Gunawan Iskandar - Prayer brings Victory
- 1 hari yang lalu
- 7 menit membaca
Catatan Khotbah: “Prayer brings Victory.”
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Gunawan Iskandar di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 7 Juni 2026.
Sebagai gereja Tuhan, kalau kita mau memenuhi panggilan di dalam hidup agar dapat dibawa Tuhan menjadi lebih kuat dan juga lebih tinggi, maka tidak ada cara singkat lainnya selain dari kita harus hidup, membangun, dan berakar di dalam doa.
Firman Tuhan mengatakan,
“mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” (Yesaya 56:7).
Doa-doa kita seharusnya membawa kemenangan. Selama ini kita juga banyak diajar kalau doa adalah napas hidup dari orang beriman, tetapi banyak dari kita dijumpai tidak lagi dapat “hidup” dan mengalami kemenangan karena jarang berdoa.
Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan.” (Yosua 6:2-5).
Selama 400 tahun lamanya bangsa Israel berada di bawah penindasan Mesir, dan mereka menjadi budak serta tidak mengetahui bagaimana caranya untuk berperang. Selain itu mereka juga dibawa Tuhan untuk berputar-putar di padang gurun karena sikap hati mereka yang bersungut-sungut dan memberontak, setelah momen dua belas orang yang mengintai Kanaan (Bilangan 13-14).
Tetapi setelah Musa mati dan kepemimpinan Israel dilanjutkan Yosua bin Nun, Tuhan memberi tantangan dan cara hidup yang baru sebagai umat-Nya, di mana mereka nantinya akan menuju negeri yang Tuhan sudah janjikan kepada mereka.
Selama ini Israel selalu berteriak dan bersungut-sungut meminta banyak hal pada Tuhan, tetapi di tanah perjanjian, mereka harus belajar menabur, menunggu benih itu bertumbuh, dan memakan apa yang dihasilkan dari tanah tersebut.
Firman Tuhan mengatakan,
“Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga. Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.” (Yosua 5:11-12).
Israel adalah gambaran dari gereja-Nya di masa kini. Sering kali di dalam doa, kita hanya membuatnya sebagai rentetan permintaan pada Tuhan. Tetapi kita belajar bagaimana doa dapat membawa kemenangan di dalam hidup kita.
Pertama. Membangun Kehidupan Doa yang Konsisten.
Hal ini memiliki arti membangun kehidupan doa tidak dilakukan hanya pada saat kita sedang memerlukan, mengalami keadaan terdesak, dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Kata “konsisten” itu sama seperti apa yang diperintahkan Tuhan untuk dilakukan oleh Yosua dan juga bangsa Israel..
“Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya,” (Yosua 6:2-3).
Bangunlah kehidupan doa kita di setiap harinya, tidak hanya saat kita ada perlunya saja.
“The value of consistent prayer is not that He will hear us, but that we will hear Him. Nilai sesungguhnya dari kehidupan doa yang terus dibangun secara konsisten bukanlah Dia dapat mendengar permohonan yang kita naikkan, tetapi agar kita dapat mendengar suara-Nya berbicara di dalam hidup kita.” (William J. McGill).
Sering kali kita dengan bersegera mengakhiri berbagai permohonan doa kita dengan kata “Amin!” dan sangat jarang kita menyediakan waktu untuk berhenti sejenak dan mendengar suara-Nya. Saat Dia mau menjawab berbagai permohonan doa, kita sendiri sudah terburu-buru mengakhirinya.
Kalau kita mau belajar untuk membangun kehidupan doa, maka kita tidak hanya terus menyampaikan berbagai permohonan doa sampai tuntas saja.. tetapi juga menyediakan waktu untuk berdiam diri dan mendengarkan suara-Nya.
Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! maka kamu harus bersorak.” Demikianlah tabut TUHAN mengelilingi kota itu, mengedarinya sekali saja. Kemudian kembalilah mereka ke tempat perkemahan dan bermalam di tempat perkemahan itu. (Yosua 6:10-11).
Saat Yosua memerintahkan bangsa Israel untuk berdiam diri dan tidak boleh memperdengarkan suara mereka.. sesungguhnya mereka sedang diajar dan didisiplin dari kebiasaan mereka yang selama ini suka untuk bersungut-sungut.
Melalui peristiwa tersebut, Tuhan juga ingin agar kita belajar berdiam diri untuk mendengar suara-Nya dan tidak terus berbicara di dalam doa-doa kita. Saat kita berdoa dan membaca firman-Nya di dalam Alkitab, kita sedang membangun relasi yang lebih karib bersama dengan-Nya.
Inilah esensi sesungguhnya dari doa. Dengan berdoa dan juga membaca kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab adalah satu kesatuan, di mana tujuan akhirnya adalah agar kita dapat mendengar suara Tuhan berbicara di dalam khidup kita. Karena itu bangunlah kehidupan doa dengan konsisten. Firman Tuhan sendiri juga mengatakan,
“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2).
Di dalam kata konsisten, memiliki unsur kata rutinitas. Bahkan di dalam kata konsisten ini juga berbicara tentang “ritual” berulang yang kita lakukan dalam hidup keseharian.
Misalnya kalau kita mau mendapat manfaat dari sebuah produk skincare / perawatan kulit, maka kita harus melakukannya dengan rutin. Mau sesering dan secapai apa pun kita melakukannya, skincare tersebut harus dipakai secara konsisten agar kita mendapatkan manfaatnya.
Demikian pula bila kita ingin bertumbuh menjadi gereja yang kuat di dalam hidup kerohanian dan dapat memenuhi panggilan kita.. maka tidak ada cara lainnya selain dari kita membangun hidup kita di dalam doa dan membaca firman-Nya. Kita melakukannya tidak hanya saat terdesak saja, tetapi terus membangunnya secara konsisten.
Kedua. Doa harus disertai dengan Iman dan Ketaatan.
Dua hal di atas adalah satu paket kesatuan. Di dalam kitab Yakobus sendiri juga dikatakan,
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17).
Iman harus disertai dengan perbuatan, yakni ketaatan kita melakukan firman-Nya.
Sering kali kita mengatakan kalau kita ingin agar hidup kita dapat diberkati, dan sebenarnya Tuhan juga ingin memberkati hidup kita. Tetapi pada kenyataannya, kita berhenti hanya sampai di tahap berseru menaikkan permohonan doa dan setelah itu kita tidak mau taat melakukan firman-Nya.
Setiap dari kita memiliki kartu ATM bank. Kalau kita ingin mendapatkan uang, maka yang perlu kita lakukan adalah pergi ke mesin ATM, memasukkan kartu ATM kita di mesin tersebut, ketik pin / password-nya.. baru setelah itu kita mendapatkan uang kita. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah, mengisi uang di dalam rekening agar kita dapat menarik uang tersebut untuk kita gunakan.
Ketika kita memasukkan kartu ATM, maka hal ini diibaratkan doa. Pin / password-nya adalah iman kita. Tetapi saldo uang yang ada di dalam rekening harus ditabur dengan ketaatan kita melakukan kebenaran firman-Nya, dalam hidup keseharian.
Karena itu walau kartu ATM dan password-nya benar, tetapi bila tidak ada dana / saldo uang di rekening kita ya percuma. Kita membutuhkan keduanya, iman dan juga perbuatan.
Faith and Prayer are invisible. But they make impossible things, possible. Iman dan Doa itu memang tidak terlihat. Tetapi kedua hal ini membuat segala sesuatu yang tampak tidak mungkin, menjadi mungkin.
“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.” (Ibrani 11:30).
Dari kedua kata bercetak tebal di ayat di atas mengajar kita untuk tidak berhenti hanya dengan memiliki iman saja, tetapi melanjutkannya dengan “setelah”. Hal ini memiliki arti bahwa iman dan perbuatan harus selaras dan menjadi satu paket.
Kalau mau mengalami kemenangan di dalam doa-doa kita, maka hal ini harus disertai dengan iman yang teguh kepada Tuhan dan ketaatan kita melakukan kebenaran firman-Nya.
Doa yang Bising.
Banyak anak Tuhan doa-doanya hanya sekadar menjadi suara yang noise / bising.
Apa maksudnya?
Kita sering mengeluh dan tersinggung, dan kita menyalahkan Tuhan dengan kata-kata kita yang bernada kurang baik. Kita juga melampiaskan keluhan kita pada sesama, dengan nada yang kurang baik pula. Kedua hal ini memiliki frekuensi nada sama, pada saat kita menghardik Iblis.
Karena hal inilah, sering kali perkataan kita tidak lagi memiliki kuasa Ilahi yang signifikan. Iblis merekam saat kita mengeluh pada Tuhan dan juga sesama. Seruan kita hanya menjadi suara yang bising dan dia sama sekali tidak gentar pada saat kita menghardiknya.. karena cara kita dalam berdoa, mengeluh, dan menghardik memiliki frekuensi nada yang sama. Kita tidak menjaga perkataan kita selama ini dengan benar.
Ketiga. Menaikkan Doa yang Menyatakan Kebesaran Tuhan dan Janji-janjiNya.
Doa-doa kita harus menyatakan bahwa Tuhan itu berkuasa, ajaib, agung, besar, dan Dia masih sanggup menolong setiap kita. Doa kita juga tidak dinaikkan dengan pengharapan yang kosong, tetapi dengan sikap percaya bahwa Dia masih sanggup untuk menepati semua yang sudah Dia janjikan di dalam hidup kita.
Pada suatu hari Pdt. Gunawan berjanji untuk membelikan es krim pada anaknya, dan janji ini terus ditagih sampai terbawa di dalam mimpi. Tetapi dari kisah ini Pdt. Gunawan dan setiap kita dapat belajar bahwa Bapa di Surga juga dapat melakukan hal yang sama bila kita tahu caranya, bagaimana kita mengingatkan janji-janjiNya.
Bagaimana caranya?
Dengan menyatakan betapa besar-Nya Dia, dan betapa Dia sanggup menepati semua janji-Nya.
“Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan.” (Yosua 6:5).
Tekiah (תקיעה ) : Tiupan yang panjang, dalam dan utuh serta terus menerus, untuk menyatakan Tuhan hadir untuk menegakkan kebenaran dan semua janji-Nya di tempat itu.
Tiupan sangkakala ada berbagai macam bunyinya. Dari ayat di atas kita dapat belajar kalau bunyinya panjang, maka haruslah bangsa Israel bersorak dengan suara nyaring. Mengapa? Karena hal itu menyatakan kehadiran Tuhan dan kesanggupan-Nya untuk menyatakan kebesaran-Nya.
Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! maka kamu harus bersorak.” (Yosua 6:10).
Ketika Israel berpuasa menutup mulutnya, maka pada saat sangkakala dibunyikan, mereka harus bersorak. Hal ini dapat menggetarkan pintu kerajaan maut dan juga meruntuhkan setiap tembok permasalahan di dalam hidup kita.
Kota Yerikho sendiri terletak di Tepi Barat (West Bank) Palestinian Territories, dan berada di 250 meter di bawah permukaan laut (the lowest city in the world). Selain itu, kota ini memiliki suhu cuaca yang sangat panas (bisa mencapai 40 derajat Celcius) dan merupakan salah satu kota tertua yang pernah dibangun di peradaban manusia.
Kalau hari-hari ini hidup kita mungkin berada di titik terendah dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, kita tidak tahu lagi harus berseru kepada siapa.. tetaplah berseru dan berharap hanya kepada Tuhan. Dia masih sanggup untuk mendengar setiap permohonan doa dan menolong hidup kita.
Firman Tuhan mengatakan,
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..



Komentar