top of page

Soetjipto Koesno - The Greatest Exchange

  • 21 jam yang lalu
  • 12 menit membaca

Catatan Khotbah: “The Greatest Exchange.” Ditulis ulang dari sharing Bp. Soetjipto Koesno, di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 3 Mei 2026.



“Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan. Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.” (Markus 15:16-22).


Kisah di atas adalah apa yang terjadi pada saat proses penyaliban-Nya, di mana telah dilakukan segala macam cara untuk dapat merendahkan Dia. Tetapi dari segala usaha tersebut, justru kita mendapati bahwa di bukit Golgota telah terjadi pertukaran terbesar / the greatest exchange.


Allah yang hidup telah berinkarnasi menjadi seorang manusia dalam rupa Yesus Kristus, Dia yang tidak berdosa telah menjadi seorang penjahat karena dosa-dosa kita, tidak bersalah malah menerima hinaan, Dia menanggung segala penyakit dan kelemahan kita, menerima hukuman salib yang pada zaman itu dianggap paling hina dan keji.. demi menebus semua dosa yang sudah kita perbuat.


Yesus Kristus yang tidak bersalah harus menanggung semua dosa umat manusia di dunia, dan di Golgota tersebut telah terjadi pertukaran dan kemenangan terbesar bagi setiap kita. Sehingga semuanya ini bukan tentang apa yang sudah kita capai dan lakukan, tetapi karena apa yang Yesus sudah capai dan lakukan di dalam hidup kita.


Simon, Orang Kirene.


Di tengah penderitaan Yesus dalam perjalanan menuju Golgota, di ayat 21 dikatakan..


“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.”


Sebelumnya tidak pernah dikutip dan dikenal seseorang yang bernama Simon orang dari Kirene, sehingga Markus memilih untuk menulis nama dan juga asalnya. Pada saat itu para murid dan gereja mula-mula lebih mengenal Aleksander dan Rufus, daripada siapa nama Ayah mereka berdua.


Kirene adalah kota Yunani kuno yang terletak di wilayah Libya sekarang. Dari kota ini, Simon datang ke Yerusalem karena hendak merayakan Paskah orang Yahudi untuk memperingati Hari Kemerdekaan di mana mereka keluar dari perbudakan bangsa Mesir, dan anak sulung yang diluputkan untuk dibunuh (Keluaran 12).


Pada mulanya, Simon hendak berziarah ke Yerusalem. Jarak antara Kirene dan Yerusalem pada masa Yesus disalib diperkirakan sekitar 1.300 hingga 1.500 kilometer. Mengingat jarak yang sangat jauh dan moda transportasi zaman dahulu, perjalanan dari Kirene ke Yerusalem memakan waktu sekitar 3 hingga 5 minggu sehingga Simon harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail dan tidak boleh ada kesalahan.


Saat itu Simon sudah memiliki bayangan setelah menyelesaikan perjalanan ziarah tersebut, dirinya akan menjadi seseorang yang jauh lebih rohani. Di dalam perjalanan, Simon juga sudah memiliki rencana detail, termasuk dirinya akan tinggal di mana. Tetapi saat dirinya memasuki kota Yerusalem untuk memperingati Paskah, dirinya melihat pasukan Roma sedang menggiring Yesus yang dianggap sebagai seorang pemberontak, Ahli Taurat dan Orang Farisi berharap agar Dia dihukum mati, dan semua murid-Nya meninggalkan Dia.


Di tengah keadaan tersebut, Simon orang Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus..


Tentu saja semua bayangan yang dimiliki Simon yang ingin berkumpul dengan orang terhormat dan para pemuka, buyar dengan seketika. Alih-alih berkumpul dengan orang terkenal, Simon kini malah harus berurusan dan dekat dengan Yesus, yang pada saat itu dianggap sebagai pemberontak dan seseorang yang reputasinya sudah hancur.


Bahkan saat itu, semua murid-Nya juga lari meninggalkan-Nya. Petrus sendiri menyangkal-Nya. Simon orang dari Kirene bukanlah murid dari Yesus, dia sama sekali tidak mengenal-Nya. Tetapi kini Simon dipaksa untuk dekat serta memikul salib-Nya, dan menuju ke bukit Golgota.


Simon datang dari Kirene ke Yerusalem untuk mencari Tuhan dengan merayakan Paskah orang Yahudi, tetapi Dia sendiri sudah menunggu Simon di dalam perjalanan menuju bukit Golgota.


Sering kali kita berpikir kalau kita ini di setiap hari Minggunya kita beribadah untuk mencari dan melayani Tuhan, serta mengatakan kalau kita sudah berkorban bagi Dia. Demikian pula hal yang sama dengan apa yang berada di dalam benaknya Simon, pada saat dia hendak berziarah ke Yerusalem. Padahal sebenarnya Dia yang mencari terlebih dahulu dan memberi kesempatan bagi kita untuk dapat mendekat serta mengenal Dia.


Sehingga pelayanan yang dipercayakan di dalam hidup kita sesungguhnya tidak hanya dilakukan bagi kemuliaan nama Tuhan saja, tetapi juga untuk menjagai kita agar tetap dekat dengan Dia.


Karena itulah yang menjadi bahan perenungannya bagi setiap kita adalah..


“Apakah kita selama ini telah bersikap seperti Simon, yang merasa dengan kehadiran dan kekuatannya sudah menolong Yesus dengan membawakan salib-Nya? Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Dia menolong setiap kita agar tidak mundur, menjauh, dan tetap dekat dengan Dia.”

Pertama. Dipaksa Memikul Salib.


Dipaksa itu tidak enak, tetapi sering kali baik bagi hidup kita. Kasih-Nya “memaksa kita” supaya kita tetap setia “memikul salib-Nya” dan hidup dengan dimampukan oleh kasih karunia-Nya.


Salib adalah hukuman yang paling menyakitkan, keji, dan pastinya berusaha untuk dihindari. Tetapi firman Tuhan mengatakan pada kita,


“Kata-Nya (Yesus) kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).


Memikul salib tidak hanya dibicarakan dan dilakukan pada saat kita berada di gereja saja, tetapi juga saat kita berada di rumah tangga / keluarga, pekerjaan, dan di manapun kita berada.


Kenyataannya, tidak semua orang mau memikul salib, bahkan tak sedikit yang berharap agar salib ini dapat dijauhkan dari hidupnya. Tetapi justru salib itu menguatkan hidup kita, dan dapat membuat kita mengenal-Nya lebih mendalam.


Ketika Simon dipaksa untuk memikul salib Yesus, bisa jadi di dalam hatinya dia mengeluh..


“Mengapa harus aku yang mau melakukan perjalanan ziarah? Mengapa bukan lainnya?”


Saat Simon berjalan di belakang Yesus, dirinya memperhatikan ada “keanehan” yang dilakukan-Nya. Yesus tidak mengomel, protes, ataupun memaki orang-orang di sekitar-Nya.


Simon berharap perjalanan menuju bukit Golgota itu singkat, tetapi di sepanjang perjalanan dia memiliki banyak kesempatan untuk mengenal Yesus lebih mendalam. Ada yang berbeda dengan Yesus, dan di momen perjalanan tersebut, Simon dapat mengenal lebih dalam Sang Juruselamat hidupnya.


Di dalam hidup kita pun sama, setiap dari kita diberi kesempatan untuk dapat memikul salib di setiap harinya.


Misalnya, kalau kita hendak pergi ke gereja. Kita akan bangun dan masak buat anggota rumah lebih pagi, lebih awal mandi dan juga bersiap diri.. agar kita dapat datang lebih awal di gereja, dan juga mempersiapkan yang terbaik bagi Dia.


Sehingga kata “memikul salib” tidak hanya berbicara tentang bentuk persecution / penganiayaan di dalam ladang misi saja, tetapi di dalam setiap aspek di hidup, kita mau memberikan yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan.


Memikul salib bisa juga berarti kita menyediakan waktu ekstra lebih awal untuk dapat menjemput teman-teman yang membutuhkan transportasi, untuk dapat beribadah di gereja.


Salib memang merepotkan, tidak enak, makanya diberi nama salib. Tetapi Tuhan Yesus sudah memikul salib terlebih dahulu agar setiap kita dapat mengikuti jejak keteladanan-Nya.


Salib juga bukan berarti karena kita telah berbuat salah dan setelah itu kita menerima didikan. Bisa jadi memang memiliki pengertian demikian, tetapi kalau kita benar-benar mau berubah, memiliki attitude / sikap yang baik, maka anugerah-Nya akan selalu memampukan setiap kita untuk memiliki karakter yang diubah seperti Kristus.


Ada kisah sepasang suami dan istri yang memiliki kerinduan dan berdoa lama agar mereka dapat memiliki sebuah rumah. Hingga pada suatu hari, mereka datang dan bercerita pada Contact.


Di dalam pekerjaan suaminya mendapat penawaran harga yang jauh lebih murah dari pihak supplier, ditambah pula bonus yang bisa masuk ke dalam kantong pribadi. Ketika suaminya bercerita dan meminta pendapat dari istrinya, sang istri hatinya tidak mengalami damai sejahtera dan malah menganjurkan suaminya untuk menolak.


Padahal kalau dihitung total, jumlah bonusnya lebih dari cukup untuk dijadikan down payment / uang muka untuk membeli sebuah rumah.


Kalau keadaannya tidak mendesak dan tidak membutuhkan, maka kita bisa dengan mudah untuk menolaknya. Tetapi kalau keadaan kita mendesak dan sangat membutuhkan uang tersebut, maka dengan mudahnya kita dapat mengatakan bahwa hal itu adalah jawaban doa dari Tuhan.


Singkat cerita, suami dan istri ini kembali berdoa dan pada akhirnya memutuskan agar bonus pribadi itu dipotongkan langsung dari nota yang sudah diajukan di dalam pekerjaan suaminya. Suami dan istri tersebut memutuskan untuk tidak mengambil uang sedikitpun dari hasil penawaran supplier.


Memang tidak ada seorangpun yang mengetahui hal itu, tetapi suami dan istri ini memutuskan untuk tetap “memikul salib” dan menjaga integritasnya di dalam pekerjaan yang sudah dipercayakan Tuhan.


Salib Membawa Perubahan.


“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Markus 8:34).


Hari ini kita hidup di dalam area abu-abu karena melihat bahwa kita dapat melakukan semuanya, dan bahkan termasuk pada saat tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Tetapi sekalipun manusia tidak tahu, Tuhan itu tahu dan Dia memberi kesempatan agar kita tetap memilih jalan yang benar dan memuliakan nama-Nya.


Ketika Simon membawa salib tersebut sampai ke Golgota, dia mendengar Yesus berkata..


“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Bagi Simon, ini adalah hal baru. Dirinya tidak pernah menjumpai seorang yang disalib malah mendoakan mereka yang menyalibkannya.


“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (ayat 43).

Simon berpikir pasti orang ini bukan sembarang orang, sampai berani berkata bahwa penjahat yang di sampingnya akan bersama-sama di Firdaus.


“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” (ayat 44-47).


Saat kematian-Nya, semuanya berubah. Pribadi yang ada di depannya itu adalah Tuhan itu sendiri. Perjumpaannya dengan Yesus dan juga Salib-Nya telah mengubah sudut pandangnya selama ini tentang Allah. Simon berpikir dan sudah menyusun rencana bahwa dirinya akan menemukan Allah di dalam perayaan Paskah, tetapi Yesus datang dan mengenalkan diri-Nya sendiri pada Simon.


Ada seorang suami yang berkata pada istrinya bahwa dirinya ingin memakan sate ayam, sebagai menu makan malamnya. Malamnya sepulang kerja, sang suami tidak menemukan satu tusuk-pun sate ayam di meja makan, hanya sepotong tahu dan tempe saja. Lalu dia bertanya pada istrinya yang pada saat itu menjawab pertanyaannya,


“Aku ingin membeli sate ayam, tetapi kamu lupa memberikan uangnya padaku tadi pagi..”


Dengan menahan rasa jengkel, sang suami mengambil sepiring nasi putih dan pergi ke tempat bapak penjual sate ayam di depan gang rumahnya. Setelah memperhitungkan terbangnya arah angin, sang suami tepat berdiri di mana asap dari hasil kipasan sate ayam tersebut dapat dihirupnya. Sang suami lalu memakan nasi, sambil membayangkan dirinya juga memakan sate ayam.


Bapak penjual sate ayam mengamati dan memutuskan untuk meminta uang dua ribu rupiah pada pria yang menikmati asap sate tersebut.


Karena dirinya tidak membawa uang sepeser pun, akhirnya terjadi keributan dan hal ini mengundang pak RT untuk datang menengahi.


Setelah tahu duduk permasalahannya, pak RT mengambil sapu tangannya, memasukkan uang logam dua ribu di dalam lipatannya, sembari membunyikan di dekat telinga bapak penjual sate ayam. Saat bertanya apakah bapak tersebut mendengar dentingan dari bunyi dua logam uang seribuan tersebut? Saat bapak penjual sate mengiyakan, pak RT lalu bilang ke bapak penjual sate kalau hutang dua ribu juga sudah lunas.


Sering kali kita telah melihat dan mendengar di dalam gereja-Nya telah terjadi mukjizat dari Tuhan, kita belajar banyak apa yang harus dilakukan.. tetapi kita tidak mengalami dan mau melakukan setiap perintah-Nya di dalam firman-Nya.


Jangan-jangan kita sama seperti bapak penjual sate dan juga sang suami, selama ini kita telah mendengar firman Tuhan diberitakan.. tetapi kita hanya menganggapnya sebagai asap yang dengan bersegera berlalu, dan tidak mau melakukannya dengan segenap hati kita. Karena itu,


Mulailah hari ini mengambil keputusan untuk kita mau “memikul salib.” Lakukan apa yang Tuhan Yesus sudah perintahkan di dalam firman-Nya.


Sama seperti lagu yang sering dinyanyikan,


“Mengikut Yesus, itulah kesukaan hatiku. Kulepas semua hakku untuk mengenal kehendak-Nya di hidupku.. Mengiring Yesus itulah kekuatan hidupku. Kuyakin anugrah-Nya mampu jadikanku hamba yang berkenan slalu..”


(Mengikut Yesus, oleh: Franky Kuncoro).


Kekristenan tidak hanya datang di dalam gereja, bernyanyi, mendengar firman Tuhan diberitakan, dan kita memberikan review / ulasan. Tetapi alasan sesungguhnya adalah kita datang untuk bertemu dan mengalami Tuhan di dalam hidup kita.


Ketika kita mulai memikul salib, anugerah dan hikmat-Nya yang akan memampukan hidup kita untuk melihat masalah yang dihadapi mulai menemukan jalan penyelesaian terbaik, kehidupan mulai berjalan membaik, dan bahkan tidak menutup kemungkinan kalau sakit penyakit kita juga mulai mendapatkan kesembuhan.


Pertanyaannya adalah,


“Maukah kita memikul salib?”

Kedua. Pertemuan dengan Yesus adalah sebuah Pertukaran.


“Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya,” (Mazmur 49:8).

Di bukit Golgota, kita yang seharusnya menerima hukuman kekal telah ditukar oleh Yesus dan kita mendapatkan hidup yang kekal. Selain itu kita bisa menukar setiap kebodohan / kurang hikmat dengan hikmat Tuhan, berbagai permasalahan yang dihadapi dengan kemenangan.. semua bisa kita dapatkan saat kita mau memikul salib-Nya.


Simon merasa bahwa dirinya telah membantu untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Yesus pada saat itu dengan memikul salib-Nya, padahal Tuhan sendiri yang membantu dan sudah memulihkan hidupnya. Sepulang Simon dari Yerusalem, hidupnya sudah berubah. Sebab perjumpaan pribadi bersama dengan Yesus, selalu mengubahkan hidup kita.


“Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30).

Seringnya pada saat kita melayani, kita merasa tambah lama tambah besar dan terkenal, dan kita mulai merasa tinggi hati. Seharusnya Yesus yang semakin bertambah besar dan dikenal, bukannya diri kita yang mencuri kemuliaan-Nya.


Bagaimana caranya kita mengganti air kotor yang ada di dalam sebuah gelas? Selain dengan membuang air kotor tersebut, kita juga dapat dengan terus-menerus mengisi gelas tersebut dengan air bersih, sampai air kotor di dalamnya keluar semua dan diganti dengan air bersih.


Demikian pula hal yang sama, pertukaran itu harus dilakukan di setiap harinya. Setiap keburukan ditukar supaya kita dapat menjadi semakin membaik. Ketakutan yang diberikan pada Tuhan, untuk diganti dengan damai sejahtera. Sakit penyakit diganti dengan kesembuhan Ilahi..


Dan tempat pertukarannya bernama,


“Salib Kristus.”


Ketiga. Salib yang kita Pikul Hari ini, menentukan bagaimana Iman Generasi berikutnya.


“Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.” (Roma 16:13).

Menarik bahwa Paulus tidak menyebut nama Simon orang Kirene dan juga Aleksander, tetapi hanya menyebut nama Rufus dan ibunya yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri oleh Paulus.


Hal ini mengajar kita bahwa,


“Sebagai anak dari Simon yang dipaksa untuk memikul salib Yesus.. Aleksander, Rufus dan Ibunya telah menerima kesaksian langsung dari ayah mereka tentang peristiwa penyaliban tersebut. Hal ini mengubah hidup mereka total dan menurunkan warisan iman kepada anak-anaknya. Keputusan Simon untuk memikul salib, telah mengubah wajah keluarganya, dan juga orang-orang yang ada di kota Kirene untuk dapat mengenal Kristus.”


Jarak Kirene dan Yerusalem itu sangatlah jauh, tetapi ketika ada satu orang yang mau memikul salib-Nya, maka tidak hanya kehidupan orang itu saja yang diubahkan, tetapi juga sekitarnya.


Ev. Billy Graham selalu mengatakan bahwa dirinya belajar banyak dari Ayahnya, mengenai apa yang harus dilakukan saat berada di dalam tekanan.


Setiap dari kita dipanggil tidak hanya untuk mewariskan rumah dan harta kekayaan saja bagi anak cucu kita, tetapi juga yang jauh lebih penting adalah memiliki iman yang teguh di dalam Kristus bagi generasi anak-anak kita.


Apakah yang sudah kita wariskan di dalam hidup anak-anak kita? Apakah pengalaman pribadi saat berjalan bersama dengan Dia? Atau hanya sekadar membagikan pengetahuan yang kita miliki?


Setiap dari kita pasti memiliki masalah, tetapi bukan berarti hal itu menghentikan langkah kita untuk tidak lagi mau memikul salib. Ada waktu di mana kita bisa jadi mengalami berbagai masa pergumulan, tetapi kita juga harus tetap memikul salib dan juga melakukan apa yang harus kita lakukan dengan setia dan tetap bertekun.


Tetaplah mempercayai bahwa kita masih memiliki Tuhan yang luar biasa, dan Dia masih sanggup untuk mengubah keadaan kita.


Karena itu apa yang kita lakukan pada hari-hari ini akan menentukan bagaimana iman yang dimiliki oleh generasi selanjutnya. Kalau kita hanya memikul salib dengan asal-asalan, maka generasi selanjutnya akan mengalami kehancuran.


Salib Pembuat Kripik.


Setelah Bp. Tjipto membawakan perenungan firman Tuhan di sebuah persekutuan doa, ada seseorang yang menitipkan sekantung besar kripik untuk diberikan kepadanya. Lebih lanjut Ibu Gembala yang memberikan sekantung kripik juga menceritakan bagaimana kisah keluarga dari pembuat kripik tersebut, telah memiliki pengalaman luar biasa berjalan bersama Tuhan.


Ketika menikah, suami dari pembuat kripik selalu bersikap kasar dan juga mengeluarkan perkataan kurang baik. Ada kemungkinan pria ini mengalami gangguan kejiwaan, sebab ketika dirinya marah maka kursi yang ada dilempar semua dan karyawan pembuat kripik diusirnya keluar.


Saat itu perekonomian mereka berjalan pas-pasan dan sering kali mengalami kerugian besar.


Saat bercerita dengan Ibu Gembala, jawaban yang diberikan pada saat itu adalah..


“Tetap setia dan tekun dalam berdoa.”


Seiring perjalanan waktu, kehidupan perlahan mulai membaik dan pekerjaan berjalan lebih lancar. Memang suaminya masih bersikap seenaknya sendiri, tetapi istrinya tetap setia dan bertekun di dalam doa, tetap memikul salib, sambil bekerja keras untuk menopang keluarganya.


Puji Tuhan dari penghasilan membuat kripik, dirinya dapat menabung sedikit demi sedikit untuk menyicil dan membeli sebuah rumah.


Pekerjaan Tuhan tidak berhenti hanya sampai di sana saja, tetapi suaminya juga mulai mendapatkan kesembuhan. Tak lama kemudian, suaminya memutuskan untuk memiliki iman pada Kristus dan menjadi seorang percaya.


Suami dan istri pembuat kripik tersebut kini telah meninggal dunia, tetapi keteladanan iman dan ketekunan di dalam doa telah diikuti oleh anak-anak mereka yang kini melanjutkan usaha dari pembuatan kripik tersebut.


Memikul salib memang tidak enak, tetapi jangan menolak, menyerah, apalagi meletakkan salib tersebut. Kita mungkin ingin memilih jalan yang jauh lebih mudah dan enak, tetapi Tuhan memilih yang tepat dan terbaik bagi anak-anakNya.


Karena itu kalau kita sudah lama menolak salib tersebut, ingatlah kembali di mana letak kita meninggalkan salib tersebut?


Marilah kembali untuk memikul salib.


Ada yang dipanggil untuk melayani, atau memulai pekerjaan yang baru. Entah mungkin karena ada sesuatu yang sudah terjadi, kita kecewa dan mulai meninggalkannya. Marilah kita kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah dipercayakan Tuhan di dalam hidup dan muliakanlah nama-Nya melalui perkataan dan perbuatan di hidup kita.


Keadaan mungkin tidak langsung berubah menjadi lebih baik, tetapi pasti Tuhan mengerjakan sesuatu di dalam dan melalui hidup kita.


Mukjizat pasti terjadi, apa yang tidak mungkin terjadi dapat dijadikan oleh Tuhan. Kita masih memiliki Tuhan yang dahsyat yang sudah mati untuk menebus dosa-dosa kita, dan bangkit dari kematian untuk mengalahkan kuasa maut.


“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:31-32).


Marilah kita kembali memikul salib.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page