Gani Wiyono - Menghadapi Realitas Hidup di Bawah Matahari
- 28 Mar
- 8 menit membaca
Diperbarui: 2 Apr
Catatan Khotbah: “Menghadapi Realitas Hidup di Bawah Matahari.”
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Drs. Gani Wiyono, M.Th. di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 22 Maret 2026.
Ada satu kitab yang jarang sekali dikhotbahkan, bahkan sering kali dihindari untuk dibagikan. Nama kitab tersebut adalah: Pengkhotbah. Padahal dalam tradisi bangsa Yahudi, ada tiga kitab hikmat yang selalu dibaca berulang-ulang:
Kitab Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah.
Selain itu yang membuatnya menarik, kitab Pengkhotbah ditulis oleh seorang raja yang dikenal sebagai seorang yang paling berhikmat, yakni Raja Salomo. Namun justru dari orang berhikmat ini, kita tidak menemukan optimisme kosong dari berbagai tulisan di dalam kitabnya. Bahkan Salomo sendiri menemukan satu realitas yang terus ditulis dan diulang sebanyak 29 kali di kitab ini,
“Di bawah matahari / under the sun.”
Perkataan di atas memiliki arti: Hiduplah dengan sebagaimana adanya. Memang tidak selalu kehidupan yang berjalan dengan ideal, bukan pula yang sempurna—tetapi nyata adanya. Dari pengamatan Salomo, kita dapat belajar bersama ada empat realitas yang tidak bisa kita hindari.
Pertama. Hidup ini Misteri.
“Ketika aku memberi perhatianku untuk memahami hikmat dan melihat kegiatan yang dilakukan orang di dunia tanpa mengantuk siang malam, maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” (Pengkhotbah 8:16-17).
Di poin pertama ini kita dapat belajar,
“manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari.”
Kita hidup di zaman ilmu pengetahuan yang terus berkembang dengan luar biasa di setiap harinya, tetapi masih ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, yang terjadi di dalam kehidupan ini.
Ada sebuah penelitian terhadap ribuan sapi—sekitar 8.500 ekor—yang dipasangi alat GPS. Setelah diamati selama kurun waktu berbulan-bulan, ditemukan ada pola aneh: Pada saat sapi tersebut sedang makan, sapi-sapi itu ditemukan selalu menghadap utara atau selatan. Tidak pernah menghadap ke arah lainnya.
Mengapa hal ini terjadi? Para ahli tidak ada yang bisa menjelaskan penemuan tersebut.
Ada juga istilah déjà vu / fenomena psikologis di mana seseorang merasa familiar atau pernah mengalami situasi baru pada saat ini, padahal sebenarnya belum pernah terjadi sebelumnya. Secara dunia ilmu pengetahuan, kita berusaha untuk mencoba dan menjelaskannya. Tetapi semua usaha tersebut tidak pernah tuntas untuk dapat diselesaikan.
Ada juga hewan koala yang makanan utamanya adalah daun eukaliptus, yang memakan sekitar 500 gram hingga 1 kilogram daun eukaliptus di setiap harinya. Padahal daun ini sebenarnya keras, rendah nutrisi, dan beracun bagi banyak hewan lain. Namun koala memiliki sistem pencernaan khusus untuk dapat menetralkan racun tersebut.
Semakin kita mengetahui apa yang terjadi di dalam kehidupan ini, maka semakin kita menyadari bahwa tidak semua hal dapat dipahami. Ada batas-batas tertentu yang membuat manusia berhenti dari segala usaha kerasnya dan mengatakan,
“Tuhan tahu, sedangkan saya tidak.”
Kedua. Hidup ini Rapuh.
“Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah. Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.” (Pengkhotbah 9:2-3).
Di poin kedua ini kita dapat belajar,
“dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama.”
“Death comes suddenly and life is fragile and brief. No one can alter this either by prayers or spells..” (Lian Hearn),
Nasib dan tujuan semua orang itu sama, yakni menuju kematian. Hal ini memang adalah realitas yang tidak populer dan tidak disukai, tetapi tak ada seorangpun yang dapat menghindarinya:
“Kematian datang dengan tiba-tiba. Hal ini mengajar kita bahwa hidup itu rapuh dan singkat.”
Kita dapat melihat hal ini terjadi di sekitar kita. Seseorang yang kita anggap dirinya sedang berada di posisi puncak, justru malah berpulang terlebih dulu mendahului kita. Seseorang yang baik dan setia selama ini dalam melayani Tuhan, tidak sedikit yang dipanggil-Nya pulang. Sementara yang kita anggap jahat, justru kelihatannya mereka hidup dengan enak dan malah berumur panjang.
Tetapi jangan pernah lupakan,
“Hidup ini tidak sekuat yang kita kira sebelumnya. Kita sering kali melupakan hal ini.”
Ketiga. Hidup ini Tidak Bisa Diprediksi.
“Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” (Pengkhotbah 9:11).
Di poin ketiga ini kita dapat belajar,
“Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat,”
Dengan kata lain, yang cepat tidak selalu menang, yang kuat tidak selalu berhasil, yang cerdas tidak selalu beruntung. Hal ini memiliki arti,
“Hidup ini tidak selalu berjalan berdasarkan rumus yang selalu ditetapkan manusia selama ini.”
Bagi orang tua yang memiliki anak yang mungkin tidak menonjol secara akademik—jangan cepat berputus asa. Karena hidup ini tidak pernah ditentukan oleh kecerdasan semata. Sebaliknya, yang sangat pintar pun juga tidak selalu memiliki jaminan atas keberhasilan di hidupnya.
Contohnya, Jack Ma, pendiri Alibaba. Dari berbagai sumber, berikut adalah detail pengalaman penolakan yang dialami Jack Ma:
• Ditolak bekerja untuk menjadi seorang karyawan KFC: Saat KFC pertama kali buka cabang di kota Hangzhou, dari 24 pelamar, 23 orang diterima dan hanya Jack Ma sendiri yang ditolak.
• Ditolak saat mendaftar menjadi Polisi: Dari 5 orang yang melamar menjadi polisi, 4 diterima, sedangkan Jack Ma menjadi satu-satunya yang ditolak.
• Pada saat melamar pekerjaan: Dirinya mencoba melamar ke-30 perusahaan / pekerjaan yang berbeda, dan ditolak oleh semuanya.
• Di bidang pendidikan: Gagal dalam ujian masuk universitas dua kali, sebelum akhirnya diterima.
• Ditolak untuk belajar di Universitas Harvard: Dirinya pernah menyebutkan ditolak oleh Harvard Business School sebanyak 10 kali.
Kegagalan berulang ini membentuk daya tahan mentalnya, mengajar bahwa penolakan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan yang patut diperjuangkan. Jack Ma ditolak berkali-kali, bahkan hanya untuk pekerjaan sederhana. Namun hari ini dirinya berdiri sebagai seorang figur global, bahkan diundang mengajar di berbagai universitas ternama. Hidup memang tidak bisa ditebak.
Keempat. Hidup Tidak Selalu Adil.
“ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya; di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu.” (Pengkhotbah 9:14-15).
Di poin keempat ini kita dapat belajar,
“Ada seorang miskin yang berhikmat, yang sudah menyelamatkan kota, tetapi kemudian dilupakan. Hal ini memang tidaklah adil, tetapi nyata adanya dan dapat terjadi pada siapa pun.”
Dalam hidup kita pun dapat terjadi hal yang sama: kita bisa diperlakukan tidak adil—baik dalam pekerjaan, pelayanan, relasi, dan di manapun kita berada. Pengkhotbah tidak menutupi semua realitas ini. Dia mengakui apa adanya.
Lalu, Bagaimana Kita Harus Hidup?
Di tengah berbagai kenyataan di atas, Pengkhotbah tidak menjadi sinis. Dirinya malah memberi tiga respons yang sangat praktis untuk dapat kita perbuat di dalam kehidupan ini.
Pertama. Tetap Mempercayai Kedaulatan Allah.
“Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.” (Pengkhotbah 9:1).
Dari ayat di atas kita dapat belajar,
“Hidup kita berada di dalam tangan kedaulatan Allah / in the hand of God.”
Hal ini memiliki arti:
“Apa pun yang diizinkan terjadi di hidup kita bukanlah sebuah nasib, bukan pula kebetulan semata, ataupun kekacauan—tetapi semua masih berada di dalam kendali terbaik-Nya.”
Kita memang tidak tahu akan apa saja yang terjadi di hari esok, tetapi kita tahu masih ada Tuhan yang memegang penuh atas hari esok.
Sama seperti penggalan lirik lagu “Hari Terbaik”, yang ditulis LOJ Worship & HSM Worship:
“Hidupku ada di tangan-Mu, Kau b′ri rancangan yang terindah. Tak hanya yang baik saja yang kuterima..”
Hal ini memiliki arti:
“Memiliki iman pada Tuhan itu bukan berarti kita dapat mengerti semua yang terjadi di hidup kita, tetapi kita mau percaya pada Tuhan yang memegang dan berdaulat atas semuanya.”
Kedua. Belajar Menikmati Hidup.
“Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.” (Pengkhotbah 9:7–8).
Dari ayat di atas kita dapat belajar,
“Makanlah dengan sukacita, minumlah dengan hati yang senang. Pastinya, hal ini bukanlah ajakan untuk hidup dengan sembarangan, tetapi ajakan untuk mensyukuri hidup sebagai sebuah pemberian dari Tuhan. Menikmati hidup sebagai anugerah dan pemberian terbaik dari Dia.”
Life is Beautiful (judul Italia: La vita è bella, 1997) adalah film tragikomedi pemenang Oscar yang bercerita tentang perjuangan seorang ayah Yahudi-Italia, Guido, yang menggunakan imajinasi dan humor untuk melindungi anaknya dari kengerian kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II. Film ini berkisah tentang cinta, pengorbanan, dan juga ketahanan dari jiwa manusia.
Di tengah situasi yang paling gelap sekalipun, seseorang masih bisa menemukan makna di dalam hidupnya dan juga tetap bersukacita.
Rudyard Kipling pernah menulis,
“This is a brief life, but in its brevity it offers us some splendid moments, some meaningful adventures.”
Pepatah Tiongkok kuno juga menggambarkan ada empat jenis manusia:
Pertama. Huang Ti Sen, Huang Ti Gu—badan raja, tulang raja.
Jenis yang pertama adalah orang-orang yang hidup dengan fasilitas dan kemampuan lengkap. Hidup mereka sangatlah beruntung.
Kedua. Huang Ti Sen, Ji Kai Gu—badan raja, tulang pengemis.
Jenis yang kedua ini adalah orang-orang yang memiliki banyak, tetapi sayangnya mereka sama sekali tidak bisa menikmati semua itu.
Ketiga. Ji Kai Sen, Huang Ti Gu—badan pengemis, tulang raja.
Jenis yang ketiga ini adalah orang-orang yang menjalani hidup sederhana, tetapi masih bisa menikmati dan sering mengalami kemurahan / favor dari Tuhan di sepanjang hidupnya.
Keempat. Ji Kai Sen, Ji Kai Gu—badan dan tulang pengemis.
Jenis yang keempat ini adalah orang-orang yang hidup dalam kesengsaraan.
Pertanyaannya di sini bukanlah tentang seberapa banyak yang dapat kita raih dan miliki, selama kita hidup di dunia ini. Tetapi apakah kita masih dapat mensyukuri dan menikmati apa yang sudah Tuhan beri dan percayakan, di dalam hidup kita?
Ketiga. Tetap Melakukan yang Terbaik.
“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkhotbah 9:10).
Dari ayat di atas kita dapat belajar,
“Apa pun yang dijumpai tangan kita untuk dikerjakan, kerjakanlah dengan sekuat tenaga.”
Tim Cook pernah berkata,
“Life is fragile. We’re not guaranteed a tomorrow so give it everything you’ve got.”
Hidup ini sifatnya rapuh, karena itu berikan dan kerjakan yang terbaik selalu.
Ada kisah seorang pemuda yang kuat, dan hidupnya penuh dengan potensi. Namun pada suatu hari, dirinya mengalami sakit parah dan meminta tolong untuk didoakan seorang hamba Tuhan.
Dirinya juga memberikan janji,
“Kalau aku sembuh, maka aku akan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.”
Hamba Tuhan yang mendengarnya tidak langsung menjawab, dia hanya memberi satu bunga yang sudah layu. Pemuda ini bingung. Lalu hamba Tuhan tersebut mengatakan padanya,
“Bunga ini sama seperti hidupmu yang sekarang. Ketika engkau masih kuat, engkau tidak mau memberi dirimu seutuhnya melayani Tuhan. Sekarang ketika sudah lemah dan layu, barulah engkau mau memberi hidup kepada-Nya.”
Kisah ini merupakan teguran yang cukup keras, tetapi justru jujur. Karena waktu tidak akan pernah menunggu kapan waktunya untuk kita mau bersungguh hati dalam melayani Tuhan.
Pdt. Wilhelmus Latumahina menulis lagu “Hidup ini adalah Kesempatan,” yang dirilis di sekitar tahun 2015, yang terinspirasi dari perenungan mendalam setelah anak sulungnya meninggal dunia akibat kecelakaan pada tahun 2004. Melalui lagu ini ditekankan betapa pentingnya kita melayani Tuhan, selagi masih diberikan waktu dan kesempatan..
“Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Hidup ini hanya sementara..
Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi. Hidup ini sudah jadi berkat.”
Dalam kehidupan ini ada tenggang waktu yang Tuhan beri buat setiap kita. Artinya, hidup ini ada batasnya. Tidak selamanya kita muda, tidak selamanya kita kuat, tidak selamanya kita jaya, dan juga tidak selamanya kita hidup.
Jangan menunggu sampai terlambat. Jangan memberi Tuhan hanya sisa waktu di hidup kita. Berikan yang terbaik, selagi masih diberi waktu dan kesempatan oleh-Nya, untuk kita dapat berkarya.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar