top of page

Ribka Setiorahardjo - Doa Puasa “Higher & Stronger” (Hari Pertama)

  • mdcsbysystem
  • 7 Jan
  • 6 menit membaca

Renungan Doa Puasa “Higher & Stronger.” Hari Pertama. Ditulis ulang dari sharing Ibu Pdt. Ribka Setiorahardjo melalui Zoom Meeting, pada Tgl. 6 Januari 2026.


Ayat Bacaan: 2 Tawarikh 20:1-30.


Memasuki awal tahun yang baru ini pastinya kita semua memiliki harapan yang jauh lebih baik untuk pribadi kita, kesehatan, keluarga dan anak-anak, pekerjaan, pelayanan, dan juga banyak hal lainnya.. kita merindukan bahwa semua yang ada di dalam hati kita ini boleh terjadi yang terbaik.


Tetapi tidak dapat dipungkiri, keadaan dunia yang kita hadapi ini hari-hari ini banyak terjadi bencana alam, peperangan, berbagai kejahatan, keadaan ekonomi yang lesu, dan juga berbagai berita lainnya yang membuat kita takut dan gentar hati.


Bisa jadi kita bertanya di dalam hati,


“Apakah semua keadaan ini dapat membaik dan dapat terjadi pemulihan? Apa yang akan terjadi di hari-hari ke depan nantinya?”


Semua pertanyaan ini membuat kita takut karena kita tidak tahu apa yang sebenaranya akan terjadi di hari-hari ke depan. Melalui pembacaan ayat firman Tuhan di atas kita mendapati,


“Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.” (ayat 1).

Hal ini membuat Yosafat dan Yehuda takut, karena musuh bergabung untuk menyerang mereka. Dalam keadaan tersebut, apa yang dilakukannya?


“Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” (ayat 3).

Kita dapat belajar dari apa yang dilakukan Yosafat, pada saat mengalami berbagai momen yang membuat kita takut dan kuatir. Alih-alih dikuasai oleh keadaan yang ada, kita dapat memutuskan untuk tetap bergantung pada Tuhan dan mencari wajah-Nya. Bahkan di ayat di atas dikatakan bahwa Yosafat menyerukan Yehuda untuk berpuasa.


Berpuasa adalah sikap yang tepat bagi kita untuk merendahkan hati dan mengandalkan Tuhan, di dalam kehidupan ini. Sebuah sikap yang kita ambil di mana kita mau memberikan Tuhan untuk kembali berada di tempat yang utama, di awal tahun ini. Kita mau mengawali bukan dengan kekuatan pribadi dan juga kesombongan, tetapi memilih untuk menjalaninya bersama dengan Tuhan dan bergantung hanya kepada Dia.


Sekalipun kita memiliki banyak rencana dan target di tahun ini, kita tetap memerlukan kerendahan hati untuk mau mengandalkan Dia.


Dengan kita mengambil waktu untuk berpuasa, menolong diri untuk kita berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan kita mau memutuskan untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya.


Bahkan di ayat selanjutnya kita juga dapat belajar dari sikap Yosafat..


“Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” (ayat 12).


Yosafat tetap berfokus pada Tuhan, merendahkan hatinya, dan mengandalkan Dia sepenuhnya.


Ini adalah Poin Pertama yang dapat kita pelajari, dengan berpuasa kita merendahkan hati dan memutuskan untuk tetap mengandalkan Dia.


Poin Kedua yang dapat dipelajari adalah,


“Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.” (ayat 4).

Yosafat menyerukan agar semua kota yang ada di Yehuda untuk bersatu dan mencari Tuhan. Melaluinya kita dapat belajar bahwa,


“Puasa adalah waktu terbaik untuk kita mau menyatukan hati dan mencari Tuhan, tidak hanya secara pribadi saja tetapi juga bersama-sama.”

Di tahun 2026 ini kita semua merindukan agar kita dibawa Tuhan untuk menjadi Higher & Stronger, dibawa semakin tinggi dan menjadi lebih kuat. Kita mau berjalan bersama dengan Tuhan, mengalami Pribadi-Nya lebih lagi, dan semakin kuat di dalam Dia. Karena itu marilah kita menyatukan hati, dan menyatukan arah hidup kerohanian kita bersama-sama. Jangan berjalan sendirian sebab,


“Ada kuasa Tuhan yang dapat terjadi, ketika kita mau menyatukan hati untuk berpuasa.”

Poin Ketiga yang dapat dipelajari dari apa yang dialami Yosafat di 2 Tawarikh 20 ini adalah,


“Puasa dapat mempertajam kepekaan rohani untuk kita dapat mendengar suara dan menerima tuntunan Tuhan, bagi kehidupan kita.”

Raja Yosafat mengadakan puasa dan mengajak semua kota yang ada di Yehuda untuk mencari Tuhan. Melaluinya kita dapat belajar,


“Saat kita mau merendahkan hati dan mengandalkan Tuhan.. maka Dia dapat memberi kepekaan rohani dan juga tuntunan-Nya.”


Prayer connects us to God. Fasting disconnects us from the world.

Ketika kita berdoa, kita ini terhubung dengan Tuhan. Tetapi ketika kita berpuasa, kita terputus dari dunia dan mendengarkan suara-Nya.


Dunia yang kita hidupi hari-hari ini begitu bising dan banyak suara yang terus berkata-kata di dalam pikiran kita. Suara ini bersumber dari berita di media sosial / medsos, pandangan negatif, dan juga berbagai berita yang ada di sekitar. Tetapi dari poin ketiga ini kita perlu belajar untuk memutuskan setiap berita negatif, menggantinya dengan mencari wajah dan kehendak Tuhan, serta tetap berfokus hanya kepada-Nya saja. Bukalah telinga dan dengarkanlah Dia berbicara. Berdoalah,


“Tuhan, aku memberi tempat dan ruang bagi-Mu. Berbicaralah di dalam hatiku, ya Tuhan.”

Tuhan rindu untuk dapat menyatakan diri-Nya dan juga strategi-Nya, di dalam kehidupan kita. Saat kita memutuskan untuk mau mendekat dan terus karib bersama dengan-Nya, kita dapat mendengar dan mengenal suara-Nya berbicara untuk memberi arahan dan juga tuntunan bagi hidup kita.


Dari segala kebisingan suara yang ada di dunia, putuskanlah untuk kita mau mendengar suara dari Tuhan. Kita mau mempertajam telinga kita agar dapat mendengar suara-Nya berbicara.


Dari keputusan Yosafat dan Yehuda yang memutuskan untuk mencari Tuhan, maka datanglah firman Tuhan bagi mereka..


“Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.” (ayat 14-17).


Ketika berdoa dan berpuasa, kita mendapatkan firman dari Tuhan dan juga tuntunan-Nya yang memberi kita kekuatan serta kelegaan, pada saat kita menghadapi ketakutan dan kekuatiran.


Saat kita mencari wajah dan kehendak Tuhan, maka firman-Nya diberikan untuk menguatkan hati kita pada saat menjalani kehidupan ini.


Keadaan di sekitar mungkin dapat membuat kita ragu dan goyah, tetapi kita tidak mau keadaan tersebut mendikte hidup kita. Putuskanlah untuk kita tetap dikuatkan dan berjalan bersama dengan firman-Nya. Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk membaca kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab, di setiap harinya. Sebab,


“iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Pertama kali Yosafat dan Yehuda mengalami ketakutan, tetapi saat mereka memutuskan untuk berdoa dan berpuasa, mereka mendapatkan firman-Nya dan kini menjadi berani. Mereka tidak hanya mendengar dan menerima firman Tuhan tersebut, tetapi juga mau taat untuk melakukan setiap perintah dari Dia. Mereka maju dan memuji Dia. Firman Tuhan memberitahu kita,


“Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: “Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”” (2 Tawarikh 20:20-21).


Kata “memuji Tuhan” berbicara tentang,


“Kita mau memperkatakan firman Tuhan dan tetap mengarahkan hati kepada-Nya, mau membesarkan Pribadi-Nya, menerima arahan-Nya, serta melangkah bersama tuntunan dan juga menerima kekuatan dari Dia untuk menjalani hari kita.”


Poin Keempat. Puasa membawa kita pada kemenangan dan juga puji-pujian pada-Nya.


“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.” (ayat 22).


Kita memulai berdoa dan berpuasa dengan kerendahan hati, dan mengakhirinya dengan pujian kepada Tuhan. Ketika kita mau taat melakukan hal ini, maka Dia yang akan bekerja di dalam hidup kita. Dia masih sanggup untuk mengubah setiap pergumulan kita menjadi puji-pujian kepada-Nya. Saat kita tetap mengandalkan Tuhan, Dia sanggup mengubah setiap pergumulan menjadi kesaksian dan kemenangan, yang memuliakan nama-Nya.


Marilah mengawali tahun ini dengan berdoa dan berpuasa, serta tetap mengandalkan Tuhan dan bukan dengan keluhan serta ketakutan.


Kita tidak lagi berfokus pada masalah, tetapi pada Allah yang hidup dan besar, yang menyertai setiap kita. Bukan dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan doa dan berpuasa. Dengan kepercayaan penuh untuk meminta Tuhan agar firman-Nya dapat mengarahkan hidup kita.


Ada kalanya strategi Tuhan tidak masuk di akal dan logika manusia, tetapi tetaplah melangkah dalam ketaatan kita pada firman-Nya. Teruslah mendekat dan mengandalkan Tuhan, di dalam doa serta membaca kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab.


Amin. Tuhan Yesus memberkati…

Komentar


bottom of page