Ribka Setiorahardjo - Memasuki Musim yang Baru
- mdcsbysystem
- 4 Jan
- 4 menit membaca
Catatan Khotbah: Memasuki Musim yang Baru. Ditulis ulang dari sharing Ibu Pdt. Ribka Setiorahardjo di Ibadah Doa Pagi, pada Tgl. 3 Januari 2026.
Memasuki tahun yang baru ini bukan hanya sekadar adanya perubahan pada kalender saja, tetapi ada hal-hal yang butuh kita persiapkan.
Tahun yang Baru membawa dua hal,
Pertama. Harapan. Kita berharap ada hal-hal yang jauh lebih baik yang dapat terjadi di dalam hidup kita, jauh lebih baik dari tahun kemarin. Ada berkat terbaik yang datangnya berasal dari Tuhan, perkembangan, terobosan, dan juga keberhasilan.
Kedua. Adanya ketakutan dan kekuatiran. Kita tidak tahu tantangan apa saja yang kita hadapi nantinya di tahun yang baru ini.
Tetapi marilah mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala penyertaan-Nya di tahun 2025, dan memandang ke depan bersama dengan Dia yang tetap setia menggenapi semua janji-Nya atas hidup kita di tahun 2026 ini.
Ibu Pdt. Ribka sangat diberkati dengan gambar seorang anak yang memegang tangan Tuhan Yesus. Melaluinya kita dapat belajar,
“Kita tidak tahu apa akan yang terjadi di tahun ini, tetapi kita tahu tangan Siapa yang memegang tangan kita. Firman-Nya itu pasti yang akan menuntun hidup kita.”
Mungkin ada keadaan ekonomi, permasalahan keluarga, dan berbagai pergumulan yang belum selesai di tahun kemarin. Tetapi kita dapat berdoa agar ada perubahan yang Tuhan dapat kerjakan di tahun 2026 ini. Kita tidak sendirian. Ada tangan Tuhan yang setia, yang menggandeng tangan kita.
Dari Yosua 1:1-9 kita dapat belajar ada prinsip yang dapat dilakukan melalui kisah Yosua yang menghadapi situasi dan keadaan, serta banyak hal yang baru dan berubah di hidupnya.
Pertama. Tuhan yang memimpin di tengah transisi di kehidupan kita.
“Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”” (ayat 1-2).
Yosua menghadapi musim dan kepemimpinan yang baru, karena Tuhan memerintahkan dirinya untuk memimpin bangsa Israel untuk masuk ke dalam tanah perjanjian, yang sudah Dia janjikan.
Kita perlu mengakhiri musim di “padang gurun” di tahun 2025 untuk masuk ke dalam “tanah perjanjian” yang sudah dijanjikan Tuhan di tahun yang baru ini. Selain itu, kita juga membutuhkan iman yang teguh dan tetap memandang hanya pada Dia. Tanggalkan setiap kegagalan dan kekecewaan, berbagai hal yang mungkin membuat kita nyaman selama ini. Gandenglah tangan-Nya dan teruslah maju ke depan untuk menerima semua yang sudah Tuhan janjikan di dalam hidup kita.
Masih ada banyak hal yang Dia ingin kerjakan dan genapi di dalam hidup kita. Dia telah berjanji bahwa Dia yang akan selalu memimpin, mengawal, dan juga menyertai hidup kita.
Kedua. Tuhan itu menyertai dan meneguhkan semua janji-Nya.
“Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.” (ayat 3-4).
“Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.” (ayat 5-6).
Tuhan itu adalah Allah yang setia. Kalau Dia yang memberikan janji, maka Dia jugalah yang sanggup untuk menepati semua janji-Nya.
Yosua melangkah bukan dengan hikmat dan kekuatannya sendiri, tetapi karena ada Tuhan yang memimpin dan menyertai dirinya. Yosua percaya bahwa Dia sanggup meneguhkan semua janji-Nya.
Keberanian sejati adalah tetap mempercayai pada apa yang Tuhan sudah janjikan di dalam hidup kita. Dia pasti menyertai dan meneguhkan semua janji-Nya.
Karena itu teguhkanlah hati kita untuk melewati dan menyelesaikan tahun ini bersama dengan-Nya. Keberanian kita bukan karena kepastian keadaan yang terjadi apakah nantinya akan berubah menjadi lebih baik / tidak, tetapi berdasarkan pada penyertaan Tuhan yang setia.
Penyertaan-Nya adalah jaminan kemenangan kita.
Dari sikap kita yang menanti-nantikan jawaban dari Dia, bertumbuh pada menyadari bahwa keberadaan Dia dalam hidup kita adalah segala-galanya.
Ketiga. Tuhan itu memberkati ketaatan kita pada firman-Nya.
“Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (ayat 7-9).
Yosua berhasil karena dirinya mau taat pada setiap perintah-Nya. Tuhan mengingatkan dirinya,
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (ayat 8).
Tuhan ingin agar Taurat / firman-Nya itu menjadi kompas kehidupan yang memimpin dan mengarahkan hidup kita. Tetaplah terhubung dan jangan melepas gandengan tangan kita.
Mengapa?
Karena Dia berjanji bahwa perjalanan kita akan dibuat-Nya berhasil dan beruntung.
Ketika kita mau menyertakan Tuhan di dalam hidup, hal ini memiliki arti bahwa kita mau mengikuti cara dan strategi-Nya Tuhan, sekalipun hal itu bertentangan dengan hikmat dan pemikiran kita yang terbatas. Kita mau untuk terus memegang firman Tuhan, tetap taat dan setia pada tuntunan-Nya di dalam firman-Nya.
Membaca firman Tuhan di dalam Alkitab tidak lagi hanya untuk sekadar “kejar target” tetapi kita mau mendengar apa yang Dia katakan bagi hidup kita. Hal ini sangatlah penting, karena itu tetaplah membaca dan mencintai firman-Nya lebih lagi.
Renungkanlah firman ini siang dan malam, berbicara tentang memperkatakan firman dan mau menaatinya. Hal inilah yang membuat kita berhasil, bukan karena kuat dan gagah kita. Jangan pernah bosan untuk membaca firman-Nya di Alkitab.
Tahun yang diberkati bukanlah tahun yang tanpa masalah, tetapi sebuah tahun di mana kita sebagai umat Tuhan memutuskan untuk tetap setia pada janji-Nya, dan terus melekat pada Dia.
Semuanya dengan tujuan agar keberadaan hidup kita dapat menjadi berkat bagi sesama. Setiap perkataan di dalam firman Tuhan bukan hanya sekadar perkataan yang kita baca dan perkatakan sambil berlalu, tetapi ada kuasa Tuhan yang menyertai dan mengubahkan hidup.
“Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (Yohanes 6:63b).
Masukilah tahun yang baru ini dengan sikap semakin mencintai firman Tuhan di dalam Alkitab, tetaplah setia menantikan Dia, dan mengalami Pribadi-Nya lebih lagi di hidup kita.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..



Komentar