top of page

Andreas Rahardjo - Kebiasaan yang Menjauhkan Kita dari Berkat Tuhan

  • mdcsbysystem
  • 23 jam yang lalu
  • 8 menit membaca

Catatan Khotbah: ā€œKebiasaan yang Menjauhkan Kita dari Berkat Tuhan.ā€



Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 1 Februari 2026.


Ada beberapa kebiasaan negatif yang sering kita lakukan selama ini yang dapat menghambat hidup kita untuk bertumbuh mengenal lebih dalam Pribadi-Nya, menjauhkan kita dari mengalami berkat-berkat Tuhan, mendapat damai sejahtera, sukacita, serta memiliki hubungan yang baik dengan sesama. Mungkin kita sudah lama menjadi seorang Kristen, tetapi kita lupa masih ada kebiasaan negatif yang masih ada di hidup kita.


Tuhan ingin agar hidup kita diberkati, bukan hanya di masalah finansial saja. Marilah kita evaluasi bersama, apa saja kebiasaan tersebut.


Pertama. Kebiasaan Hidup berdasar Perasaan.


ā€œOrang benar akan hidup oleh iman.ā€ (Roma 1:17).


Hari-hari ini kita harus menyadari bahwa Iblis sedang memainkan emotional game / mempermainkan perasaan kita.


Emosi itu adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang tidak baik bila kita tidak dapat mengendalikannya. Melalui emosi yang baik kita masih dapat memiliki empati terhadap sesama, tetapi bila tidak dapat mengendalikan emosi, kita menjadi seorang yang tergesa-gesa, memutuskan secara impulsif, perkataan kita bernada kurang baik, serta tidak menghasilkan sesuatu yang baik bagi sesama.


Seseorang yang mudah baper / hidupnya mudah terbawa dan dikuasai perasaan, maka dirinya akan mengalami kesulitan untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan, mudah tersinggung, dan mudah dilukai perasaannya. Setiap masalah yang terjadi bisa jadi dapat dibungkus dengan perasaan emosional. Masalah yang pada mulanya terlihat kecil, tetapi karena emosi, jadi membesar.


Contohnya ada anak yang mendapat nilai kurang baik di sekolahnya dan datang pada kedua orang tuanya. Masalahnya yang utama adalah karena kurangnya waktu belajar. Tetapi karena mendapat perkataan kurang baik / makian dari orang tuanya, lalu dibungkus dengan perasaan emosional, maka anak tersebut bisa membawa luka akibat perkataan dari orang tuanya ini di sepanjang hidupnya.


Contoh lainnya adalah pasangan yang sudah menikah selama 35 tahun, kini hendak mengajukan perceraian. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata masalah utamanya adalah salah satunya kalau berbicara sering kasar, menyemprot dengan kata dan nada kurang baik. Masalah sebenarnya telah terjadi miskomunikasi / komunikasi kurang baik, tetapi ketika ditambahi dengan perasaan kurang baik, akhirnya masalah yang awalnya sederhana dapat berkembang ke mana-mana.


Contoh lainnya ada suami yang disuruh membeli makanan buat rumah, sepulang dari pekerjaan. Karena kelupaan, sesampainya di rumah istrinya memarahi dengan nada kasar. Padahal masih ada solusi lain, yakni membeli makanan melalui beberapa jasa layanan online yang tersedia.


Perasaan itu sebenarnya baik dan indah, tetapi berhati-hatilah agar hidup kita jangan sampai dikuasai perasaan. Firman Tuhan di atas mengingatkan setiap kita untuk hidup oleh iman. Sebuah permasalahan pada mulanya tidak besar, tetapi karena ada unsur emosional, masalahnya jadi membesar. Firman Tuhan mengatakan,


ā€œPencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.ā€ (1 Korintus 10:13).


Kesembuhan emosional itu memang dibutuhkan, tetapi tidak akan dapat sembuh bila akar dari permasalahannya tidak mau diselesaikan. Marilah kita belajar untuk menjadi seorang problem solver / yang dapat menyelesaikan setiap permasalahan, bukan malah memperbesar masalah.


Kedua. Kebiasaan Membenarkan Dosa.


ā€œCelakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.ā€ (Yesaya 5:20).


Dosa tetaplah dosa, jangan mencoba untuk dirasionalisasi. Jangan pula kita mencari alasan untuk membenarkan perbuatan dosa yang sudah kita lakukan, lalu menjauhkan diri dari apa yang namanya pertobatan, sehingga hidup kita dapat berubah menjadi lebih kacau.


Tuhan menciptakan terang, dan dengan jelas bahwa terang tersebut dipisahkan dari kegelapan. Tuhan juga menciptakan laki-laki dan perempuan, dan tidak ada gender yang berada di antara keduanya. Tetapi manusia di zaman sekarang telah mencampuradukkan segalanya. Di Amerika sendiri ditemukan ada banyak personality / kepribadian. Hidup kini berubah menjadi lebih kacau.


ā€œJika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.ā€ (Matius 5:37).


Suap. Dulu dinilai dosa, tetapi sekarang menjadi prosedur sebelum melakukan segala sesuatu. Ketika seseorang hidup ā€œdi area abu-abuā€, dirinya jadi mudah berkompromi, tidak berani membuat garis tegas antara benar dan salah, serta tidak berani menolak dosa. Hidupnya sudah tidak lagi memiliki nilai kebenaran. Orang tersebut mungkin bisa mengajar tentang banyak nilai kebenaran, tetapi sudah tidak bisa lagi menjadikan dirinya sebagai teladan hidup.. karena hidupnya sendiri sudah banyak kompromi terhadap dosa.


Seseorang dihormati karena nilai-nilai hidup yang dimilikinya. Kalau nilai yang dimiliki sudah kabur, maka dirinya mudah sekali terseret arus dunia dan tidak lagi memiliki pijakan teguh di atas dasar kebenaran firman Tuhan yang sejati. Hal ini sangatlah berbahaya, karena dapat membuat kerohanian seseorang tidak bisa berkembang lagi, karena banyak kompromi yang dilakukan.


Ketiga. Kebiasaan Mengandalkan Diri Sendiri.


ā€œBeginilah firman TUHAN: ā€œTerkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!ā€ (Yeremia 17:5-7).


Dari ayat di atas kita dapat belajar kalau kita hidup hanya dengan mengandalkan hikmat dan kekuatan diri sendiri, maka kita sama saja dengan mengundang kutuk untuk dapat masuk ke dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita mau hidup dengan selalu mengandalkan Tuhan, maka hal ini akan mengundang berkat Tuhan yang terbaik untuk dapat terjadi di dalam hidup kita.


Hari-hari ini banyak orang merasa dirinya hebat dan mampu untuk menjalani hidup hanya dengan hikmat dan kekuatannya sendiri. Sikap mereka ini merupakan sikap yang tidak mempercayai Tuhan, dan bertindak seolah mereka menjadi tuhan yang dapat mengatur segalanya, dengan hikmat dan kekuatan manusia yang terbatas.


Bagaimanapun juga,


ā€œTangan kita jelas jauh berbeda ukurannya dengan tangan Tuhan yang jauh lebih besar dari tangan kita.ā€


Karena itulah iman kita harus dapat mengatakan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang jauh lebih besar dari segala pergumulan yang sedang kita hadapi. Kalau kita berani untuk berkata dan beriman terhadap hal ini, maka kita tidak akan pernah kehilangan harapan, sebab Pencipta dari alam semesta selalu menyertai dan tidak akan meninggalkan hidup kita sendirian.


Kalau kita sudah kehilangan iman untuk melihat Tuhan yang kita sembah itu masih jauh lebih besar dari apa pun yang ada di dalam dunia ini, maka kita akan melihat bahwa masalah yang kita hadapi jauh lebih besar menguasai hidup kita.


Marilah terus berharap dan bergantung hanya pada Tuhan bukan pada hikmat dan kekuatan kita yang terbatas, karena kita sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan kita yang sejati.


Keempat. Kebiasaan Mengabaikan Waktu bersama dengan Tuhan.


ā€œTUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.ā€ (Mazmur 25:14).


Di zaman yang penuh dengan hiburan dan banyak postingan di media sosial (medsos), bisa mencuri dan men-distract / mengalihkan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk kita dapat bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, di dalam doa dan pembacaan firman-Nya di Alkitab.


Dalam Tabernakel terdiri dari 3 bagian:


Halaman, Ruang Kudus, dan Ruang Maha Kudus.


Hal ini adalah gambaran dari hidup kita:


Halaman merupakan tubuh fisik, Ruang Kudus merupakan jiwa kita, dan Ruang Maha Kudus adalah roh / hati kita.


Di bagian Halaman, semua orang diperbolehkan masuk, banyak aktivitas yang dilakukan di bagian ini. Di Ruang Kudus, tidak semua orang boleh masuk ke dalamnya. Hanya imam saja yang membawa persembahan korban bakaran. Terlebih lagi masuk ke dalam Ruang Maha Kudus, hanya satu Imam Besar saja yang diperbolehkan masuk.


Tuhan ingin agar kita memiliki persekutuan yang karib dengan-Nya, hanya kita sendiri dengan Dia. Kita tidak dapat nunut / menumpang iman dan pertumbuhan kerohanian pada orang lain—kita sendiri yang harus bertanggung jawab dalam membangun waktu pribadi bersama Dia.


Andrew Murray pernah berkata kalau seseorang itu hidupnya bisa dikatakan kudus bukan karena dirinya sudah melakukan banyak hal untuk Tuhan yang kudus. Tetapi dirinya dapat menjalani hidup kudus, karena terus membangun hubungan yang karib bersama dengan Tuhan yang kudus.


Karena itulah kekudusan sejati bukan dinilai dari aktivitasnya saja, tetapi bagaimana kita terus membangun hubungan karib bersama dengan Tuhan yang kudus. Kekudusan-Nya itulah yang akan terimpartasi di dalam hidup kita.


Kelima. Kebiasaan Menunda Ketaatan.


ā€œPada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeramanā€ (Ibrani 3:15).


Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Mengapa hal ini penting?


Karena ketaatan merupakan wujud dari iman.


Sering kali kita berkata bahwa kita ini percaya dan beriman pada Tuhan, tetapi kita tidak pernah mau taat untuk dengan bersegera melakukan kebenaran firman-Nya di hidup kita. Iman tanpa perbuatan sama saja tindakan omong kosong belaka.


Firman Tuhan mengatakan,


ā€œDemikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.ā€ (Yakobus 2:17).


Perwujudan dari iman adalah pada saat kita mau taat melakukan kebenaran firman Tuhan. Hal ini sangatlah penting karena melaluinya kita dapat mengalami setiap janji Tuhan yang tertulis di dalam firman-Nya. Kalau kita tidak pernah mau taat dan melangkah, maka kita tidak akan pernah bisa mengalami semua janji-Nya. Semua khotbah yang kita dengar tujuannya bukan hanya untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan saja, tetapi agar kita dapat mengalami Pribadi-Nya lebih lagi.


Experiencing God become a milestone in our life. Pengalaman kita pada saat berjalan bersama dengan Tuhan dapat menjadi dasar dan batu pijakan di dalam hidup kita.


Mengalami Tuhan dapat membuat kita semakin dalam mengenal Pribadi-Nya, serta membuat kita bertumbuh semakin teguh di dalam mengenal Dia. Hal ini dapat menguatkan iman kita, ketaatan kita melakukan kebenaran firman-Nya juga membuat kita lebih dalam mengalami Pribadi-Nya.


Mengalami Tuhan membuat kita semakin mengenal Dia, dan mengenal Dia memperteguh iman kita.


Ketaatan untuk melakukan kebenaran firman-Nya adalah langkah terakhir yang dapat kita perjuangkan, sebelum kita nantinya dapat mengalami mukjizat terbaik dari Tuhan.


Lakukan dengan segera apa yang Dia katakan, dan kita akan melihat hasilnya yang luar biasa.


Keenam. Kebiasaan Tidak Mengampuni.


ā€œSabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.ā€ (Kolose 3:13).


Mengampuni orang lain sebenarnya bukan untuk mereka, tetapi untuk kebaikan diri sendiri. Sebuah tindakan untuk membebaskan seseorang dari belenggu penjara, dan orang itu adalah hidup kita sendiri. Kita mengampuni bukan berarti mengubah masa lalu yang telah terjadi, tetapi untuk mengubah jalannya masa depan di hidup kita.


Mungkin kita dapat berkata bahwa kita ini mengasihi semua orang, tetapi kita membenci satu orang. Lambat laun hal ini akan menjadi sebuah kepahitan yang terus bertumbuh, lama-kelamaan berkembang semakin banyak. Dari kebencian pada satu orang, bisa terus bertumbuh menjadi benci pada teman dari orang yang tidak kita sukai tersebut. Karena itulah kalau luka dan kepahitan ini tidak mau diselesaikan, maka kita akan selalu disakiti perasaannya dan tidak dapat mengalami sukacita yang sejati di dalam hidup kita.


Ibunda dari Pdt. Andreas Rahardjo telah memberi keteladanan hidup dengan tidak menyimpan kebencian pada orang lain. Hal ini mengajar kalau kita menyimpan kepahitan, maka kita akan menjalani kehidupan ini dengan terseok-seok / merasa berat untuk melangkah.


Marilah kita belajar untuk melepas pengampunan dan menjalani hidup ini tanpa membawa beban kepahitan. Sebab bila kita terus membawa beban tersebut di dalam hidup, maka lama-kelamaan perkataan kita dapat berkembang menjadi negatif. Memang, siapa pun masih dapat menyakiti kita tetapi kita masih dapat memilih, apakah kita akan mengizinkan hal tersebut melukai hidup kita atau tidak? Belajarlah mengampuni sesama karena kita akan menjadi seorang yang merdeka, bebas, dan mengalami damai serta sukacita dari Dia.


Ketujuh. Kebiasaan Menghakimi Orang Lain.


ā€œMengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?ā€ (Matius 7:3).


Dengan menghakimi orang lain, kita sebenarnya memperbesar kejelekan diri sendiri.


Seseorang yang bercerita kurang baik pada orang kedua, maka cerita kurang baik tersebut akan ditambahi satu materi. Bila dilanjutkan pada orang ketiga dan seterusnya, maka materi kurang baik tersebut akan terus bertambah. Semakin kita menjelekkan orang lain, maka sesungguhnya hal ini dapat memperburuk kualitas diri sendiri.


Jangan menghakimi sesama, karena yang berhak menghakimi hanyalah Tuhan sendiri.


Marilah kita belajar untuk berhati-hati dalam menjaga dan mengendalikan perasaan kita. Jangan berkompromi dan menormalisasi setiap perbuatan dosa. Beranilah dengan tegas untuk memilah mana yang benar dan yang salah, dan tetaplah memilih untuk hidup di dalam kebenaran firman Tuhan yang sejati. Jangan mengandalkan hikmat dan kekuatan sendiri, tetapi terus andalkan Tuhan dalam segala perkara. Setiap kita diberi waktu yang sama, yakni 24 jam, sediakan waktu terbaik untuk dapat membangun hubungan karib bersama dengan-Nya—Dia selalu menunggu setiap kita.


Jangan pernah menunda ketaatan kalau kita digerakkan sesuatu sama Tuhan, lakukanlah dengan segera karena nantinya akan ada sukacita dan berkat Tuhan terbaik yang menanti setiap kita. Jangan menyimpan kesalahan dan menghakimi orang lain. Maka kita akan menjadi orang-orang yang bersukacita dan diberkati Tuhan.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page