Yose Ferlianto - Waspada dan Berjaga
- mdcsbysystem
- 23 jam yang lalu
- 9 menit membaca
Catatan Khotbah: āWaspada dan Berjaga.ā Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Yose Ferlianto di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 25 Januari 2026.
Hari-hari ini kita sedang memasuki masa akhir zaman, di mana Alkitab sendiri sudah menuliskan banyak nasihat serta pengingat agar kita selalu waspada dan berjaga-jaga. Kita sedang hidup di dalam kondisi yang serba membingungkan, di mana banyak info yang didapat dari media sosial (medsos) telah banyak membuat pikiran kita cemas.
Dimulai dari berita beberapa negara yang sedang bertikai hingga memicu terjadinya ketegangan dan bahkan perang dunia ketiga, ancaman ketiadaan listrik dan juga menghadapi keadaan yang serba manual, di mana beberapa negara juga sudah mulai mengadakan simulasi untuk mereka dapat survive / bertahan tanpa adanya internet..
Semua hal ini menunjukkan pada kita tentang keadaan dunia yang serba tidak pasti.
Tidak hanya berita tentang dunia perpolitikan saja, tetapi juga bencana alam yang sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Banyak berita ini membuat kita kecut dan tawar hati. Banyak terjadi resesi dan krisis, bahkan tak sedikit yang mengatakan kalau kondisi yang dialami sekarang jauh lebih sulit dibanding masa pandemi COVID-19. Sekarang keadaannya seperti āberjalan di tempat.ā
Selain itu banyak juga berita yang meningkat tentang terjadinya imoritas, kriminal, judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).. membuat hati kita tak sedikit yang menjadi tawar.
Apa yang harus kita lakukan?
āJagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.ā (Lukas 21:34-36).
Kata āmenimpa semua penduduk bumiā berbicara tentang hal ini pasti akan terjadi dan dialami oleh semua orang, tidak ada satupun yang terluput darinya. Di hari-hari ke depan kita juga harus bersiap diri karena kita akan menghadapi krisis yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Di ayat di atas setiap kita juga diingatkan agar,
āBerjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.ā (ayat 36).
Itulah mengapa Gereja MDC Surabaya selalu menekankan betapa pentingnya berdoa, dan agar jemaat Tuhan bertumbuh menjadi rumah doa bagi segala bangsa (Yesaya 56:7). Gereja mengadakan Doa Pagi, Doa Malam, bahkan Doa Puasa untuk mengawali tahun yang baru. Setiap kita diajak untuk merendahkan hati, dan meletakkan hikmat serta kekuatan kita di bawah kaki Tuhan.
Dalam Lukas 21, Tuhan Yesus juga mengingatkan dan mempersiapkan murid-muridNya untuk menghadapi berbagai krisis serta tantangan yang akan mereka hadapi di hari-hari ke depan, setelah Dia kembali ke Surga. Dia mengingatkan agar murid-muridNya tidak lengah, terus menjaga hati agar ājangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.ā (ayat 34-35).
Semua pengingat yang Dia berikan bertujuan agar hati dan hidup mereka tidak dilumpuhkan oleh berbagai kekuatiran, dan mencari berbagai pelarian yang berasal dari dalam dunia.
Bahasa asli dari kata āsaratā di dalam bahasa Yunani berasal dari kata dan memiliki arti,
βαĻĪ·Īøįæ¶Ļιν / barÄthÅsin : menjadi berat, terbebani, dan merasa tertindih.
Ada sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Opa dari Pdt. Yose, saat beliau masih muda dan bekerja sebagai seorang pelaut. Kapal yang dikemudikannya pada saat itu berhadapan dengan ombak besar yang membawa kapalnya berada di atas ketinggian 20 meter, dan membawanya naik dan turun berulang kali. Opa dan seluruh kru kapal sudah dilatih sedemikian rupa untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi situasi seperti ini.
Pada saat berangkat dari dermaga, kapal mereka memang membawa banyak barang berharga yang dapat diperjualbelikan. Tetapi saat menghadapi ombak besar, mereka harus berpikir dengan cepat untuk membuang barang-barang yang harus dilempar ke dalam lautan, agar kapal mereka dapat bertahan melalui ombak tersebut.
Bila kapal di tengah lautan dapat menjumpai bahaya ombak besar dan badai, demikian pula dengan hidup kita yang bisa jadi diizinkan bertemu dengan berbagai āombak besar dan badai di dalam kehidupanā. Apa yang kita anggap paling berharga selama ini, bisa jadi pada saat menghadapi badai, kita harus belajar untuk melepaskannya.
Rasul Paulus mengingatkan setiap kita,
āTetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.ā (Filipi 3:7-8a).
Bila Lukas 21:34-36 diparafrasekan ulang maka akan berkata seperti ini,
āJangan biarkan hidup kita sama seperti kapal yang kelebihan muatanāpenuh sesak oleh ambisi, kekhawatiran, dan juga kesenangan yang bisa menumpulkan kepekaan kita untuk dapat mendengar suara Tuhan dan juga mengerti akan kehendak-Nya. Kapal itu mungkin masih bisa berlayar di atas perairan yang tenang, tetapi ia tidak pernah siap untuk menghadapi badai.
Hari Tuhan akan datang dengan tiba-tiba, sama seperti gelombang laut yang menghantam tanpa adanya peringatan terlebih dahulu. Karena itulah tanggalkan beban yang tidak perlu, berjaga-jagalah dan terus berdoa, supaya kita kuat dalam menghadapi semua yang akan datang, dan tetap berdiri tegak di hadapan-Nya.ā
Hati yang dipenuhi hal-hal yang tidak penting akan menguras energi, dan membuat kita lambat dalam mengikuti apa yang menjadi mau dan juga kehendak-Nya Tuhan.
Mungkin setiap dari kita memiliki kerinduan untuk dapat mengerti akan apa yang menjadi kehendak Tuhan yang sesungguhnya di hidup kita, tetapi sering kali kita tidak dapat mengerti kehendak-Nya karena hati kita dipenuhi dengan berbagai beban yang tidak perlu kita bawa, sehingga energi kita menjadi terkuras. Tangki emosional kita pada akhirnya juga dapat terkuras habis, bila tidak dengan segera diisi kembali.
Karena itu sangatlah penting untuk menjaga apa yang berada di dalam hati kita, jangan sampai prioritas di dalam hidup kita ini diganti dengan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Dunia yang kita hadapi juga mengalami kemajuan informasi dan teknologi yang begitu cepat. Berhati-hatilah, jangan sampai hati kita terserap dengan semuanya itu dan menggantikan beberapa prioritas yang seharusnya bisa kita selesaikan sedari awal.
āOur lives are always moving in the direction of our strongest thoughts. Kehidupan kita ditentukan oleh apa yang paling menguasai hati dan juga pikiran kita.ā (Craig Groeschel).
Pikiran yang paling dominan selalu ditentukan oleh apa yang berada di dalam hati kita. Hidup kita ditentukan oleh apa yang paling menguasai hati dan pikiran kita. Hidup kita sama seperti sebuah perahu yang nantinya akan dibawa dan digerakkan oleh apa yang menguasai hidup kita selama ini.
āSebab itu, siapkanlah akal budimu, waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.ā (āā1 Petrus⬠ā1ā¬:ā13ā¬, TB-2).
Kata āsiapkanlah akal budimuā konteksnya mengacu pada mempersiapkan pikiran kita. Karena itu, marilah kita mulai belajar. Penting sekali bagi kita untuk mulai mempersiapkan hal ini sedari awal. Selain itu perhatikanlah,
āIman tidak pernah bertentangan dengan rasio, keduanya berjalan dengan beriringan.ā
Kita perlu belajar agar kita tidak mudah termakan dengan banyaknya berita hoax / tidak benar. Berharaplah sepenuhnya pada anugerah Kristus.
Hal apa saja yang paling banyak memenuhi hati dan pikiran kita, pada hari-hari ini? Sebab ke sanalah kehidupan kita nantinya akan dibawa.
Bousai (é²ē½).
Adalah kesiapsiagaan yang mencakup persiapan sebelum bencana dan tindakan saat bencana terjadi. Jepang memiliki kans untuk mengalami bencana alam hingga 80% (2025).
Setiap hari mereka menghadapi potensi bencana, berada di atas tanah yang tidak konsisten dan selalu bergerak, serta berbahaya. Karena itu di setiap convenience store diberi buku panduan tentang bagaimana caranya untuk menghadapi bencana yang dapat datang sewaktu-waktu. Buku panduan ini mencantumkan hal-hal sebagai barang yang dianggap berharga oleh para penyintas bencana,
āAir, kompor gas portabel dan tabung, obat-obatan non resep, toilet darurat, senter, baterai, radio (rechargeable or not), kantong plastik, plastik pembungkus, dan juga peluit.ā
Demikian pula dengan setiap kita yang sering kali kurang dapat memahami seberapa besar arti sebuah barang / sesuatu, sampai kita menghadapi apa yang namanya krisis. Dari pandemi COVID-19 yang telah berlalu, kita dapat belajar dan menghargai betapa pentingnya kita sering mencuci tangan dan juga memakai masker. Krisis dapat mengajar kita sesuatu bahwa ada hal yang jauh lebih berharga dari segala harta benda yang ada di dalam dunia ini, yaitu kehidupan itu sendiri.
āPada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.ā (Amsal 11:4).
Pada hari kemurkaan, semua harta benda dan apa yang kita punya tidak akan ada nilainya. Karena itu carilah apa yang paling bernilai di hidup kita.
Beban muatan yang harus ditanggalkan.
Kita hidup di dalam zaman yang serba tidak pasti, mau kita berada di negara manapun, tidak ada yang benar-benar aman. Banyak perubahan dapat terjadi, karena itu marilah bersiap diri. Jangan pernah lengah dengan keadaan sekarang.
Bentuknya bisa jadi dapat berbeda, tetapi polanya tetap sama. Firman Tuhan mengingatkan,
āUngkapan āSatu kali lagiā menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.ā (Ibrani 12:27-28).
Pertama. Mengejar kenikmatan hidup.
Diambil dari kata bahasa asli di dalam bahasa Yunani yakni kraipalÄ (ĪŗĻαιĻάλη), yang memiliki arti pesta pora dan hidup tanpa disiplin.
Tandanya adalah: hati menjadi cepat gelisah kalau tidak ada hiburan. Memang, tidaklah salah bila kita diberi anugerah untuk dapat mensyukuri dan menikmati berkat yang asalnya dari Tuhan. Tetapi kalau hidup kita hanya berpusat pada kenikmatan dunia itu saja, maka lambat laun kita akan kehilangan kepekaan untuk dapat mendengar suara dan kehendak Tuhan bagi hidup kita.
Saat pulang dari pekerjaan, kita cenderung untuk mencari berbagai hiburan. Bisa dengan bermain gadget, ataupun melihat berbagai tayangan film yang sekarang dengan mudahnya bisa kita dapatkan di berbagai platform. Melaluinya, seolah kita dipuaskan dalam beberapa rentang waktu ke depan, tetapi pikiran kita akan mudah lelah saat kita mau membaca Alkitab, membaca buku rohani, ataupun berbagai aktivitas fisik lainnya.
Atau ada juga yang menjadi hiburannya dengan melakukan shopping online, yang pendapatan toko online ini terus meningkat semenjak zaman pandemiājauh lebih meningkat dari pendapatan toko tradisional. Bisa jadi di shopping online ini mendapat diskon yang jauh lebih banyak. Selain itu ada juga yang melakukan wisata kuliner, kita mencari tempat makanan yang sedang viral / diperbincangkan dan dikunjungi banyak orang.
Semua kebiasaan ini yang membuat kita suka dan menjadi kebiasaan, dan kita lalu mengejarnya.
Langkah praktis untuk menanggalkan kebiasaan mengejar kenikmatan hidup adalah..
Pertama. Batasi satu bentuk hiburan yang paling menyita waktu.
Misalnya dengan mengurangi dan membatasi screentime gadget, kita dapat melakukan banyak hal yang jauh lebih bermanfaat di hidup ini.
Kedua. Menetapkan waktu untuk bersaat teduh secara pribadi.
Kita harus memiliki waktu teduh di setiap harinya, di mana kita dapat mengisinya dengan berdoa, membaca kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab, bersungguh dan merendahkan hati kita di hadapan Tuhan. Waktu teduh ini tidak bisa digantikan oleh apa pun. Di saat ini kita berdoa untuk meminta pimpinan dan pertolongan Tuhan, kita dapat mengisinya dengan berbahasa roh, dan semuanya ini membuat tersadar bahwa kita membutuhkan Dia di setiap aspek di hidup kita.
Ketiga. Latihan menunda kesenangan.
Melalui hal ini kita dapat belajar bahwa semua kesenangan tidak harus dipuaskan pada saat itu juga. Apa yang kita anggap butuh, bisa jadi karena kita sering melihat iklannya di sosmed kita. Tundalah sementara untuk rentang waktu 1-2 hari, bisa jadi pengaruhnya lambat laun menhilang.
Keempat. Hidup sederhana.
Kalau kita mempunyai kemampuan di angka 100, belajarlah untuk hidup dengan angka 80. Kemewahan dapat menumpulkan hati kita. Hiduplah dengan sederhana. Secukupnya saja.
Kedua. Kekuatiran yang berlebihan / overthinking.
Diambil dari kata bahasa asli di dalam bahasa Yunani yakni merimnai biÅtikai (μĪĻιμναι βιĻĻικαί), yang memiliki arti kekuatiran hidup sehari-hari.
Tandanya adalah: hati terasa berat, seperti memikul semuanya sendirian.
Bukan berarti kita tidak mau mengambil tanggung jawab, karena beda konteksnya, tetapi biasanya orang-orang yang overthinking ini sudah merasa lelah karena memikirkan semua hal yang belum tentu terjadi, bahkan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang ini akan merasa bahwa masalah yang mereka hadapi itu jauh lebih berat dibanding masalah yang dihadapi orang lain. Padahal firman Tuhan sudah memberitahukan kita bahwa,
āSadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.ā (1 Petrus 5:8-9).
Semua orang pasti memiliki masalahnya sendiri, janganlah kita mengira bahwa kita menghadapi masalah paling berat dibanding orang lain.
Langkah praktis untuk menanggalkan kekuatiran yang berlebihan / overthinking adalah..
Pertama. Belajar melepaskan kendali pada Tuhan.
āSerahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.ā (1 Petrus 5:7).
Ingatlah bahwa yang seharusnya memegang kendali atas apa yang terjadi di dalam hidup kita adalah Kristus, bukan hikmat dan kekuatan yang berasal dari diri kita sendiri.. Serahkan segala kekuatiran kita sebab yang memelihara itu Tuhan, bukan diri kita. Kita hanya dipercaya sebagai pengelola, bukan pemilik, atas apa yang Tuhan sudah percayakan di dalam hidup ini.
Kedua. Belajar berkata āIni adalah tanggung jawabku, tetapi bukan bebanku.ā
Jangan mencampuradukkan beban dengan tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Mengapa kita merasa kuatir? Karena kita takut kalau sesuatu itu berjalan di luar kendali kita. Lalu akhirnya kita tidak akan bisa pergi ke mana-mana, dan tidak bisa mengendalikan segala sesuatu. Marilah belajar untuk melepaskan kendali, di tangan Tuhan yang mengasihi setiap kita.
Ketiga. Menata kembali prioritas kehidupan.
āTetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.ā (Matius 6:33).
Sering kali banyak orang mencari ātambahannyaā, daripada Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kita menjadi kuatir karena prioritas yang kita miliki itu terbalik. Kerajaan Allah dan kebenarannya tidak lagi dicari, tetapi hanya ātambahannyaā.
Deklarasi Iman.
āSerahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.ā (1 Petrus 5:7).
āTetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.ā (Matius 6:33).
Biarlah kedua ayat di atas menjadi deklarasi iman kita, teruslah mempercayai bahwa Dia masih sanggup untuk memelihara hidup kita. Serahkan setiap kendali yang kita miliki, kepada-Nya. Saat kita berusaha untuk terus mengambil kendali, maka kita akan mengalami kebingungan mengenai beban muatan apa yang harus ditanggalkan.
āSebab itu, siapkanlah akal budimu, waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.ā (āā1 Petrus⬠ā1ā¬:ā13ā¬, TB-2).
Fokuskan hidup kita dan teruslah berharap hanya pada anugerah Tuhan yang dapat menguatkan hidup kita. Kita tidak akan bisa bergantung pada hikmat dan kekuatan kita yang terbatas, bergantung dan berharaplah pada Dia yang tidak terbatas. Semua hal akan berjalan dengan baik dan sesuai pada tempatnya, ketika kita menyerahkan kendali pada Kristus. Marilah kembali pada-Nya.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar