Yose Ferlianto - Doa Puasa “Higher & Stronger (Hari Ketiga)
- mdcsbysystem
- 6 hari yang lalu
- 7 menit membaca
Renungan Doa Puasa “Higher & Stronger.” Hari Ketiga. Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Yose Ferlianto melalui Zoom Meeting pada Tgl. 8 Januari 2026, dan juga diperlengkapi dari catatan Beliau.
Kitab Habakuk ditulis di masa yang sulit, secara historis konteksnya berada menjelang atau sekitar bangkitnya Babel (Kasdim) sebagai kekuatan imperium, kemungkinan besar di akhir abad ke-7 SM. Kerajaan Yehuda pada saat itu sedang berada di dalam krisis ganda: Terjadi kemerosotan moral internal dan juga ancaman politik dari pihak eksternal. Hukum saat itu tidak ditegakkan, kekerasan merajalela, dan keadilan dipelintir.
Kitab ini bahkan dibuka bukan dengan nubuat pada sebuah bangsa, melainkan keluhan dari seorang nabi kepada Allah. Hal ini tidaklah lazim. Habakuk pertama-tama tidak berbicara atas nama Allah kepada manusia, tetapi malah berbicara atas nama manusia kepada Allah. Habakuk mengalami banyak keadaan tidak mudah, bahkan kitabnya tidak diakhiri dengan kemenangan yang gilang-gemilang tetapi ditutup dengan pengakuan iman.
Melalui apa yang dituliskan Habakuk mengajar kita hal yang penting yakni,
Iman yang sejati tidak menunggu keadaan harus berjalan baik-baik dulu baru setelah itu kita dapat berdiri dengan tegak. Dari Habakuk kita belajar keputusannya yang tetap mau percaya dan berdiri teguh, dan kita melihat bagaimana pengenalannya akan Pribadi Allah juga ikut bertumbuh.
Dalam masa doa dan berpuasa, fokus kita tidak hanya menahan rasa lapar dan haus saja tetapi kita mau mengenal Pribadi-Nya lebih dalam. Kita mau menjadi selaras dengan apa yang menjadi mau dan kehendak-Nya di dalam kehidupan ini.
Dari Habakuk kita mendapati dirinya menghadapi banyak fase kebingungan iman. Secara teologis, apa yang dialaminya pada saat itu adalah krisis iman yang tingkatnya cukup tinggi. Allah tampaknya terlihat tidak konsisten dengan standar moral-Nya. Habakuk mempertanyakan di mana keadilan Allah, dan jawaban dari-Nya malah mengguncang imannya. Tetapi di pasal 2 kita mendapati perikop pertama yang dibuka dengan judul,
“Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya.”
Kalimat ini bukanlah slogan secara rohani, melainkan prinsip eksistensial di tengah dunia yang sedang tidak masuk akal secara moral. Melaluinya kita dapat belajar bahwa orang benar akan hidup karena iman, yakni posisi iman yang tetap setia menunggu dan menanti-nantikan Tuhan.
Kitab Habakuk diakhiri dengan pengakuan iman,
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Habakuk 3:19).
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membuat aku mampu berjalan di tempat tinggi.” (TB-2).
Memasuki tahun 2026 bisa jadi keadaannya tidak menjadi lebih mudah. Sekalipun diizinkan menghadapi berbagai krisis dan kesulitan, Tuhan tidak serta-merta mengubah semuanya itu tetapi Dia mau mengubah diri kita terlebih dahulu, melalui setiap krisis yang diizinkan terjadi. Hanya melalui keadaan yang menurut kita sedang tidak baik-baik saja, Tuhan dapat membentuk hidup dan kita juga dapat mengalami pertumbuhan iman.
Mengapa Habakuk 3:19 menjadi penutup?
Karena di sinilah Habakuk berhenti bertanya dan mulai berdiri mengambil sikap untuk menyatakan imannya. Dari ayat inilah yang merupakan respons akhir nabi setelah proses itu. Ayat ini bukanlah emosi secara spontan, tetapi iman yang telah diuji oleh sejarah, wahyu, dan keheningan Allah.
Habakuk menyusun mazmur teofani, dirinya mengingat kembali karya Allah dalam sejarah keselamatan: Eksodus / Kitab Keluaran, gunung-gunung yang berguncang, laut yang terbelah. Ia menempatkan krisis kontemporernya ke dalam memori panjang yang dimiliki umat Allah.
Hal ini adalah sebuah kunci yang penting: Iman Alkitabiah selalu bekerja dengan ingatan sejarah, bukan hanya sekadar optimisme kosong.
Metafora dari “kaki rusa” dan “bukit-bukit tinggi” juga bukan hanya sekadar romantisme alam. Dalam dunia Timur Dekat Kuno kata “rusa” dipakai untuk menggambarkan kelincahan, kestabilan, dan juga kemampuan untuk dapat bertahan di beberapa medan yang berbahaya. Bukit batu juga bukanlah tempat yang nyaman, tetapi sebuah wilayah yang berisiko tinggi dan di tempat inilah hanya makhluk yang terlatih dan terbiasa, yang dapat hidup.
Menjelang masuk ke dalam tahun 2026, Pdt. Yose saat itu sedang bermain pingpong bersama istrinya. Saat bermain, kakinya mengalami cedera. Dalam masa kesakitan berbagai pikiran negatif mulai muncul, tetapi Tuhan mengingatkan Pdt. Yose ayat di dalam Habakuk 3:19 tersebut.
Sepertinya Tuhan hendak mengajar hal penting di hidupnya yakni, bagaimana kekuatan kaki kita akan menentukan langkah apa yang diambil untuk momen selanjutnya. Selain itu Pdt. Yose juga belajar bahwa Tuhan masih terus berbicara dan mengajar di momen keseharian di hidup kita. Dia sering melakukan intervensi, dan memberi arahan serta kekuatan di setiap musim di hidup kita.
Habakuk 3:19 menjadi perenungan dan rhema bagi Pdt. Yose untuk memasuki tahun 2026. Melalui ayat ini kita juga dapat belajar dua hal.
Pertama. Kekuatan Kaki menentukan Ketinggian.
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membuat aku mampu berjalan di tempat tinggi.” (TB-2).
Melalui ayat di atas Tuhan memberitahu kita bagaimana caranya melalui semua itu,
“Dia menguatkan kaki kita untuk dapat berjejak di tempat tinggi dan juga berbukit-bukit.“
Karena itu kekuatan kaki kita sangatlah penting, baik dalam arti jasmani maupun rohani. Krisis yang kita alami bisa jadi diizinkan tidak mengalami perubahan, tetapi kaki rohani kita terus dilatih dalam hidup keseharian, melalui berbagai peristiwa sederhana dan rutinitas yang terjadi, dan juga yang tidak boleh kita lupakan adalah persekutuan rohani yang dibangun bersama dengan-Nya di setiap hari, baik melalui doa dan membaca Alkitab.
Semua kebiasaan inilah yang membuat kaki rohani kita kuat, dan hal ini tidak bisa dibentuk hanya dari satu peristiwa, momen, atau fase tertentu saja. Karena itu teruslah konsisten dalam membangun pengenalan akan Pribadi Allah dalam keseharian. Tuhan itu rindu untuk berjalan bersama kita di setiap harinya. Dia mau membentuk kita melalui peristiwa sehari-hari. Karena itu latihlah konsistensi dalam berdoa, ketaatan kita dalam berbagai hal kecil juga akan membentuk otot rohani, serta melatih hidup kerohanian dalam jangka panjang.
Tahun 2026 bisa jadi berjalan dengan tidak mudah, sama seperti yang dikatakan di ayat di atas ada tempat tinggi dan banyak bukit, bisa jadi kita juga menjumpai lereng gunung yang terjal. Tetapi hanya rusa yang kakinya terus dilatih dengan konsisten, pada akhirnya rusa tersebut dapat menjejakkan dan melangkahkan kakinya di tempat itu.
Kedua. Tuhan Bekerja dalam Segala Keadaan.
Kitab Habakuk menyatakan bahwa Tuhan tetap berdaulat dan bekerja melalui segala keadaan—baik yang adil maupun mengguncang iman—untuk menggenapi maksud-Nya di dalam hidup kita.
Ketika Habakuk mengeluh dan berdoa, Tuhan malah menjawab doanya dengan mengirim raja yang jahat untuk menghukum Yehuda. Dari apa yang kita baca, Tuhan justru kesannya seperti berbuat jahat, tidak menjawab doa permohonan yang dinaikkan Habakuk, serta memberikan jawaban yang malah mengguncang iman.
Tetapi dari Habakuk kita belajar untuk menaikkan doa tidak hanya agar Tuhan dapat melepaskan dan menjauhkan kita dari berbagai krisis saja, tetapi berdoalah supaya melalui apa yang diizinkan-Nya terjadi, Dia dapat membentuk hidup kita menjadi lebih baik lagi dan memuliakan nama-Nya.
Dia masih terus bekerja. Firman-Nya berkata,
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Tuhan Kekuatanku.
Tuhan sengaja memakai medan berat (bukit batu) untuk dapat menyatakan siapa Dia dan siapa kita di hadapan-Nya. Sering kali pengenalan kita akan Allah tidak dibentuk ketika langkah kaki kita ringan, tetapi ketika kaki kita tertatih—dan kita belajar berjalan kembali bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi anugerah-Nya yang memampukan.
Penyertaan Tuhan terkadang dapat dinyatakan melalui berbagai proses yang kita hadapi, di setiap harinya. Dia bekerja tidak hanya dalam keadaan baik-baik saja, bahkan saat keadaan diizinkan memburuk, terjadi berbagai kesulitan.. Tuhan tetap setia menyertai dan membentuk kita agar dapat menjadi selaras dengan kehendak-Nya.
Selain itu, penderitaan yang diizinkan terjadi juga menyingkapkan sampai sejauh mana sikap kebergantungan kita pada Tuhan. Keadaan yang sulit juga mematahkan setiap potensi kesombongan yang membuat kita tidak lagi bergantung pada Dia. Kita merasa mampu menjalani semuanya dengan hikmat dan kekuatan, padahal kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melaluinya.
Setiap krisis dan batasan yang diizinkan-Nya terjadi dapat membuat kita rendah hati dan kembali mengandalkan Tuhan, karena semua hanyalah anugerah-Nya yang memelihara hidup kita.
Karena itu tidak semua kepuasan kita dapatkan dengan instan / pada saat itu juga. Saat berdoa dan berpuasa, kita belajar untuk berjalan bersama dengan Tuhan dan mengikuti apa yang menjadi mau-Nya Dia, sesuai dengan waktu dan kehendak terbaik-Nya bagi setiap kita, anak-anakNya.
Ada keadaan tertentu yang bisa jadi diizinkan-Nya dapat muncul tanpa peringatan terlebih dahulu. Tetapi firman Tuhan mengatakan,
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37).
Kehadiran Tuhan di dalam hidup kita itu jauh lebih dari cukup. Dia adalah Imanuel dan dapat memakai kondisi apa pun untuk menyatakan Pribadinya.
“Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”” (Kejadian 32:25-28).
Ketika Yakub bergumul dan sendi pangkal pahanya dibuat terpelecok, namanya lalu diubah menjadi Israel. Melalui kisah pergumulan Israel, pengenalan kita akan siapa Pribadi Tuhan sering kali terjadi melalui hal sulit yang diizinkan-Nya terjadi.
Kalau di sepanjang hidup kita tidak pernah mengalami hal sulit yang sampai membuat kita bergantung sepenuhnya hanya pada Dia.. maka kita juga tidak akan pernah mengalami siapa Pribadi Allah dengan lebih mendalam, di hidup kita.
Dia menguatkan kaki kita, dan terus bekerja dalam segala keadaan. Dia mau membentuk kita melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup keseharian. Sampai akhirnya kita dapat berkata,
“Tuhan itu Kekuatanku, dan bersama-Nya aku akan dibawa lebih higher and stronger. Lebih tinggi dan lebih kuat bersama Dia.”
Allah tidak berjanji bahwa Dia akan menghilangkan krisis, tetapi Dia akan memberi kapasitas eksistensial bagi kita untuk dapat bertahan dan melangkah melaluinya. Kitab Habakuk juga tidak mengatakan bahwa ladang akan pulih, politik akan menjadi stabil, atau Babel akan segera runtuh.
Tetapi Habakuk mengatakan,
“Tuhan membuat kakiku seperti kaki rusa.”
Hal ini memiliki arti, transformasi pertama bukanlah pada keadaan yang di luar, melainkan pada subjek / kita pribadi yang menjalaninya.
Sebagai penutup kitab, Habakuk 3:19 menegaskan bahwa iman di dalam Perjanjian Lama bukanlah iman yang naif atau anti-realitas. Tetapi hal ini adalah iman yang lahir setelah Allah tidak menjawab sesuai ekspektasi kita, setelah sejarah terasa kejam, dan masa depan terlihat tampak gelap. Penutup ini mengajar bahwa puncak iman bukanlah kepastian situasi, melainkan kestabilan batin di medan yang sedang tidak stabil.
Dalam kacamata sejarah dan teologi, Habakuk 3:19 adalah deklarasi bahwa iman sejati tidak lahir di lembah yang aman, tetapi di bukit batu yang curam—sebuah tempat hanya bagi mereka yang tetap bertahan setelah dibentuk Allah, yang sanggup untuk tetap berdiri, melangkah, dan tidak jatuh. Setiap dari kita dibentuk oleh Allah sendiri, di mana kita tidak akan pernah dibiarkan-Nya sampai tergeletak.. sebab Allah setia, dan Dia selalu menopang hidup kita. Firman-Nya berkata,
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24).
“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:29-31).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar