top of page

Cindy Wijaya - Mountain of God

  • 2 hari yang lalu
  • 9 menit membaca

Catatan Khotbah: “Mountain of God.”


Ditulis ulang dari sharing Sdri. Cindy Wijaya, di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 24 Mei 2026.



Pelajaran dari Lazarus.


Ayat Bacaan: Yohanes 11:1-44.


Diceritakan bahwa ada seseorang yang bernama Lazarus yang sakit dan yang tinggal di Betania, kampung dari Maria dan Marta. Kedua perempuan ini lalu mengirim kabar pada Yesus mengenai Lazarus yang sedang sakit, dan ketika mendengar kabar tersebut, Dia berkata:


“Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (ayat 4).


Firman Tuhan lebih lanjut mengatakan,


Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” (ayat 6-7).


Dan ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur (ayat 17).


Ketika kita berbicara tentang hal natural / alamiah, maka hal ini dapat dipengaruhi oleh apa yang bisa dilihat mata, didengar telinga, vonis yang dokter katakan, semua yang bisa kita lihat dan rasakan, yang menimbulkan kemarahan dan kekacauan.. semua itulah yang berada di dalam dunia ini.


Maria dan Marta sudah kehilangan harapan, karena tidak melihat kehadiran Yesus sesuai dengan waktu yang mereka harapkan. Mereka merasa dikhianati, dan merasa semuanya sudah berakhir.


Bisa jadi kita juga merasa demikian. Kita berharap Yesus menjawab semua doa dan permohonan sesuai dengan waktu yang kita mau, tetapi kita merasa Yesus semakin jauh, tidak ada jawaban doa dari Dia, dan kita merasa bahwa Dia sudah tidak lagi peduli pada diri kita. Padahal di masa-masa itu, Yesus bisa jadi masih sedang dalam perjalanan di dalam menjawab doa dan berbagai permohonan kita.


Di ayat 20-27 dikatakan,


Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus:


“Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”


Kata Yesus kepada Marta:


“Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”


Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”


Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”


Sulit bagi Marta untuk percaya, bahwa Yesus sanggup membangkitkan Lazarus pada saat itu dari kematian. Bisa jadi hal ini juga kita alami, karena mungkin kita sudah terlalu lama dalam menunggu kapan waktunya jawaban atas doa-doa kita. Kita menjadi ragu dan tawar hati terhadap Dia.


Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (ayat 33-36).


Semua orang terlihat menangis, termasuk Yesus sendiri. Mengapa Dia menangis? Karena Dia melihat di kerumunan banyak orang tersebut, tidak ada seorang pun yang berdiri dan berani mengatakan bahwa Yesus masih sanggup untuk membangkitkan Lazarus dari kematiannya.


Hal ini mengingatkan kita pada ayat firman Tuhan,


“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a).

Saat Yesus melihat kita dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di dalam kehidupan ini, apakah Dia tersenyum karena melihat kita tetap beriman di setiap harinya, dan kita memutuskan untuk tetap percaya pada Dia?


“Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.” (ayat 17).

Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (ayat 43-44).


Sekalipun keadaannya pada saat Yesus datang, jenazah dari Lazarus itu sudah membusuk karena sudah empat hari berbaring di dalam kubur, Dia dan firman-Nya tetap memiliki kuasa.


“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).

Bisa jadi mungkin ada peristiwa tertentu yang membuat kita menangis, patah hati, sedih, berkabung, marah, kecewa, dan membuat kita menjauh dari Tuhan.. semuanya itu tidak akan merubah keadaan apa pun di hidup kita.


Kita dapat belajar dari keteladanan yang Yesus sudah berikan. Dia berdoa pada Bapa-Nya,


Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (ayat 41-42).


Ketika semua sedang dalam keadaan sedih dan berkabung, Yesus “naik ke atas gunung Tuhan”, Dia berdoa dan mengucap syukur pada Bapa-Nya.


Mengucap syukur saat keadaan tidak mengenakkan, membutuhkan iman yang teguh pada Tuhan yang masih sanggup dan memegang kendali penuh atas segala aspek di dalam hidup kita.


Hari-hari ini mungkin kita sedang mengalami keadaan keuangan yang guncang, bisnis mengalami kekeringan, masalah dalam keluarga, dan banyak masalah yang diibaratkan sama seperti tubuh Lazarus yang sudah membusuk empat hari lamanya.. tetapi tetaplah teguh memegang iman kita pada Tuhan, tetap bersekutu dan membaca firman Tuhan, tetaplah nyanyikan lagu “Dalam Yesus” yang diciptakan Sari Simorangkir..


“Kekuatan di hidupku, kudapat dalam Yesus. Dia tak pernah tinggalkanku, setia menopangku. Berseru, berharap dalam Yesus.


Ajaib Kau Tuhan penuh kuasa, sanggup pulihkan keadaanku. Dalam tangan-Mu s’luruh hidupku. Tak akan goyah selamanya..”


Apa yang bagi manusia mungkin terlihat terlambat, belum tentu bagi Tuhan. Dia masih menyediakan yang terbaik dalam hidup anak-anakNya.


Mempraktikkan Iman.


Saat kita diizinkan menghadapi berbagai masalah di dalam kehidupan, tetaplah mempraktikkan iman. Tidak cukup hanya dengan percaya dalam perkataan saja, tetapi ada iman yang diwujudkan dalam perbuatan di dalam hidup keseharian.


“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8).


Perkatakanlah firman Tuhan, renungkanlah, dan lakukan dalam hidup keseharian. Karena yang namanya iman itu memperkatakan, ada tindakan. Hanya “Percaya saja” tidaklah cukup.


Pertama.


Kita hidup di dalam dunia natural, di mana semua panca indera kita berfungsi. Panca indera kita ini terdiri dari penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), pengecap (lidah), dan peraba (kulit).


Di dalam dunia natural / alamiah ini, tidak memiliki harapan dan tidak ada kuasa penciptaan. Dengan panca indera kita, tidak dapat mengubah apa pun. Kita membutuhkan kuasa dan pertolongan Tuhan, di dalam hidup kita. Hari demi hari.


Kedua.


“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6).

Kecenderungan pikiran yang dimiliki manusia duniawi adalah selalu melihat yang buruk, kematian, dan kekeringan. Standar hidup yang diterapkan adalah adanya sebab dan akibat, kalau kita berbuat ini maka hasilnya akan begini.


Tetapi semua kecenderungan manusia jasmani itu tidak berlaku bagi kita manusia rohani yang sudah diperbarui di dalam Yesus Kristus. Setiap kita dimampukan untuk berpikir tentang kehidupan Ilahi, bagaimana kita dapat mendatangkan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan, dan juga yang mendatangkan damai sejahtera.


“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).


Kita tidak bisa hidup dipenuhi dengan ketakutan, tetapi di saat yang sama kita mengatakan kalau kita hidup percaya pada Tuhan. Iman dan ketakutan tidak dapat berjalan berdampingan. Jika kita mengaku percaya pada Tuhan, seharusnya ketakutan tidak mengendalikan hidup kita..


“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).


Ketiga.


Kita hidup di dunia spiritual, di mana di dalam dunia ini hidup kita tidak selalu dapat bergantung sepenuhnya pada panca indera, dan di dunia ini memiliki kuasa penciptaan.


“sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7).


Kita harus belajar untuk berbijaksana karena tidak semua yang kita lihat di depan mata kita itu selalu menguatkan iman, ada yang malah dapat menggoyahkan iman dan menjauhkan kita dari Dia. Tetapi bila kita hidup di dunia spiritual, hidup kita dapat diubah-Nya. Alihkan segala kekuatiran kita pada menaruh harap hanya pada Tuhan.


Percayalah bahwa Dia pasti memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya, sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya yang terbaik.


“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).



Mountain of God.


“Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.” (Mikha 4:2).


Mountain of God berbicara tentang gunung Tuhan, yang kudus dan di atas segalanya / holy, above all. Dan gunung Tuhan ini berbicara tentang hadirat-Nya yang tidak hanya kita dapatkan di hari Minggu saja, tetapi harus dipertahankan untuk kita hidupi di dalamnya, di setiap harinya.


“Apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya para pembaca hendaklah memperhatikannya maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan. Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun dan masuk untuk mengambil sesuatu dari rumahnya, dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.” (Markus 13:14-16).


Tuhan menyuruh kita untuk “melarikan diri ke pegunungan” karena waktu-Nya sudah singkat. Tetaplah naik ke atas gunung-Nya Tuhan, sekalipun berbagai masalah sedang menghimpit hidup kita. Apa pun musim kehidupan yang sedang kita lalui, baik dalam keadaan suka maupun duka, jangan pernah meninggalkan / keluar dari hadirat Tuhan, karena di sanalah ada damai sejahtera dan Dia bertakhta atas kehidupan kita.


Mountain Climbing reflects the Journey of Faith.

Pengalaman mendaki gunung, merefleksikan perjalanan iman kita dalam mengiring Dia.


Kita hidup di zaman yang terakhir. Bagaimana caranya kita dapat berada untuk tetap di dalam mountain of God / hadirat-Nya? Yakni dengan cara tidak mengizinkan segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini mengikat erat hati kita kepadanya, dan menjauhkan kita dari persekutuan yang karib bersama dengan-Nya di dalam doa dan membaca kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab.


Do you want to get there?

Apakah kita mau pergi atau berada di sana, di dalam hadirat Tuhan? Semua orang pasti mau dan menginginkannya. Tetapi pertanyaan ini tidak berhenti dan dilanjutkan dengan,


Are you ready to get there?

Apakah kita siap untuk pergi ke sana, dan membayar berapa pun harganya? Tidak semua orang menginginkan hal ini..


How to get there?

Pengalaman dari Sdri. Cindy saat melakukan hiking / aktivitas berjalan kaki di alam terbuka (seperti pegunungan, hutan, atau perbukitan) yang bertujuan untuk rekreasi dan olahraga. Saat berada di atas puncak gunung, dia dapat menikmati karena ada suasana damai sejahtera, ketenangan, sukacita, dan merasa lebih dekat dengan Tuhan.


Sering kali orang-orang hanya melihat betapa indahnya suasana berada di atas puncak gunung, tetapi perjalanan untuk mencapai ke atas membutuhkan proses waktu sekitar 4 jam lamanya, yang beberapa kali membuat Sdri. Cindy ingin menyerah karena beratnya medan yang harus dilalui. Tetapi pengalaman mendaki gunung ini mengajar agar kita tidak mudah untuk berputus asa, sekalipun jalannya memang tidaklah mudah dan harus dilalui setapak demi setapak.


Sama seperti kita memiliki doa dan permohonan bahwa Tuhan pasti menolong. Untuk sampai ke sana, kita membutuhkan iman sebagai modal awal, dan “tetap beriman” sebagai bahan bakar untuk kita menerima janji-janjiNya.


Firman Tuhan mengatakan,


“..iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Karena itu buka dan bacalah Alkitab kita. Kalau selama ini kita tidak pernah membacanya, dari mana kita bisa tahu janji-janjiNya dan memiliki iman bahwa Dia akan menggenapi semua janji-Nya, sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya yang terbaik, bagi setiap kita anak-anakNya?


Kita hanya bisa memperkatakan apa yang sudah kita baca dan ketahui sebelumnya. Dan sampai kapan kita harus beriman? Sampai Tuhan menolong setiap kita dengan cara-Nya yang tidak boleh kita batasi dengan maunya kita.


Life is not a dine and shop experience, it’s mountain climbing—it is only the courageous can make it to the top.

Kehidupan tidak hanya berbicara tentang makan dan minum, serta pengalaman dalam berbelanja saja. Tetapi juga merupakan pengalaman mendaki gunung—hanya orang-orang yang berani, yang dapat sampai di atas puncak gunung.


Hanya mereka yang memiliki tekad yang kuat dan mau untuk terus naik, yang tetap memiliki iman yang teguh pada Tuhan.. merekalah yang akan mengalami pertolongan dari Tuhan.


“karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:14).

Perjalanan menuju ke atas puncak gunung itu jalannya tidak lebar, tetapi setapak demi setapak. Tetaplah setia mengikuti jalan setapak tersebut, sama seperti perjalanan hidup kita dalam mengiring Tuhan. Jalan setapak itu jalan yang menuju kehidupan, jalan di mana Tuhan dapat bertakhta sepenuhnya atas hidup kita.


“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31).


Tuhan hanya membutuhkan kemauan dan kesediaan kita untuk meninggalkan hal-hal yang natural / duniawi, yang penuh dengan kenyamanan, dan kita mulai naik ke atas puncak gunung-Nya Tuhan.


Di dalam hidup ini terkadang ada beberapa masalah yang tidak bisa kita selesaikan. Tetapi teruslah naik ke atas gunung-Nya Tuhan, masuklah lebih dalam lagi di dalam hadirat-Nya. Sebab di dalam Dia ada jalan keluar terbaik yang sudah disediakan bagi anak-anakNya. Dia dapat memberikan kita hikmat dan kekuatan-Nya, untuk dapat melalui berbagai musim yang ada di dalam hidup kita.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page