top of page

Agus Lianto - Kasih yang Mustahil

  • 7 hari yang lalu
  • 11 menit membaca

Catatan Khotbah: ā€œKasih yang Mustahil.ā€


Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Agus Lianto di Ibadah Doa Malam, pada Tgl. 24 Februari 2026.


Tujuan khotbah pada hari ini adalah setiap kita dapat dipenuhi dengan kasih Kristus, yang merupakan puncak dari keseluruhan hidup kita. Sebagai seorang Kristen kita bisa saja memiliki banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan, tetapi dari mana kita tahu bahwa kita ini sudah berbuat benar dan hidup di dalam kebenaran?


Ketika kita mau hidup di dalam kasih.


ā€œSetiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.ā€ (Amsal 21:2).

Firman Tuhan di atas mengajar bahwa sekalipun kita hidup di dalam kesalahan, kita masih bisa saja membenarkan diri sendiri dan terus hidup di dalam ketidakbenaran. Tetapi ada ayat firman Tuhan lainnya yang menjadi jaring pengaman,


ā€œBarangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.ā€ (1 Yohanes 2:10).

Ketika kita tetap hidup di dalam kasih dan juga mengasihi sesama kita, maka ayat di atas mengatakan bahwa kita tetap berada di dalam terang Kristus dan tidak ada penyesatan.


Mengapa tema khotbah pada hari ini diberi judul ā€œKasih yang Mustahilā€? Karena ayat di dalam Lukas 6:27-36 di bawah ini memang terlihat mustahil untuk dapat dilakukan oleh siapapun.


Firman Tuhan mengatakan,


ā€œTetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.


Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?


Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.ā€ (Lukas 6:27-36).


Membaca ayat di atas, reaksi kita pertama kali adalah bisa jadi kita akan berusaha keras untuk menghindarinya dan berpikir mungkin bukanlah kita yang harus melakukannya, tetapi orang lain. Bahkan di antara kita mungkin berkata,


ā€œSaya menagih utang tidak menambahi dengan bunganya saja sudah untung.. Saya banyak berbuat baik, tidak pernah membalas dengan kejahatan saja sudah untung.. Kalau ada orang yang berbuat baik sama saya, saya bisa membalasnya 3-5 kali lebih baik. Tetapi kalau ada yang berbuat jahat, saya akan membalasnya 5 kali lebih jahat..ā€


Secara natur manusia, kita tidak suka kalau kita ditipu. Kita benci kalau dikerjai orang lain.


Perintah Tuhan Yesus dengan topik ā€œKasihilah Musuhmuā€ di Lukas 6:27-36 dianggap mustahil, karena tidak ada seorang manusia yang dianggap bisa melakukannya. Tetapi Dia tidak sedang membuat alegori, ketika mengatakan ayat di atas.


Kita memang tidak dapat memilih-milih ayat firman Tuhan mana yang nantinya mau kita lakukan, dan berpura-pura kita tidak mengetahuinya, ketika menjumpai ayat firman yang sulit untuk dilakukan. Tetapi kita akan belajar bersama, bagaimana caranya kita dapat melakukan kasih di atas.


Kasih = Identitas Jati Diri kita.

Kasih bukan hanya sekadar tindakan yang kita lakukan saja tetapi lebih dari itu kasih merupakan identitas jati diri kita. Dan identitas diri kita ini akan mencapai puncaknya pada saat kita mau diproses di setiap harinya, agar hidup kita dapat bertumbuh menjadi serupa seperti Kristus.


ā€œAku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.ā€ (Yohanes 13:34-35).


Kalau kasih hanya dipandang sebagai kata kerja, maka kita tidak akan pernah bisa melakukannya secara terus-menerus dan pada satu titik kita akan mengalami kejenuhan dan juga kecapaian. Kasih yang sesungguhnya merupakan kata sifat yang menunjukkan siapa identitas jati diri kita yang adalah murid-muridNya, ketika kita ini mau saling mengasihi dan juga hidup di dalam kasih.


Selain itu kita bisa saja melakukan apa yang tertulis di dalam Lukas 6 dengan sempurna, tetapi bisa jadi kita akan terjebak di dalam kesombongan. Poinnya di sini bukanlah pada apa yang akan / sudah kita lakukan, tetapi lebih kepada kita ini mau menjadi siapa? Apakah kita mau menjadi orang-orang yang melakukan ayat firman tersebut untuk kemuliaan-Nya? Atau hanya sekadar menjadi orang-orang yang mencari kemuliaan bagi diri sendiri?


Sesungguhnya semua perintah Tuhan di dalam Alkitab tidaklah mustahil untuk dilakukan, bila kita mau melakukannya berlandaskan keberadaan identitas jati diri kita yang sebenarnya.


ā€œAku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.ā€ (Efesus 3:16-17).


Berdiamnya Kristus di dalam hati kita tidak akan bisa dilepaskan dari apa yang namanya kasih.


ā€œAku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.ā€ (ayat 18-19).


Saat kita dimampukan untuk ā€œdapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,ā€ maka kita akan tenggelam dan dikuasai oleh kasih tersebut. Setiap dari kita akan dipenuhi dengan kepenuhan Allah, dan kalau kita tetap hidup di dalam kasih Kristus, maka kasih tersebut akan menjadi identitas jati diri kita. Hidup kita juga menjadi utuh dan lengkap.


Sebab kepenuhan Allah sendiri wujudnya adalah tenggelam di dalam kasih-Nya, yang merupakan identitas jati diri kita yang sebenarnya.


Tindakan Kasih.


ā€œSekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.ā€ (1 Korintus 13:1-3).


Kita bisa saja melakukan semuanya, tetapi bila tidak disertai kasih, maka hal itu tidak akan ada gunanya. Kalau kita berusaha untuk mengasihi orang lain hanya sekadar tindakan saja tanpa disertai kesadaran bahwa hal ini adalah identitas diri kita.. maka kita dapat mengalami burnout.


Pada suatu hari Petrus bertanya pada Yesus,


ā€œTuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?ā€ (Matius 18:21).

Dan Yesus menjawab Petrus,


ā€œBukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.ā€ (ayat 22).

Kalau kita melakukan kasih hanya berlandaskan tindakan dan memandangnya hanya sebagai kata kerja yang harus dilakukan.. maka kita akan terus menghitung sampai kapan batas dari ā€œtujuh puluh kali tujuh kaliā€ itu. Padahal seharusnya, hal tersebut mengalir otomatis keluar dari diri kita, karena ini adalah identitas diri kita sebagai murid-muridNya yang saling mengasihi (Yohanes 13:34-35).


Kekristenan sesungguhnya bukan berbicara tentang agama dan mengikut Tuhan juga bukan soal ā€œtidak boleh melakukan ini dan ituā€. Kalau kita melandaskan Kekristenan hanya dari poin ini saja, maka kita akan mengalami kecapaian. Kita akan terus mengeluh sampai kapan kita harus berbuat baik pada sesama, dan hidup Kekristenan akan berujung terbatas menjadi ā€œagama yang beratā€.


Sehingga, ā€œmengasihi tanpa syaratā€ akan menjadi hal yang sangat berat kalau sumbernya hanya dilandaskan pada ā€œagamaā€ saja. Karena itulah yang kita kejar di dalam hidup ini adalah mencapai keserupaan dengan Kristus. Kita akan melakukan ā€œmengasihi tanpa syaratā€ dengan kekuatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita.


Tetapi yang menjadi pertanyaannya,


ā€œApakah kita bersungguh hati untuk menginginkannya?ā€

ā€œDan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,ā€ (Filipi 1:9-10).


Melalui ayat di atas kita dapat belajar ada hubungannya antara kasih kita yang semakin melimpah di dalam dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.. karena kita akan dimampukan untuk,


ā€œdapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,ā€

Ketika hidup kita dikuasai oleh kasih Kristus, maka kita juga akan diberi pengetahuan agar dapat memilih dan memutuskan hal yang benar.


ā€œBerilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.ā€ (Lukas 6:38).


Ketika kita melakukan kasih, pusatnya bukan sebagai hukum yang harus dilakukan dengan begitu saja, tetapi mintalah hikmat dan kasih Tuhan yang nantinya dapat menuntun setiap kita.


Misalnya, ada orang yang datang mau merampok rumah kita. Pastinya, kita tidak mungkin membuka pintu rumah kita dan mempersilakan dia untuk masuk dan mengambil apa saja yang dia mau. Ini bukanlah kasih, tetapi kebodohan. Filipi 1:9-10 dengan jelas mengajar kita bahwa kasih yang melimpah itu juga disertai pengertian dan pengetahuan untuk kita dapat mengambil dan berbuat keputusan yang benar.


Itulah sebabnya kita membutuhkan wisdom / hikmat kebijaksanaan dan juga understanding / pengertian yang benar. Ketika kita dimampukan untuk dapat memilih yang baik, dengan hikmat dan pengetahuan yang bersumber dari Dia, maka setiap kita akan dituntun untuk memiliki kehidupan yang suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.


Pastinya Dia tidak mau berjumpa dengan anak-anak dalam pertumbuhan rohani, menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Dia mau berjumpa dengan orang-orang yang mau untuk terus diproses di setiap harinya, sehingga menjadi dewasa rohani dan juga menjadi serupa seperti Kristus.


Milikilah visi tentang betapa indah dan luar biasanya hidup yang suci dan tak bercacat—menjadi serupa dengan Kristus—di dunia saat ini.


Tidak banyak orang yang mau hidup dengan visi di atas. Mereka hanya ingin mati masuk Surga, tetapi selama hidup di dalam dunia, semua berjalan dengan baik-baik, aman dan lantjar djaya. Kalaupun diizinkan melalui apa yang namanya pergumulan hidup, maka dengan berdoa, semua akan dengan segera memiliki jalan keluar dan diselesaikan. Padahal semua pergumulan yang diizinkan terjadi memiliki tujuan, agar hidup kita dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus.


Bukan berarti kalau kita mengalami kesusahan, kita akan bersukacita dan menjalani kehidupan yang denial / penuh dengan penyangkalan.


Tetapi setiap pergumulan yang kita lalui bersama dengan Kristus adalah sebuah momen emas, di mana kita memiliki kesempatan untuk dapat bertumbuh serupa dengan Kristus. Hanya melalui pergumulan kita dapat bertumbuh, bukan melalui kemewahan yang ada di dalam dunia ini.


Kalau kita bekerja lurus sama seperti Yesus, mungkin kita akan meragukan bagaimana caranya dapat meraih keuntungan. Hanya sekadar membayangkan saja kita tidak sanggup, apalagi sampai mau melakukannya di kehidupan.


Tetapi ketika kita mau hidup di dalam ketaatan pada firman-Nya, maka seluruh janji Allah itu akan terbuka di dalam hidup kita. Ada kasih dan hikmat Tuhan yang pastinya akan menuntun setiap kita untuk dapat mengambil keputusan yang benar, dan yang sesuai dengan kehendak-Nya.


Kasih Allah yang Tidak Mustahil.


ā€œKarena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.ā€ (2 Petrus 1:3-4).


Kuasa Ilahi-Nya yang telah dianugerahkan di dalam hidup kita, itulah yang nantinya akan memampukan setiap kita untuk dapat bertumbuh semakin serupa seperti Kristus. Setiap kita akan dimampukan untuk dapat mengasihi sesama, sama seperti yang ditulis di dalam Lukas 6:26-37.


Ketika kuasa Ilahi-Nya memampukan setiap kita, maka ayat-ayat tersebut tidak lagi menjadi hal yang mustahil, tetapi menjadi paling mudah. Kalau kita mau bertumbuh menjadi serupa seperti Kristus, maka keputusan untuk mengampuni akan jauh menjadi lebih mudah dan make sense daripada hidup dengan mendendam. Bahkan nantinya dapat menjadi sebuah norma, setiap kita akan diberi hikmat sehingga dapat memahami, mengapa Yesus mengatakan dan melakukan semuanya itu seperti yang sudah tertulis di dalam Alkitab.


Tetapi kalau kita menjalani hidup Kekristenan tidak dilandaskan pada keserupaan seperti Kristus, maka kita akan melakukan banyak kompromi di dalam dunia ini dan malah berujung pada kemunafikan. Kita tidak dapat mengalami Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Hidup Kekristenan tidak dapat bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan Kristus terjadi di dalam hidup kita, kalau kita tidak mau melandaskan dan mengarahkannya pada Dia.


Karena kuasa Ilahi-Nya sudah memberi dan memampukan setiap kita untuk dapat menjalani kehidupan yang saleh seperti Kristus. Semua janji Allah di dalam Alkitab menjadi jaminan, bukan supaya hidup kita dapat berubah menjadi lebih mudah, tetapi agar kita mampu melakukan dan mengambil bagian di dalam kodrat Ilahi. Tentunya semua ini dicapai melalui berbagai disiplin rohani yang terus dilatih dalam hidup keseharian.


Natur kita sebagai manusia pendosa akan diubahkan-Nya, bukan lagi menjadi seorang pendendam tetapi mengasihi secara alamiah.


Dari kuasa Ilahi-Nya yang telah dianugerahkan di dalam hidup, akan mengubah identitas jati diri kita. Janji Allah diberikan di dalam hidup kita, dan setiap kita akan diubah secara bertahap:


ā€œJustru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.ā€ (2 Petrus 1:5-8).


Pembentukan karakter serupa dengan Kristus adalah pekerjaan-Nya, tetapi peran kita adalah hidup di dalam ketaatan atas semua perintah-Nya dan terus melatih diri di dalam keseharian.


Sebelum kita dapat mengampuni sesama, belajarlah terlebih dahulu untuk mengampuni suami / istri kita. Sebelum kita mengampuni pasangan kita, belajarlah untuk mengampuni diri sendiri.


Seseorang yang kesulitan untuk mengampuni sesamanya, biasanya memiliki kemarahan dan belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak Ayah yang keras kepada anak-anaknya, biasanya masih memiliki pergumulan yang masih belum dimenangkan dengan dirinya sendiri.


Sebelum kita ā€œkasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan..ā€ (Lukas 6:35), kita bisa melatih disiplin dalam memberi, hidup sederhana, menunda berbagai keinginan, berpuasa, dan juga melakukan berbagai disiplin rohani.


Semuanya ini akan terus diproses di dalam perjalanan kehidupan kita, dan nantinya kita akan menjumpai bahwa setiap perintah Allah yang telah tertulis di dalam firman- Nya di dalam Alkitab..


Tidaklah mustahil untuk dilakukan.

Mengenal dan Dipenuhi Kasih Allah.


ā€œTitah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.ā€ (Mazmur 19:9-11).


Ketika ada seseorang yang mahir dalam bermain piano, kita semua yang mendengar permainannya dapat menangkap keindahan melodinya. Pastinya, semua ini membutuhkan latihan yang tidak sebentar sebab hasil permainannya begitu indah. Dia tidak lagi menghafal, karena semua lagu sudah menyatu dengan hatinya. Bermain tanpa melihat, keluar otomatis dari kehidupannya.


Demikian pula dengan hidup kerohanian, yang tentunya juga membutuhkan banyak disiplin di dalamnya. Kita juga membutuhkan pengenalan dan dipenuhi kasih Allah, di setiap harinya.


Kalau kita adalah seseorang yang mudah marah dan mengalami kecapaian, tanggalkan segala amarah dan hiduplah di dalam pengampunan. Tetapi kalau kita mengalami kesulitan untuk mengampuni, at least, doakanlah dirinya. Kita tidak mungkin membenci hidup seseorang yang kita doakan.


Firman Tuhan di ayat di atas mengatakan,


ā€œmintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.ā€ (Lukas 6:28).

Tuhan Yesus mengajak kita untuk mendoakan mereka, bukan berdoa yang kurang baik, tetapi mintalah hikmat dan kasih agar kita dapat berdoa yang baik dan juga diberi pengertian. Bisa jadi seseorang yang meminjam uang itu dikarenakan dirinya benar-benar berada dalam keadaan terjepit, dan tidak memiliki maksud yang kurang baik. Dengan demikian, hati kita dibebaskan dari segala amarah yang selama ini menguasai.


Kalau kita menjadi serupa seperti Kristus..


Kita akan mengalami hidup yang dipenuhi dengan damai sejahtera dan kasih, tidak lagi dikuasai kemarahan. Apa yang kita perkatakan dapat menjadi berkat dan diurapi Tuhan untuk dapat menyatakan kuasa-Nya. Hidup orang-orang di sekitar juga akan diberkati karena keberadaan kita. Selain itu, kita tidak lagi menjadi iri apalagi sampai ā€œsikut-sikutanā€ di dunia pekerjaan. Kita bisa mengatakan banyak hal baik dan menghadirkan Shalom di manapun kita berada.


Shalom sendiri memiliki pengertian bukan hanya sekadar keadaan berjalan aman dan tanpa musuh, tetapi semuanya berjalan dengan baik, beres, dan terjadi sesuai dengan waktu dan di tempat yang tepat. Apa yang kita lakukan menjadi berhasil karena ada berkat dan penyertaan Tuhan.


Dan ini semua adalah gambaran dari hidup kita yang terus disempurnakan serupa seperti Kristus. Bukan dalam keadaan kemewahan dan kaya raya, tetapi kita diberi anugerah untuk dapat menikmati apa yang sudah Tuhan berikan di dalam hidup kita. Dapat bersukacita memiliki anggota keluarga yang sehat dan hubungannya baik-baik semua, keberadaan orang-orang di sekitar yang disertai dengan kebaikan dari Tuhan..


Masih banyak hal yang dapat kita syukuri. Hidup kita tidak kuatir, tidak merasa kekurangan dan merasa cukup, serta dimampukan Tuhan untuk dapat menjadi berkat bagi banyak orang.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page