Agus Lianto - Kemenangan Terbesar
- 3 jam yang lalu
- 15 menit membaca
Catatan Khotbah: āKemenangan Terbesar.ā
Ditulis ulang dari sharing khotbah Bp. Pdt. Agus Lianto di Ibadah Minggu Paskah di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 5 April 2026.
āKarena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.ā (Roma 6:9-11).
Sejauh pengertian yang kita miliki, kemenangan yang diterima dari Allah itu seperti apakah wujudnya? Salib Kristus dan kebangkitan-Nya memang adalah karya sempurna serta memberi kemenangan terbesar di dalam hidup kita. Setiap dari kita percaya dan mengamininya, tetapi bagaimana wujud dan realitasnya?
Pada umumnya kita memahami kemenangan terbesar itu adalah sebagai keadaan di mana kita telah menerima dan mengalami banyak mukjizat dari Tuhan. Tidaklah salah, tetapi yang namanya mukjizat itu tidak selalu terjadi setiap hari karena Tuhan ingin agar kita bertumbuh dan berproses di setiap harinya, melalui berbagai hal yang diizinkan-Nya terjadi di dalam hidup kita.
Sering kali kita juga menyamakan kemenangan terbesar itu dengan kehidupan yang berjalan tampak mudah dan tidak ada masalah, keadaan makmur dan nyaman, serta semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Kalau semuanya itu menjadi standar / ukuran kemenangan.. maka sebenarnya kita tidak memerlukan Kristus. Mengapa?
Karena banyak orang di dunia tidak mengenal Kristus secara mendalam, tetapi hidupnya malah berjalan baik-baik saja dan tidak ada masalah.
Karena itulah, apakah wujud yang sesungguhnya dari kemenangan tersebut? Jangan-jangan selama ini kita memiliki gambaran kehidupan yang keliru, di mana wujud kemenangan dari Dia itu kita anggap dapat terjadi ketika semuanya di dalam hidup berjalan dengan mudah dan menyenangkan.. padahal bukan itu yang sesungguhnya disediakan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, yang sedang kita peringati pada hari-hari ini.
Tiga Kemenangan Besar.
Tiga kemenangan yang akan kita pelajari di bawah ini tidak akan kita dapatkan di luar Kristus, dan merupakan wujud kemenangan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekayaan, kehebatan dan penuh mukjizat, kekuasaan, terkenal / populer, serta kecerdasan dunia.
Kematian dan kebangkitan Kristus telah menyediakan kemenangan terbesar bagi hidup kita. Semua hal yang dapat kita raih selama hidup di dalam dunia ini sifatnya hanyalah sementara, dan tidak dapat kita bawa di dalam kekekalan.
Dalam hidup Kekristenan, Kristus tidak hanya menjanjikan dan menyediakan jalan serta kekuatan yang kita butuhkan saja.. tetapi setiap dari kita juga memiliki peran dan harus mengejarnya.
Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mau memahami, kita ini mau menang seperti apa dan memahami wujud dari kemenangan-Nya.
āSebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.ā (Roma 6:5-8).
Kalau kita menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan Kristus, maka kuasa-Nya juga akan hidup serta bekerja / memiliki dampak di dalam hidup kita. Karena itulah manusia lama kita harus āmati dengan Kristusā agar kita dapat bangkit menjadi manusia baru bersama dengan-Nya, dan kita juga mendapat kemenangan dari Dia.
Kemenangan apa yang kita dapatkan?

Kemenangan Pertama: Hidup Tidak Dikuasai Dosa.
āSebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.ā (Roma 6:14).
Ini bukanlah hal remeh sebab,
Dosa membutakan mata dan menumpulkan akal sehat, dapat membuat seseorang membuang kehormatannya, mengejar hawa nafsu, dan juga mengejar kesia-siaan belaka.
Banyak orang Kristen hari-hari ini menganggap dosa hanya sebagai norma / kewajaran sehingga banyak yang berkompromi, hidupnya dikelilingi dosa, dan tidak lagi dapat membayangkan bahwa setiap dari kita bisa menjalani sebuah kehidupan yang benar-benar bebas dari dosa.
āSebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.ā (Efesus 4:17-19).
Ada banyak orang yang merasa cukup dengan menjalani āhidup yang baikā dan tidak merugikan orang lain. Ada juga yang merasa kalau tidak berbuat dosa di hidupnya, maka dirinya tidak dapat menjalani kehidupan ini dengan baik. Dirinya mudah ditipu dan dimanfaatkan orang lain.
Arti kata dosa yang sebenarnya di dalam bahasa Yunani adalah hamartia, yang memiliki arti meleset dari sasaran, dan tidak mencapai apa yang seharusnya dapat dicapai. Kalau kuasa dosa mulai bekerja di dalam hidup kita, maka hal itu akan mengarahkan hidup kita pada perbuatan kesia-siaan belaka, yang sebenarnya perbuatan itu menyakiti hati Tuhan.
Firman Tuhan mengatakan,
āBerfirmanlah Allah: āBaiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.ā Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.ā (Kejadian 1:26-27).
āSebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.ā (1 Petrus 1:18-19).
Karena itulah kalau kita mengisi hidup dengan kesia-siaan belaka, maka hal ini sama dengan menyakiti hati Tuhan karena kita sudah dicipta segambar dan serupa dengan Dia, dan juga kita sudah ditebus dengan darah-Nya yang mahal.. tetapi kita malah menyia-nyiakannya.
Mungkin kita tidak melakukan perbuatan kriminal yang dapat berurusan dengan hukum di negara ini, tetapi yang menjadi pertanyaannya..
āBerapa persen banyaknya selama ini kita telah menyia-nyiakan waktu di dalam hidup kita hanya untuk menyenangkan diri sendiri, dan membangun ambisi pribadi kita?ā
Tidaklah salah bila kita mau menikmati dan mensyukuri waktu dan berkat dari Tuhan.. tetapi kehidupan yang sia-sia itu sesungguhnya memiliki arti kita ini membangun dan mengumpulkan sesuatu dari dalam dunia, yang tidak dapat kita bawa untuk masuk di dalam kekekalan.
Hari-hari ini banyak info dan berita di berbagai kanal media sosial, dan semuanya itu membuat pikiran kita menjadi terpecah. Tetapi kita harus ingat bahwa tidak semuanya itu berguna dan membuat kita lebih dekat dengan Tuhan.. oleh karena itu kita harus berbijaksana, dalam menggunakan waktu yang kita miliki.
Karena itulah firman Tuhan di Efesus 4 di atas mengatakan pada kita,
āJangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-siaā (ayat 17), di mana karena mereka memiliki pikiran yang sia-sia itu membuatnya memiliki ā..pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.ā (ayat 18).
Kalau kita mengarahkan hidup hanya pada perkara yang sia-sia, maka pengertian kita dapat menjadi gelap sehingga kita hanya mengejar apa yang mengenakkan rasa kita saja. Yang penting kita merasa enak dan cocok, tetapi tanpa disadari semuanya itu membuat kita jauh dari Tuhan.
Karena itu sangat penting bagi kita untuk memiliki pengetahuan dan pengertian mendalam akan firman Tuhan, tidak hanya asal āpercaya Yesus pasti selamatā. Kita harus memiliki pengenalan akan Dia dan firman-Nya, secara mendalam.
Karena itu seseorang bisa saja banyak belajar dan meraih banyak gelar, tetapi dirinya tidak dapat memahami apa yang terjadi di dalam kehidupan karena tidak tahu apa yang selama ini sebenarnya dapat membangun dan apa yang menghancurkan hidupnya. Dirinya hanya memahami sebatas apa yang mengenakkan dirinya saja.
Contoh praktisnya. Seorang penderita diabetes tahu bahwa dirinya tidak boleh terlalu banyak memakan makanan yang mengandung gula. Tetapi pada saat tertentu saat dirinya sangat menginginkan, maka dia akan memakan tanpa ada batasan. Inilah yang namanya kebodohan, karena perbuatannya didorong oleh hawa nafsu sesaat yang menguasainya pada saat itu.
Kalau kebodohan ini dibiarkan terlalu lama, maka dapat berubah menjadi keras hati. Membaca kebenaran firman Tuhan hanya untuk mencari pembenaran bagi dirinya sendiri, dan lama-kelamaan firman Tuhan mengatakan,
āPerasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.ā (Efesus 4:19).
Orang-orang seperti ini yang penting cukup percaya Yesus dan mati masuk Surga.. sehingga kemenangan besar hanya sekadar menjadi slogan biasa yang sering diucapkan.. padahal hidupnya sendiri masih dikuasai dan jatuh bangun di dalam dosa.
Contoh lainnya. Misalnya kita ditawari untuk meminum obat yang membuat kita tidak bisa marah dan berbohong di seumur hidup kita.
Apakah kita mau meminumnya?
Jawabnya pasti tidak, karena hidup kita dapat menjadi kacau setelahnya. Bekerja di zaman sekarang, banyak dari antara kita yang merasa kalau kita tidak berdusta maka kita bisa mengalami kebangkrutan. Ada juga yang memiliki kepercayaan kalau menjadi orang tua di rumah itu harus sering marah, agar ātidak diinjakā oleh anak-anak.
Melaluinya kita menganggap bahwa berbuat dosa, dari contoh di atas dengan berdusta dan marah-marah, itu diperlukan.. agar hidup kita nantinya dapat dihargai dan dihormati orang lain.
Milikilah visi / gambaran bagaimana bila kita menjalani kehidupan ini tanpa berbuat dosa. Tetapi karena kita sudah terlalu cemar oleh keduniawian, kita tidak lagi bisa membayangkan bahwa kita bisa hidup tanpa adanya pikiran untuk berbuat dosa. Kita sekarang merasa bahwa berbuat dosa itu normal dan dibutuhkan, di akhir zaman ini.
Karena itu pertanyaannya,
āKalau membayangkan untuk hidup tanpa berbuat dosa saja tidak bisa, apa lagi melakukannya?ā
Cobalah membayangkan diri kita menjalani sebuah kehidupan satu minggu saja, kita tidak berbuat dosa. Apakah akibatnya? Tapi kalau kita membayangkan bahwa kita tidak akan pernah bisa untuk melakukan hal itu, maka kita juga tidak akan pernah benar-benar bisa melakukannya.
Padahal kalau hidup kita bebas dari perbudakan dosa, maka mata dan akal kita akan terbuka. Kita akan bebas untuk melakukan dan menjadi versi diri kita yang terbaik, serta dimampukan untuk menjalani hidup mulia seperti Kristus.
Kematian dan kebangkitan Kristus telah menghancurkan kuasa dosa dan maut. Karena itu bila hidup kita masih dikuasai dosa dan juga berbagai perbuatan daging (Galatia 5:19-21).. maka hal itu sungguhlah sangat disayangkan.
Dunia tidak akan bisa mengajar dan memberikan pada kita kemenangan pertama ini yakni, hidup yang tidak dikuasai oleh dosa. Kalau kita mau dan bisa melihat, serta mengenal siapa identitas diri kita.. maka kita akan memutuskan untuk tidak mau lagi hidup dan dikuasai lumpur dosa.
Kemenangan Kedua: Hidup dalam Damai Sejahtera.
āSebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.ā (Roma 5:1).
Dua landasan kita dapat hidup di dalam damai sejahtera adalah: Kita telah berdamai dengan Allah. Dia adalah Bapa kita dan Pencipta dari alam semesta ini. Karena Dia adalah Bapa kita yang memegang kendali atas semuanya, maka kita dapat merasa aman di dalam menjalani hidup ini.
Landasan kedua adalah, Kristus telah mengalahkan kematian. Karena itu marilah menjalani kehidupan ini dengan belajar untuk tidak kuatir dan cemas, di tengah keadaan yang serba tidak menentu.
Kita hidup di dalam dunia, yang di mana Bapa kita memegang kendali penuh atas hidup kita. Hal terburuk yang dapat terjadi di dalam dunia ini adalah kematian, tetapi firman Tuhan telah mengatakan pada kita..
Jawab Yesus: āAkulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?ā (Yohanes 11:25-26).
Setiap dari kita pada suatu hari kelak pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini, di mana tubuh kita akan berhenti bekerja, kita akan tertidur dan bangun di tempat yang lain. Hidup dan kesadaran kita akan berlanjut di dalam kekekalan.
āDamai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.ā (Filipi 4:7).
Dari ayat di atas kita juga belajar bahwa hati dan pikiran kita akan dipelihara di dalam damai sejahtera dari Allah. Semuanya akan dijaga dan dipelihara tetap jernih dan berhikmat untuk dapat mengarungi dunia yang bergejolak dengan keyakinan ini.
Kita hidup di tengah ketidakpastian, dan kita tidak bisa meramal serta mengendalikan masa depan. Hal terbaik yang masih bisa kita lakukan adalah, menjaga hati dan pikiran tetap bersih.
Karena itu apa pun keadaan kita pada hari-hari ini, tetaplah setia memegang semua janji-Nya. Kalau Tuhan yang berjanji, maka Dia pasti akan memberikan jalan keluar terbaik bagi anak-anakNya. Tetapi kalau hati dan pikiran kita gelap, maka kita tidak akan bisa melihat dan memahami rencana serta jalan terbaik-Nya.
Kalau hati dan pikiran terang, maka kita akan dimampukan untuk dapat melihat bahwa hidup ini tidak mungkin tidak ada sesuatu yang terjadi. Hidup memang tidaklah mudah, tetapi juga tidak sesulit seperti yang dibayangkan banyak orang.
Dengan hati dan pikiran yang terbuka, kita bisa saja tetap diiizinkan mengalami beberapa hal. Tetapi kalau semuanya diterangi oleh Terang Kristus, maka anugerah-Nya akan memampukan kita untuk dapat memahami bahwa semuanya ini diizinkan terjadi untuk membawa kita pada proses kemenangan:
Menghentikan proses berbuat dosa, dan juga memurnikan hidup kita..
āuntuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.ā (1 Petrus 1:4-5).
Mungkin kita sudah ditipu dan dikerjai seseorang, padahal kita sudah mati-matian dalam bekerja. Kita juga difitnah dan di-PHK setelahnya. Rasanya memang sakit. Tetapi semuanya itu diizinkan Tuhan untuk dapat mematikan yang sebenarnya membuat kita sakit, yaitu ego kesombongan kita.
Firman Tuhan mengatakannya pada kita,
āKarena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.ā (Roma 6:6-8).
Karena itu apakah bisa dikatakan,
āBesarnya sebuah permasalahan, hanyalah sebesar ego kesombongan yang kita miliki?ā
Masalah paling besar di dalam kehidupan adalah kematian, tetapi hal ini sudah dikalahkan Kristus. Kini yang tersisa dari masalah yang besar hanyalah ego dan ambisi pribadi. Kita harus menyalibkannya, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya.
Saat pernikahan di tahun-tahun awal Bp. Pdt. Agus Lianto bersama istrinya, keduanya sering diwarnai dengan perselisihan. Keduanya saling tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi Roh Kudus berbisik di dalam hati Bp. Pdt. Agus,
āMengapa kamu masih bisa tersinggung? Apakah semua perkataan tersebut telah mengganggu dan membuatmu merasa sakit hati?ā
Sebagai seorang kepala keluarga, Pdt. Agus merasa berhak untuk membela diri dan mempertahankan ego serta harga dirinya. Tetapi Tuhan ingin agar dirinya mematikan kedua hal tersebut.
Terkadang kita merasa kalau kita tidak membela dan mempertahankan, maka kita akan diinjak-injak oleh sesama. Tetapi paradoksnya adalah,
āSebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.ā (Lukas 14:11).
Ada waktunya kita harus mematikan ego. Kalau kita terus mempertahankan ego, maka besar kemungkinannya selama ini bisa jadi kita telah ādimanjakanā dengan kebiasaan yang enak dan nyaman di masa lampau.. dan kita merasa tidak bisa dan denial / menolak keadaan sulit, yang kita alami di masa kini. Tetapi percayalah, bersama dengan Tuhan dan kita terus memiliki sikap yang benar, maka semua kesulitan itu pada akhirnya akan membawa kita pada proses..
āDamai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.ā (Filipi 4:7).
Dunia tidak akan bisa mengajar dan memberikan pada kita kemenangan kedua ini yakni, hidup di dalam damai sejahtera yang melampaui segala akal. Tetapi kita dapat mengalami damai sejahtera dari Dia karena setiap dari kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui karya Salib Kristus, dan Dia sendiri telah mengalahkan kematian.

Kemenangan Ketiga: Hidup Sepenuhnya bagi Allah.
āDemikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.ā (Roma 6:11).
āDan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.ā (Kolose 3:17).
āApapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.ā (Kolose 3:23).
Hidup sepenuhnya bagi Allah pada umumnya hanya dipandang sebatas komitmen keagamaan, sama seperti kita ābalas budiā karena Tuhan sudah menyelamatkan maka kita harus menyerahkan hidup kepada-Nya. Bahkan kita bisa secara fasih bernyanyi di dalam gereja,
āKubrikan hatiku dan jiwaku, semuanya bagi-Mu. Di dalam hidupku di setiap waktu, nyatakan jalan-Mu.ā
(Diambil dari lirik lagu āInilah Rindukuā atau dikenal sebagai āKubārikan Hatikuā. Merupakan lagu rohani Kristen yang aslinya diciptakan oleh Darlene Zschech dengan judul asli āLord I Give You My Heartā).
Tetapi kenyataannya, tidak banyak dari antara kita yang bisa mempraktikkan syair lagu tersebut di dalam hidup keseharian.
āHidup sepenuhnya bagi Allahā bukan hanya sekadar komitmen, tetapi lebih pada kemenangan terbesar yang dapat kita raih. Sebab kemenangan kita sebagai anak-anakNya bukan dengan menaklukkan sesama atau mendapat apa saja yang kita ingin dan perjuangkan. Misalnya kita ingin melakukan bisnis tertentu, dan kita berhasil melakukannya. Kita berlatih dengan tekun saat mengikuti sebuah perlombaan, dan mendapat juara.. kita memperoleh apa yang kita usahakan.
Tetapi kemenangan terbesar sesungguhnya adalah pada saar kita mau menyerahkan seutuhnya diri kita kepada-Nya. Firman Tuhan berkata,
āmaka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: āYa Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.ā (Wahyu 4:10-11).
Kata āmelemparkan mahkotanyaā juga bisa memiliki arti menyerahkan apa yang selama ini menjadi kebanggaan di dalam hidup kita. Menyerahkan hidup dan keputusan kita untuk mau hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus.
Dunia tidak akan bisa mengajar dan memberikan pada kita kemenangan ketiga ini yakni, hidup yang sepenuhnya bagi Allah. Sebab bagi prinsip dunia, kalau kita tidak berhasil mendapatkannya, maka kita bisa dikatakan mengalami kekalahan.
Tetapi firman Tuhan mengatakan,
āHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: āYesus Kristus adalah Tuhan,ā bagi kemuliaan Allah, Bapa!ā (Filipi 2:5-11).
Yesus menang karena Dia mau menjadi sama dengan manusia, taat sampai mati di kayu salib, dan Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dari ayat di atas kita mendapati sebagai hasilnya, Allah mengaruniakan pada Yesus nama di atas segala nama.
Karena itulah, hal ini adalah paradoks sebab kemenangan terbesar adalah menemukan dan menggenapi tujuan hidup kita diciptakan:
Kita hidup untuk memuliakan Tuhan dengan cara menjadi serupa dengan-Nya dalam keseharian di hidup kita, serta mengarahkan pada apa yang sebenarnya kita impikan: Hidup yang berarti, terhormat, dan memiliki nilai kekal.
Keinginan manusia yang sebenarnya adalah ingin agar hidupnya dapat berarti, bermakna, mulia dan juga kekal. Karena itulah kita tidak akan pernah puas dengan apa yang berasal dari dalam dunia ini, karena sesungguhnya kita ingin sesuatu yang bersifat kekal dan tidak sementara.
Hiduplah sepenuhnya bagi Allah. Biarlah apa yang menjadi rencana, hati, dan isi pikiran-Nya itu juga menjadi milik kita dan terus diselaraskan di setiap harinya dengan hidup kita. Maka ayat firman Tuhan di bawah ini dapat kita alami, karena hidup kita terus diselaraskan dengan apa yang menjadi mau dan isi hati-Nya Tuhan,.
ādan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.ā (Mazmur 37:4).
Semuanya bukan lagi soal apa yang menjadi keinginan kita, karena hidup dan keinginan kita sudah diselaraskan dengan apa yang menjadi pikiran dan kehendak-Nya di hidup kita.
Ketika seseorang memberikan segalanya bagi Tuhan, maka makna penyerahan hidup bukan hanya sebatas komitmen agama, tetapi sebagai bentuk kemenangan terbesar di hidupnya.
Janji dan perintah Tuhan bukan hanya sekadar komitmen tetapi justru menguntungkan secara nilai kerohanian. Hidup sepenuhnya dan berserah penuh pada Tuhan, kehendak-Nya menjadi milik kita.. bukan lagi menjadi sebuah pengorbanan.
Ketika kita tidak lagi hidup dengan hikmat dan pemikiran diri sendiri, tetapi hidup dengan pemikiran dan kehendak Allah.. maka sesungguhnya hal ini adalah keuntungan dan kepuasan terbesar di dalam hidup kita.
Bila kita membeli barang termahal di dunia ini-pun, maka paling kepuasan kita hanya berlangsung selama sebulan atau dua bulan. Barang di zaman sekarang justru didesain agar cepat kuno. Inilah cara kerja dunia, puasnya hanya sebentar saja.
Tetapi kalau kita mau hidup sepenuhnya bagi Allah, maka setiap keputusan kita haruslah sama dengan apa yang menjadi keputusan Tuhan. Setiap hari hidup kita harus diselaraskan dengan apa yang menjadi mau dan kehendak-Nya Tuhan, yang kita dapatkan di dalam firman-Nya / Alkitab.
Bisa saja kita masih diizinkan mengalami penderitaan, tetapi semuanya dikerjakan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Apa kemenangan terbesar yang dijanjikan?
Setiap dari kita dimampukan untuk dapat hidup sepenuhnya bagi Allah, dan marilah kita belajar untuk menyerahkan hidup kita pada Dia.
āKubrikan hatiku dan jiwaku, semuanya bagi-Mu. Di dalam hidupku di setiap waktu, nyatakan jalan-Mu.ā
Tidak hanya sebagai lirik lagu indah yang dinyanyikan dan menyentuh emosi sesaat kita saja, tetapi merupakan kemenangan terbesar karena kita mau memberikan hidup bagi Allah. Izinkan apa yang menjadi hati, pikiran, dan perasaan Allah itu memenuhi dan menguasai hidup kita, maka setiap dari kita akan dimampukan untuk..
ā..dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.ā (Efesus 3:18-19).
Ketika kita dapat memahami dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.. maka semua kemuliaan yang ditawarkan dunia, bahkan saat diizinkan mengalami penderitaan sekalipun.. sudah tidak ada artinya lagi dibanding dengan kepenuhan-Nya.
Mengikut dan berserah pada Tuhan justru jauh lebih mudah caranya dibanding dengan kita hidup dengan tidak mau mengikut dan berserah pada-Nya. Demikian pula dengan prinsip ābalas budiā yang pastinya tidak akan berlangsung lama.
Kalau kita ingin agar hidup kita dapat menjadi pelaku firman, jadikanlah sebagai sebuah komitmen. Kekristenan bukan hanya sekadar membayar harga saja, tetapi mengejar untuk mendapat harta yang sangat berharga, yakni Kristus, yang jauh lebih berharga dari semua harta yang paling berharga yang ada di dunia ini.
Firman Tuhan mengatakan,
āDemikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.ā (Matius 13:45-46).
Tidak ada yang lebih baik dan menguntungkan selain hidup kita yang diserahkan untuk menjadi milik Tuhan seutuhnya. Segala hikmat, kekudusan, rencana, pikiran, dan semua sifat terbaik yang ada di dalam diri Allah itu terus diselaraskan dengan hidup kita yang menjadi milik-Nya. Sehingga,
āOleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.ā (Lukas 11:9-13).
Kristus telah membeli kita dengan harga yang sangat mahal (1 Petrus 1:18-19), karena itu hormati dan hargailah diri kita dengan menyerahkan hidup kita seutuhnya bagi Tuhan dan kemuliaan-Nya.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar