Steve Hawthorne - Purpose Oriented Prayer
- 21 Okt 2025
- 7 menit membaca
Catatan Khotbah “Purpose Oriented Prayer.” Ditulis ulang dari sharing Dr. Steve Hawthorne di Ibadah Minggu di MDC Ciputra World, pada Tgl. 5 Oktober 2025.
Bagaimana caranya agar gereja Tuhan dapat mulai berdoa untuk kebutuhan banyak orang? Karena sering kali permohonan doa kita dinilai “terlalu kecil” karena selama ini kita hanya berdoa untuk kepentingan diri sendiri saja. Tetapi doa yang diajarkan di dalam Alkitab adalah doa yang memiliki tujuan, yakni memuliakan nama-Nya dan juga menjadi berkat Tuhan bagi sekitar.
Selama ini kita dilatih hanya berdoa untuk kebutuhan diri sendiri, dan Tuhan selanjutnya mendengar serta menolong kebutuhan kita.
Tetapi doa itu memiliki kedalamannya sendiri, jauh lebih indah dari berdoa hanya sekadar untuk kepentingan diri sendiri. Tuhan juga mau melakukan perkara yang besar dan luas, tidak hanya untuk kepentingan diri kita saja.
Tuhan mau kita berdoa agar nama-Nya semakin dipermuliakan dan kemuliaan-Nya juga disingkapkan. Tuhan mau agar kita dapat menikmati Pribadi-Nya dengan penuh sukacita.
Janji Tuhan dan Abram.
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2).
Tuhan memberikan janji pada Abram bahwa dirinya kelak akan menjadi sebuah bangsa yang besar, dan ini adalah kehormatan besar. Tetapi ayat di atas mengajar kita bahwa berkat yang Tuhan berikan itu memiliki tujuan yakni,
“..dan engkau akan menjadi berkat.”
Abram diberkati supaya bisa menjadi “hadiah Tuhan” untuk dapat memberkati orang lain. Bahkan di ayat 3 di bagian terakhir dikatakan,
“..dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Di dalam versi King James Version (KJV) ditulis,
“..and in thee shall all families of the earth be blessed.”
Kata families di ayat di atas tidak hanya berbicara tentang keluarga kita saja, tetapi ada berkat Tuhan bagi lintas generasi. Melalui ayat ini, Tuhan menunjukkan pada kita bahwa ada tujuan-Nya yang jauh lebih luas pada saat Dia memberkati kita. Tidak hanya untuk kepentingan diri kita saja, tetapi juga bagi semua generasi, bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan-Nya.
Janji Tuhan dan Musa.
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Keluaran 9:13).
Ketika Musa diutus Tuhan untuk menolong bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, Tuhan menyuruh dirinya untuk bangun di pagi hari dan menyampaikan firman-Nya pada Firaun, seorang yang sangat berkuasa di Mesir.
Musa menyampaikan firman dari Tuhan yang disembah bangsanya, agar membiarkan Israel pergi dan dapat beribadah, serta melayani-Nya.
Ayat ini ditulis sebelum tulah ke-7 dilepaskan di tengah bangsa Mesir. Sebenarnya, setiap tulah yang dilepas Tuhan itu bukan hanya terjadi secara acak tetapi merupakan pukulan telak pada setiap dewa yang disembah oleh bangsa Mesir.
Melalui tulah-tulah tersebut, Tuhan sedang menunjukkan bahwa Dia jauh lebih berkuasa dari semua dewa yang disembah bangsa Mesir. Karena itulah Dia menyelesaikan sepuluh tulah,
“..dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.” (ayat 14).
Lebih lanjut di ayat selanjutnya dikatakan,
“Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” (ayat 15-16).
Sebenarnya dengan sangat mudah Dia dapat menghabiskan semua penduduk Mesir, tetapi Tuhan mempertahankan kehidupan mereka dengan tujuan agar kekuatan-Nya dapat diperlihatkan dan nama-Nya dapat dimasyhurkan / dikenal oleh banyak orang di seluruh bumi.
Karena itulah kisah Musa bukan hanya sekadar berbicara tentang mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, tetapi mengajar bahwa Tuhan yang kita sembah jauh lebih besar dari semua dewa yang disembah oleh bangsa Mesir.
Janji Tuhan dan Mazmur 67.
Kitab ini memiliki judul “Nyanyian syukur karena segala berkat Allah,” dan kita diberitahu ada tujuan-Nya ketika Dia memberkati kita,
“supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.” (ayat 3).
Kita dapat belajar bahwa tujuan dari berkat Tuhan diberikan itu agar Dia dapat menyingkapkan, memperkenalkan, dan mewahyukan diri-Nya.. supaya Dia dapat dikenal bangsa-bangsa.
Tuhan rindu agar setiap bangsa dapat memuji-Nya, sekalipun ada banyak cara karena setiap bangsa itu memiliki suku dan bahasanya sendiri. Melaluinya, Tuhan mau agar kita berdoa supaya kemuliaan-Nya lebih lagi dapat dinyatakan di muka bumi ini.
Janji Tuhan dan Setiap Kita.
Sering kali banyak orang dibuat frusfasi karena selama ini mereka berdoa, tetapi tidak pernah ada hasilnya. Tetapi Tuhan itu rindu untuk dapat bekerjasama dengan setiap kita, untuk melakukan berbagai perkara besar, tidak hanya sekadar menjawab permohonan doa kita saja. Apa yang kita doakan selama ini memiliki tujuan agar pada akhirnya, nama-Nya dapat dipermuliakan, semakin dikenal, dan juga dikasihi banyak orang.
Supaya kita juga dapat mengalami kepenuhan dari sukacita-Nya. Firman-Nya mengatakan,
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yohanes 15:11).
Setiap dari kita memiliki tugas dan perannya masing-masing, ketika kita bekerjasama dengan Tuhan untuk menyelesaikan rencana-Nya.
“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (ayat 15).
Ada seorang pengerja yang diupah untuk membuat batu bata, dan mereka tidak tahu rencana besarnya seperti apa, untuk apa batu bata yang akan mereka buat itu nantinya. Yang mereka tahu, tugas mereka hanyalah membuat batu bata.
Tetapi ketika Tuhan mengajak kita untuk bekerjasama, di ayat 15 di atas dikatakan bahwa kita bukan hanya hamba tetapi juga sahabat-Nya. Dia memberitahu segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa, dan apa yang sedang dikerjakan-Nya.
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (ayat 16).
Tetapi poinnya di sini sekali lagi bukan berbicara tentang kepuasan diri kita sendiri saja, tetapi Tuhan telah memilih dan menetapkan agar kita pergi dan menghasilkan buah yang tetap, di setiap musim di dalam kehidupan. Dia menyayangi dan menghargai setiap kita. Dia ingin agar kita dapat terlibat di dalam apa yang sedang Dia kerjakan.
Apa yang Kita Doakan?
“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Matius 6:7-8).
Ketika Tuhan Yesus mengajar berdoa, hal pertama yang Dia ingin tekankan adalah jangan berdoa dengan bertele-tele, tidak memiliki tujuan yang jelas, dan seperti “menghafal doa.”
Mengapa?
Karena Bapa selalu tahu apa yang kita perlukan, dan lebih dari semua itu, Dia rindu agar kita dapat mengalami sukacita dan juga keintiman pada saat kita berdoa, dan masuk di dalam hadirat-Nya.
“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,” (ayat 9).
“After this manner therefore pray ye: Our Father which art in heaven, Hallowed be thy name.” (King James Version).
Banyak orang memahami kata hallowed ini hanya sebatas memiliki arti dikuduskan, di dalam bahasa Indonesianya. Tetapi kata ini adalah sebuah permintaan, bukan hanya sekadar pernyataan tentang nama Tuhan. Kata ini berarti,
“Lakukan perbuatan yang hebat untuk menyatakan kedahsyatan nama-Mu. Singkapkan betapa luar biasanya nama-Mu di atas muka bumi ini.”
Inilah tujuan-Nya pada saat kita berdoa, bukan tentang kita dan memenuhi setiap kebutuhan kita, tetapi kita berdoa agar tujuan Tuhan terlebih dahulu dinyatakan dan digenapi di atas muka bumi ini. Supaya setiap orang yang ada di dunia ini dapat mengenal nama-Nya, dan merasakan kasih-Nya.
“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (ayat 10).
Ayat di atas memiliki arti agar realita tentang Tuhan dan juga kerajaan-Nya dapat dinyatakan ketika kita berdoa, sehingga didapati banyak orang tetap mengasihi Dia, apa pun musim kehidupan yang sedang dijalani selama berada di dunia ini.
Di Surga, semua malaikat menaati-Nya. Tetapi di atas muka bumi ini, Tuhan tidak mau memaksa manusia untuk menaati-Nya karena mereka bukan robot, dan Dia ingin agar kita sendiri yang memutuskan untuk mau taat dan mengasihi-Nya.
Pelajaran tentang Doa.
Hal Pertama yang Tuhan ajarkan pada saat kita berdoa adalah, berdoa untuk tujuan-Nya yang jauh lebih luas. Hal Kedua adalah, tetaplah mengucap syukur dalam segala hal dan berdoalah untuk setiap janji yang Tuhan sudah berikan di dalam kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab.
Mengapa banyak orang bosan pada saat mereka berdoa? Karena mereka berdoa hanya untuk dirinya sendiri, dan menganggap diri mereka yang selama ini paling penting. Berdoalah untuk hal-hal yang jauh lebih besar, bukan terus berputar hanya pada diri kita saja. Tuhan rindu mendengar apa yang kita doakan mengenai banyak orang yang masih belum pernah mendengar tentang Dia, dan juga yang membutuhkan pertolongan-Nya.
“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2).
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).
Biasanya kita mengucap syukur kalau Tuhan sudah melakukan sesuatu di dalam hidup kita. Tetapi sekalipun jawaban doa dari-Nya masih sedang di dalam perjalanan,
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Dia terus mengerjakan rencana terbaik-Nya di dalam hidup kita. Karena itu, semakin dalam kita dapat memahami ucapan syukur yang kita naikkan kepada-Nya maka semakin jelas dan terarah juga apa yang hendak kita minta kepada-Nya.
Karena Dia masih belum selesai bekerja, maka pada saat kita mengucap syukur pada-Nya, kita juga berseru meminta agar Tuhan dapat menggenapi setiap janji-Nya di dalam hidup kita.
Kita juga dapat berdoa bagi orang-orang yang masih belum pernah mendengar tentang Injil Kristus, dan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan-Nya agar Tuhan dapat menolong mereka dengan mengutus anak-anakNya untuk dapat menjadi berkat dan terang Kristus, serta menjadi jawaban yang nyata di dalam kehidupan mereka.
“Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.” (Kolose 4:3).
Melalui ayat di atas kita juga dapat belajar untuk mendukung dalam doa bagi saudara dan saudari seiman kita yang sedang melayani Tuhan.
Ketika kita tidak lagi berdoa hanya untuk kepentingan diri sendiri dan mulai berdoa untuk kebutuhan orang lain, maka Dia akan memberi sukacita-Nya pada saat kita berdoa, dan kita tidak akan pernah bosan pada saat menaikkan berbagai permohonan doa. Rindukan agar Tuhan terus melakukan banyak hal besar dan juga spesifik, melalui setiap doa yang kita naikkan.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar