Andreas Rahardjo - Mazmur 46
- 25 Apr
- 10 menit membaca
Catatan Khotbah: āMazmur 46.ā
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 19 April 2026.
Latar Belakang Mazmur 46.
Apa yang tertulis di dalam kitab ini juga tercatat di dalam 2 Raja-raja 18-19. Latar belakang ditulisnya kitab ini adalah pada saat itu bangsa Israel sedang diserang oleh bangsa Asyur, di mana pada saat itu kota Yerusalem sendiri sudah terkepung. Secara militer, Asyur adalah bangsa yang paling kuat di zaman tersebut dan Israel tidak akan mungkin dapat menang melawan bangsa ini. Tetapi Tuhan bertindak secara ajaib, Dia memberikan kemenangan yang luar biasa bagi bangsa Israel, dan menghancurkan pasukan Asyur.
āUntuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.ā (ayat 1).
Kitab ini adalah nyanyian dari bangsa Korah, di tengah himpitan dan gempuran bangsa Asyur pada saat itu. Kitab ini lahir sebagai nyanyian yang berisi bukan keluhan tetapi nyanyian yang mempercayai bahwa Allah adalah kota benteng Israel, di mana Dia akan memberi mereka kemenangan.
āAllah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.ā (ayat 2).
Kita sering mendengar ayat di atas dibacakan di telinga kita. Kata āsangat terbuktiā memiliki arti bahwa hal ini akan terjadi terus-menerus seperti itu, tidak bisa tidak, pasti akan terjadi.
āSebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Selaā (ayat 3-4).
Kita tidak mengetahui dengan pasti bisa jadi saat peperangan tersebut terjadi, ada bencana alam. Atau ayat ini merupakan gambaran tentang apa yang terjadi di zaman kini, atau bisa juga gambaran dari ābadaiā yang terjadi di hidup kita.
āKota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.ā (ayat 5).
Menurut berbagai sumber, Yerusalem secara geografis tidak dikelilingi oleh sungai. Kota ini terletak di dataran tinggi Yudea, terpisah dari lembah Sungai Yordan, dan lebih bergantung pada sumber mata air seperti Gihon daripada sungai besar untuk kebutuhan airnya.
Karena itu walau dikepung bangsa yang kuat, di Yerusalem sendiri terdapat sumber air. Kalaupun suatu negara menyerang dengan menghentikan aliran air atau memberi racun, pasti kota tersebut tidak akan dapat bertahan. Walau Yerusalem sendiri dikepung, ada sumber air yang membawa kesegaran bagi warga kota tersebut.
āAllah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.ā (ayat 6).
Bisa jadi musuh yang menyerang tersebut kuat, tetapi kota tersebut tidak akan guncang.
āBangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela. Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!ā (ayat 7-10).
Tuhan memiliki kuasa untuk menghentikan peperangan.
āDiamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!ā TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela. (ayat 11-12).
Yerusalem sendiri merupakan gambaran dari Kerajaan Allah, yang mengalami banyak tantangan.
Saat kita bertobat, kita tidak hanya diampuni dosanya tetapi juga dibenarkan oleh darah Kristus, dipindahkan dari kerajaan gelap (karena dosa-dosa kita) dan kini dipindah untuk masuk ke dalam kerajaan terang. Kita menjadi anak-anak Allah yang berhak untuk menerima dan mengalami semua janji-Nya di dalam firman-Nya / Alkitab.
Tidak akan Goyah.
āAllah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.ā (ayat 6).
Pada saat itu kota Yerusalem dikepung oleh bangsa Asyur, dan bisa jadi juga disertai berbagai bencana alam.. yang mungkin merupakan gambaran dari apa yang terjadi di zaman akhir ini yang juga terjadi peperangan yang tak kunjung usai, dan terkadang disertai adanya bencana alam.
Tetapi apa yang tertulis di ayat di atas merupakan gambaran dari ayat di bawah ini,
āJadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.ā (Ibrani 12:28).
Kerajaan Allah berbeda dengan gereja, karena gereja sendiri adalah agen dari Kerajaan Allah. Ruang lingkup gereja jauh lebih kecil, di mana gereja sendiri ada kita para anggotanya. Para malaikat yang bertugas melayani-Nya adalah anggota dari Kerajaan Allah yang jauh lebih besar, tetapi bukan dari anggota gereja. Kerajaan Allah mengatur apa yang terjadi di alam semesta ini.
Saat manusia jatuh ke dalam dosa, hal ini mempengaruhi gereja Tuhan. Dia memang mati untuk menebus dosa umat manusia dan juga gereja-Nya, tetapi Dia tidak mati bagi Kerajaan Allah.
Setiap dari kita tinggal di dalam dunia dan menjadi anggota gereja-Nya, tetapi kita sendiri adalah anggota Kerajaan Allah yang tidak terguncang dan hidup kita dipelihara oleh-Nya.
Dunia akan selalu bergejolak, bahkan ada pepatah lama di industri media yang mengatakan..
āIf itās not bad news, itās not newsā atau yang lebih umum dikenal āBad news is good newsā.
Kalau kita menjadi anggota Kerajaan Allah, maka kita tidak akan goyah. Mengapa?
āAllah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.ā (ayat 6).
Pertama. Adanya Godās Presence / Allah hadir di dalam Kerajaan-Nya. Kedua. Godās Power / Allah berkuasa untuk menolong umat-Nya. Ketiga. Godās Blessing / Allah memiliki penyediaan terbaik untuk memberkati dan memelihara umat-Nya.
Bagaimana iman kita dapat menyadari ketiga hal di atas, dan mengalami kemenangan dari Dia?
āDiamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!ā (Mazmur 46:11).
Dengan Berdiam Diri dan Mengenal Tuhan.
Kita hidup di dalam dunia yang bising dan penuh dengan banyak aktivitas. Banyak orang berpikir kalau kita hanya berdiam diri saja, maka kita akan dianggap tidak produktif. Kita hidup di dalam dunia yang must do and try something. Tidak boleh ada waktu kosong, semua harus diisi kegiatan.
Tetapi dari Mazmur 46:11, kita harus belajar untuk berdiam diri dan mengenal Tuhan. Mengapa? Karena Dia menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya bukan dengan jeritan, tetapi bisikan.
A.W. Tozer juga sering menekankan tema yang sama tentang Allah yang berbicara dengan lembut di dalam keheningan, terutama di dalam bukunya āThe Pursuit of Godā dan khotbah-khotbahnya tentang keheningan (School of Silence).
Saat Dia berbisik dan kita tidak bisa menenangkan diri, maka kita tidak akan bisa mengenal-Nya.
Karena itulah Tuhan menciptakan 7 hari, 6 harinya untuk kita bekerja dan 1 hari untuk kita dapat beristirahat dan beribadah pada-Nya.
Tanah di sawah ada kalanya harus diistirahatkan, tidak bisa ditanami terus-menerus. Kalau tanah tersebut ditanami terus, maka tingkat dari kesuburannya akan menurun. Harus ada jeda / waktu istirahat agar kita dapat menghasilkan yang terbaik. Demikian pula dengan kehidupan, kita juga perlu menyediakan waktu beristirahat.
Apa itu Berdiam Diri dan Mengenal Tuhan?
Pertama. Berdiam Diri bukanlah tanda kelemahan.
āDengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.ā (Yesaya 30:15).
Terkadang saat menghadapi masalah, the best attitude / sikap yang terbaik itu diam dan jangan panik. Karena dengan melakukannya, maka kita dapat melihatnya dari perspektif berbeda.
Saat Yesus menjalani Via Dolorosa / frasa Latin yang memiliki arti āJalan Kesengsaraanā atau āJalan Penderitaanā. Dalam tradisi Kristen, ini merujuk pada rute di Yerusalem Kuno yang diyakini dilalui Yesus sambil memanggul salib dari tempat pengadilan menuju Golgota untuk disalib..
Tidak ada kata-kata kotor, kutuk, atau keluhan yang terlontar keluar dari mulut-Nya. Penderitaan yang dialami-Nya sungguhlah luar biasa, dan tidak ada manusia yang seharusnya dapat bertahan. Di dalam keadaan yang begitu mengerikan, tidak ada kata-kata umpatan dari Dia. Ketenangan yang luar biasa, hal itulah yang menjadi kekuatan Yesus.
Hari-hari ini kita diizinkan menghadapi banyak tantangan, dan semuanya itu tidaklah mudah untuk dihadapi. Mintalah hikmat dan kekuatan Tuhan, agar setiap kita dimampukan untuk memiliki sudut pandang berbeda dalam menghadapinya.
Ada saatnya kita perlu mempertimbangkan slow down / mengurangi ritme kecepatan, agar kita dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dihadapi.
Dunia hari-hari ini menekankan tiga hal,
Pertama. Skill / Keterampilan. Kedua. Speed / Kecepatan. Ketiga. Scope / Wawasan.
Bagaimana kita dapat memiliki scope / wawasan luas, kalau kita tidak pernah mengevaluasi diri?
Apa yang terjadi di dalam hidup sama seperti kita mengendarai mobil di Formula Satu. Saat meningkatkan kecepatan mobil, fokus yang kita lihat di depan akan mengecil. Tetapi ada waktunya ada halangan di depan, kita harus dapat melihat apakah ada jalan lain yang dapat diambil?
Sering kali kita memerlukan slow down di tengah kesibukan zaman ini, agar kita dapat melihat sudut pandang berbeda. Masalah itu terjadi, bergantung dari bagaimana kita bisa melihatnya.
Tuhan memberi kita kekuatan, pada saat kita mau belajar untuk berdiam diri.
Kedua. Berdiam Diri bukan berarti mengalami kemunduran, tetapi meningkat.
ātetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.ā (Yesaya 40:31).
Ini adalah hal penting dan sangat produktif:
Kalau terjadi masalah, berdiam dirilah di hadapan Tuhan. Sama seperti burung rajawali kalau menghadapi badai, maka dia akan merentangkan sayapnya dan memanfaatkan kekuatan angin badai untuk dapat terbang lebih tinggi di atas awan. Burung rajawali menggunakan tekanan angin tersebut sebagai ākendaraanā untuk melayang anggun, menghemat energi, dan mencapai ketinggian yang aman, menjadikan badai sebagai sarana untuk dapat menguatkan dirinya.
Belajarlah untuk berserah, dan hal ini memerlukan apa yang namanya kerendahan hati. Pride / kebanggaan diri selalu ingin membuktikan pada dunia bahwa kita adalah somebody / seseorang. Tetapi belajarlah untuk memiliki kerendahan hati, teruslah dekat dan percaya pada janji Tuhan. Di sanalah terletak kemenangan kita.
Pada suatu hari Pdt. Andreas diajak konseling oleh sepasang suami dan istri. Pertengkaran dimulai ketika sang istri mengatakan bahwa memiliki rumah yang tetap, ini jauh lebih penting daripada memiliki mobil. Di sisi lainnya, sang suami bersikukuh memilih untuk membeli mobil terlebih dahulu dikarenakan pekerjaannya yang menuntut untuk tidak dapat diam di satu tempat.
Selain itu, sang suami memutuskan untuk membeli beberapa mobil yang cukup mewah untuk menunjukkan profesionalitas dirinya pada saat menghadapi klien dari golongan ekonomi atas. Sang suami juga menganggap anak-anak mereka masih kecil, dan dianggap bisa mengikuti ritme kerjanya yang terus berpindah-pindah rumah.
Mendengarnya, Pdt. Andreas mengatakan bahwa pendapat keduanya adalah benar adanya. Mengapa? Karena semua bergantung dari siapa yang mau mengalah terlebih dahulu, berdiskusi, dan memutuskan pilihan yang terbaik.
Ego pribadi selalu menuntut ingin menang, tetapi belajarlah untuk berserah pada Tuhan.
Sama seperti seseorang yang sedang belajar berenang. Waktu terbaik untuk sang pelatih mengajar kita bagaimana cara berenang adalah saat kita mau berhenti berusaha dengan cara dan kekuatan sendiri untuk belajar berenang, kita mau berserah serta belajar mengikuti cara pelatih, yang pastinya jauh lebih berpengalaman dari kita.
āIt is in the stillness, that we learn to trust God most deeply. Di dalam keheningan, kita dapat belajar untuk percaya pada Tuhan lebih dalam.ā (Charles Spurgeon).
Ketiga. Berdiam Diri adalah waktu untuk mengalami kesembuhan dan pertumbuhan.
āBerbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.ā(mazmur 1:1-3).
Waktu Teduh dan Berdiam Diri adalah waktu untuk healing / kesembuhan. Kita masih memiliki perasaan dan saat mendapat perkataan kurang baik dari sesama, hati kita dapat terluka. Tetapi kalau kita tidak dapat diam dan menahan diri, maka hati kita akan terus terluka dan tidak dapat sembuh.
Sesekali ambillah waktu untuk hening dan beristirahat, agar kita dapat menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan bagian kita dengan baik.
Proses pertumbuhan bermula dari sebuah biji yang ditanam di dalam tanah. Bagaimana biji tersebut mulai pecah dan mengeluarkan akar, tidak ada seorangpun yang melihatnya. Tetapi biji tersebut terus berakar di dalam gelap dan keheningan, sekalipun tidak ada lampu sorot yang menerangi apa yang sedang dilakukan biji tersebut.
Oleh karena itu iman juga tidak akan bertumbuh dengan kuat kalau tidak mau berakar di dalam kebenaran firman-Nya di Alkitab, sama seperti yang tertulis di Mazmur 1:1-3. Kata āmerenungkanā sendiri di dalam bahasa Inggrisnya menggunakan kata meditates / berdiam diri dan melakukan aktivitas perenungan pribadi.
āJadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.ā (Roma 10:17).
Belajarlah untuk berdiam diri dan berakar di dalam keheningan, serta merenungkan firman Tuhan.
Keempat. Berdiam Diri adalah persiapan untuk mendengarkan suara Tuhan.
Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: āSamuel! Samuel!ā Dan Samuel menjawab: āBerbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.ā (1 Samuel 3:10).
Banyak orang berpikir kalau segala masalah yang sedang dihadapi mereka itu berkaitan dengan pendapat orang lain yang salah dalam menilai diri kita dan juga semua keadaan yang terjadi di sekitar. Padahal real battle / peperangan yang sesungguhnya sumbernya bermula dari dalam hati yang terus menjerit untuk minta diperhatikan.
Sebelum kita dapat belajar untuk meneduhkan semua suara tersebut, maka kita tidak akan bisa belajar untuk mendengar suara dari Tuhan.
Pada saat Pdt. Andreas sedang mempersiapkan acara Kebaktian Kebangunan Rohani / KKR dari alm. Pdt. Yeremia Rim di Amerika, dirinya mendapat kabar dari Bp. dr. Paulus Rahardjo bahwa Pdt. Yeremia Rim telah mengalami clinical death / keadaan di mana jantung tetap berdegup karena dipacu memakai alat medis, sedangkan otak sudah mengalami kerusakan secara permanen.
Pada saat itu usia Pdt. Andreas masih berusia 31 tahun, dan dirinya minta diantar di sebuah toko buku Kristen di Amerika untuk berdoa, menenangkan diri, dan mencari kehendak Tuhan.
Tak lama kemudian datanglah seorang Ibu yang logatnya berasal dari Meksiko, yang tidak dikenal oleh Pdt. Andreas serta berkata,
āYoung man, I see the burden in your face. God told me to pray for you. Anak muda, aku melihat tampak ada beban di wajahmu. Tuhan menyuruh aku untuk berdoa bagimu.ā
Pdt. Andreas masih mengingat apa kalimat pertama dari doa yang dinaikkan oleh Ibu tersebut,
āKamu harus kembali ke negaramu, dan ada tanggung jawab baru yang menantimu. Di sana kamu harus menyelesaikan banyak masalah, dan ada banyak āpanah berapiā yang diluncurkan untuk menghancurkan dirimu.ā
Sembari ibu tersebut berdoa memutari Pdt. Andreas, Ibu tersebut juga berdoa..
āProtect him, Lord.. Lindungilah dia, Tuhan..ā
Sekalipun saat itu Pdt. Andreas menanggung beban yang sangat berat, tetapi dirinya mendapat damai sejahtera dan kekuatan karena banyak mendapat pesan dari Tuhan, melalui doa Ibu tersebut.
Melalui momen tersebut, Pdt. Andreas belajar..
āSuara Tuhan dapat meruntuhkan semua hal yang negatif, membawa kekuatan dan juga motivasi bagi dirinya untuk terus melangkah.ā
āThe voice of God is often heard best in silence. Suara Tuhan selalu terdengar terbaik, pada saat kita berada di dalam keheningan.ā (A.W. Tozer).
Kelima. Berdiam Diri adalah jalan untuk mendapatkan damai sejahtera.
āYang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.ā (Yesaya 26:3).
C.S. Lewis mengatakan,
Silent / Keheningan membawa Peace / Damai Sejahtera, yang menuntun pada Clarity / Kejelasan.
Karena itu jangan panik, belajarlah tenang, maka kita akan mendapat damai sejahtera, pencerahan, dan ada alignment / arahan dan penyelarasan.
Kita harus sering melakukan evaluasi diri, apakah hidup kita ini sudah selaras dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan / belum.
Watchman Nee mengatakan,
āTragedi yang terjadi di dalam kehidupan adalah pada saat kita mengerjakan apa yang tidak perlu, dan tidak mengerjakan apa yang diperlukan.ā
Karena itu dari waktu ke waktu hidup kita ini perlu apa yang namanya di-tuning / dikalibrasi. Karena sepandai dan sebanyak apa pun talenta yang kita miliki, kita harus memiliki waktu untuk evaluasi apakah hidup kita selama ini sudah selaras dengan apa yang menjadi kehendak-Nya Tuhan?
Jangan terus berbicara dan berjuang untuk mencapai puncak, hanya untuk menemukan bahwa kita selama ini memanjat puncak yang keliru.
Saat kita selaras dan mau dikalibrasi dengan apa yang menjadi kehendak-Nya Tuhan, maka pasti ada pembelaan dan penyertaan terbaik-Nya.
Di dalam dunia yang terus berisik ini, kita perlu belajar untuk tenang dan mendengar suara-Nya. Bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, tetapi biarlah setiap keputusan dan tindakan kita itu keluar dari masa hening di mana kita mendapat tuntunan dan arahan terbaik dari Dia.
Berbahagialah orang yang mendengar, merenungkan, dan melakukan kebenaran firman Tuhan di dalam hidupnya.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar