Soetjipto Koesno - Siapakah Aku ini Tuhan?
- 31 menit yang lalu
- 13 menit membaca
Catatan Khotbah,
āSiapakah Aku ini Tuhan?ā
Ditulis ulang dari sharing Bp. Soetjipto Koesno di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 15 Februari 2026.
āLihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.ā (1 Yohanes 3:1).
Hal apakah yang membuat kita excited / bersemangat dari status yang seharusnya kita dihukum dan menerima siksaan kekal di Neraka akibat dosa dan kejahatan yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia.. tetapi kini kita telah ditebus melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib, dan diangkat menjadi anak-anak Allah?
Rasul Yohanes melalui ayat di atas mengajak kita untuk kembali menyadari betapa besar kasih yang telah dikaruniakan Bapa pada kita, sehingga kita sekarang disebut sebagai anak-anak Allah.
Kesempatan kita untuk diangkat menjadi anak-anak Allah adalah sesuatu yang luar biasa. Pada mulanya setiap dari kita dilahirkan dari dan di dalam dosa, seharusnya dihukum dan terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Tetapi Yesus memutuskan untuk mau menebus dan menyelamatkan hidup kita.
Identitas Diri yang Berubah.
Dalam Keluaran 1-2, Firaun telah memberi perintah untuk membunuh semua anak laki-laki Ibrani yang lahir pada saat itu, dan menyuruh untuk melemparkannya ke dalam sungai Nil (1:22).
Keluaran 2 dibuka dengan cerita,
āSeorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.ā (ayat 1-4).
Kemungkinan bayi Musa untuk bertahan hidup di sekitar sungai Nil sangatlah kecil, tetapi bagi ibu dan kakak perempuannya.. menyerahkan pada Tuhan melalui ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil jauh terasa ālebih mudahā daripada melihat Musa kecil dibunuh oleh rakyat dan juga pasukan dari bangsa Mesir.
Singkat cerita datanglah putri Firaun untuk mandi di sungai Nil, dia melihat dan menemukan bayi Musa. Karena berbelas kasihan, sang putri memutuskan untuk mengadopsi bayi Musa, yang namanya memiliki arti āditarik dari air.ā
Status Musa kini berubah, dari seseorang yang diburu untuk dibunuh kini dijagai baik-baik. Pada mulanya hidup pas-pasan bersama dengan keluarganya, kini mendapat yang terbaik dari bangsa Mesir dan hidup berkelimpahan.
Dari apa yang dialami Musa kita belajar,
āAdopsi mengubah status, dan status menentukan ke mana arah hidup selanjutnya.ā
Musa tidak lagi menjadi anak terhilang dan diburu, tetapi kini mendapat identitas dan keistimewaan yang baru sebagai anak dari putri Firaun.
Demikian pula dengan Tuhan yang menyebut kita sebagai anak-anakNya. Sebenarnya 1 Yohanes 3:1 ingin berbicara mengenai status kita yang kini telah berubah: Menjadi anak-anak Allah, dan kita bisa memanggil-Nya dengan panggilan āBapaā.
Setiap dari kita memiliki privilege / hak istimewa yang dulunya kita tidak mempunyainya. Kini kita telah memilikinya, karena Dia sudah mengangkat kita untuk menjadi anak-anak terkasih-Nya.
Mungkin saja hari-hari ini kita sedang memiliki masalah: Usaha yang sedang mengalami keadaan berat dan berdoa supaya mengalami terobosan, kita ataupun anggota keluarga ada yang sedang mengalami sakit penyakit dan berdoa untuk mendapat kesembuhan, dan banyak permasalahan berat lainnya. Tetapi tidak ada janji yang lebih menguatkan iman kerohanian kita selain dari setiap kita yang diangkat menjadi anak-anakNya.
Hal ini telah mengubah status kita: Dari yang seharusnya mati karena dosa dan pelanggaran, karena Yesus sudah menebus dosa, kita mendapat privilege untuk memanggil Dia, Bapa.
Pertama. Aku anak Allah.
āLihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah..ā (1 Yohanes 3:1a).
Kata ākita adalah anak-anak Allahā tidak hanya sekadar dibaca sambil berlalu saja, tetapi kita memang adalah anak-anak Allah. Apa pun yang kita dapat dari dalam dunia ini tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan privilege yang kita dapatkan sebagai anak-anakNya. Kita bisa masuk ke dalam hadirat-Nya yang mulia, yang merupakan gambaran dari Ruang Mahakudusāsatu dari antara tiga bagian di dalam Tabernakel, kita bisa berdoa dan berkata-kata pada Dia, membangun hubungan karib dalam doa dan membaca firman-Nya di Alkitab, serta menerima semua janji-Nya di hidup kita.
Tetapi kalau selama ini kita hidup dengan dipenuhi ketakutan dan kecemasan, jangan-jangan kita tidak pernah sadar akan siapa identitas jati diri kita yang sebenarnya, karena hal ini sesungguhnya dapat mengubah segalanya di dalam hidup kita.
Kalau kita menyadari identitas diri kita sebagai anak-anak Allah, maka cara kita berbicara, membangun relasi, memberi dan melayani, berbisnis.. semuanya akan menjadi berbeda. Kalau kita adalah anak-anakNya, maka kita pasti akan melakukan hal berbeda dengan cara dunia, karena hal ini adalah identitas diri kita sebagai anak-anakNya. Marilah kita memiliki cara dan jalan hidup sesuai dengan anak-anak Allah.
āTidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.ā (Roma 3:11).
Tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tetapi Dia mau datang untuk mencari, menebus dosa kita, dan mengangkat kita sebagai anak-anakNya.
Ada kisah dari seorang anak perempuan yang mengalami sakit penyakit, dan diharuskan rawat inap di sebuah rumah sakit di Surabaya. Di setiap kamar rumah sakit terdapat foto dari Tuhan Yesus yang terpajang di dinding kamar. Hingga suatu malam foto tersebut bercahaya, membuka tangan-Nya, dan menyuruh anak ini untuk datang pada-Nya. Melalui pengalaman supranatural tersebut, anak ini mendapat mukjizat kesembuhan.
Lalu anak perempuan ini merasa ingin tidur terus-menerus, dan bangun dari tidurnya hanya pada saat ingin makan saja. Berulang kali hal ini terus terjadi selama dua hari dua malam. Sampai akhirnya anak perempuan ini memberanikan diri untuk bercerita mengenai apa yang dialaminya, pada kedua orang tuanya yang belum pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, mengenai dirinya yang sudah banyak meminum obat dokter tetapi tidak kunjung mendapat kesembuhan. Sampai Tuhan Yesus datang menjamah hidupnya, dan menyembuhkan total penyakitnya.
Kita selalu berpikir bahwa Tuhan itu hanya memiliki cara tertentu untuk berurusan dengan anak-anakNya, tetapi Dia memiliki banyak cara untuk menjamah dan mengubah total hidup kita. Dia terus berusaha untuk menjangkau diri kita yang selama ini terus bersembunyi dan merasa tidak layak. Dia datang untuk mencari dan mau memulihkan setiap kita anak-anakNya.
Selama ini kita mungkin terus menghindari Tuhan dan tidak mau menghampiri-Nya. Tetapi Dia akan terus mengejar sampai kita mau berserah pada-Nya, karena Dia sangat menyayangi setiap kita.
Firman Tuhan mengatakan,
āKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.ā (Yohanes 3:16).
Musa hanyalah anak dari kaum Lewi kini berubah statusnya menjadi anak putri Firaun. Semua alat mainan, perlindungan, makanan terbaik yang dimiliki bangsa Mesir.. kini menjadi miliknya.
Tetapi firman Tuhan menulis,
āKarena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.ā (Ibrani 11:24-25).
Musa merasa bahwa jauh lebih baik dirinya hidup bersama dengan bangsanya, dan berusaha untuk mengeluarkan mereka dari perbudakan Mesir. Musa melepas status dari sebelumnya yang menandakan dia adalah anak putri Firaun, kini lebih suka dirinya disebut sebagai anak-anak Allah yang mau menderita sengsara bersama dengan umat Allah / bangsa Israel.
Sering kali kita ini merasa bahwa dengan menjadi anak-anak Allah, kita cukup hanya dengan seminggu sekali ke gereja, setelah itu selesai.
Padahal firman Tuhan mengatakan,
āSebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.ā (1 Petrus 1:18-19).
Kalau kita hanya ditebus dengan emas, kita dapat membaca di firman Tuhan yang menulis jalan-jalan di kota kudus itu dilapisi emas:
āLalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah⦠Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.ā (Wahyu 21:10,21).
Tetapi setiap dari kita telah ditebus Tuhan Yesus dengan darah-Nya yang mahal. Dia mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita semua. Semua barang fana yang terletak di dalam dunia ini tidak akan pernah dapat untuk mencukupi, untuk mengubah status kita dari orang-orang terhukum berubah statusnya menjadi anak-anak Allah.
Kedua. Hidupku berbeda.
āKarena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.ā (1 Yohanes 3:1b).
Kalau kita mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka cara kita mengatur jalannya hidup haruslah berbeda. Kalau orang lain tidak dapat melihat perbedaannya, maka jangan-jangan kita masih belum menyadari identitas jati diri kita yang sesungguhnya yakni, anak-anak Allah.
Pastinya ada perbedaan mengenai bagaimana cara kita menyelesaikan permasalahan, memperlakukan karyawan di tempat pekerjaan, mengadakan transformasi.. ketika kita menjalani kehidupan yang berbeda, pasti hal itu akan membawa dampak dan dapat dirasakan orang-orang di sekitar.
āJadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.ā (2 Korintus 5:17).
āKamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.ā (Matius 5:13-16).
Setiap dari kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, di manapun kita ditempatkan. Kalau kita masih hidup dengan cara-cara dunia, maka sama saja kita masih hidup berdasarkan kebiasaan āmanusia lamaā dan kita menjauhkan diri dari kehendak Bapa yang harus diselesaikan.
Pilihan kembali pada kita masing-masing.
āJikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.ā (1 Yohanes 2:29).
Melakukan kebenaran seharusnya menjadi bagian dari hidup kita. Karena kita adalah anak-anak Allah, maka kita akan melakukan hal yang benar karena kita mau menjaga nama baik Bapa kita.
Pada suatu hari diadakan survei di antara anak-anak remaja di Amerika, dan ditemukan beberapa hal yang sangat mengejutkan. Persentase angka dari anak-anak yang berusia 12-15 tahun yang sudah melakukan seks bebas, mencapai angkanya yang sangat tinggi. Di dalam survei ini, ada survei lagi yang membedakan apakah hal itu dilakukan oleh orang Kristen atau bukan..
Dan anak-anak Kristen ditemukan lebih tinggi persentasenya, daripada yang bukan. Sehingga melaluinya timbul pertanyaan,
āKalau survei ini dilakukan di kota kita, kira-kira angka persentase orang Kristen yang melakukan, nilainya lebih tinggi atau lebih rendah?ā
Selain itu survei ini juga mengatakan kalau 1 di antara 4 anak-anak muda di Amerika itu setuju dan mereka melakukan praktik LGBT. Yang membuat hancur hati, 80-90 persen dari pemimpin muda dengan mudahnya menyalahkan fenomena tersebut sebagai hasil dari fatherless / ketiadaan peran Ayah dan motherless / ketiadaan peran Ibu. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengambil tanggung jawab dan berani bersuara untuk menyatakan, bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang melanggar perintah Allah.
Kita harus memutuskan apakah kita mau menjadi anak-anak Allah yang berbeda dengan cara dunia, atau tidak? Tidak ada yang namanya hidup berada di tengah-tengahnya. Selain itu kita juga tidak tahu dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, apakah angka survei ini naik atau turun..
Tak sedikit dari antara kita yang mungkin juga merasa risih untuk membahas topik ini di dalam gereja. Tetapi kalau seandainya kita menemukan ada orang-orang yang melakukan hal ini, hal apakah yang akan kita lakukan?
Firman Tuhan dengan jelas mengajar untuk mengatur apa yang kita lihat dan bagaimana penguasaan diri harus berjalan beriringan di sepanjang hidup kita. Firman Tuhan juga dengan jelas memperingatkan agar kita hidup di dalam kekudusan dan bila mau mengikut Tuhan,
āLalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.ā (Matius 16:24).
Sebagai keluarga rohani yang bergabung di dalam Gereja MDC Surabaya, kita harus belajar untuk sering mendoakan dan melakukan peperangan rohani karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada generasi anak-anak kita.
Demikian pula dengan rekan-rekan yang melayani, teruslah mendukung mereka di dalam doa. Berdoalah dan meminta hikmat, karena semua rekan yang melayani adalah target utama sasaran dari Iblis. Bangkitlah dan lihatlah, Tuhan masih terus bekerja di sekeliling melalui diri kita. Daripada kita terus menghakimi dan mengutuki, mengapa kita tidak mulai mendoakan?
Kisah Jason Bradley DeFord / Jelly Roll.
Semenjak usia remaja, Jason Bradley DeFord sudah bergabung di dalam geng yang terlibat dalam banyak kegiatan kekerasan di jalanan, kecanduan obat bius, perkelahian antar anggota geng, dan sudah sering keluar masuk penjara. Menginjak usia dewasa bukannya malah membaik, tetapi malah menjadi pengedar narkoba, jual beli senjata, dan kembali dijebloskan di dalam penjara.
Jason ini memiliki dua orang kekasih, dan keduanya memiliki dua orang anak di luar pernikahan pada saat masih berusia belasan tahun.
Di usia yang masih sangat muda, Jason tidak memiliki identitas serta gambar diri yang baikādirinya melakukan segala sesuatu hanya sesuai dengan apa yang ingin dilakukannya pada saat itu. Berat badannya juga meningkat drastis mencapai angka 240 kg, hidupnya kacau dan berantakan, di dalam penjara mengalami depresi berat serta berulang kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya, namun selalu mengalami kegagalan.
Jason adalah contoh hidup dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa dan identitas dirinya hancur. Tetapi saat berada di dalam penjara, Tuhan Yesus menjamah hidupnya. Dia mulai belajar menulis lagu dan bernyanyi. Ketika keluar dari penjara, dia melihat dua orang anaknya dan mau belajar untuk menjadi Ayah yang baik bagi mereka. Dalam beberapa tahun, berat badannya juga turun drastis. Dia juga pergi dan bersaksi di mana-mana tentang kisah Tuhan Yesus yang sudah menjamah dan mengubah total hidupnya.
Jason Bradley DeFord, yang dikenal sebagai Jelly Roll (diberikan oleh ibunya sejak kecil karena ia adalah anak yang gemuk), berhasil membawa pulang piala untuk kategori Best Country Duo / Group Performance, Best Contemporary Christian Music, dan Best Contemporary Country Album melalui karya musiknya yang bertajuk āBeautiful Brokenā, yang telah memenangkan penghargaan di 68th Annual Grammy Awards di tahun 2026.
Saat menerima penghargaan, dia memberi pidato emosional dan menyatakan imannya dengan bercerita di depan banyak orang bahwa Yesus sudah menjamah hidupnya yang hancur, dan dia percaya bahwa Yesus yang sama yang sudah mengubah hidupnya adalah Yesus yang sama, yang masih sanggup mengubah hidup banyak orang.
[ isi pidato dari Jerry Roll dapat dilihat melalui link https://www.medcom.id/hiburan/musik/GNGGyyjN-pidato-emosional-jelly-roll-di-grammy-2026-aku-mungkin-sudah-mati-jika-bukan-karena-Yesus ]
Seseorang yang memiliki identitas diri yang jelas, pasti akan menjalani kehidupan berbeda.
Ketiga. Relasi Jauh Melebihi Berkat.
Kalau ada anak yang meminta warisan pada saat kita orang tuanya masih hidup, pasti kita akan merasa sedih, marah, dan mungkin ada yang malah mengusir anak yang meminta warisan tersebut.
Dari ayat Alkitab yang tertulis di dalam Lukas 15:11-32 yang memiliki tema āPerumpamaan tentang Anak yang Hilang,ā bisa jadi anak bungsu ini hanya dalam waktu beberapa hari saja sudah menjual semua aset dan harta Ayahnya. Mengapa? Karena untuk mendapatkan uang dengan cara yang cepat, maka harus dijual dengan lebih murah. Seisi desa pasti mendengar apa yang sudah dilakukan anak bungsu ini, dan pastinya ayahnya yang mendengarnya juga ikut bersedih.
Singkat cerita, semua hartanya habis, teman-temannya menghilang, dan untuk keberlangsungan hidupnya, kini dia harus bekerja. Firman Tuhan memberitahu kita bahwa anak bungsu ini bekerja sebagai penjaga babi..
āLalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.ā (ayat 16-19).
Dia lapar dan hanya ingin memakan makanan babi, tetapi tidak ada seorangpun yang mau memberikannya. Lalu dia menyadari bahwa pegawai yang bekerja di Ayahnya, nasibnya jauh lebih baik. Dia merasa berdosa terhadap Ayahnya dan mau bertobat. Dia tidak berani membayangkan bahwa dirinya akan diangkat kembali menjadi seorang anak, tetapi dengan mau dan sukarela untuk dijadikan sebagai salah satu pegawainya.
Firman Tuhan mengatakan,
āMaka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.ā (ayat 20-21).
Anak bungsu tersebut sudah bersiap diri untuk menerima pukulan, dan setelah itu meminta ampun pada Ayahnya, tetapi kita mendapati apa yang terjadi di bagian selanjutnya..
āAyahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.ā
Ayahnya kemudian tidak bertanya mengenai bagaimana perkembangan dari aset dan warisan yang sudah diberikan, firman Tuhan menulis:
āTetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.ā (ayat 22-24).
Bagi Ayahnya, relasi jauh lebih penting dari semua harta yang sudah dihabiskan anak bungsunya.
Firman Tuhan melanjutkan,
āTetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.ā (ayat 25-30).
Pesta dimulai, tetangga datang, dan anak sulung kembali ke rumahnya. Tetapi saat diberitahu hambanya mengenai apa yang terjadi, anak sulung ini menjadi marah dan tidak mau masuk rumah. Bisa jadi karena anak sulung ini khawatir, warisan bagiannya akan dibagi menjadi dua lagi.
Dari ayat 28, versi New International Version / NIV menuliskannya pada kita:
āThe older brother became angry and refused to go in. So his father went out and pleaded with him.ā
Ayahnya keluar dan memohon / pleaded pada anak sulungnya yang pada saat itu sedang marah dan protes karena sedari kecil sudah menurut sama semua perintah dari Ayahnya, tetapi kini Ayahnya malah menerima anak bungsu yang sudah memboroskan harta kekayaannya. Anak sulung ini memang sudah tinggal cukup lama bersama dengan Ayahnya, tetapi dirinya tidak mengenal sikap Ayahnya yang menganggap relasi yang dipulihkan itu sifatnya jauh melebihi harta kekayaan.
Firman Tuhan menuliskan,
āKata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.ā (ayat 31-32).
Alkitab memang tidak menulis kisah apa yang terjadi selanjutnya pada Ayah dan dua orang putranya, tetapi kita dapat belajar untuk menjaga hati kita tidak mudah kecewa dan menjauh dari Tuhan, pada saat kita merasa baik dan layak menerima berkat-berkatNya.. tetapi kita malah diizinkan tidak menerimanya. Padahal kita selama ini sudah setia dan taat dalam melayani-Nya.
Semua hanyalah kemurahan dan anugerah Tuhan semata, kita diangkat menjadi anak-anakNya.
Kita yang sesungguhnya tidak layak dan penuh dengan dosa, tetapi Tuhan mau menebus dosa, menyelamatkan, dan mengangkat kita untuk menjadi anak-anakNya. Kalau kita merasa sudah menjadi orang baik, hidup kita baik-baik saja, dan kita merasa layak untuk menerima semua berkat-Nya.. ingatlah sekali lagi, bahwa semua hanyalah anugerah-Nya semata di dalam hidup kita.
Sehingga yang menjadi pertanyaannya,
āIdentitas apakah yang selama ini telah hilang di dalam hidup kita?ā
Apakah kita selama ini hanya merasa menjadi jemaat gereja yang hanya datang ke gereja seminggu sekali dan menjadi seorang Kristen yang biasa-biasa saja? Atau kita menyadari bahwa identitas jati diri kita yang sesungguhnya adalah menjadi anak-anak Allah yang hidup?
Saat kita menyadari siapa identitas jati diri kita yang sesungguhnya.. maka cara kita hidup, cara kita membangun hubungan karib dengan Dia di dalam doa dan pembacaan firman-Nya di dalam Alkitab pasti akan menjadi berbeda, dan kita tidak mau menjalaninya dengan biasa-biasa saja.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar