya akan terus menanti. Selama 5 bulan mengusir burung di siang hari dan binatang hutan di malam hari, bisa jadi dilakukan tanpa pernah beristirahat. Kasih sejatilah yang membuat dia mampu untuk bertahan sampai selama itu.
5 bulan jenazah tidak diberi formalin / bahan pengawet dan pembunuh kuman pada jenazah, pasti bau jenazah akan menyengat. Dari Yohanes 11:39 kita mendapati Lazarus sendiri sudah mati selama 4 hari dan sudah berbau. Apalagi ini sudah 5 bulan lamanya. Rizpa memang tidak dapat menghidupkan kembali kedua anaknya, tetapi dia menolak kehormatan anak-anaknya dirampas.
Kita memang tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu, tetapi saat kita hidup di dalam kebenaran firman Allah, hal itu akan menaikkan martabat kita. Firman-Nya berkata,
“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” (Amsal 14:34).
Apa itu kasih yang Alkitabiah? Yakni kasih yang tetap menjaga martabat, kalau ada nilai-nilai Kerajaan Allah, dan layak untuk diperjuangkan. Sekali lagi, kita memang tidak bisa mengubah masa lalu dan rasa sakit, tetapi kita masih bisa untuk menjalani kehidupan dengan mempertahankan kebenaran dan nilai-nilai dari firman Tuhan.
Sama seperti yang dilakukan Rizpa. Dia menolak untuk membiarkan anak-anak yang dikasihinya kehilangan harapan, karena tidak lagi ditemani Ibunya di hari terakhirnya di dunia.
Di dalam pernikahan sering kali juga ditemukan banyak ujian dan tantangan. Tetapi kita dapat belajar dari Rizpa yang menghormati dan menjaga dignity / martabat keluarganya, walau perasaannya terluka parah. Tetaplah menjaga integritas di dalam hidup, walau kecurangan seakan dinormalisasi.
Rizpa bertahan selama 5 bulan, di hadapan jenazah kedua anaknya dan juga kelima anak laki-laki dari Merab binti Saul. Sekalipun keadaan bisa jadi mencekam dan berbau menyengat, tetapi kasihnya kepada kedua putranya melenyapkan ketakutan. Rizpa tetap mempertahankan kehormatan anak-anaknya dengan tidak menahan semua anggota tubuhnya untuk melindungi jenazah mereka, dan menghalau semua hewan yang hendak mengusik tubuh jenazah dari kedua putranya.
Demikian pula dengan hari-hari ini, bisa jadi kita terus berjuang agar Tuhan memperhatikan apa yang kita doakan, sama seperti yang sudah diperjuangkan Rizpa. Selama itu layak untuk diperjuangkan dan ada nilai-nilai Kerajaan Allah yang terkandung di dalamnya.. teruslah berdoa dan jangan pernah berhenti untuk menaikkan permohonan kita di hadapan-Nya.
Kasih yang sejati tidak mengikuti arus dan tetap menjaga nilai-nilai Kerajaan Allah. Tetaplah menghormati pasangan meski hubungan sedang terluka, serta tetap menjaga integritas di tempat kerja sekalipun kecurangan dianggap normal.
Ketiga. Kasih yang setia menggerakkan hati raja.
“Ketika diberitahukan kepada Daud apa yang diperbuat Rizpa binti Aya, gundik Saul itu,” (Mazmur 21:11).
Seminggu Rizpa bertahan di atas gunung, bisa jadi banyak orang menertawakannya. Mengapa harus menunggunya, biarkan saja dimakan burung pemakan bangkai di siang hari dan binatang hutan di malam hari. Tetapi Rizpa terus menerobos apa yang dianggap tidak wajar pada saat itu. Sampai kurang lebih waktu 5 bulan berlalu, Rizpa tetap bertahan menemani jenazah dari kedua anaknya. Dari hal ini kita dapat belajar,
“Kesetiaan yang kita lakukan, pasti akan menggerakkan sesuatu.”
Firman Tuhan mengatakan,
“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.” (Mazmur 18:26-27).
Rizpa tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya, mungkin banyak orang telah mengabaikan dan menganggapnya sudah tidak waras. Tetapi ada mata Allah yang terus mengawasinya.
Bukankah firman Tuhan mengatakan,
“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:9).
Tidak ada yang sia-sia dari kesetiaan dan ketekunan yang kita lakukan selama ini. Semua pasti diperhatikan Allah yang penuh dengan kasih setia, terhadap anak-anakNya. Sering kali kita juga hanya sebatas percaya pada apa yang Alkitab katakan, tetapi dalam tindakan keseharian, kita sering meragukan kuasa dari firman-Nya.
Bp. dr. Paulus Rahardjo pernah berpesan mengenai suami / istri yang ingin menasihati pasangannya,
“Cukup tiga kali menyampaikan, setelah itu tutup mulut. Bukalah mulut kita dan lanjutkan dengan menaikkan permohonan doa kepada Tuhan.”
Pada waktu terbaik-Nya, Tuhan itu pasti bekerja. Dia pasti berbuat dan mengubah sesuatu.
Sama seperti yang dilakukan Rizpa. Selama 5 bulan lamanya dirinya tetap setia menemani jenazah kedua anaknya, sampai pada akhirnya ada yang melaporkan pada Daud mengenai apa yang sudah dilakukannya.
Dari ketekunan Rizpa kita dapat belajar,
“Apakah kita ini masih tetap setia untuk berdoa dan mengiring Tuhan, walau masih belum ada jawaban dan ‘langit terasa seperti tertutup’?”
Sama seperti yang dilakukan Rizpa. Apa yang diperbuatnya tidaklah spektakuler dan dramatis, tetapi dia melakukannya dengan konsisten.
Cucu dari Ibu Tirza mengatakan bahwa,
“Emak itu konsisten.”
Hal ini sama seperti yang dilakukan Rizpa. Dirinya merupakan silent warrior / pejuang yang bergerak dalam senyap, tidak berteriak, mengeluh, dan memberontak.. tetapi selama 5 bulan Rizpa setia menemani jenazah kedua anaknya dengan tujuan agar mereka dikebumikan dengan terhormat.
Demikian pula dengan Ibu Tirza yang merupakan Ibunda dari Pdt. Andreas Rahardjo. Dalam perjalanan menuju ke gereja untuk beribadah di hari Minggu, dirinya selalu memiliki rute yang sama untuk dilewati. Satu hari sebelumnya, di hari Sabtu, dirinya selalu menyiapkan uang di dompetnya tidak hanya digunakan untuk memberi persembahan di gereja saja, tetapi juga menyiapkan uang untuk dia berikan di setiap lampu merah yang pasti akan dilalui, di sepanjang rute ke gereja.
Inilah yang namanya konsisten. Tidak perlu sampai spektakuler dan dramatis. Kasih yang diberikan secara konsisten juga dapat menyembuhkan sesama. Bukan momennya yang besar, tetapi keputusan yang diambil dan dilakukan secara berulang kali, itulah yang akan menentukan.
Mungkin kita juga merasa capai karena selalu berkata “I love you” tetapi tidak pernah ada jawaban. Tetapi kasih yang dilakukan dengan setia, pada waktu terbaik-Nya kelak, akan berdampak besar.
Tetaplah konsisten dan setia dalam berdoa, sekalipun hal itu terlihat sederhana. Bangunlah kehidupan melalui hal sederhana dan rutinitas, sebab Tuhan dapat membawa dampak yang lebih besar lagi dari apa yang kita doakan selama ini.
Orang tua yang konsisten dan setia berdoa untuk anak-anaknya, dapat membentuk masa depan mereka. Orang-orang percaya yang setia dan taat untuk berdoa dan melakukan kebenaran firman-Nya, akan mengubah tempat kerjanya melalui karakter yang Tuhan mampukan untuk dapat serupa seperti Kristus. Kasih yang dilakukan dengan konsisten, dapat menyembuhkan hubungan di dalam pernikahan dari waktu ke waktu.
Love does not need a microphone to be powerful. Kasih yang sejati tidak membutuhkan pengeras suara untuk menunjukkan kekuatannya, tetapi membutuhkan konsisten dan kesetiaan.
Keempat. Love that opens Heaven. Kasih yang membuka pintu Surga.
Seharusnya sesudah tujuh anak laki-laki keturunan dari Saul digantung dan mati, Tuhan langsung menjawab doa dari Daud dan bangsa Israel. Tetapi sebelum ayat 14b terjadi yakni,
“..maka sesudah itu Allah mengabulkan doa untuk negeri itu.”
“..After that, God answered prayer for the land.”
Kita dapat membaca di ayat sebelumnya,
“maka pergilah Daud mengambil tulang-tulang Saul dan tulang-tulang Yonatan, anaknya, dari warga-warga kota Yabesh-Gilead, yang telah mencuri tulang-tulang itu dari tanah lapang di Bet-San, tempat orang Filistin menggantung mereka, ketika orang Filistin memukul Saul kalah di Gilboa. Ia membawa dari sana tulang-tulang Saul dan tulang-tulang Yonatan, anaknya. Dikumpulkanlah juga tulang-tulang orang-orang yang digantung tadi, lalu dikuburkan bersama-sama tulang-tulang Saul dan Yonatan, anaknya, di tanah Benyamin, di Zela, di dalam kubur Kish, ayahnya.” (2 Samuel 21:12-14a).
Kehormatan keluarga Saul ditegakkan terlebih dahulu dengan Daud yang memberi perintah untuk mengumpulkan tulang Saul, Yonatan, dan juga ketujuh orang anaknya yang digantung dan dikuburkan di tanah Benyamin di Zela, di dalam kubur Kish, ayahnya. Kita dapat membaca bahwa keluarga Saul mengalami pemulihan, dan semua ini bermula dari konsistensi yang telah dilakukan Rizpa selama 5 bulan menjadi silent warrior, tanpa berteriak dan juga tanpa penuh drama.
Tetaplah konsisten dalam berdoa dan taat melakukan kebenaran firman Tuhan, sebab kita tidak tahu bisa jadi pada suatu hari nanti, Tuhan akan menjawab permohonan doa kita menurut waktu dan kehendak-Nya yang terbaik.
Firman Tuhan mengatakan,
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” (Amsal 21:1).
Hanya TUHAN yang dapat mengubah hati seorang raja, dan setelah Daud menguburkan semua tulang dari Saul dan anak-anaknya, barulah Dia mengabulkan doa dan memulihkan negeri tersebut. Bukan hanya satu keluarga saja yang dipulihkan, tetapi sebuah bangsa juga dipulihkan Tuhan.
Manusia mengukur cinta yang dimilikinya hanya dengan perasaan emosi saja, tetapi Tuhan mengukurnya dengan endurance / daya tahan dan juga konsistensi.
Mungkin selama ini kita sudah setia mengasihi dan sudah berjuang mengupayakan yang terbaik, dan tidak ada ucapan terima kasih serta tak ada seorangpun yang menghargainya.. tetapi Tuhan melihat bagaimana kesetiaan dan konsistensi kita.
When love stays faithful, heaven responds. Saat kasih dengan setia tetap bertahan dan dilakukan dengan konsisten, maka Surga akan merespon.
Selama ini kita berdoa untuk siapa dan apa? Pada saat kita mau konsisten melakukannya, firman Tuhan mengatakan pada kita:
“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.” (Mazmur 18:26-27).
Tetaplah konsisten dan setia, karena hal itu tanpa kita sadari nantinya dapat menguatkan iman dan memberkati kehidupan banyak orang. Bisa jadi hari-hari ini kita sedang menghadapi pergumulan yang kita tidak tahu kapan waktu berakhirnya, dan kita ingin menyerah saja.. jujur kita ingin berkata enough is enough / cukup adalah cukup.
Kalau kita diizinkan untuk berurusan dengan sesuatu yang tidak kita harapkan, dan kita tidak tahu kapan waktu berakhirnya..
“Tuhan sedang melihat sampai sejauh mana kesungguhan dari konsisten kita.”
Bisa jadi melalui kesetiaan dan konsistensi kita dalam berdoa dan taat melakukan kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab.. Tuhan pada waktu terbaik-Nya akan membuat perubahan di dalam keluarga, sekolah, tempat bekerja, pelayanan, dan di manapun kita berada serta ditempatkan.
Kita dapat belajar dari keteladanan yang sudah diberikan Rizpa. Dirinya tidak bersuara, menjadi seorang silent warrior.. tetapi tindakannya berdampak luar biasa. Tuhan menjawab permohonan doanya, memulihkan kehormatan dari Saul dan juga anak-anaknya, serta membawa pemulihan dalam hidup bangsa Israel.
Ringkasan oleh Pdt. Andreas Rahardjo.
Bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua telah membuat perjanjian dengan Gibeon bahwa mereka akan mengayomi dan tidak berbuat jahat, tetapi Saul telah melanggar dan membasmi mereka dalam kegiatannya untuk kepentingan orang Israel dan Yehuda. Sampai di dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut dan ketika menanyakan petunjuk dari TUHAN, Dia berfirman bahwa “Pada Saul dan keluarganya telah melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.” (2 Samuel 21:1).
Ketika Daud bertanya pada orang-orang Gibeon hal apakah yang dapat diperbuat dan dengan apakah dapat diadakan penebusan, supaya mereka mau memberkati milik pusaka dari TUHAN.. orang-orang Gibeon meminta agar diserahkan tujuh orang anak laki-laki dari Saul, supaya mereka dapat digantung di hadapan TUHAN di Gibeon, di bukit TUHAN (ayat 6). Tetapi karena Daud merasa sayang pada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul (ayat 7)..
Alkitab menulis,
“Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu,” (ayat 8).
Rizpa tidak komplain dan menyalahkan siapa-siapa, tetapi dia tahu ada sesuatu yang tidak tepat:
“Mengapa kedua anaknya harus diambil paksa untuk digantung di atas bukit (ayat 9), dan pada bangsa Israel telah terjadi kelaparan selama tiga tahun berturut-turut?”
Yang Rizpa lakukan pada saat itu,
“..mengambil kain karung, dan membentangkannya bagi dirinya di atas gunung batu, dari permulaan musim menuai sampai tercurah air dari langit ke atas mayat mereka; ia tidak membiarkan burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari.” (ayat 10).
Rizpa hanya berdiam diri di dekat jenazah kedua anaknya, menunggu 5 bulan lamanya.
Tetapi kita dapat belajar bersama dari konsistensi yang telah dilakukan Rizpa,
Pertama. Konsistensi yang dilakukan Rizpa ini telah menyentuh hati Tuhan. Kedua. Konsistensi Rizpa ini telah menggerakkan hati Daud untuk mengumpulkan semua tulang Saul dan anak-anaknya dan dikubur dengan baik di dalam kubur Kish, ayah dari Saul. Melalui hal ini, Tuhan memulihkan kehormatan Saul dan juga anak-anaknya. Ketiga. Tuhan mengabulkan doa dan juga memulihkan keadaan bangsa Israel.
Dari Rizpa kita juga dapat belajar ketika ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan selama ini,
Jangan terburu-buru menyalahkan orang lain, tetapi bertanyalah pada Tuhan terlebih dahulu. Lakukanlah apa yang menjadi bagian kita dengan konsisten dan penuh kesetiaan. Pada waktu dan sesuai dengan kehendak-Nya yang terbaik, Dia akan merespon, memberikan yang terbaik, dan juga memulihkan kehidupan dan bangsa kita.
Berhentilah mengomel dan mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi teruslah konsisten untuk menunjukkan kasih kita pada semua orang, terlebih pada orang-orang yang selama ini terbuang dan tidak dianggap keberadaannya oleh sekitar.
Saat kita melihat bahwa masalah yang kita hadapi semakin membesar, teruslah mendekat pada Tuhan, konsisten berdoa dan taat melakukan kebenaran firman-Nya.. maka di waktu terbaik-Nya kelak, Dia akan melakukan pemulihan di dalam hidup kita.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar