Arthur Siagian - Bertekun dalam Doa
- 7 Mar
- 6 menit membaca
Catatan Khotbah,
“Bertekun dalam Doa.”
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Arthur Siagian di Ibadah Doa Malam di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 3 Maret 2026.
Ada sebuah pertanyaan yang dapat kita renungkan bersama pada kesempatan hari ini,
“Hal apakah yang kita rasa atau pikirkan, ketika menjumpai bahwa permohonan kita diabaikan?”
Hal ini bisa berupa pada saat kita telepon, tetapi tidak diangkat teleponnya. Kita bercerita pada seseorang, tetapi tidak dianggap sama sekali cerita kita.. melalui semuanya itu muncul perasaan tertolak, kita merasa diabaikan, tidak dihargai, merasa tidak layak, dan juga kecewa.
Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya?
“Apakah kita akan memilih untuk mencari orang lain, atau bahkan merasa pasrah saja dengan situasi dan keadaan yang sedang dialami?”
Perumpamaan hakim yang tak benar.
“Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”” (Lukas 18:1-8).
Dari ayat di atas kita mendapati ada seorang janda yang bisa jadi tidak memiliki apa-apa yang dapat dibanggakan dari hidupnya. Tetapi di sisi lainnya, ada pemandangan yang sangat kontras yakni hadirnya seorang hakim yang memiliki kuasa, tetapi dirinya sama sekali tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
Dari perumpamaan di atas kita dapat belajar bahwa ketekunan dalam doa dapat hadir ketika:
Pertama. Kebutuhan kita akan Pribadi Tuhan jauh lebih besar dari berbagai pikiran dan perasaan negatif yang selama ini dimiliki.
Bayangkanlah bila kita yang berada di posisi menjadi janda, kita tahu bahwa yang dapat menolong kita hanyalah hakim tersebut. Padahal kita tahu bagaimana sikap, kebiasaan, dan apa reputasi yang dimiliki hakim yang tak benar itu, dan sudah sangat dikenal di mana-mana. Tetapi karena tidak mempunyai pilihan lagi, maka kita akan tetap memberanikan diri ke rumahnya karena hanya dia yang dapat melepaskan diri kita.
Selain itu, bagaimana perasaan dari janda tersebut pada saat hari pertama datang mengetuk pintu rumah, dan hakim itu tidak melakukan apa-apa? Bisa jadi janda tersebut akan merasa,
Tertolak, kecewa, dan merasa tidak dihargai.
Sesungguhnya apa yang dirasakan janda tersebut lebih dari cukup untuk membuat dirinya menyerah dan tidak usah pergi lagi ke rumah hakim tersebut. Tetapi pada hari esoknya, janda ini kembali lagi ke rumah hakim itu. Pastinya, beban hidupnya bertambah 2 kali lipat karena ditambah beban dari hari sebelumnya. Karena tidak memiliki pilihan lainnya, janda ini tetap pergi dan mengetuk pintu rumah hakim tersebut. Dan dirinya kembali..
Ditolak.
Alkitab memang tidak memberitahu pada kita berapa sering janda tersebut mengunjungi rumah hakim yang tidak benar itu, karena Alkitab hanya menulis dan memberitahukan pada kita:
“Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.” (Lukas 18:4a).
Selama dan sesering itu, janda tersebut harus bisa mengalahkan berbagai perasaan yang timbul dari hati dan pikirannya yang membuat dia dapat berhenti untuk pergi ke rumah hakim. Janda itu percaya dan memiliki keyakinan besar, hanya hakim tersebut yang bisa menolong dan menjawab berbagai masalah yang sedang dihadapinya.
Kita bisa saja menambah berbagai pikiran negatif dengan kemalasan, tubuh yang capai dan merasa enggan untuk bangun dan berdoa di pagi hari, atau banyaknya masalah yang harus diselesaikan.. yang semuanya itu membuat kita malah semakin bertambah malas untuk bertekun dalam doa.
Selama kita tidak mau menyadari bahwa kebutuhan kita akan Pribadi Tuhan itu jauh lebih besar dari berbagai pikiran dan perasaan negatif yang selama ini kita miliki.. maka kita akan mengalami kesulitan untuk dapat menaati semua firman-Nya.
Mungkin kita mengatakan bahwa kita sudah berdoa, tetapi Tuhan meminta agar kita tetap bertekun melakukannya. Sebab ketekunan ini akan terus bertumbuh ketika menyadari kebutuhan kita akan Pribadi Tuhan itu jauh lebih besar dari berbagai pikiran dan perasaan negatif yang selama ini berusaha untuk menarik dan membelenggu kita untuk dapat mendekat pada Dia.
Berdoa adalah tindakan iman, yang tidak bisa kita dasarkan pada perasaan yang sering berubah.
Kita tidak akan pernah bisa bertekun di dalam doa kalau kita melakukannya hanya pada saat kita lagi senang, atau hanya saat sedang mengalami masalah saja. Kita baru bisa bertekun di dalam doa kalau kita mendasarkan ketekunan tersebut di atas dasar iman. Tidak ada hal penting lainnya, selain dari terus membangun iman kita dari apa yang firman Tuhan katakan di dalam Alkitab.
Firman Tuhanl mengatakan,
“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).
Jangan menganggap remeh pembacaan firman Tuhan, karena kita banyak menemukan janji-Nya di dalam Alkitab. Saat sikap hati kita benar, maka iman kita akan terus bertumbuh menjadi semakin kuat dan bisa mengalahkan berbagai perasaan negatif yang selama ini menghalangi kita untuk terus bertekun di dalam doa.
Selain itu saat kita merasa tertolak dan tidak didengar, maka dengan mudahnya kita dapat mengalami “amnesia rohani.” Mengapa?
Karena kenyataan yang terjadi bisa tidak sesuai dengan apa yang kita doakan dan percayai. Hal inilah yang sering kali kita rasakan pada saat kita berdoa namun tidak ada jawaban dari-Nya:
“Kita mulai berpikir bahwa Tuhan sudah tidak menyayangi kita lagi, dan bahkan menganggap bahwa Dia sendiri sudah tidak ada ketika kita berdoa dan tidak mendapat jawaban dari Dia.”
Kita sepertinya mengalami “amnesia rohani” karena apa yang kita alami jauh berbeda dengan apa yang kita doakan dan percayai.
Melalui kesempatan ini kita kembali diingatkan untuk tetap bertekun di dalam doa, mempercayai Dia tidak pernah melupakan kita, dan Dia memiliki waktu dan kehendak-Nya yang terbaik di dalam hidup anak-anakNya. Amin.
Kedua. Tetaplah mempercayai bahwa kita adalah orang-orang pilihan-Nya, dan permohonan doa kita pasti didengar dan dijawab, menurut waktu dan kehendak-Nya yang terbaik.
“Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:6-8).
Dari ayat di atas kita dapat belajar bahwa ketekunan yang kita lakukan di dalam doa haruslah didasarkan pada iman dan keyakinan bahwa kita adalah orang-orang pilihan-Nya. Tentunya kita dipilih hanya karena kasih karunia-Nya saja, bukan karena banyaknya prestasi yang sudah kita raih. Sehingga pada saat kita berdoa, kita dapat mendatangi-Nya dengan iman dan percaya:
“Apa pun keadaannya, pada saat kita berseru pada Dia, kita pasti akan didengar-Nya.”
Bila Tuhan menjawab doa kita, semua bukanlah karena usaha dan prestasi tetapi karena Dia sangat mengasihi setiap kita. Semua karena anugerah dan kemurahan-Nya saja di dalam hidup kita.
Pada suatu hari Bp. Pdt. Arthur melakukan doa dan pelayanan di rumah sakit. Di sebuah ruang kamar, dirinya mendoakan seorang ibu yang sedang dirawat secara intensif dikarenakan salah meminum obat. Setelah itu dirinya pulang kembali ke rumah. Saat minggu depannya kembali lagi, perawat yang bertugas mengatakan bahwa ibu yang sedang sakit masih ada di dalam kamarnya.
Bp. Pdt. Arthir merasa bahwa doanya pada saat itu tidak didengar oleh Tuhan. Tetapi semua perasaan tersebut dikalahkannya dengan memiliki iman dan percaya bahwa kita bukanlah Tuhan yang berdaulat, yang di mana Dia memiliki waktu serta kehendak yang terbaik dalam hidup anak-anakNya.
Minggu depannya Bp. Pdt. Arthur kembali, dan ibu tersebut masih berada di sana. Sampai minggu keempat, barulah ada perubahan. Ibu tersebut mulai sadar dan berangsur membaik.
Ketekunan akan membawa perubahan, dan nantinya juga mengubah hidup kita. Dengan bertekun di dalam doa, dapat mengubah keadaan yang sukar dan pergumulan apa pun yang sedang kita alami. Yang kita butuhkan hanyalah iman dan percaya, hanya Tuhan yang dapat menolong dan melepaskan kita. Tidak ada yang lainnya.
Saat kita memutuskan bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang dapat kita andalkan, maka kita tidak lagi memiliki alasan untuk tidak bertekun di dalam doa, karena Dia adalah satu-satunya tempat kita menaruh harapan. Tidak ada pilihan lainnya.
Tetaplah Bertekun dalam Doa.
Hal inilah yang akan kita lakukan:
Kita akan tekun berdoa karena kita percaya bahwa Tuhan pasti membenarkan, menolong, dan memulihkan keadaan kita.. apa pun pergumulan yang sedang kita hadapi hari-hari ini.
Dalam kehidupan seorang yang berdoa, Tuhan pasti akan bekerja dan berbuat sesuatu. Teruslah bertekun di dalam doa, percayalah bahwa Dia pasti akan mendengar dan menolong. Dia pasti akan memulihkan keadaan hidup kita.
Hanya kita sendiri yang tahu mengapa kita kurang bertekun di dalam doa selama ini. Bisa jadi kita menemukan bahwa yang menghalangi kita dalam tekun berdoa adalah iman kita yang tidak mau lagi bertumbuh, karena mungkin kita pernah mengalami tertolak dan kecewa baik oleh Dia, maupun karena sikap para pengikut-Nya.
Izinkan Roh Kudus membebaskan hidup kita dari berbagai pikiran dan perasaan negatif, yang selama ini tanpa disadari telah membelenggu hidup kita. Selain itu, terkadang kita masih sering bercerita pada seseorang yang kita rasa dapat kita andalkan di dalam kehidupan ini, lebih dari kita berbicara kepada Tuhan. Tidaklah salah, tetapi marilah kita berbicara dan mengenal Dia lebih dalam.
Biarlah firman-Nya disingkapkan, agar kita dapat mengenal-Nya lebih dalam.
Setiap perasaan negatif, tertolak, tidak didengar, merasa diabaikan, tidak dikasihi.. patahkan dalam nama Yesus. Izinkan Roh Kudus menggantikan semua perasaan tersebut dengan iman yang teguh dan juga damai sejahtera. Percayalah bahwa,
“Kalau kita berseru, kita pasti didengar-Nya. Apa pun keadaan yang sedang dialami hari-hari ini.”
Bangkitkanlah iman kita. Dia sangat mengasihi setiap kita dan tidak akan pernah terlambat di dalam menolong, melepaskan, dan membenarkan hidup kita. Tetaplah bertekun di dalam doa agar iman kita dapat terus bertumbuh di dalam Tuhan, dan setiap kita dapat dipakai untuk menyatakan kebesaran kasih-Nya, pada banyak orang.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar