top of page

Paulus Rahardjo - Seandainya Saya Menjadi Malaikat Natal

  • mdcsbysystem
  • 3 Jan
  • 8 menit membaca

Catatan Khotbah, ā€œSeandainya Saya Menjadi Malaikat Natal.ā€



Ditulis ulang dari sharing Bp. dr. Paulus Rahardjo, di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 21 Desember 2025.


Malaikat yang Belajar Percaya.


Selama ini kita selalu memandang momen Natal hanya dari sisi manusia saja,


ā€œMaria yang terkejut pada saat mendengar berita dari malaikat yang mengunjunginya, Yusuf yang gamang didatangi malaikat di dalam mimpinya, para gembala yang panik ketika malam sunyi tiba-tiba disinari cahaya Surgawi.ā€


Semua ketakutan itu terasa sangat manusiawi.


Tetapi marilah sejenak menggeser sudut pandang yang selama ini kita miliki,


Bagaimana bila Natal dilihat dari sisi para malaikat, makhluk Surgawi yang dikenal super taat, super cepat, dan super cerdas.. namun berhadapan dengan rencana Allah yang begitu dalam, radikal, dan tak dapat dipahami? Barangkali mereka harus berhenti sejenak untuk bertanya, merenung, bahkan mungkin saja merasa galau.


Mengapa?


Karena rencana Allah yang begitu besar dan radikal ini sering kali tidak masuk di akal, tapi sempurna.


Marilah mencoba membayangkan bila kita yang menjadi salah satu dari malaikat yang diutus. Bisa jadi kita akan bertanya di dalam hati,


ā€œTuhan, mengapa caranya seperti ini?ā€


Bukan karena rencana-Nya salah, melainkan karena cara-Nya jauh melampaui logika. Namun pada akhirnya, kegamangan itu selalu berujung pada kesadaran penting,


ā€œKisah Natal bukanlah improvisasi, bukan pula rencana darurat, apalagi plan B. Semuanya telah ditulis dengan rapi di dalam nubuat yang telah disampaikan oleh para nabi, dalam kurun waktu ratusan tahun sebelumnya.ā€


Terkadang iman kita dapat menjadi goyah bukan karena Tuhan tidak bekerja, tetapi karena Dia bekerja dengan cara yang tidak kita pilih. Karena itu iman yang hanya bertahan ketika semuanya hanya masuk di akal sesungguhnya bukan iman, melainkan kenyamanan belaka.



Bagian Pertama. Kalau saya malaikat yang diutus untuk menyampaikan berita kepada Maria.


Bayangkan bila kita yang menjadi malaikat Gabriel. Bapa memanggil kita dan berkata,


ā€œAku memiliki tugas penting yang harus kau kerjakan.ā€


Dalam benak, ekspektasi kita pasti langsung melambung tinggi. Dengan cepat kita mungkin akan membayangkan diutus ke pusat kekuasaan: Istana Romawi, kediaman Herodes, atau setidaknya rumah Imam Besar. Namun Bapa berkata sederhana,


ā€œPergilah ke Nazaret, yang merupakan kota kecil yang nyaris tak diperhitungkan. Di sana ada seorang remaja putri, Maria, sekitar empat belas atau lima belas tahun usianya. Kepadanya engkau harus menyampaikan kabar yang mengguncang sejarah, dirinya akan mengandung oleh Roh Kudus, dan melahirkan Mesias.ā€


Sebagai seorang malaikat, kita mungkin meragukan dan bertanya di dalam hati,


ā€œBapa, ini adalah konsep tingkat akhir teologi. Bagaimana caranya saya dapat menjelaskan dengan bahasa seorang remaja?ā€


Selain itu, bagaimana bila setelah mendengar berita tersebut Maria menjadi panik? Bagaimana dengan rencana pernikahannya bersama Yusuf? Apakah tetap lanjut, atau? Bagaimana Maria akan menjelaskan kejadian ini pada orang tuanya?


Namun Bapa mengingatkan di dalam nubuatan yang pernah disampaikan oleh nabi Yesaya di dalam Perjanjian Lama (PL),


ā€œSebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.ā€ (Yesaya 7:14).


Sekaranglah waktunya untuk digenapi—sekitar tujuh ratus tiga puluh tahun sejak Yesaya menuliskannya. Maka kita pun turun, masih dengan gentar, tetapi kini disertai keyakinan.


ā€œSalam hai engkau yang dikaruniai,ā€ ucap kita.


Dan ketika Maria menjawab,


ā€œSesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu,ā€

Kegamangan kita luruh. Iman yang dimiliki Maria, seorang remaja perempuan ternyata jauh lebih dewasa dibanding iman kebanyakan orang dewasa.


Karena itulah kisah malaikat yang menjumpai Maria membawa perenungan pada kita, kapan terakhir kalinya kita berkata pada-Nya,


ā€œTerjadilah padaku menurut kehendak-Mu,ā€

Bukannya,


ā€œMengapa harus aku?ā€


Iman adalah ketaatan yang mendahului penjelasan, lahir dari pengenalan akan Pribadi yang berbicara.



Bagian Kedua. Kalau saya malaikat yang diutus untuk menyampaikan berita di mimpi Yusuf.


ā€œSebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.ā€ (Yesaya 9:6).


Yusuf adalah orang benar, namun justru padanyalah kebingungan besar datang. Tanpa referensi, tanpa preseden, tanpa kisah serupa—kecuali nubuat PL—tunangan yang dikasihinya kini sedang mengandung oleh Roh Kudus.


Tidak ada seorang manusiapun yang akan percaya dengan berita tersebut, namun Yusuf hanya ingin menutup erat semuanya, dan menyimpan semua kisah yang dialami ini di dalam hati saja.


Jika kita diutus di dalam mimpinya, mungkin kita akan berbicara lugas kepadanya,


ā€œYusuf, jangan takut. Maria tidak berbohong.ā€


Lalu nubuat itu kembali bergema: Anak itu akan disebut Imanuel (Yesaya 7:14).

Lalu kita diminta menambahkan,


ā€œEngkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa.ā€ (Matius 1:21).

Sebagai seorang malaikat, kita mungkin akan kembali galau. Dalam PL, Allah menyatakan diri-Nya dengan nama YAHWEH / YHWH—nama yang unik, agung, dan tak tertandingi. Nama ini sering ditulis tanpa huruf vokal, dan seolah penyebutan namanya seperti kita menghembuskan napas. Melaluinya kita mendeklarasikan, bahwa hidup kita sangat bergantung hanya pada Dia.


Kini Juruselamat dunia justru diberi nama yang sangat umum: Yesus, yang berasal dari Yeshua. Nama ini merupakan bentuk pendek dari Yehoshua, yang umum di Yudea pada abad pertama.


Namun justru di sinilah maknanya. Dia datang bukan hanya bagi segelintir orang saja, melainkan bagi seluruh umat manusia.


Namun bagaimana jika Yusuf menganggap itu hanya mimpi buruk? Bagaimana jika ia lupa begitu terbangun? Bagaimana bila Yusuf hanya menganggapnya sebagai bunga tidur?


Syukurlah hal itu tidak terjadi. Yusuf bangun dengan hati yang ditenangkan. Dirinya mau taat, dan kesetiaannya menjadi bagian penting dari rencana Allah. Yusuf dipilih untuk menjaga dan membesarkan Yesus. Yusuf terus menjaga hati dan hidupnya agar nubuatan yang sudah disampaikan, dapat terjadi melalui ketaatannya.


Tuhan sering bekerja justru ketika hidup kita paling tidak stabil. Karena itulah iman yang matang bukan dilihat dari iman yang hanya kuat pada saat keadaan sedang tenang, melainkan iman yang tetap taat ketika hati diizinkan sedang terguncang.


Nubuatan memang sudah disampaikan oleh banyak nabinya, tetapi semua kembali pada sikap hati dan ketaatan kita yang mau menggenapinya.



Bagian Ketiga. Kalau saya malaikat yang diutus untuk mengumumkan pada para gembala.


ā€œTetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.ā€ (Mikha 5:2). (Mesias lahir di Betlehem).


Kejadian yang istimewa perlu untuk disaksikan, tetapi mengapa Allah justru memilih para gembala sebagai saksi pertama dari kelahiran Yesus? Mengapa bukan yang tinggal di dalam istana raja, para bangsawan, dan bahkan para Ahli Taurat?


Jika kita yang menjadi malaikat dari pemimpin paduan suara Surga, mungkin kita akan sempat bertanya pada Dia,


ā€œBapa, konser Surgawi diadakan dan yang menontonnya hanyalah para gembala?ā€


Sebab gembala sendiri dianggap kaum rendahan, bahkan kerap dipandang najis karena baunya seperti bau domba. Mereka juga dianggap kaum hopeless / tidak memiliki harapan.


Namun Tuhan mengingatkan, Mesias lahir di Betlehem dan gembala yang paling dekat dengan palungan. Maka bala tentara Surga pun memuji Allah. Firman Tuhan mengatakan,


ā€œKemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.ā€ (Lukas 2:14).

Para gembala ketakutan, dan ini adalah hal yang wajar. Namun mereka percaya, dan mereka menunjukkannya dengan segera berangkat..


Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: ā€œMarilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.ā€ (Lukas 2:15).


Di jam-jam paling tidak terduga dan ketika dunia terlelap, Allah justru berbicara. Dia tidak mencari yang terkenal, melainkan yang bersedia. Dan iman sejati tidak menunda, karena ketaatan yang ditunda adalah ketidaktaatan yang dibungkus indah.


Melalui bagian ketiga ini kita belajar,


Pertama. Malaikat tidak merayakan kebaikan manusia, tetapi memuliakan karya Allah. Kedua. Damai sejahtera bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah dari Allah.



Bagian Keempat. Kalau saya malaikat yang diutus di kandang Betlehem.


Yesaya 53—Hamba Tuhan yang merendahkan diri.


Yesaya 53 mengajar pada kita tentang sikap kerendahan hati yang mau taat menyelesaikan tugas yang dipercayakan, sampai tuntas.


Kalau kita yang menjadi malaikat-Nya, mungkin kita tidak akan dapat mengerti. Bagaimana mungkin Tuhan yang disembah selama ini menjadi seorang bayi, yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada Yusuf dan Maria, dua orang manusia yang hidupnya fana dan terbatas?


Bagaimana mungkin melihat Pencipta dari alam semesta terbaring sebagai bayi lemah di palungan, kita mungkin akan terdiam lama. Palungan adalah tempat makan hewan. Walaupun dibersihkan banyak kali, ia tetap rendah, kotor, dan juga berbau. Tidak mungkin kita menaruh sesuatu yang sangat berharga, di dalam palungan.


Namun Bapa berbisik,


ā€œIngatlah Yesaya 53. Hidup Mesias memang bukanlah hidup yang megah, perjalanan hidupnya dimulai dari palungan hingga menuju salib.ā€


Hal ini bertujuan agar tidak ada manusia yang terlalu rendah, kotor, dan berdosa untuk dapat datang kepada-Nya. Di sinilah kita sadar,


ā€œBahkan palungan adalah bagian dari nubuat.ā€


Itulah sebabnya Dia datang dalam keadaan sederhana. Kita sering menantikan Tuhan dalam hal-hal yang spektakuler, padahal Dia justru hadir dalam kesederhanaan yang membentuk kita. Jika kita selama ini hanya menunggu jawaban besar, maka kita akan melewatkan kehadiran-Nya dalam momen-momen kecil yang sunyi.



Refleksi bagi kita.


Jika para malaikat harus belajar berkata,


ā€œOh, ternyata Tuhan sedang menggenapi nubuatan, yang sudah disampaikan oleh para nabi-Nya.ā€


Maka kita pun dapat percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang setia, yang masih mampu untuk menggenapi janji-Nya di dalam hidup kita. Sebab iman dapat bertumbuh bukan hanya pada saat kita dapat memfokuskan diri pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang sudah dijanjikan-Nya.


Pada suatu hari kelak kita akan dapat memahami, yang dulunya mungkin terasa membingungkan, menakutkan, dan terasa kacau.. bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebagai bagian penting dari rencana besar Allah. Di hadapan kesetiaan-Nya, kegamangan kita kehilangan kuasanya.


Belajar membaca cara kerja Allah.


Natal bukan hanya peristiwa historis yang dapat kita peringati di setiap tahunnya. Natal adalah cermin rohani—tempat kita dapat belajar untuk membaca ulang bagaimana cara Allah bekerja di dalam hidup manusia.


Jika malaikat yang hidup di dalam terang hadirat Allah saja harus menyesuaikan pengertiannya, apalagi kita yang melihatnya hanya dari keterbatasan waktu, emosi, dan juga pengalaman pribadi yang terbatas adanya.


Sering kali kita mengira bahwa iman akan membuat segalanya menjadi jelas dan terang. Kenyataannya, iman justru mengantar kita masuk ke wilayah yang tidak sepenuhnya terang, namun tetap dapat dipercaya. Bukan karena kita dapat memahami semuanya, melainkan karena kita mengenal Pribadi yang memegang semuanya.


Kita dapat percaya karena Dia yang mengatakannya dan kita telah mengenal siapa Pribadi Tuhan Yesus, yang masih dapat dipercaya.


Allah di dalam kisah Natal tidak sibuk untuk menjelaskan siapa diri-Nya. Dia hadir. Diam-diam. Rendah. Setia pada firman-Nya sendiri. Dia bekerja melalui rahim seorang remaja, ketaatan seorang tukang kayu, kesaksian para gembala, dan sunyinya sebuah palungan. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang sensasional. Tetapi semuanya presisi. Persis seperti yang dinubuatkan dan dijanjikan.


Di titik ini Natal mengoreksi banyak asumsi rohani, yang selama ini kita miliki..


Bahwa ketaatan tidak selalu terasa nyaman. Bahwa penggenapan janji Allah sering kali datang melalui jalan yang tidak mau kita pilih. Bahwa kemuliaan Allah tidak selalu tampil dalam bentuk yang kita bayangkan sebelumnya.


Mungkin karena itulah Natal menjadi relevan di sepanjang hidup—bukan karena sisi romantiknya, melainkan karena kejujurannya.


Natal mengajar bahwa iman sejati bukan soal kita dapat memahami rencana Allah secara utuh, melainkan berani untuk tetap berjalan, bahkan ketika kita hanya memahami langkah berikutnya.


Dan barangkali sama seperti para malaikat itu, pada suatu hari kelak kita akan menoleh ke belakang dan berkata dengan nada yang lebih tenang,


ā€œOh ternyata sejak awal, Tuhan tetap setia pada firman-Nya.ā€


Di sinilah iman berhenti menjadi teori, dan mulai menjadi perjumpaan. Di sinilah iman berhenti dari sekadar teori yang menjemukan, menjadi relasi yang menenangkan, percaya, dan juga taat.


Ketika melihat ke arah belakang, kita dapat belajar walau melalui ratusan tahun sekalipun.. Allah tidak pernah melupakan janji-janjiNya.. Sehingga dengan iman yang sama kita dapat melihat ke depan, Dia selalu dan tetap setia memegang tangan kita.


Palungan / the Crib dan Salib / the Cross.


Ingatlah bukan hanya pada saat momen Natal / kelahiran saja, kita tidak hanya merayakan momen palungan tempat bayi Yesus diletakkan, tetapi juga momen Salib Kristus. Sebab tanpa palungan, tidak akan pernah ada yang namanya Salib Kristus.


The Crib / palungan, the Cross / Salib, dan pada waktu-Nya kelak kita akan berpulang pada Dia.


Mengapa kita dapat percaya pada Dia, karena Dia sudah membuktikan diri-Nya setia. Ratusan tahun janji tersebut telah diberikan, hingga akhirnya nubuatan tersebut digenapi saat momen Natal.


Kita bisa memegang teguh setiap janji-Nya yang pasti akan digenapi, walau kapan waktu persis-Nya kita tidak mengetahuinya. Dia adalah Allah yang setia. Saat kita dapat mempercayai kesetiaan-Nya di dalam hidup ini, di sanalah iman berhenti menjadi teori, dan bertumbu menjadi relasi.


Bukalah hati kita, dan terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita.


Dia hanya membutuhkan sikap kerendahan hati dari kita yang terbuka, dan mau menerima-Nya sebagai Juruselamat di dalam hidup.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page