top of page

Jose Carol - Fruitful in Every Season

  • 31 Mar
  • 13 menit membaca

Catatan Khotbah ā€œFruitful in Every Season.ā€ Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Jose Carol, di Shine Women Conference 2025 ā€œFRUITFULā€ pada Tgl. 30 Agustus 2025, yang diadakan di MDC Graha Pemulihan..


Untuk mendapat dan mengalami hikmat dari Tuhan, setiap dari kita bisa jadi diizinkan untuk diperhadapkan dengan berbagai pilihan sulit. Bahkan terkadang Tuhan tidak menunjukkan jalan mana yang harus kita pilih, tetapi Dia memberi kesempatan bagi setiap kita untuk dapat memilih jalan yang terbaik, berdasarkan prinsip kebenaran firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab.


Sembari kita tetap tinggal di dalam kebenaran firman-Nya, supaya pada akhirnya buah Roh itu dapat dihasilkan dari hidup kita, dan menjadi berkat yang memuliakan nama-Nya.


Sering kali Tuhan juga mengizinkan kita menghadapi pilihan dan keadaan sulit, yang di mana tujuan akhirnya adalah untuk membangkitkan kekuatan di hidup kita.


Memang, tidak ada seorang pun yang mau berdoa untuk mendapatkan pilihan, keadaan, dan hubungan yang sulit itu terjadi di dalam hidupnya. Bahkan sekelas Rasul Paulus sendiri pastinya juga tidak pernah meminta untuk dirinya dapat masuk ke dalam penjara terlebih dahulu agar dapat mengalami kuasa dan mukjizat Tuhan,


ā€œAkan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.ā€ (Kisah Rasul 16:26).


Tetapi kita semua tahu,


Mukjizat Tuhan justru terjadi pada saat situasi dan kondisinya sedang tidak ideal.


Percayalah bahwa musim kehidupan yang diiizinkan untuk kita lalui ini tidak pernah salah, apa pun keadaan yang sedang dihadapi hari-hari ini. Mau kita sedang mengalami kesulitan atau promosi di dalam pekerjaan, menghadapi anak-anak di musim mereka berusia bayi, remaja, ataupun sudah dewasa, apa pun musimnya..


ā€œIa membuat segala sesuatu indah pada waktunya..ā€ (Pengkhotbah 3:11).

Kata ā€œnyaā€ di ayat di atas tidak ditulis dengan huruf ā€œNā€ besar yang menunjukkan Pribadi Tuhan, tetapi ditulis dengan ā€œnā€ kecil yang menunjukkan season / musim kehidupan yang sedang kita jalani.


Kalaupun kita harus menghadapi keadaan sulit, ketahuilah ā€œwaktu yang indahā€ adalah pada saat kita sedang menghadapi keadaan sulit tersebut. Semua ada musimnya, bahkan ketika kita diizinkan mengalami keadaan tidak ada pekerjaan / menganggur.. tidak ada yang namanya kebetulan, tetap hal ini bisa dikatakan ā€œindah pada waktunyaā€ walau kita harus membayar banyak tagihan.


Kalaupun kita diizinkan masih sendirian / single, percayalah bahwa hal ini tetap adalah musim terindah, walau kita harus datang ke pesta pernikahan sendirian dan melihat teman-teman kita datang dengan membawa pasangannya.


Kalau memang waktunya melepas anak kita ke jenjang pernikahan, kita tidak bisa lagi bersama dan ā€œmenggangguā€ mereka lagi.. maka ketahuilah bahwa tetap ini adalah musim terindah yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita.


Tetapi yang menjadi pertanyaannya,


ā€œHal apakah yang akan kita lakukan pada saat mengisi musim-musim tersebut, di mana nantinya dapat menentukan apakah kita bisa berbuah atau tidak bagi kemuliaan-Nya.ā€


Di Jakarta sendiri, Pdt. Jose sering menjumpai banyak kisah perempuan yang sering kali mereka bergumul dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan pengertian dan perspektif / sudut pandang, mengenai musim yang sedang dihadapi.


Entah hal itu berupa pencapaian hidup, berbagai keberhasilan, materi / uang, jabatan, kekuasaan dan popularitas yang bisa diraih selama hidup di dalam dunia ini.. semuanya itu tidak akan pernah bisa mengisi kebutuhan di dalam batin, agar kita dapat merasa bahagia dan juga mendapat kepuasan di dalam hidup. Semua hal yang tampak begitu sempurna yang dapat diraih di dunia ini sesungguhnya tidak akan pernah bisa mengisi kepuasan yang paling mendalam di batin dan jiwa, yang di mana para psikolog menyebutnya,


Fulfilling Life, yang berarti memiliki kehidupan yang memuaskan, bermakna, dan lengkap, di mana seseorang merasa hidupnya telah mencapai tujuan dan kepuasan secara menyeluruh.


Bagaimanapun juga yang namanya hidup memang masih membutuhkan materi / uang yang tercukupi, kesehatan, kehidupan yang dapat memberikan dampak, kesuksesan.. tetapi Alkitab memberitahu kita bahwa rahasia dari fulfilling life / hidup yang dapat merasa puas itu baru terpenuhi.. ketika hidup kita dapat berbuah bagi sesama.


Ada dua pertanyaan yang bisa direnungkan bersama agar hidup kita dapat berbuah,


ā€œMengapa kita berada di sini sekarang? Apa alasan kita hidup / menghidupi masa kini?ā€


Kita perlu tahu apa alasan eksistensi / keberadaan kita di masa yang sekarang. Tuhan ini memiliki tujuan seperti apa, di dalam hidup kita? Hal ini sangatlah mendasar. Kekayaan, pencapaian, bahkan keberhasilan tidak akan pernah bisa mengisi penuh kepuasan di batin kita, dan sering kali hal ini malah meninggalkan jejak kehampaan dan ā€œlubang yang cukup besarā€ di dalam hati banyak orang.


Ada kisah seorang anak muda yang baru berusia 32 tahun yang memutuskan untuk menjual perusahaannya, kira-kira bernilai 300 miliar. Dirinya bercerita kalau dulunya memiliki prinsip bahwa seorang sukses itu adalah seorang yang berhasil meraih segala sesuatu yang berada di dalam dunia ini. Tetapi setelah sampai ā€œdi puncak gunungā€ dirinya merasa apa yang dicarinya selama ini, tidak pernah ditemukannya. Malah justru dirinya menjumpai berbagai kehampaan.


Pdt. Jose mengatakan,


ā€œHal ini dikarenakan kamu tidak tahu untuk tujuan apa, kamu berada di tempat tersebut.ā€


Keberhasilan dunia tidak akan pernah bisa mengisi penuh kepuasan batin, demikian pula dengan kegagalan atau kesengsaraan tidak selalu sifatnya dapat menghancurkan hidup kita.


Alkitab mencatat banyak kisah orang yang sengsara hidupnya, tetapi mereka tidak berputus asa. Tetapi ada orang yang baru saja mencapai keberhasilan bisa berputus asa, karena ada hubungannya dengan pengertian, apakah mereka tahu tujuan Tuhan memberkati hidup mereka itu untuk apa. Sebab mereka selama ini tidak pernah tahu untuk apa tujuan-Nya ketika mereka diizinkan mendapat kekayaan, popularitas, dan kehebatan. Bahkan kita bisa saja memiliki banyak waktu, tetapi sama sekali tidak tahu mau diisi apa waktu tersebut.


Karena itu bila ada seseorang yang hidupnya mengalami kesengsaraan, tetapi karena tahu untuk apa dirinya diizinkan mengalami semua hal yang tidak mengenakkan tersebut.. maka dirinya tetap memiliki pengharapan dan tidak mudah berputus asa. Dirinya percaya dengan menjaga teguh pengharapannya, dan ada Pribadi Tuhan yang selalu memberi kekuatan di dalam hidupnya, maka pada waktu-Nya kelak dirinya akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan dan ada banyak buah Roh yang dihasilkan melalui hidupnya.


Despair / Keputusasaan adalah keadaan pada saat seseorang mengalami kesengsaraan, tetapi tidak dapat memahami mengapa dirinya harus mengalami semua momen kesengsaraan tersebut.


Mengapa kesuksesan bisa menjadi kehampaan? Karena kesuksesan hanya berhenti sampai di titik memuaskan diri kita sendiri saja. Tetapi bila kita mau berbuah, maka fokusnya tidak berhenti hanya sampai di diri kita, tetapi pada sesama.


Kalau kita memutuskan untuk mau berbuah, maka Tuhan sendiri yang akan memberkati kita dengan keberhasilan karena kita tidak mungkin dapat berbuah bagi sesama bila diri kita tidak berhasil terlebih dahulu. Dari semua keberhasilan yang Tuhan beri bagi setiap kita, jangan berhenti hanya di titik menikmati keberhasilan itu saja dan hanya mementingkan diri kita sendiri.


Biarlah Tuhan terus memakai kita untuk dapat memuliakan-Nya, dan menjadi berkat serta terang Kristus bagi sesama yang membutuhkan-Nya.


Kalau kita tidak tahu tujuan apa yang hendak dicapai, dan untuk apa kita hidup.. maka kita bisa saja memiliki waktu, materi, dan banyak hal tetapi kita tidak dapat mengelolanya dengan efektif kalau kita tidak tahu apa prioritas dan kegunaannya, serta apa saja yang dapat dibangun melaluinya.


Apa yang Tuhan percayakan di dalam hidup, untuk musim yang sedang dijalani?


Poin Pertama. Kalau kita tahu apa yang Tuhan percayakan di dalam hidup ini, maka kita akan hidup dalam damai dan memiliki rasa aman.


Pada tahun 1999 awal, Pdt. Jose memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah momen kerusuhan yang terjadi di Indonesia, di tahun 1998. Gereja JPCC pada saat itu juga baru dirintis, tepatnya pada Tgl. 4 Juli 1999. Banyak orang menyesalkan mengapa Pdt. Jose memutuskan untuk meninggalkan segala bentuk kenyamanan dan kepastian selama 14 tahun tinggal di Eropa, sedangkan banyak orang dengan susah payah dan sangat menginginkan untuk mengalami apa yang sudah dialami Pdt. Jose.


Tak hanya sampai di situ saja, banyak orang juga mempertanyakan apakah Pdt. Jose tidak takut untuk kembali ke Jakarta? Dirinya menjawab,


ā€œRasa takut itu bukanlah kondisi yang berada di luar, tetapi kondisi yang berada di dalam.ā€


Kita boleh saja diizinkan berada di situasi badai kehidupan, tetapi kalau di dalam hati kita ada Sang Damai yaitu Tuhan Yesus sendiri, maka kita bisa tidur dengan nyenyak ā€œdi buritan di sebuah tilamā€ sama seperti yang sudah dilakukan-Nya di momen ā€œAngin Ribut Diredakanā€ (Markus 4:35-41)


Tetapi kalau kita berada di dalam keadaan tenang, dan kita tidak bisa mengendalikan rasa takut yang terus bergelora di dalam hati.. maka di tengah kondisi yang super nyaman sekalipun, kita tetap akan merasa dan dikuasai ketakutan.


Ketika berdiam Sang Damai di dalam hati, memang kita tidak mengabaikan kondisi yang ada, tetapi kita tidak perlu sampai membesarkan ketakutan. Kita dapat berkata pada badai ketakutan tersebut,


ā€œDiam! Tenanglah!ā€

Sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus pada saat meredakan angin badai (Markus 4:39).


Kalau kita tahu dengan pasti mengapa kita ada, maka kita akan merasakan damai dari-Nya. Kalau kita tahu siapa identitas jati diri kita, maka kita tidak akan sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab setiap kita sudah didesain Tuhan dan memiliki tujuan hidup berbeda. Ketika Sang Damai itu memenuhi hati dan hidup kita, maka kita dapat merasa tenang dan tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain.


ā€œDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.ā€ (Yeremia 17:7-8).


Dari ayat di atas kita belajar bahwa seseorang yang hidupnya mengandalkan dan terus menaruh harapannya hanya pada Tuhan, maka Dia akan memampukan setiap kita untuk secara konsisten menghasilkan buah dan memuliakan-Nya.


ā€œTapi orang yang berharap kepada-Ku akan Kuberkati selalu. Ia bagaikan pohon di tepi sungai yang mengalir; akarnya merambat sampai ke air. Ia tak takut musim kemarau, daun-daunnya selalu hijau. Sekalipun negeri dilanda kekeringan, ia tak gelisah sebab ia selalu menghasilkan buah.ā€ (‭‭Yeremia‬ ‭17‬:‭7‬-‭8‬, versi Bahasa Indonesia Masa Kini / BIMK). ‬‬


Dari ayat yang sama tetapi dari versi Alkitab yang berbeda kita juga dapat belajar bahwa, seseorang yang selalu berharap pada Tuhan tetap diizinkan mengalami ā€œmusim kemarauā€, dan kita juga tidak diluputkan. Tetapi yang menjadi perbedaannya adalah tetangga kita bisa takut ā€œmusim kemarau,ā€ tetapi Tuhan yang akan memberkati dan memelihara sehingga kita tidak perlu takut dan kuatir dalam menghadapi musim ini.


Ayat tersebut juga dilanjutkan,


ā€œ..Sekalipun negeri dilanda kekeringan, ia tak gelisah sebab ia selalu menghasilkan buah.ā€

Selama kita masih hidup di dalam dunia, kita juga tidak luput dari ā€œmusim kemarau dan kekeringan.ā€ Tetapi yang menjadi perbedaannya adalah, kita tidak menjadi takut dan gelisah, karena ada Sang Damai yang selalu menyertai dan memberkati diri kita. Dia juga yang akan selalu memampukan setiap kita untuk konsisten menghasilkan buah, apa pun musim kehidupan yang sedang dilalui.


ā€œLalu Ia berkata kepada mereka: ā€œMengapa kamu begitu takut?ā€ (Markus 4:40).

Rasa damai atau takut bergantung dari apa yang kita lihat, dan apa yang berada di dalam hati kita. Kalau pada saat itu murid-murid memutuskan untuk tetap melihat dan percaya pada Sang Guru, mungkin saja mereka tidak akan menjadi panik sama seperti yang ditulis di dalam Alkitab.


Menurut beberapa sarjana Alkitab, kata ā€œDiam! Tenanglah!ā€ ditulis bukan ditujukan pada fenomena alam seperti angin atau badai, tetapi merupakan kata perintah yang diucapkan dan ditujukan pada orang kedua. Dengan kata lain, Tuhan Yesus sedang berkata dan memerintahkan oknum yang sedang bekerja di balik angin dan badai ini, yang ingin menghadirkan ketakutan dan membuat para murid tidak lagi berfokus pada Tuhan Yesus.


Di dalam versi Aramaic Bible in Plain English (ABPE) ditulis,


ā€œAnd he arose and rebuked the wind and he said to the sea, ā€˜Stop! Shut up!ā€™ā€œ.

Tuhan Yesus begitu tegas dan menyuruh berhenti dan diam kuasa gelap tersebut, yang sudah membuat para murid mengalami ketakutan.


Karena itulah kalau kita tahu dengan pasti apa alasan kita ada, dan menyadari seutuhnya ada tangan Tuhan yang berkuasa dan berdaulat dalam menyertai hidup kita.. walau bisa jadi kita baru menerima laporan kesehatan dan keuangan yang kurang baik, dan juga berbagai laporan kurang baik lainnya, kita dapat memutuskan untuk tetap menjaga damai sejahtera yang ada di dalam hidup kita, dan tidak membiarkan damai tersebut dicuri musuh dengan begitu mudahnya.


Kita memiliki damai bukan karena kondisi yang tampak dari luar, tetapi karena ada Sang Damai yakni Tuhan Yesus yang berdiam di hati kita. Itulah sebabnya kita dapat berkata,


ā€œDiam! Tenanglah!ā€

Pada setiap kuasa gelap agar mereka berhenti membuat takut suami / istri kita, anak-anak kita, komunitas kita, gereja, kota Surabaya, dan juga bangsa Indonesia. Kita dapat dengan yakin dan penuh iman memperkatakannya, karena Tuhan sendiri yang menempatkan kita untuk dapat menjadi berkat dan terang Kristus.


Poin Kedua. Kalau kita tahu apa yang Tuhan percayakan di dalam hidup ini, maka kita akan hidup di dalam sukacita.


Kalau kita tahu untuk apa alasan kita hidup, mengapa kita berada di sebuah tempat untuk berkarya bersama komunitas tertentu.. semua dengan tujuan agar kita bisa belajar apa yang namanya penguasaan diri, serta melatih, menguasai, dan menerapkan kasih karunia-Nya pada sesama yang membutuhkan-Nya.


Karena itulah milikilah keyakinan, apa pun musim kehidupan yang sedang dilalui, Tuhan pasti memiliki maksud dan tujuan di balik itu semua. Tuhan yang berdiam di dalam diri kita masih jauh lebih kuat dan berkuasa dari semua keadaan yang sedang dialami. Tuhan tidak pernah lalai dalam memberkati dan menjagai anak-anakNya.


ā€œSemuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.ā€ (Yohanes 15:11).

Di dalam Yohanes 15 berbicara tentang Tuhan Yesus sebagai Pokok Anggur, dan setiap kita yang diperintahkan-Nya untuk berbuah. Dan sukacita dari Dia hanya bisa dialami, ketika kita mau berbuah dan tidak memikirkan diri kita sendiri. Kita mulai berhenti bersikap childish / kekanak-kanakan dan mulai bertumbuh dewasa rohani, tidak hanya memikirkan mau kita sendiri.


Hidup yang penuh dengan sukacita Kristus, bukan berarti kita sudah tidak lagi menghadapi kondisi sulit yang diizinkan terjadi. Justru sukacita yang Dia janjikan dapat kita alami, ketika kita memutuskan untuk mau menjalani setiap musim di dalam hidup ini dengan selalu menyertakan-Nya,


ā€œTinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.ā€ (Yohanes 15:4).


ā€œDemikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.ā€ (Matius 5:16).


Ketika kita melakukan ayat firman Tuhan di atas, ada sukacita besar yang kita alami, di balik kehidupan yang serba tidak menentu ini.


Pertanyaan Pertama adalah mengapa kita ada, apa alasan di balik semuanya itu. Kalau kita bisa menjawabnya, maka kita akan memiliki kesempatan dan selalu dimampukan Tuhan untuk dapat berbuah serta memuliakan Dia.


Pertanyaan Kedua adalah untuk siapa kita hidup, dan menghidupi diri kita.


Mungkin secara otomatis kita akan menjawab bahwa kita hidup selama ini dan bekerja keras adalah untuk keluarga dan berusaha membahagiakan mereka. Tetapi sadarkah kita kalau kita menghidupi semuanya itu sesungguhnya untuk Tuhan yang telah memanggil setiap kita?


Pernikahan dan identitas gambar diri anak-anak.


Adalah dua hal yang sedang diserang dan dirusak Iblis pada hari-hari ini. Bayangkan saja apa yang akan terjadi bila ada pernikahan sesama jenis yang dilakukan, dan anak-anak akan merasa kebingungan melihat bentuk fisik yang tidak seharusnya, dari kedua orang tuanya.


Identitas gambar diri anak-anak menjadi rusak, masa depan mereka menjadi rusak, generasi emas tidak dapat tercapai, sehingga tidak ada lagi yang namanya pernikahan emas. Istilah ā€œpernikahan emasā€ di sini bukan soal lama waktunya pernikahan tersebut berlangsung, tetapi lebih berbicara tentang bagaimana kualitas dari pernikahan tersebut membawa dampak di hidup anak-anaknya.


Mengapa pernikahan dan generasi anak-anak mengalami ancaman seperti ini?


Kita kembali diingatkan di dalam Kejadian pasal 1, di mana Tuhan memberkati bumi melalui menjadikan manusia dan juga memberkati mereka berdua (laki-laki dan perempuan) melalui pernikahan kudus di hadapan-Nya (ayat 26-31). Tuhan menyerahkan pengelolaan bumi ini dengan mempercayakan Adam dan dirinya juga diberi Tuhan pasangan hidup (2:18-24).


Karena itulah alasan menikah bukan hanya memiliki teman hidup saja, tetapi supaya kita dibekali dengan semua yang Tuhan sudah sediakan, dengan tujuan agar kita bisa mengelola ciptaan-Nya dengan baik dan bijaksana.


Bumi diserahkan pada Adam, dan dirinya juga diberi pasangan hidup yakni seorang perempuan (2:21-23). Adam tidak dipercayakan sebuah perusahaan, tetapi diberi keluarga. Karena fondasi dari berkat sesungguhnya adalah keluarga.


Hari-hari ini kita mendapati bahwa Iblis berusaha dengan sekeras mungkin untuk terus menghancurkan keluarga dan juga pernikahan, dan merusak identitas dan gambar diri anak-anak. Sehingga pada akhirnya kita semua menjadi bingung dengan identitas diri kita, dan tidak lagi dapat menikmati berkat-berkat dari Tuhan.


Untuk siapa menghidupi diri kita?

Kalau kita bisa menjawab dua pertanyaan ini, maka apa pun musim kehidupannya, kita akan bisa mengalami apa yang namanya Fulfilling Life. Mungkin tidak ada sesuatupun yang berubah, tetapi kita dapat menjalani hidup ini dengan damai, sukacita, dan bahkan diberi kekuatan oleh-Nya.


Karena kita tahu apa alasannya mengapa kita ada, kita tahu mengapa kita masih dipercayakan waktu dan nafas di dunia ini, dan kita tahu untuk Siapa yakni untuk Tuhan, alasan kita hidup.


Bukan berarti kita sudah tidak mau berdoa lagi agar hal-hal yang kurang baik di dalam hidup kita dapat berubah—kita bisa terus mendoakannya. Tetapi kebahagiaan dan kepuasan di dalam hidup tidak lagi bergantung pada setiap perubahan yang ada, tetapi pada pewahyuan dari Dia dan juga firman-Nya di dalam Alkitab. Kita ada di musim ini karena alasan yang sangat jelas, dan kita menjalaninya bagi Dia, dan bersama dengan-Nya.


Ketika kita tahu untuk apa alasan kita hidup, maka kita akan diberi hikmat untuk dapat mengatur apa yang berguna dan membangun iman. Kita bisa melihat berbagai tantangan dan kesulitan yang diizinkan-Nya terjadi, ini semua adalah benih dan sekaligus kesempatan yang sangat berharga, agar kita bisa berbuah lebih lebat lagi.


Inilah waktunya agar kita lagi memikirkan diri sendiri, dan mulai memikirkan sesama.


ā€œMemang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.ā€ (Kejadian 50:20).


Memang kamu (saudara-saudara Yusuf) sudah menjual, meninggalkan, dan berusaha membunuh di sumur. Memang Yusuf sudah difitnah tante Po sehingga dirinya masuk ke dalam penjara, dilupakan juru minuman yang sudah ditolong diartikan mimpinya.. semua yang dialami Yusuf tidak berada dalam keadaan baik-baik saja.


Yusuf mengalami hubungan, keadaan, dan pilihan sulit yang harus dihadapi. Semua sangat tidak mengenakkan.. tetapi Yusuf tahu,


ā€œ..Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.ā€


Yusuf menyadari bahwa Tuhan yang dia sembah masih memiliki rencana yang jauh lebih besar dari semua hubungan, keadaan, dan pilihan sulit yang harus dihadapi dan diselesaikannya.


Kekuatan hanya bisa dibangun kalau kita mau menghadapi tantangan dan krisis. Tuhan mau membangun kekuatan di dalam diri kita. Karena itulah tinggalkan warisan yang melebihi nilai mata uang yang bisa didapat dari dunia ini, yakni warisan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan yang ā€œtak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panasā€, yang jejak keteladanannya dapat diikuti oleh generasi penerus kita. Firman Tuhan mengatakan,


ā€œAku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.ā€ (2 Timotius 4:7)

Selesaikan dan akhiri pertandingan di hidup kita dengan baik. Peliharalah iman kita tetap setia sampai di garis akhir, dan selesaikan apa yang sudah Tuhan percayakan di dalam hidup ini.


Salah satu suvenir yang panitia berikan pada peserta conference adalah cermin kecil yang di dalamnya bertuliskan no filter. Melaluinya kita dapat belajar untuk membersihkan setiap noda dosa di dalam hidup, dan melihat diri kita sama seperti Tuhan yang sudah melihat setiap kita adalah ciptaan yang sempurna,


ā€œMaka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.ā€ (Kejadian 1:27).

Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain, karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Dia, tidak kurang dan tidak lebih.


Biarlah melalui cermin kecil ini, setiap hari dan di manapun kita berada.. kita selalu diingatkan untuk dapat menjadi the best version of us / versi terbaik diri kita, dan menjalani kehidupan bagi Tuhan yang memiliki rencana dan panggilan besar dalam hidup kita.. jauh lebih besar dari semua hubungan, keadaan, dan pilihan sulit yang harus dihadapi dan kita selesaikan dengan well done! šŸ™‚


Tulislah kembali apa komitmen yang hendak kita perbarui di hadapan Tuhan, yakni menjalani kehidupan yang dapat memuliakan nama-Nya.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page