top of page

Lydia CSES - When the Economy Shakes, the Kingdom Stands

  • 2 hari yang lalu
  • 16 menit membaca

Diperbarui: 1 hari yang lalu

Catatan Khotbah: ā€œWhen the Economy Shakes, the Kingdom Stands.ā€



Ditulis ulang dari sharing Ibu Pdt. Lydia CSES di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 28 Juni 2026.


Hari-hari ini keadaan serba tidak pasti, banyak orang juga mengalami PHK di tempat kerjanya. Karena itulah kalau kita masih memiliki pekerjaan, bersyukurlah. Banyak pelaku bisnis yang mengalami guncangan dan tak sedikit yang kuatir menyikapi berbagai kebijakan di dalam negeri.


Sebagai umat Tuhan, setiap dari kita juga dipanggil bukan untuk reaktif tetapi memiliki respon yang benar yakni respon iman, berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Kalau kita mempercayai,


ā€œFirman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.ā€ (Mazmur 119:105).

Maka firman-Nya masih sanggup dan cukup untuk mengarahkan serta memelihara hidup kita.


Krisis tidak mengubah Siapa Allah.

Di tengah ketidakpastian dunia, Tuhan memanggil umat-Nya untuk hidup secara berbeda..


: Dengan Iman, bukan Ketakutan. Dengan Hikmat, bukan Kemalasan. Hidup dengan membawa Misi Kerajaan Allah, bukan Keegoisan pribadi.



Firman Tuhan mengatakan,


ā€œKarena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.ā€ (Matius 5:45).


Dengan kata lain, kondisi perekonomian yang sedang kita alami hari-hari ini.. semua orang mengalaminya, baik orang benar maupun yang hidupnya tidak benar. Tetapi sekali lagi, yang menjadi perbedaannya adalah bagaimana respon kita dalam menyikapi semuanya itu..


ā€œApakah kita bersikap sama seperti orang lain yang tidak memiliki kebenaran firman Allah di dalam hidupnya? Atau sebaliknya, kita hidup dengan memperkatakan kebenaran firman-Nya?ā€


Ketika krisis terjadi, banyak orang langsung melakukan survival mode / sikap bertahan dan mereka lalu kehilangan misi Kerajaan Allah. Tak sedikit yang melupakan bahwa masih ada misi surgawi yang Tuhan taruh di dalam hidup, yakni menjadi berkat dan terang Kristus bagi mereka yang membutuhkan pertolongan-Nya.


Realitas Hari ini dan Sejarah umat Allah.


Setiap tantangan di dalam dunia menuntut adanya respon surgawi. Realitas hari ini..


: Ekonomi makro bertumbuh, tetapi tekanan mikro juga turut membesar. Biaya hidup meningkat dengan tajam. Dunia kerja sendiri dipenuhi dengan disrupsi dan ketidakpastian di mana-mana.


Bangsa Israel sebagai umat Allah juga memiliki realitasnya sendiri. Alkitab mencatat..


: Adanya kelaparan, resesi, dan pembuangan ke bangsa lain bukanlah hal yang baru.


Di zaman Hakim-hakim, bangsa Israel digambarkan begitu mengenaskan saat mereka berbuat apa yang jahat di mata-Nya. Di pasal 6 dikatakan,


ā€œSetiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka; berkemahlah orang-orang itu di daerah mereka, dan memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan makanan apapun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledaipun tidak.ā€ (ayat 3-4).


Sehingga di ayat selanjutnya dikatakan,


ā€œsehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu.ā€ (ayat 6a).


Berbagai krisis yang mereka alami begitu hebat. Hanya karena bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, tidak serta-merta mereka tidak mengalami krisis. Tetapi sekali lagi, kuncinya bukan pada situasinya melainkan bagaimana responsnya.


Tantangan Pertama: Ketidakpastian melahirkan Ketakutan.


Hari-hari ini kita mendapati daya beli sedang melemah sedangkan harga kebutuhan barang pokok terus merambat naik. Ancaman PHK besar-besaran yang berujung pada sulitnya tersedia lapangan pekerjaan. Lalu terjadi fluktuasi global dan krisis global di berbagai negara.


Selain itu, berbagai kebijakan di dalam negeri kerap kali membuat banyak pengusaha mengalami kebingungan. Kondisi perekonomian juga sedang melemah sehingga banyak orang mengalami ketakutan dan hal ini mengakibatkan..


: Pengambilan keputusan yang tergesa-gesa, kehilangan damai sejahtera, dan visi ke depan.


Karena itu jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Milikilah respon yang benar di setiap kondisi yang sedang kita hadapi.


Kalau kita masih bisa mengendalikan situasi, kita mungkin masih bisa merasa tidak takut. Tetapi yang menjadi masalahnya, hari-hari ini tidak sedikit dari kita yang sudah tidak dapat lagi mengendalikan situasi. Banyak orang mengalami ketakutan, dan mencari ā€œpeganganā€ bagaimana gambaran masa depan, yang semuanya serba tidak pasti ini.


Takut adalah hal normal dan wajar, tetapi tetap dasari dan kendalikan sesuai kebenaran firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab. Takut itu boleh, tetapi jangan ketakutan. Karena saat mengalami ketakutan, logika kita berhenti berjalan.


Pada tahun 1998 saat terjadi kerusuhan, Ibu Pdt. Lydia sedang berada di Jakarta dan tinggal di sebuah rumah jemaat. Karena keadaannya serba tidak menentu, setiap kali ada suara kerusuhan.. anak perempuan pertama dari keluarga ini menjerit dengan histeris dan meminta agar dengan sesegera mungkin keluarga mereka pergi menuju bandara dan segera terbang ke pulau Bali.


Ibu Pdt. Lydia berusaha menenangkan dan menasihatinya untuk tetap berdoa, sembari menyadarkan dengan keadaan yang sangat genting tersebut.. bisa jadi mereka semua tidak akan sampai dengan selamat, menuju bandara.


Bagaimana kita memiliki respons, dalam keadaan di mana semuanya serba tidak pasti ini?


Respons Pertama: Bangun dan Dasarkan Iman kita pada Pemeliharaan Allah yang Setia.


Firman Tuhan mengatakan,


ā€œSebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.ā€ (Matius 6:31-33).


Prinsipnya: Tuhan Yesus tidak pernah menyangkal tentang adanya krisis, tetapi Dia melarang krisis tersebut menguasai hati kita sehingga yang muncul kemudian dalam hidup kita adalah ketakutan.


ā€œSebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.ā€ (2 Timotius 1:7).

Dari ayat di atas kita mendapati bahwa ketakutan itu ada rohnya, sehingga kalau memberi nasihat pada seseorang yang dikuasai roh ini, sangat susah untuk mereka menerima nasihat.


Karena itu takut adalah hal wajar, tetapi jangan sampai kita dikuasai ketakutan. Doronglah ketakutan tersebut dan temukan janji Tuhan di dalam kebenaran firman-Nya. Kalau kita bersungguh hati untuk datang dan mencari wajah-Nya, maka Dia akan memberi kita hikmat dan kekuatan. Mukjizat-Nya tidak dapat dibatasi oleh ketakutan apa pun yang berasal dari dunia ini.


Prinsipnya: Iman memampukan kita untuk tetap tenang dan bersikap objektif.


ā€œAku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,ā€ (Yohanes 14:16).

ā€œtetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.ā€ (ayat 26).


ā€œTetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.ā€ (Galatia 5:22-23).


Kalau kita mempercayai bahwa Roh Kudus adalah Penolong dan Penghibur yang diberikan bagi hidup kita.. maka setiap kegelisahan, kekuatiran, dan ketakutan dapat dikendalikan serta ditaklukkan di bawah otoritas kebenaran firman Tuhan. Sehingga, Roh Kudus akan memampukan diri kita untuk dapat menghasilkan buah Roh di ayat di atas.


Bukti Sejarah: Ishak Menabur di Masa Kering.


Kejadian 26 mencatat pada kita tentang kelaparan hebat yang melanda Gerar, tempat di mana Ishak dan keluarganya tinggal. Mayoritas dari penduduk Gerar sudah melarikan diri ke Mesir sebab Alkitab mencatatnya pada kita,


Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: ā€œJanganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu..ā€ (ayat 2-3).


Di ayat di atas kita menemukan, Tuhan itu melarang Ishak untuk pergi ke Mesir. Tetapi di ayat lainnya, firman Tuhan juga mengatakan pada kita..


Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ā€œBangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.ā€ (Matius 2:13).


Alkitab mencatat pada kita bahwa Tuhan itu selalu memberikan tuntunan dan cara-Nya dengan kreatif, serta tidak sama pada setiap orang.


Lalu apa tindakan Ishak?


Firman Tuhan mencatat pada kita,


ā€œJadi tinggallah Ishak di Gerar.ā€ (Kejadian 26:6).


Ishak taat pada perintah Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, ia dan keluarganya tetap berdiam di Gerar dan menabur.. sekalipun ada kelaparan di negeri tersebut. Sebagai hasilnya, kita melihat Tuhan itu memberkati dengan luar biasa. Krisis alam tidak dapat menghentikan suplai dari Surga.


Firman-Nya berkata,


ā€œMaka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.ā€ (26:12).

Melaluinya kita dapat belajar untuk menaati setiap firman Tuhan yang kita dengar. Mempercayai bahwa di setiap musim, Tuhan itu masih sanggup untuk memberkati dan memelihara hidup kita.


Kita juga dapat belajar dari kisah Daud yang berulang kali bertanya pada Tuhan dan terus mengandalkan-Nya, mengenai apa yang harus dilakukan pada saat menghadapi musuh-musuhnya. Daud menyadari bahwa kebesaran dan kekuasaan yang didapat adalah hasil penyertaan-Nya.


Karena itulah dalam menghadapi masa krisis, aplikasi praktisnya adalah jangan mengambil keputusan berbasis kepanikan massa. Bangun fondasi hidup kita di atas janji Tuhan di dalam kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab, bukan sekadar mengandalkan berita ekonomi.


Andalkan selalu firman-Nya. Apa pun kondisinya, berhentilah sejenak untuk mendoakan terlebih dahulu setiap keputusan yang hendak kita ambil. Sebab bila diambil di atas dasar kepanikan, kecenderungannya selalu tidak tepat.


Hari-hari ini adalah saat yang tepat untuk kita kembali pada kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab, membaca dan merenungkannya kembali di dalam hidup kita. Sering kali Dia tidak memberi masukan tentang bagaimana perekonomian di masa depan, tetapi mengajak setiap kita untuk kembali pada kasih yang mula-mula dan kembali membangun hubungan karib dengan-Nya, yang selama ini sudah kita tinggalkan.


Tantangan Kedua: Dunia Berubah sangat cepat.


Dimulai dari kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi secara massal, terjadi otomatisasi industri dan persaingan tanpa batas negara, serta punahnya beberapa pekerjaan tipe konvensional.


Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa Tuhan dan setiap kita masih bisa memberdayakan teknologi, tanpa harus mengorbankan iman kita kepada Dia. Karena itu tetaplah berhati-hati dan terus menguji apa motivasi dasar di hati kita, pastikan hidup ini dilandasi di atas dasar kebenaran firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab.


Sekalipun dunia berubah sangat cepat karena adanya kemajuan teknologi, semuanya tidak dapat mengalahkan manusia yang memiliki perasaan dan juga intelektual. Fungsi kita masih diperlukan.


Respons Kedua: Kelola berkat dengan Hikmat dan Keunggulan.


Integritas: Tuhan mempercayakan lebih kepada mereka yang hidupnya dapat dipercaya.


Ibu Pdt. Lydia bercerita di Gereja MDC Kuta Bali yang digembalakannya, ada pasangan suami dan istri di mana suaminya memiliki masalah dalam pekerjaannya. Tetapi istrinya sangat rajin dalam melayani Tuhan dan juga membantu orang-orang di sekitarnya. Setiap gereja merayakan Ibadah Anniversary, istrinya selalu membantu membuat suvernir untuk dibagikan pada jemaat. Selain itu, istrinya juga dapat dipercaya, setiap pekerjaan diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.


Sampai akhirnya ada lowongan pekerjaan, tetapi Ibu ini sudah berusia 50 tahun. Saat mencoba melamar, dirinya diterima di bagian pembukuan. Di pekerjaannya yang baru ini, Ibu tersebut bekerja dengan rajin dan dapat dipercaya. Seminggu bekerja, pemilik dari perusahaan tersebut tiba-tiba ada keperluan untuk kembali ke negaranya.


Karena melihat karakternya yang memiliki integritas, rajin, dan dapat dipercaya, pemilik tersebut mempercayakan perusahaannya untuk dapat di-handle oleh Ibu tersebut. Dalam waktu singkat, Ibu itu harus belajar banyak hal yang ada hubungannya dengan kepercayaan baru, yang sudah diberikan sang pemilik perusahaan.


Contoh lainnya, ada jemaat yang hidup dan pekerjaannya sudah settle di Singapura. Tetapi pada suatu hari, Tuhan menaruh kerinduan di dalam hatinya untuk kembali ke Indonesia dan membantu pekerjaan orang tuanya. Ketika jemaat ini bercerita pada istrinya, dengan sikap bijak istrinya itu menanggapi cerita suaminya..


ā€œKamu adalah suamiku, dan sebagai seorang istri aku pasti mendukungmu dan mau mengikutimu di manapun kamu berada. Tetapi pastikan terlebih dahulu bahwa keputusan yang kamu ambil ini adalah hasil dari pergumulan doamu bersama Tuhan, bukan sekadar emosi sesaat.ā€


Setelah dipergumulkan di dalam doa, suami istri tersebut kembali ke Jakarta dan membantu meneruskan usaha kedua orang tuanya. Saat itu sang istri sedang hamil besar, dan tak lama kemudian, pandemi COVID-19 melanda.


Setelah pekerjaan tersebut dikerjakan dengan tekun, di masa pandemi, omzet perusahaan tetap bertahan dan cenderung merambat naik. Setiap kali jemaat ini bertemu dengan orang lain, tak sedikit dari antara mereka yang berkata..


ā€œAku mengenal Ayahmu yang bekerja dengan penuh integritas, dan aku mau melanjutkan kerjasama tersebut di zamanmu sebagai anaknya..ā€


Ketika kita hidup di dalam integritas, maka anak cucu kita akan diberkati Tuhan karena kesetiaan kita. Bukankah firman Tuhan juga berkata,


ā€œBarangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.ā€ (Lukas 16:10).


Persiapan: Bekerja dengan cerdas, menyimpan uang kita dengan bijaksana, dan mempersiapkan masa depan yang jauh lebih baik.


Alkitab mencatat pada kita kisah di mana Yesus menyamakan Kerajaan Surga,


ā€œ..sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.ā€ (Matius 25:15-17).


Sementara hamba yang menerima lima dan dua talenta menjalankan dan mengembangkan talenta tersebut, Alkitab mencatat pada kita..


ā€œTetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.ā€ (ayat 18).


Lalu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Setelah itu kita bisa menebak bagaimana kelanjutan dari ceritanya, di mana lima talenta berkembang dan beroleh laba lima talenta, dua talenta juga berkembang beroleh laba dua talenta (ayat 19-23).


Lalu datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata di ayat 24-25:


ā€œTuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!ā€


Sekilas kita berpikir bahwa hamba ini baik dan menjaga dengan benar satu talenta yang sudah dipercayakan tuannya. Tetapi menarik lebih lanjut apa yang dikatakan oleh sang tuan..


ā€œHai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.ā€ (ayat 26-30).


Tuannya ini memanggil hamba yang setia menyimpan talenta tersebut, dan memanggilnya sebagai hamba yang jahat dan malas.


Poinnya di sini bukanlah tentang tuannya yang jahat, tetapi dari ayat di atas kita belajar..


ā€œKarena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.ā€ (ayat 27).


Ketika kita dipercaya talenta / bakat / keahlian oleh Tuhan, Dia ingin agar setiap dari kita itu bisa mengelola dan mengembangkannya, untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Banyak orang ingin menuai, tetapi dirinya tidak pernah bekerja dengan keras untuk menabur benihnya, dan mengelola dengan baik taburannya.


Kata ā€œSetiaā€ itu juga memiliki arti bisa mengelola dengan baik setiap apa yang sudah dipercayakan Tuhan di dalam hidup kita.


ā€œHai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.ā€ (Amsal 6:6-8).


Etika Kerja: Keunggulan dalam pekerjaan adalah wujud penyembahan kita kepada Tuhan.


Sering kali kita ini membedakan antara hal yang rohani / yang dikerjakan di dalam gereja dengan hal sekuler / yang dikerjakan di luar gereja / duniawi. Tetapi semua yang kita kerjakan itu merupakan kesatuan dengan hal yang rohani..


Firman Tuhan mengatakan,


ā€œApa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.ā€ (Kolose 3:23-24).


Kita telah belajar dalam Perjanjian Lama (PL) di mana Hukum Taurat mengajarkan,


ā€œApabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya.ā€ (Imamat 24:19-20).


Tetapi di dalam Perjanjian Baru (PB) dalam Hukum Kasih Karunia, Tuhan Yesus mengajar..


ā€œKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.ā€ (Matius 5:38-39).


Dengan kata lain, Tuhan ingin agar setiap dari kita memiliki keunggulan di dalam hidup. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkannya dengan kebaikan dan pada akhirnya, hanya nama-Nya yang dipermuliakan.


Bukti Sejarah: Sistem Manajemen Yusuf.


Kejadian 41 mencatat pada kita sebuah kisah di mana Firaun bermimpi tentang,


ā€œTampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu. Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun. Setelah itu tertidur pulalah ia dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Firaun. Agaknya ia bermimpi!ā€ (ayat 2-7).


Setelah itu Firaun memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir dan menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya.


Singkat cerita, hikmat Allah yang disampaikan melalui Yusuf dapat mengartikan apa arti mimpi, sekaligus mempersiapkan segala sesuatunya.


Melaluinya kita dapat belajar,


Ketika Yusuf menerima visi melalui mimpi Firaun, dirinya tidak hanya mendapat hikmat untuk dapat mengartikan apa arti mimpi itu saja tetapi juga dimampukan untuk dapat membaca tren makro-ekonomi pada tahun-tahun mendatang.


Hikmat Tuhan juga mengajar Yusuf untuk mempersiapkan infrastruktur / lumbung yang dipergunakan untuk mengelola sumber daya pada saat surplus, dengan cara memungut seperlima dari hasil tanah Mesir selama tujuh tahun kelimpahan. Hal ini dilakukan agar hasil tanah tersebut dapat menjadi persediaan bagi bangsa Mesir dalam tujuh tahun kelaparan di masa mendatang, supaya negeri tersebut tidak binasa karena kelaparan itu.


Melalui hikmat Tuhan yang disampaikan melalui Yusuf, melahirkan solusi yang berdampak luas dan menyelamatkan bangsa Israel, Mesir, dan juga dari bangsa di seluruh bumi (ayat 56-57).


Apa aplikasi praktisnya?


Masa krisis bukanlah alasan bagi kita untuk bermalas-malasan. Jadilah seorang profesional yang selalu meng-update skill / meningkatkan kemampuan, mengelola keuangan dengan bijaksana, dan menjadi pengusaha jujur yang dipimpin oleh hikmat Tuhan.


maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: ā€œJangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.ā€ (Ester 4:13-14).


Kita dapat belajar dari apa yang dialami Ester. Mordekhai, pamannya, mengingatkan Ester untuk tidak merasa nyaman dan menjadi egois dengan keadaannya yang berada di dalam istana—sementara bangsanya terancam untuk dimusnahkan. Melaluinya kita belajar..


Jangan pernah kehilangan purpose / tujuan Ilahi, apa pun musim kehidupan yang sedang kita lalui. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan, pasti ada maksud dan tujuan-Nya bagi setiap kita.


Tantangan Ketiga: Krisis memicu sifat egois.


Hal apa yang menjadi pemicunya?


: Tekanan ekonomi yang menghidupkan insting untuk bertahan hidup / survival mode.


Melaluinya, manusia memiliki naluri..


: Menimbun sumber daya yang ada hanya untuk dinikmati dirinya sendiri, berhenti memberi / menyumbang, dan berhenti melayani sesama.


Padahal fakta realitasnya, justru di saat paling gelap inilah dunia membutuhkan terang Kristus yang bercahaya melalui kehidupan anak-anakNya.


Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya: ā€œBeginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!ā€ Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: ā€œApakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (Hagai 1:1-5).


Alkitab tidak menuliskan pada kita dengan jelas apa alasan di balik Yehuda mengatakan bahwa belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan. Bisa jadi karena bangsa tersebut sedang menghadapi banyak tantangan, sehingga mereka lebih memilih untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dan hidup dalam survival mode.


Apa yang disampaikan Hagai pada zaman tersebut tampak relate dengan apa yang sedang kita alami hari-hari ini. Mungkin kita masih berjuang untuk menghadapi banyak pergumulan hidup, sehingga kita tidak memiliki waktu untuk melayani.


Atau bisa jadi karena kita sedang menikmati banyak berkat Tuhan, tetapi justru hidup kita berujung pada kekosongan. Sama seperti yang ditulis di dalam firman-Nya di ayat selanjutnya,


ā€œKamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!ā€ (ayat 6).


Lebih lanjut Dia mengatakan,


ā€œKamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.ā€ (ayat 9).


Hari-hari ini kita menjadi terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri dan membiarkan rumah-Nya menjadi reruntuhan. Kita sudah lama meninggalkan hubungan karib kita dengan Dia, dan membiarkan menjadi reruntuhan serta terabaikan. Karena itu arahkan kembali hidup kita pada-Nya, kembalilah pada kasih kita yang mula-mula.


Ketika hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, maka berkat Tuhan di hidup kita juga dipulihkan.


Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN. Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: ā€œAku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN.ā€ (Hagai 1:12-13).


Respons Ketiga: Menjadi Saluran Berkat dan Mengutamakan Misi Kerajaan Allah.


ā€œTetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.ā€ (Matius 6:33).

Apa pun musim di hidup kita, jangan pernah kehilangan fokus untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan juga kebenaran-Nya. Selalu ada purpose / tujuan Ilahi atas semua hal yang sudah diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup ini.


ā€œDan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.ā€ (2 Korintus 9:8).


Mintalah hikmat dari Tuhan agar kita dapat mengelola keuangan dengan benar dan bijaksana. Kita tahu kapan saatnya harus memberi, dan kapan saatnya harus menyimpan untuk masa depan.


Bukti Sejarah: Radikalisme Gereja Mula-mula.


ā€œDan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.ā€ (Kisah Rasul 2:44-47).


Ayat di atas memiliki konteks di mana gereja mula-mula hidup di bawah penjajahan politik dan juga mengalami krisis ekonomi yang parah. Tetapi gereja mula-mula memilih untuk tetap bertindak dengan kasih, saling berbagi, menopang, dan juga memperhatikan kebutuhan sesama.


Gereja Tuhan memilih tidak egois, mau menjadi berkat bagi sesama, dan juga bertumbuh bersama-sama di dalam Tuhan. Akibatnya, terjadi dampak supranatural dan Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.


Apa aplikasi praktisnya?


Gereja Tuhan dapat bertumbuh bukan karena situasi perekonomian mereka sedang berlimpah, melainkan karena adanya tindakan kasih yang nyata. Tetaplah memberi, melayani, dan juga menjadi pembawa harapan dan terang Kristus bagi dunia yang sedang terhilang ini. Amin.




Terang Sejati Bersinar di Masa Kelam.


Dari keteladanan gereja mula-mula di dalam Kisah Rasul pasal 2, kita dapat belajar sekalipun mereka sedang hidup di bawah tekanan yang berat, mereka memutuskan untuk tetap berbagi. Kita melihat hasil akhirnya, Tuhan menambahkan jumlah mereka.


Di masa krisis modern, khususnya pandemi COVID-19 yang telah berlalu, kita juga dapat belajar di saat dunia sedang panik dan menimbun banyak barang.. gereja Tuhan memutuskan untuk membuka dapur umum dan menyalurkan bantuan logistik bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Karena itulah,


Tetaplah menabur, melayani, dan menolong sesama yang membutuhkan pertolongan-Nya.


ā€œAda yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.ā€ (Amsal 11:24).

ā€œSekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.ā€ (Habakuk 3:17-19).


Habakuk tidak memuji Tuhan karena indikator perekonomian membaik, tetapi ia memuji Tuhan karena Allah yang kita sembah, tetap setia.


Dia masih sanggup untuk memberkati dan memelihara kehidupan anak-anakNya.


Jadilah Terang di tengah Badai.

Jadikan firman Tuhan bukan sekadar penghiburan di masa sulit, tetapi membentuk cara hidup kita yang sama sekali berbeda dengan cara orang dunia. Saat dunia terguncang karena ketakutan, biarlah hidup kita membuktikan bahwa kita tinggal di dalam Kerajaan Allah yang tak terguncangkan.


Milikilah kasih, tetap setia, dan milikilah pengharapan pada Kristus. Biarlah Tuhan sendiri yang memberkati apa yang dikerjakan oleh tangan kita, dan Dia memberikan hasil terbaik yang dapat memuliakan nama-Nya.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page