Andreas Rahardjo - Berlari dengan Tekun
- mdcsbysystem
- 3 Jan
- 12 menit membaca
Catatan Khotbah: “Berlari dengan Tekun.” Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 28 Desember 2025.
Perlombaan yang Diwajibkan.
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2).
Alkitab mengatakan bahwa hidup yang kita jalani ini seperti perlombaan yang diwajibkan. Bahkan di bagian ayat lain Rasul Paulus juga mengatakan pada setiap kita,
“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (1 Korintus 9:24-25).
Perlombaan ini diwajibkan untuk semua orang, dan kita akan mengalami kemajuan rohani bila memiliki mentalitas olahragawan, berdisiplin dalam membangun dan menjaga hidup kerohanian, serta melakukan beberapa persiapan rohani lainnya.
Tetapi banyak orang Kristen hari-hari ini hidup kerohaniannya sama seperti berada di kapal pesiar, mereka hanya mau bersenang-senang dan menikmati enaknya saja. Padahal kita tidak akan pernah bisa memenangkan kehidupan bila memiliki sikap demikian. Milikilah sikap yang mau untuk berfokus, seakan-akan kita memasuki pertandingan yang sangat penting. A.W. Tozer berkata,
“Spiritual Christians look upon the world not as a playground, but as a battleground.”
Kita harus bisa memilih salah satu dan tidak bisa tinggal di keduanya, kita harus fight / berjuang untuk hal ini. Termasuk juga menanamkan nilai dalam hidup anak-anak, yang hari-hari ini tidak mudah keadaannya. Selain berdoa, kita juga harus menjadi teladan hidup bagi mereka.
Ketika Pdt. Andreas hendak mengikuti pertandingan golf, makanannya harus dijaga teratur dan dibuat sama menunya. Hal ini dilakukan agar badan menjadi teduh dan stabil. Sehingga saat ada tekanan di dalam pertandingan, kondisi badan kita sudah siap dan mendukung. Jangan sampai kita kalah karena teledor dalam menjaga kesehatan tubuh.
Demikian pula hal yang sama dalam menyikapi hidup ini, kita juga tidak boleh teledor. Penuhlah dengan perhitungan, lakukan disiplin rohani dalam berlatih.. seakan-akan kita sedang menghadapi pertandingan besar di depan kita. Jadikan Yesus sebagai kapten / pemimpin bahtera kehidupan kita. Dialah yang nantinya akan memimpin setiap kita di dalam iman, dan yang akan membawa iman kita itu pada kesempurnaan (Ibrani 12:2).
Tetapi ada beberapa orang yang tidak mau mengikuti pertandingan ini, padahal suka ataupun tidak, pertandingan ini diwajibkan bagi semua orang. Kalau kita tidak mau mengikuti pertandingan ini, maka suatu hari nanti setiap dari kita harus mempertanggungjawabkan sikap dan keputusan kita selama ini kepada Tuhan.
Perumpamaan tentang talenta di dalam Matius 25:14-30 telah memberitahu pada kita, ada orang yang jahat dan malas (yang dipercaya satu talenta), ada juga yang bekerja keras dan bertanggungjawab (dipercaya lima dan dua talenta).
Setiap potensi yang diberi Tuhan, hikmat, kepandaian, kapasitas dalam hidup.. suatu hari nanti kita harus mempertanggungjawabkan pada Tuhan. Kita harus memberi jawab pada Dia,
“Apakah talenta kita selama hidup di dalam dunia ini sudah dikembangkan, sehingga dapat menghasilkan sesuatu dan memuliakan Dia?”
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1).
Menanggalkan Dosa.
Mengapa kita harus menanggalkan dosa?
“Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.” (Yeremia 5:25).
Kalau kita masih hidup di dalam dosa dan tidak mau menanggalkannya, sepandai apa pun kita menutupinya.. maka dosa tersebut akan terus mengejar dan pada suatu hari nanti akan dapat menghancurkan hidup kita. Di ayat di atas bahkan dikatakan kalau dosa tersebut dapat menghambat yang baik, yang datangnya dari Tuhan.
Orang paling hebat dan kuat sekalipun bisa hancur karena dosa. Bahkan Kekaisaran Romawi yang terkenal paling kuat dan besar sekalipun, salah satu penyebab keruntuhannya adalah adanya dosa perzinahan (penurunan moral). Karena dosa ini, bangsa Romawi yang besar bisa kolaps.
Marilah berhati-hati dan berbijaksana dalam menjalani hidup ini. Jangan jauhkan diri kita dari apa yang namanya pertobatan, akuilah selalu dosa kita di hadapan-Nya. Seringlah melakukan evaluasi dan selalu waspada mengenai hal ini.
Bagaimana kita menanggalkan dosa?
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (1 Yohanes 1:9-10).
Masih banyak hal yang tidak baik di dalam pikiran, perkataan, dan juga perbuatan kita. Tetapi ada satu pernyataan yang cukup menarik,
It is good to feel clean in ourself. Adalah baik adanya ketika kita dapat merasa bahwa apa yang berada di dalam hati kita ini bersih adanya.
Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mengenai begitu bahagianya seseorang yang sudah diampuni dosa-dosanya. Sama seperti Daud yang menyebut berbahagia seseorang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya. Firman Tuhan mengatakan,
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Roma 4:7-8).
Karena itu jangan lagi memiliki kegemaran untuk menyimpan dosa, semenarik apa pun bentuknya. Selain itu, ada dosa yang tidak bisa diampuni yakni dosa yang tidak mau kita akui di hadapan-Nya.
Masalah dosa yang paling berat yang dapat menghancurkan dan menghalangi kita untuk menerima berkat dari Tuhan, sudah “dibuat mudah” karena pengorbanan Kristus dari atas kayu salib. Yang perlu kita lakukan hanyalah,
“Mengaku setiap dosa, dan Tuhan yang akan menyucikan dari segala dosa-dosa kita.”
Kita tidak akan pernah bisa melakukannya dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri karena hanya Tuhan Yesus sajalah yang dapat mengampuni dosa-dosa kita. Dia telah mati menebus dosa kita, agar kita mendapat pengampunan dari-Nya.
Miliki hati yang lapang untuk kita mau meninggalkan segala perbuatan dosa kita.
Kalau kita tidak pernah mau mengakui dosa kita secara privat / pribadi di hadapan Tuhan, kita menyelesaikan dan meninggalkannya.. maka jangan terkejut bila suatu hari nanti, dosa yang tidak mau kita tinggalkan di tempat privat tersebut akan mengungkapkan apa dosa kita, di depan umum.
Menanggalkan Beban.
Beban belum tentu dosa, tetapi dapat menjadi dosa bila kita tidak mau menanggalkannya. Karena itu, beban apa saja yang harus kita tanggalkan?
Pertama. Beban Kekuatiran diganti menjadi Keyakinan Iman.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1).
Hari-hari ini masalah kekuatiran sudah jarang dianggap sebagai musuh, malahan dianggap sebagai teman modern. Memang semua orang bisa kuatir, tetapi yang paling berbahaya bila kekuatiran ini dianggap sebagai teman hidup. Padahal kekuatiran bisa mengkandaskan iman yang kita miliki.
Contohnya di dalam Alkitab,
“Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”” (Matius 14:28-31).
Mukjizat telah terjadi, Petrus turun dari perahu, berjalan di atas air, dan mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, Petrus mulai takut dan berpikir, tidak mungkin manusia biasa dapat berjalan di atas air. Petrus mulai tenggelam.
Iman dan Kekuatiran tidak bisa tinggal di tempat yang sama. Bila ada Iman, maka Kekuatiran harus keluar. Demikian pula sebaliknya.
Pada suatu hari Pdt. Andreas menulis buku dengan topik: Membangun perahu yang jauh lebih besar, atau kita sendiri berjalan di atas air laut?
Persamaan dari kedua orang tersebut memang keduanya sama-sama berada di atas air. Tetapi yang menjadi perbedaannya adalah, kalau kita berjalan di atas air, kita dapat tenggelam. Sedangkan kalau kita berjalan di atas perahu yang besar, air laut yang masuk masih bisa ditampung di atas geladak dari perahu tersebut. Walau kita tidak tenggelam dan bisa berjalan di atas geladak.. tetapi kalau roh dan semangat sudah kalah terlebih dahulu sebelum bertarung, maka kita sudah kalah duluan.
Selain itu, jangan jadikan “perahu” tempat di mana kita berada menjadi security / tempat aman kita. Seharusnya tempat aman kita hanya terletak pada Tuhan Yesus saja. Pekerjaan kita bisa mengalami keadaan naik dan turun, bahkan ada yang menaruh imannya hanya pada kesuksesan yang fana, yang asalnya dari dalam dunia ini. Tetapi Tuhan ingin agar kita selalu bergantung pada Dia.
Kekuatiran yang tidak dengan segera diatasi dan dikendalikan, nantinya dapat mengarah pada kecemasan dan ketakutan yang di mana kita tidak lagi dapat mengendalikannya.
Kita sering kuatir dan berpikir terlalu banyak, bahkan bagian Tuhan kita juga memikirkannya. Seharusnya yang kita perbuat adalah,
Doing our best / lakukan usaha kita yang terbaik, dan serahkan apa yang menjadi bagian-Nya Tuhan.
Kalau kita berpikir terus apa yang menjadi bagian-Nya Tuhan, maka kita akan dikuasai kekuatiran.
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).
“Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.” (2 Korintus 1:20).
Kedua. Beban Kesombongan diganti menjadi Kerendahan Hati.
“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”” (Yakobus 4:6).
Kalau kita hidup di dalam kesombongan, maka kita sedang menjadikan Pribadi Tuhan sebagai musuh kita. Kalau ada satu musuh dari pihak manusia saja hidup kita merasa tidak enak, bayangkan kalau ini yang dijadikan musuh adalah Tuhan sendiri, maka hidup kita dapat menjadi babak belur.
Seharusnya kita takut dan menjauh dari apa yang namanya dosa kesombongan, karena kita tahu tidak ada seorangpun yang sombong, yang dapat berada di atas selamanya. Suatu hari pasti akan jatuh.
“Namun, Allah memberi anugerah yang lebih lagi. Karena itu, Kitab Suci berkata, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati.”” (Yakobus 4:6, Alkitab Yang Terbuka / AYT).
Kalau kita mendapatkan anugerah dan favor / kemurahan-Nya, maka kita tidak akan kuatir dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan seperti aliran sungai yang mengalir, anugerah Allah akan turun pada orang-orang yang rendah hati.
Seorang yang rendah hati akan mampu berkata,
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).
“Adalah kesombongan yang mengubah malaikat menjadi Iblis, dan kerendahan hati yang mengubah manusia menjadi malaikat.” (St. Agustinus).
Ketiga. Beban Pemberontakan diganti menjadi Ketaatan.
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22).
Pada suatu hari ada seorang hamba Tuhan yang bermimpi melihat kuda berwarna putih dan hitam, di antara banyaknya kuda liar di padang. Pada saat itu pihak kerajaan sedang mencari banyak kuda yang nantinya akan dilatih, dan dipersiapkan untuk menjadi penarik dari kereta kerajaan.
Bagaimana caranya mengubah kuda liar menjadi kuda yang jinak? Caranya hanya dipecut, agar melalui proses tersebut kuda-kuda itu dapat menjadi jinak. Tidak ada cara lainnya, sebab melalui proses ini akan mengeluarkan setiap sikap liar sehingga mau tunduk pada otoritas yang ada. Semuanya ini membutuhkan latihan, dan dengan waktu yang cukup lama berjalan.
Karena merasa waktu latihannya cukup lama dan tidak tahu kapan berakhirnya, kuda yang berwarna hitam memutuskan untuk melompat keluar dari pagar pembatas dan lari ke padang untuk kembali menikmati kebebasannya.
Kuda berwarna putih melihatnya, dan mengajaknya kembali pada proses untuk dipersiapkan menjadi kuda penarik dari kereta kerajaan. Tetapi kuda hitam menolak dan mengatakan bahwa dirinya sudah lelah mengikuti semua proses yang ada. Kuda hitam lebih memilih untuk hidup di alam liar, menikmati kebebasannya, dan merasa bahagia dengan keputusan yang diambil pada saat itu.
Selang waktu berjalan, masa kekeringan datang. Karena sulit mendapatkan makanan di alam liar, kuda hitam tubuhnya kini bertambah kurus. Sebaliknya, kuda putih menjadi gagah dan tetap sehat karena selalu diberi makanan yang terbaik. Kuda hitam yang melihat temannya kini hanya bisa menyesal, mengapa dirinya dulu lari dari proses. Dari kejauhan, kuda hitam kini hanya bisa melihat kuda putih dengan gagah dan percaya diri berada di dalam kumpulan penarik kereta raja.
Terkadang banyak orang ingin hidup bebas dan seenaknya sendiri, mereka tidak mau lagi hidup di dalam aturan. Tetapi pada suatu hari kelak akan datang masa kekeringan, masa di mana segala sesuatu akan diuji. Karena itu marilah kita belajar untuk menundukkan diri pada kebenaran, jangan memberontak, dan keluar dari otoritas.
Pdt. Jeremia Rim selalu berpesan,
“Berhati-hatilah saat memilih pembicara. Lihatlah apakah hubungannya dengan gembala senior dan rekan penggembalaan ada masalah / tidak?”
Karena seseorang yang memiliki masalah dengan otoritas di atasnya, biasanya memiliki karakter yang kurang baik. Seseorang yang memiliki otoritas justru adalah seorang yang bisa submit dan menghargai setiap otoritas yang berada di atasnya.
Di dalam gereja MDC Surabaya, seorang pria dan seorang perempuan yang hendak menikah wajib hukumnya mendapat restu dari kedua orang tua. Sebab gereja ini mempercayai ada berkat dari kedua orang tua bagi anak-anaknya.
Memasuki tahun yang baru nantinya, jangan lupa untuk berdoa bagi anak-anak kita dan perkatakan berkat buat mereka. Biar anak-anak tahu dan menyadari bahwa mereka masuk ke dalam tahun yang baru bersama dengan penyertaan dari Tuhan, dan juga restu dari kedua orang tuanya.
Firman Tuhan berkata,
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16).
Firman Tuhan mengajar kita untuk menghormati orang tua, apa pun keadaan mereka. Sering kali orang tua menutup hati untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, bisa jadi, karena mereka melihat hidup anak-anaknya yang katanya Kristen tetapi sama sekali tidak mencerminkan kehidupan Kristus melaluinya.
Mengapa kita perlu belajar taat pada otoritas di atas kita? Karena dosa pemberontakan menjauhkan diri kita dari pengayoman rohani, dan juga merusak hubungan kita dengan sesama.
Belajarlah hidup dalam ketaatan, dan submit-kan diri kita pada kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab, dengan membacanya setiap hari.
Keempat. Beban Kemalasan diganti menjadi Kerajinan dan Ketekunan.
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1).
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).
Setialah pada hal kecil, dan tetap bertekun melakukannya di dalam hidup kita.
Contohnya. Pdt. Andreas membuat renungan singkat yang nantinya dibagikan di semua nomor whatsapp temannya. Tahun 2026 ini merupakan tahun ke-12 dirinya melakukan hal ini. Dari kebiasaan sederhana membuat renungan singkat, banyak orang hidupnya dapat diberkati. Renungan singkat yang dirinya buat menyebar ke banyak orang, dan entah bagaimana caranya, renungan tersebut kembali pada Pdt. Andreas sendiri.
10 Hukum Tuhan (Ulangan 5:1-22).
Pertama. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kedua. Jangan membuat bagimu patung dan menyembahnya. Ketiga. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan. Keempat. Ingat dan kuduskanlah hari Sabat.
Kelima. Hormatilah ayahmu dan ibumu. Keenam. Jangan membunuh. Ketujuh. Jangan berzinah. Kedelapan. Jangan mencuri. Kesembilan. Jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu. Kesepuluh. Jangan mengingini milik sesamamu.
Kita melanggar satu hukum di atas saja sama beratnya dengan melanggar hukum yang lain. Empat hukum pertama berbicara vertikal, hubungan kita dengan Tuhan. Enam selanjutnya mengatur relasi kita dengan sesama.
Pada hukum keempat dikatakan,
“Ingat dan kuduskanlah hari Sabat.”
Hukum ini mengingatkan kita untuk tidak malas berdoa dan tetap berbakti serta beribadah pada Tuhan di gereja pada hari Sabat / hari istirahat mingguan yang dikuduskan, dan kini dirayakan pada hari Minggu sebagai Hari Tuhan.
Tetapi semenjak masa pandemi COVID-19, kita terbiasa dengan bergereja secara online / daring. Kalau kita tidak pergi ke gereja secara onsite / beribadah bersama saudara seiman lainnya, kita tidak lagi merasa berdosa. Kalaupun seandainya kita sedang berlibur, carilah waktu untuk berdoa bersama dengan anggota keluarga kita.
Tuhan menciptakan 6 hari untuk bekerja, dan 1 hari untuk beristirahat. Pilihlah 1 hari tersebut untuk beribadah pada Tuhan di gereja. Dahulu kita dilatih untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu. Tetapi kini setelah masa pandemi berlalu? Kita lebih memilih untuk beribadah secara online. Bagaimana caranya kita dapat memiliki hidup kerohanian yang baik, bila kita tidak mau melakukannya?
Pdt. Andreas bercerita kalau pertandingan golf sering diadakan pada hari Minggu. Tetapi Ayahnya tetap mendisiplinkan dirinya, hari Minggu harus tetap bergereja walau datang di ibadah sore, karena paginya mengikuti perlombaan golf.
Akhirnya kebiasaan ini dapat membentuk karakternya. Menghormati hari Sabat / Minggu karena kita akan bertemu dengan Sang Raja.
Setiap hari Sabtu, Pdt. Andreas selalu menyemir sepatunya. Dirinya mau tampil dalam keadaan yang bagus dan terbaik di hadapan Sang Raja. Selalu datang 1 jam lebih awal sebelum kebaktian. Mempercayai bahwa persiapan kita sebelum beribadah dan menyembah Tuhan, akan menentukan berkat yang kita terima nantinya.
Selain itu kita juga jangan terburu meninggalkan ibadah, tunggulah sampai ibadah benar-benar selesai. Hormatilah Sang Raja.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25).
Kelima. Beban Keegoisan diganti menjadi Kasih.
“Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Korintus 16:14).
Banyak hal yang dapat dibahas mengenai keegoisan ini, karena sikap egois dapat membuat kita tidak memiliki teman, tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, dan banyak hal lainnya.
If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together. Kalau kita ingin pergi dengan cepat, pergilah sendirian. Tetapi kalau kita ingin pergi lebih jauh, pergilah bersama-sama.
Kita bisa pergi dan bertumbuh bersama-sama kalau tidak memiliki sikap yang egois. Sebab sikap egois sendiri adalah akar dari NPD (Narcissistic Personality Disorder). Ciri-cirinya adalah,
“Butuh pengakuan, kurangnya empati, tidak suka dikritik, suka memanipulasi orang.”
Butuh pengakuan. Memiliki sikap entitlement / merasa berhak untuk menerima perlakuan khusus. Bila masuk ke dalam ruangan tidak ada yang menyapa dan menyalami, maka kita akan merasa tidak diterima di dalam gereja tersebut.
Kurang empati. Tidak lagi memiliki kepekaan dan social concern / tidak lagi bisa melihat apa yang menjadi kebutuhan dari sesama kita.
Kalau kita memasuki tahun 2026 dengan sikap egois, maka hal ini sangatlah berat. Tetapi cobalah diganti dengan Kasih. Milikilah empati terhadap orang-orang di sekitar, dan biarlah mereka dapat merasakan kehangatan kasih kita.
Pdt. Andreas memiliki seorang teman, di mana sebelum bertobat, temannya ini adalah seorang yang jahat dan keras temperamennya.
Saat masuk ke dalam rumah, suasananya menjadi tegang dan menakutkan. Anabul yang berada di dekatnya selalu lari dan bersembunyi, karena pernah ditendang. Tetapi ini dulu. Kini teman Pdt. Andreas sudah bertobat. Ketika masuk rumah, anabul-nya yang berlari pertama kali untuk menyambut kedatangannya. Bahkan anabul peliharaan, bisa merasakan perubahan dirinya.
Kalau kita mau bertobat, maka orang-orang di sekitar dapat merasakan perubahan kita, dan mereka merasa diterima dan disayangi.
Dalam menyongsong tahun 2026, marilah kita mempersiapkannya dengan,
“Keyakinan Iman, Kerendahan Hati, Ketaatan, Ketekunan, dan juga Memiliki Kasih.”
“Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.” (Yesaya 50:7).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar