Andreas Rahardjo - Paradoks dalam Natal
- 30 Des 2025
- 8 menit membaca
Catatan Khotbah āParadoks dalam Natal.ā Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 7 Desember 2025.
Kata āParadoksā memiliki arti suatu hal yang tampak berlawanan atau bertentangan, tetapi sebenarnya hal itu benar adanya.
Contohnya, ada cabe yang berukuran besar dan kecil. Seharusnya cabe yang berukuran lebih besar itu rasanya jauh lebih pedas dari yang kecil, tetapi kenyataannya, yang kecil justru yang rasanya lebih pedas dari cabe yang berukuran besar.
Hal ini adalah sebuah paradoks, termasuk juga tentang Pribadi Yesus yang kelahiran-Nya kita peringati di momen Natal ini. Mengapa momen Natal ini dapat menjadi sebuah paradoks?
Paradoks saat Natal.
Cara Tuhan bekerja itu berbeda dengan cara bekerjanya manusia, termasuk dari sudut pandang manusia yang pastinya berbeda dengan apa yang dimiliki Dia. Selain itu, bisa jadi apa yang dipandang manusia selama ini tampak hebat, belum tentu hebat dan sama di hadapan Tuhan.
āKetika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.ā (Lukas 2:6-7).
Yesus yang adalah Raja di atas segala raja, tetapi dari momen Natal ini kita mendapati bahwa Dia lebih memilih untuk lahir di sebuah palungan / tempat makanan domba yang hina dan kotor. Hal ini adalah sebuah paradoks, karena seharusnya seorang raja itu lahir di tempat mewah.
Selain itu, seharusnya Yesus bisa memilih untuk lahir dari garis keturunan raja dan bangsawan. Tetapi kita membaca di Alkitab, Dia lebih memilih untuk berada dalam naungan Yusuf sang tukang kayu dan juga Maria, seorang sederhana.
āDi daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.ā (ayat 8).
Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: āKemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.ā (ayat 13-14).
Paradoks lainnya adalah hadirnya paduan suara dari bala tentara Surga, pada momen kelahiran Yesus. Kita membayangkan pasti luar biasa merdu dan mulianya suara dari paduan suara tersebut, dan seharusnya yang menikmatinya adalah kaum atas / para kaum bangsawan. Tetapi lagi-lagi terjadi paradoks yang menikmatinya justru adalah kaum gembala yang tinggal di padang, yang menjaga kawanan ternak pada waktu malam.
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: āDi manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.ā (Matius 2:1-2).
āDan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.ā (ayat 9b-11).
Jarak perjalanan orang-orang majus dari Timur / Persia ke tempat Yesus dilahirkan di Yudea ini rentang jaraknya bermil-mil, dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dapat sampai di tempat di mana bayi Yesus berada. Hal ini adalah paradoks. Orang-orang majus tidak datang di sebuah istana mewah, tetapi mereka membawa persembahan yang mahal untuk ditujukan di tempat sederhana dan menyembah Yesus, yang saat itu usia-Nya masih berwujud seorang bayi.
Paradoks lainnya tentang Yesus.
Dia kekal, tetapi mau masuk ke dalam kehidupan yang dibatasi oleh waktu fana di dalam dunia ini. Dia adalah Pencipta dari alam semesta, tetapi Dia mau menjadi ciptaan, mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7). Dia yang memberi kehidupan, namun memilih untuk hadir dalam rupa seorang bayi yang rapuh.
Paradoks di dalam Alkitab yang dapat menjadi prinsip hidup, dalam Kerajaan Allah.
Paradoks Pertama. Untuk hidup, kita harus mati.
ānamun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.ā (Galatia 2:20).
Untuk hidup kita harus mati, yang berbicara tentang kita mau bertobat dan hidup di dalam pertobatan, serta meninggalkan kehidupan lama untuk beralih menjadi ciptaan baru, yang mau hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah..
ā..mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,ā (Filipi 3:10).
Bagaimana caranya ādisalibkan dan menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nyaā?
Saat memutuskan untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, maka dosa-dosa kita seharusnya juga turut disalibkan. Pertobatan hidup membawa pada āmanusia baru,ā yang seharusnya keluar dari hidup kita..
āJadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.ā (2 Korintus 5:17).
Ada dua dunia yang tersedia di hadapan kita,
Pertama. Dunia dengan kehidupan āmanusia lamaā. Kedua. Dunia dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Di dalam kehidupan manusia lama, kita menjalani kehidupan yang sering kali mendukakan dan jauh dari persekutuan yang karib bersama dengan-Nya. Di dalam kehidupan lama ini, semua orang hidup di dalam dunianya sendiri dan tidak ada lagi yang mau peduli dengan apa yang menjadi mau dan kehendak Allah bagi hidupnya.
Tetapi Dia ingin membawa setiap kita untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya, yang ruang lingkupnya jauh lebih besar. Sebab,
āKristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.ā (2 Korintus 5:15).
Dia telah menyediakan kehidupan yang luar biasa, di mana maksud dan tujuan Tuhan di dalam hidup kita dapat digenapi dengan seutuhnya.
Tetapi pintunya hanya satu, yakni melalui pertobatan, bukan melalui berbagai amal dan perbuatan baik. Setiap dari kita adalah seorang pendosa yang membutuhkan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Tidak ada cara lainnya. Karena itu, jangan pernah kita menjauhkan diri dari pertobatan karena hal ini adalah satu-satunya pintu untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Sekarang yang menjadi pertanyaannya,
āApakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk selalu membutuhkan Allah? Apakah kita dapat merasaāalih-alih menjadi seorang yang sempurna dan tidak memiliki kelemahanāapakah kita masih merasa dan menyadari, memiliki banyak hal yang perlu diperbaiki di hidup ini?ā
Pertobatan tidak cukup hanya dengan penyesalan atas dosa yang sudah kita perbuat saja, tetapi datanglah pada Tuhan untuk meminta kekuatan agar kita dapat meninggalkan segala perbuatan yang telah menyakiti hati-Nya selama ini.
Sebab Dia yang akan membawa setiap kita untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, dan segala sesuatu dapat terjadi di dalam Kerajaan-Nya,
āApa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.ā (1 Korintus 2:9).
Dalam Kerajaan-Nya, Dia memiliki rencana luar biasa bagi setiap kita. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan juga bagi yang percaya kepada-Nya.
Segala sesuatu dapat terjadi ketika seseorang berjalan bersama dengan-Nya. Bahkan ketika hidupnya terpuruk di dalam dosa sekalipun, tetapi saat bertobat dan mau hidup di dalam nilai-nilai Kerajaan Allah.. maka Dia masih sanggup untuk memulihkan hidupnya, agar dapat berjalan sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.
Paradoks Kedua. Ketika kita lemah, justru kita kuat.
āSebab jika aku lemah, maka aku kuat.ā (2 Korintus 12:10b).
Ketika kita lemah justru kita kuat berbicara tentang kita mau meluluhkan ego dan juga kesombongan pribadi, meningkatkan kebergantungan kita pada Dia, serta nantinya akan membuka lebar pintu kuasa-Nya untuk dinyatakan di hidup kita.
Akuilah bahwa diri kita terbatas dan selalu membutuhkan pertolongan dari Tuhan. Sebab nantinya kita akan melihat,
āYang lemah akan dikuatkan, yang bersedih akan mendapat penghiburan, yang kurang berhikmat akan diberikan hikmat oleh-Nya.ā
Dia ingin agar kita selalu berserah dan bersandar hanya pada Tuhan, karena kekuatan-Nya yang akan menjadi kekuatan di dalam hidup kita.
Ketika sebuah kursi didorong ke belakang, maka kursi tersebut akan dengan mudahnya mengikuti gerakan terdorong ke arah belakang. Tetapi bila di belakang dari kursi tersebut ada tembok kokoh tempat untuk kursi tersebut bersandar, maka ketika didorong ke belakang sekuat apa pun, kursi tersebut tidak akan dapat bergerak. Mengapa?
Karena kursi tersebut kini telah menjadikan tembok kokoh sebagai sandarannya. Sekeras apa pun kita mencoba untuk mendorongnya, maka kursi itu tidak akan mungkin dapat bergerak.
Karena itu marilah setiap kita belajar untuk rendah hati dan selalu bersandar pada kekuatan-Nya. Jangan pernah merasa sombong, karena masih banyak hal yang tidak kita ketahui. Bahkan luas alam semesta yang dapat diamati manusia, diperkirakan memiliki diameter sekitar 93 miliar tahun cahaya, meskipun luas total alam semesta ini mungkin tidak terbatas dan masih ada banyak hal yang belum diketahui secara pasti.
Paradoks Ketiga. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima.
ā..Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.ā (Kisah Rasul 20:35).
Prinsip paradoks ketiga ini berbeda dengan apa yang dimiliki dunia yang mengatakan kalau kita memberi, justru kita yang nantinya akan berkurang dan malah menjadi sedih akibat kekurangan tersebut. Tetapi prinsip Kerajaan Allah berbeda. Jalan menuju lorong kebahagiaan adalah pada saat kita dapat membuat orang lain berbahagia, dan pada akhirnya nanti hal itu akan berbalik membahagiakan hidup kita juga.
Manfaat dari Memberi:
Memberi melepaskan kita dari keegoisan. Ketika seseorang memberi, otak melepaskan hormon āpereda stresā seperti dopamin, oksitosin, dan endorfin. Hal ini dapat membuat tubuh lebih rileks dan mengurangi ketegangan emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang sering memberiābaik memberi materi, waktu, perhatian, atau bantuanāmemiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang jarang memberi.
Memberi meningkatkan rasa: Memiliki makna hidup, mendapat kepuasan, harga diri, dan juga rasa terhubung dengan orang lain.
Paradoks Keempat. Untuk menjadi besar, harus menjadi pelayan.
āTidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;ā (Matius 20:26-27).
The way to the top is down. Jalan menuju ke atas adalah melalui jalan bawah.
Ketika A. R. Bernard yang merupakan Senior Pastor dari Christian Cultural Centre (CCC) hendak menyerahkan tongkat kepemimpinan pada putranya yakni, Jamaal Bernard.. maka putranya ini dilatih terlebih dahulu selama 6 tahun untuk bekerja dan melayani di bidang cleaning service dan juga menjadi tukang parkir di gereja. Semuanya ini bertujuan agar putranya memiliki hati bukan hanya untuk terlihat di atas panggung saja, tetapi lebih dari itu, dapat mengenal satu per satu dari jemaat yang nantinya akan digembalakannya.
Melalui kisah A. R. Bernard yang melatih dan mempersiapkan putranya, kita dapat belajar untuk selalu memiliki kerendahan hati dan mau melayani orang-orang yang ada di sekitar kita.
Paradoks Kelima. Orang yang miskin di hadapan Allah, memiliki Kerajaan Surga.
āBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.ā (Matius 5:3).
Kata āorang yang miskinā di ayat di atas memiliki arti sikap hati yang selalu membutuhkan Tuhan, di dalam setiap perkara. Dalam hal apa pun juga, kita memerlukan pertolongan-Nya, sebab di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa.
āAkulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.ā (Yohanes 15:5).
Paradoks dalam Pribadi Kristus.
Kristus menjadi lemah untuk dapat menguatkan setiap kita (Filipi 2:7), Dia rela mati di atas kayu salib mengorbankan nyawa-Nya demi penebusan dosa-dosa kita dan agar hubungan kita dengan Bapa di Surga dipulihkan, Dia memberi diri-Nya agar kita dapat menjadi kaya di dalam kasih, serta rela untuk menjadi Hamba demi menyelamatkan hidup kita.
āHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,ā (Filipi 2:5).
Karena itu milikilah pikiran dan cara memandang setiap hal yang diizinkan terjadi di dalam hidup kita, sama seperti cara Tuhan memandangnya. Walau hidup kita bukan siapa-siapa, tetapi Tuhan dapat mengurapi dan memakai diri kita untuk dapat memperlebar Kerajaan-Nya. Tetaplah hidup di dalam kerendahan hati dan jangan menjadi sombong, ketika hidup kita diberkati Tuhan. Biarlah hanya nama Tuhan saja yang dipermuliakan, melalui perkataan dan perbuatan di hidup kita.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..





Komentar