top of page

Markus Simanjuntak - Immanuel (Doa Pagi Tutup Tahun 2025)

  • mdcsbysystem
  • 4 Jan
  • 12 menit membaca

Catatan Khotbah: “Doa Pagi Tutup Tahun 2025.” Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Markus Simanjuntak di Ibadah Doa Pagi Tutup Tahun di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 27 Desember 2025.


Setiap dari kita pasti merindukan bahwa apa yang terjadi di depan, yakni di tahun 2026, dapat menjadi tahun yang jauh lebih baik dari tahun ini. Marilah kita belajar bersama dari Mazmur 46.


“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2).

Di ayat ini kita dapat belajar bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan juga kekuatan, dan hal ini baru dapat terjadi ketika kita memiliki covenant / ikat janji bersama dengan Dia, serta menjadi people of covenant / orang-orang yang membawa dan menghormati perjanjian dengan Allah di hidupnya.


Umat yang memiliki covenant memiliki arti,


Dia selalu bersama kita, dan Dia menjadi tempat pelarian serta perlindungan yang aman.


“maka haruslah kamu memilih beberapa kota yang menjadi kota-kota perlindungan bagimu, supaya orang pembunuh yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili.” (Bilangan 35:11-12).


“Lalu Musa mengkhususkan tiga kota di seberang sungai Yordan, di sebelah timur, supaya orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak memusuhinya lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana, sehingga ia, apabila melarikan diri ke salah satu kota itu, dapat tetap hidup.” (Ulangan 4:41-42).


Dalam Perjanjian Lama (PL), telah ditentukan ada beberapa kota yang berfungsi sebagai tempat pelarian dan perlindungan saat seseorang tidak sengaja berbuat sesuatu yang mengakibatkan hilangnya nyawa dari sesamanya. Di kota inilah nantinya akan diadakan rapat umat yang akan mengadili antara orang yang membunuh dan penuntut darah (Bilangan 35:24).


Bagi kita di zaman sekarang, tempat pelarian dan perlindungan yang paling aman dan strategis adalah dengan berdoa. Kalau kita tidak mau berdoa, maka hal ini sama saja seperti kita keluar dari kota perlindungan tersebut, dan nantinya dengan mudah Iblis akan merusak serta menjauhkan hidup kita dari hubungan karib bersama dengan-Nya.


Orang-orang yang memiliki covenant dan membangun hubungan yang karib bersama dengan Tuhan, akan memiliki kepercayaan diri pada saat menjalani kehidupan ini. Tentunya semua yang terjadi bukan karena hikmat dan kekuatan kita yang terbatas, tetapi hanyalah kasih anugerah-Nya yang menyertai dan memelihara hidup kita.


“Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” (Mazmur 46:3-4).


Ketika bercerita dengan salah seorang jemaat yang ruang lingkup pekerjaannya ada hubungannya dengan perkapalan, Pdt. Markus diingatkan tentang sebuah alat di dalam kapal yang bernama stabilizer giroskop laut. Fungsi dari alat ini adalah untuk mengurangi gerakan bergoyang dan berayun pada perahu, meningkatkan stabilitas dan juga kenyamanan bagi para pelaut, bahkan termasuk pada saat mereka sedang berada di perairan yang bergelombang besar. Alat ini menggunakan gaya giroskopik untuk melawan gerakan laut yang bergelombang, dan membuat kegiatan berperahu menjadi lebih lancar dan aman.


Di ayat di atas kita dapat belajar pada saat kita tinggal di dalam hadirat Tuhan, maka kita akan mendapat ketenangan sekalipun keadaan di sekitar sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena kita abai, tetapi hadirat Tuhan itu menjadi seperti stabilizer giroskop laut yang akan memampukan setiap kita untuk melalui berbagai musim di dalam hidup ini dengan rasa tenang dan percaya diri.. mempercayai bahwa Dia adalah Allah yang setia, dan yang selalu menepati setiap janji-Nya, pada waktu-Nya.


Impresi bagi Rekan Pengusaha.


Di tahun 2026 mendatang, Roh Kudus memberi impresi di dalam hati Pdt. Markus untuk mengingatkan setiap rekan pengusaha agar doing our business / melakukan pekerjaan kita dengan prudent / sikap berhati-hati dan bijaksana.


Di Jakarta ada perusahaan besar yang dimiliki seorang anak yang cinta Tuhan.. diiziinkan mengalami kolaps. Melalui peristiwa ini kita diingatkan untuk memiliki sikap prudent, agar tidak dikuasai greedy / keserakahan untuk expand / memperluas usaha kita.


“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1).

Untuk segala sesuatu ada masa dan waktunya, termasuk ada masa untuk expand, ada juga masa untuk berdiam diri. Kita benar-benar membutuhkan hikmat dari Tuhan agar dapat memandang segala sesuatu tidak hanya semata-mata dari sisi ada keuntungannya saja.


Berhati-hatilah, karena kita bisa terjebak dan justru nantinya malah masuk ke dalam jurang kejatuhan yang semakin mendalam. Perhitungkan dengan baik dan matang untuk setiap ekspansi / perluasan yang hendak kita lakukan.


Lakukan segala sesuatu, dengan memiliki motivasi karena Tuhan ingin agar kita tetap tinggal di dalam Dia. Firman Tuhan juga berkata,


“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Matius 15:5).


Hari-hari ini beberapa gereja besar di Amerika banyak yang gulung tikar, karena mereka selama ini hanya diajar tentang hal yang mengenakkan diri mereka saja. Mereka tidak lagi pernah diajar bagaimana caranya untuk memiliki dan menjaga sukacita dari Tuhan, walau keadaan diizinkan sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana caranya memiliki jiwa yang tenang, dan hal ini kita dapatkan hanya dari hadirat Tuhan saja.


Berhati-hatilah. Di tahun 2026 bisa jadi terdapat banyak jebakan yang membuat kita semakin menjauh dari Tuhan. Mungkin dari luar terlihat baik, tetapi setelah masuk ke dalamnya.. kita akan mengalami penyesalan terdalam, mengapa kita terlalu greedy dan tidak mengandalkan Dia.


“Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.” (Mazmur 46:5).

Kata “Kota Allah” memiliki arti rumah Tuhan / gereja dan di ayat di atas terdapat kata “aliran-aliran sebuah sungai,” yang berbicara tentang hadirat-Nya yang dapat memuaskan dan memulihkan hidup kita. Itulah sebabnya doa kita tidak akan pernah menjadi kering, karena kita belajar untuk mendengar dan menaati suara Tuhan yang menyuruh kita untuk berdoa bagi seseorang / melakukan sesuatu hal.


Kita tidak lagi berfokus hanya berdoa bagi kepentingan diri sendiri atau kelompok saja, tetapi kita dapat belajar untuk mulai menaikkan doa prophetic prayer / belajar mendengar suara Tuhan tentang kebutuhan atau apa yang Tuhan ingin kita doakan / sampaikan pada sesama kita.


“Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.” (Mazmur 46:6-7).


Ayat ini sepertinya terlihat kontras / saling bertentangan. Di ayat 6, kita dapat melihat ada Allah yang tinggal di dalam hidup dan memberi ketenangan sehingga kita tidak menjadi guncang. Tetapi di ayat 7 kita melihat bagaimana keadaan di sekitar begitu ribut, banyak terjadi keguncangan, dan sama sekali tidak ada kepastian.


“TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela. Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” (Mazmur 46:8-10).


Di tengah ketidakpastian dan keguncangan yang diizinkan terjadi, Dia itu tetap hadir untuk menyertai dan menyelamatkan hidup kita.


“”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita.” (Matius 1:23).


Konsep ayat di atas sudah ada sejak zaman PL,


“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14).


Ketika Tuhan memberikan janji di Yesaya ini, konteksnya ada di ayat sebelumnya,


“Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya. Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud: “Aram telah berkemah di wilayah Efraim,” maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.” (Yesaya 7:1-2).


Tetapi Tuhan memberikan tanda pada Ahas dan rakyat Israel, dan ini adalah konteksnya..


“Kalau Tuhan menyertai hidup kita, maka sekalipun musuh sudah berdiri di depan pagar rumah.. kita tidak perlu menjadi takut dan gentar hati. Mengapa? Karena Tuhan sendirilah yang akan memberi resistansi / daya tahan, hikmat, dan juga penyertaan-Nya sehingga musuh tidak akan dapat masuk dan menghancurkan hidup kita.”


Sumber Wikipedia mencatat,


Kata “Immanuel” (atau Emmanuel) berasal dari bahasa Ibrani kuno, gabungan dari dua kata. Kata pertama adalah “Immanu” (עמנו) yang berarti “beserta kita” atau “bersama kita”. Kata kedua adalah “El” (אל) yang berarti “Tuhan” atau “Allah”. Sehingga bila kedua kata ini digabung, secara harfiah memiliki arti “Tuhan beserta kita”.


Kata immanu tidak hanya berbicara tentang kedekatan secara jarak saja, tetapi juga ada relasi dan keintiman yang dibangun di setiap harinya, bersama dengan Dia. Itulah sebabnya bila Imanuel itu menyertai setiap kita, maka kita tidak perlu takut dan gentar, kita dapat memandang pekerjaan yang Tuhan lakukan, dan tetap merasa aman.


Suami dan istri dapat memiliki hubungan yang karib dan intim karena ada komunikasi yang terus dibangun di antara keduanya. Demikian pula dengan hubungan kita bersama Tuhan. Kita dapat intim dengan Dia ketika kita terus membangun hubungan yang karib dengan-Nya di dalam doa dan pembacaan firman-Nya di dalam Alkitab, di setiap harinya. Tidak hanya di hari Minggu saja.


“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:14-16).


Allah Imanuel tidak hanya menjadi seperti konteks di dalam PL saja, tetapi Dia juga menjadi teman dalam penderitaan yang turut merasakan berbagai kelemahan kita. Firman Tuhan berkata,


“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14).


Firman / Tuhan Yesus telah menjadi manusia, dan Dia tinggal bersama, serta di dalam diri kita.


Pastor Damien dari Moloka’i.


Lahir di Tremelo, Belgia, pada tahun 1840, Pastor Damien (nama lahir Joseph de Veuster) adalah seorang imam dan misionaris Belgia yang terkenal. Dirinya dikenal sebagai “Rasul untuk para penderita kusta” dan menjadi sukarelawan pada tahun 1873 untuk melayani di koloni kusta terpencil yang dikarantina di pulau Molokai. Di tempat tersebut, lebih dari 600 orang dengan kusta telah diasingkan secara paksa dan sebagian besar ditinggalkan.


Selama 16 tahun ia tinggal di antara penduduk, tidak hanya memberi perawatan spiritual tetapi juga bantuan fisik: membangun rumah, gereja, sekolah, dan sistem air. Ia lalu mengatur pertanian, membalut luka, membangun peti mati, menggali kuburan, dan pada akhirnya memulihkan martabat serta harapan bagi masyarakat.


Bulan Desember 1884 saat Pastor Damien sedang bersiap untuk mandi, tidak sengaja kakinya tercelup air panas yang mengakibatkan kulitnya melepuh. Namun ia tidak merasakan apa-apa, dan barulah ia menyadari kalau ia sudah terjangkit kusta. Mengetahui sudah terjangkit, Damien justru makin giat membangun sebanyak mungkin rumah dan merencanakan program setelah kepergiannya nanti.


Akhirnya pada Tgl. 15 April 1889 pukul 8:00 pagi, Pastor Damien meninggal pada umur 49 tahun. Esok harinya, setelah misa yang dipimpin oleh Pastor Moellers, Damien dimakamkan di bawah pohon Pandanus, tempat di mana ia pertama kali tidur saat baru tiba di Molokaʻi.


( Kisah Pastor Damien dari Moloka’i dapat dibaca ulang di sumber Wikipedia Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/Pastor_Damien )


Pdt. Markus bercerita dan membagikan ulang ketika Pastor Damien melayani di tempat tersebut, usahanya seperti membentur tembok dan ada jarak di antara dirinya dan juga penderita kusta. Hingga pada suatu hari ia terjangkit terjangkit kusta, orang-orang mulai membuka hatinya terhadap pemberitaan Injil Kristus. Mengapa?


Karena mereka sekarang melihat seseorang yang ada bersama mereka bukanlah orang asing, tetapi juga mengalami dan merasakan bagaimana rasanya terkena penyakit kusta.


Sama seperti yang dialami Pastor Damien, demikian pula dengan konsep Imanuel yang memiliki arti Allah menyertai kita. Dia juga menjadi teman sependeritaan yang turut merasakan berbagai penderitaan yang sedang kita alami. Ibrani 4:14-16 telah mencatatnya pada kita.


Tetapi konsep Imanuel tidak berhenti hanya sampai di teman sependeritaan saja, tetapi juga..


“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Penyertaan Allah dalam hidup Yusuf.


Penyertaan-Nya ini mengingatkan kita pada kisah yang dialami Yusuf selama berada di Mesir. Kita dapat membacanya di ayat-ayat berikut,


“Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (Kejadian 39:1-4).


“Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” (Kejadian 39:20-23).


“Jawab mereka kepadanya: “Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya.” Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.”” (Kejadian 40:8).


“Lalu kata Yusuf kepada Firaun: “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.”” (Kejadian 41:25).


“Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.”” (Kejadian 41:38-39).


Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” (Kejadian 41:51-52).


“Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 45:7-8).


“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20).


Dari ayat di atas kita mendapati bahwa Yusuf mendapat kemurahan / favor dari Allah, yang membuat segala usahanya menjadi berhasil. Dari kisahnya kita dapat belajar bahwa covenant relationship / hubungan ikat janji yang kita bangun karib bersama dengan Allah akan mendatangkan penyertaan dan kemurahan-Nya di hidup kita.


Impresi bagi calon mahasiswa.


Pdt. Markus berbagi agar anak-anak muda tidak takut untuk meminta pada Tuhan agar mereka dapat diberkati dengan beasiswa penuh atau fully funded scholarship.


Tuhan dapat membuka jalan bagi anak-anak kita agar mereka dapat menjadi pintu dan utusan Injil Kristus. Bahkan tempat sulit-pun bisa ditembus dengan menjadi seorang pengusaha atau student yang belajar di negara tersebut.


Tujuan kita haruslah Amanat Agung-Nya,


“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).


Pahamilah bahwa tugas kita adalah,


Making Disciple for Christ (MDC).


Setiap dari kita, di mana pun dan apa pun yang sedang kita kerjakan, kita adalah disciple maker (pembuat murid) yang merupakan pengikut Yesus Kristus yang secara aktif mau membangun hubungan dengan orang lain untuk membimbing mereka agar mau percaya, mengikuti, berubah oleh, dan terlibat di dalam misi Yesus, yaitu untuk membantu orang lain menjadi murid juga.


Hal ini adalah panggilan bagi semua orang percaya, bukan hanya untuk kalangan tertentu, yang melibatkan pengajaran, pembinaan, dan peneladanan firman Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada kebenaran, hubungan otentik, dan kehidupan yang mencerminkan Kristus.


Memang masih ada berbagai keterbatasan yang harus kita hadapi, tetapi beranilah untuk bermimpi bahwa Tuhan akan memberi berbagai kemurahan-Nya, dan nama-Nya sendiri yang nanti akan dipermuliakan.. Tuhan telah memanggil dan menyertai setiap kita untuk hal ini.


Tuhan selalu bersama dengan kita, selama kita mau menjalankan Amanat Agung-Nya. Hal ini tidak berlaku bagi calon mahasiswa saja tetapi juga bagi siapa pun yang mau percaya, dan yang memiliki kerinduan untuk menjadi terang Kristus.


Selama kita menyelesaikan misi Allah, maka pekerjaan kita akan dibuat berhasil dan diwarnai dengan kemurahan / favor dari Dia. Amin.


“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11).

Ada kalanya Tuhan menyuruh kita untuk melakukan sesuatu, tetapi ada kalanya Dia juga menyuruh kita untuk berdiam diri dan melihat bahwa hanya Dia satu-satunya Allah, dan hanya Dia yang layak ditinggikan di atas bumi ini.


Pada suatu waktu saat Pdt. Markus berada di dalam penerbangan, pesawatnya menghadapi awan CB atau Cumulonimbus yang merupakan awan vertikal raksasa yang menjadi penyebab utama dari badai petir, hujan lebat, angin kencang, bahkan puting beliung serta hujan es. Sehingga hal ini menjadikannya awan paling berbahaya bagi penerbangan. Sementara semua orang mengalami ketakutan dan panik, Pdt. Markus justru malah tertidur dengan pulas.


Melaluinya kita dapat belajar ada kalanya kita harus melepas tangan kita dari kemudi dan biarlah Tuhan yang take over / mengambil alih. Tidak semua hal yang ada di dalam dunia ini dapat kita kendalikan, dan agar kita dapat mengetahui, bahwa ada Tuhan yang masih memegang tangan kita.


Selain itu, telinga kita tidak dirancang untuk guncangan yang hanya sekadar menabrak awan. Telinga kita dirancang untuk dapat mendengar suara Tuhan. Itulah sebabnya kita dapat menjadi tenang karena ada Dia yang masih memegang penuh kendali di dalam hidup kita, sekalipun keadaan di luar penuh dengan ketidakpastian.


“TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela” (Mazmur 46:12).

Tetaplah mempercayai, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hidup kita sendirian. Dia selalu menyertai setiap kita. Sekalipun sebuah kota atau negara keadaannya sama seperti benteng yang sulit untuk ditembus dengan berita Injil Kristus, percayalah bahwa Tuhan dapat mengutus agent of changes / setiap kita yang mau membawa perubahan, mau untuk terus berdoa dan meruntuhkan setiap benteng, agar Injil Kristus nantinya dapat diberitakan.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page