Erlangga Dharma - Kehidupan yang Teguh dan Berkemenangan
Diperbarui: 18 Agu
Catatan Khotbah: āKehidupan yang Teguh dan Berkemenangan.ā
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Erlangga Dharma, di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 26 Juli 2026.

Beginilah firman TUHAN: āTerkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.āĀ (Yeremia 17:5-8).
Ayat firman Tuhan di atas ditulis dalam bentuk pararelisme sama dengan ayat di dalam Mazmur 1, dan memiliki arti kurang lebih sama.
Latar Belakang
Nabi Yeremia disebut sebagai nabi yang meratap atau nabi yang menangisĀ karena ia merasa sangat sedih, hancur hatinya, dan menderita saat menyampaikan hukuman Tuhan pada bangsa Yehuda yang menolak untuk bertobat.
Yeremia dipanggil di masa yang sulit, bahkan dirinya sendiri mengalami penolakan di sepanjang hidupnya. Kerajaan Yehuda pada saat itu juga mengalami kemerosotan baik secara moral, rohani, dan juga politik. Memang mereka masih melakukan aktivitas ibadah di dalam Bait Allah, tetapi hatinya sudah menjauh dari Dia. Tetapi Yehuda memainkan peran strategis dalam menyingkap rencana Allah, yang digenapi di dalam Yesus Kristus.
Karena itu dalam penghukuman yang sedang dihadapi Yehuda, Yeremia menyerukan..
āUsahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.ā (Yeremia 29:7).
Masalah Hari Ini
Bila dikaitkan dengan apa yang terjadi pada hari-hari ini mengenai kemerosotan di dalam moral, kerohanian, dan politik.. masalahnya memang sudah jauh berbeda, tetapi akarnya tetap sama.
Dalam dunia modern, sama seperti yang dihidupi Yeremia, kita sedang berperang valuesĀ / nilai-nilai yang ada di dalam firman Tuhan dan juga di dalam dunia. Di dalam firman Tuhan sendiri ada berbagai hikmat Surgawi, tetapi kita juga perlu berhati-hati agar jangan sampai nilai duniawi masuk dan menguasai keseluruhan di hidup kita.
Berbagai topik masalah yang sering kali kita jumpai pada hari-hari ini di sekitar adalah..
No Viral No JusticeĀ / kalau sebuah kejadian beritanya belum menyebar sampai ke semua akun media sosial, maka kita tidak akan mendapatkan keadilan atau respon dari instansi yang berwajib. Lalu bila kita memiliki berbagai koneksi di beberapa bidang, maka semua permasalahan akan menjadi beres dan cepat selesai.
Financial Independence and Retire EarlyĀ / kemerdekaan secara finansial dan pensiun dini, hal ini banyak dikejar oleh anak-anak muda di masa kini.
Alih-alih memilih JOMO / Joy of Missing OutĀ / perasaan senang, tenang, dan bahagia karena kita dapat menikmati waktu sendiri tanpa peduli pada tren atau kegiatan orang lain.. tak sedikit dari antara kita yang lebih memilih untuk mengalami FOMO / Fear or Missing OutĀ / rasa takut atau cemas tertinggal tren, berita, atau momen seru yang sedang dialami orang lain.. sehingga kita mengikuti arus dunia yang tidak ada habisnya ini.
Selain itu ada juga yang mengejar wellnessĀ / proses aktif dalam membuat pilihan yang sadar menuju kehidupan yang sehat, seimbang, dan utuh secara fisik, mental, serta sosial. Konsep ini jauh lebih luas dari sekadar bebas dari penyakit.
Lalu ada juga yang memiliki prinsip,
āFrugal Living, Selow saja!ā
Adalah sebuah sikap di mana seseorang lebih mengutamakan dan mengejar untuk memenuhi kebutuhan pokok di atas keinginan pribadi, demi mencapai tujuan keuangan di masa depan.
Tidak salah memang bila ada hal-hal tertentu di mana kita ingin memilikinya, tetapi berhati-hatilah dengan nilai apa yang sedang kita hidupiĀ dan hal apa yang memotivasi, serta mendorong kita dalam melakukan segala sesuatu di hidup ini.
Yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah,
āApakah semua yang kita perbuat itu dilandaskan di atas dasar kebenaran firman Tuhan?ā
Arti Kemenangan
Hal apakah yang menjadi definisi dari kemenangan di dalam hidup kita? Apakah sebatas ketika keadaan di sekitar sedang mengalami kesulitan, dan hidup kita berjalan baik-baik saja? Bila iya maka,
āJangan-jangan kehidupan Kekristenan kita lebih mirip dengan kenyamanan duniawi, lebih daripada kita menikmati keindahan Pribadi Kristus.ā
Karena itu, berapa banyak dari antara kita yang lebih memilih untuk mendefinisikan kemenangan di dalam hidup dalam rupa kekaguman kita atas apa yang sudah Tuhan Yesus selesaikan di atas kayu salib.. lebih dari apa yang dapat kita raih dan miliki, yang berasal dari dalam dunia ini?
Kemenangan sejatiĀ bukanlah berbicara tentang semuanya tumbang, dan kita tetap berdiri sendirian. Jangan menjadikan Pribadi Kristus sebagai ātongkat ajaibāĀ yang dapat menyelesaikan semua permasalahan di hidup kita, dan yang hanya sebatas membuat kita menjadi lebih nyaman.
Inilah saatnya di tengah dunia yang semuanya berjalan serba tidak pasti, gereja Tuhan dipanggil untuk tetap menyuarakan kebenaran firman Tuhan. Selain itu berhati-hatilah juga mengenai berita apa yang sering kita dengar di setiap harinya, sebab hal itu nantinya akan mempengaruhi hidup kita.
Tujuan Kesulitan Hidup
Adalah cara Tuhan untuk menyingkapkan apa dan bagaimana kondisi hati kitaĀ selama ini. Tekanan yang diizinkan datang akan menunjukkan seberapa kuat apa yang hendak kita uji. Sama seperti seseorang yang hendak cek sampai sejauh mana kekuatan jantungnya. Mulai di-cek nadinya, proses EKG, USG Jantung, Cardio, MRI, dan treadmill / alat olahraga untuk seseorang berjalan atau berlari di tempat, serta berbagai pemeriksaan medis lainnya untuk menilai sampai sejauh mana kesehatan dan kekuatan daya tahan organ jantungnya.
Beginilah firman TUHAN: āTerkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!ā (Yeremia 17:5).
āThus says the Lord: āCursed is the man who trusts in man and makes flesh his strength, whose heart turns away from the Lord.āā (English Standard Version / ESV).
āThus saith the LORD; Cursed be the man that trusteth in man, and maketh flesh his arm, and whose heart departeth from the LORD.ā (King James Version / KJV).
Kata āmengandalkan manusia,āĀ di dalam bahasa Inggris versi ESV dan KJV memiliki arti membuat daging menjadi lengan dan sumber kekuatannya. Dengan kata lain, mengandalkan kekuatan manusia yang lemah dan fana sebagai sandaran hidup, alih-alih kita mengandalkan Pribadi Tuhan.
Bukan berarti hal ini memiliki arti kita menolak bantuan dan pertolongan dari sesama, tetapi kita tetap menerima pertolongan mereka. Tetapi ketika kita hanya mengandalkan kekuatan dan kepandaian kita saja selama ini, Tuhan mengingatkan bahwa apa yang diandalkan selain Pribadi-Nya, bisa menjadi āberhala baruā.
Baik hal itu berupa kepandaian, pengalaman di masa lalu, harta benda.. walau tidak ada yang salah dengan semuanya itu, tetapi ketika menggantikan posisi Tuhan yang seharusnya menjadi tempat yang terutama di dalam hati kita.. maka kita sedang menjadikan semuanya itu menjadi berhala, menggantikan posisi Tuhan.
āWe think that idols are bad things, but that is almost never the case. The greater the good, the more likely we are to expect that it can satisfy our deepest needs and hopes. Anything can serve as a counterfeit god, especially the very best things in life. Idolatry happens when we take good things and make them ultimate things.
Sering kali kita berpikir bahwa berhala adalah hal yang buruk, tetapi kenyataannya hampir tidak sepenuhnya demikian. Semakin besar kebaikan yang dihasilkannya, maka semakin besar pula kita berharap bahwa hal itu dapat memuaskan kebutuhan dan harapan terdalam kita. Apa pun di dalam hidup ini dapat berfungsi menjadi tuhan yang palsu, terutama hal-hal terbaik yang terjadi di dalam hidup kita. Penyembahan berhala dapat terjadi ketika kita menaruh hal-hal baik, dan menjadikannya sebagai hal yang paling terutama di dalam hidup kita.ā
(Timothy Keller).
Kita bisa saja mengucap syukur dan bangga atas berbagai prestasi yang telah diraih oleh anak-anak kita, tetapi bila kita menaruh keberhargaan diri kita satu-satunya hanya pada hal ini.. maka kita sedang menjadikan anak-anak sebagai berhala yang baru, sebagai pengganti Pribadi Tuhan.
Bisa jadi pekerjaan kita sedang dalam keadaan baik-baik saja dan diberkati Tuhan, tetapi kalau kita menjadikan pekerjaan ini menjadi satu-satunya ājangkarāĀ dan membuat kita nyaman serta tidak lagi berharap dan mengandalkan Tuhan.. maka kita sedang menjadikan pekerjaan kita menjadi berhala, sebagai pengganti Pribadi Tuhan.
Karena itu yang menjadi pertanyaannya,
āHal apakah yang membuat kita pada hari-hari ini merasa aman dan nyaman? Apakah Pribadi Tuhan? Atau hal lainnya seperti pasangan, anak-anak, prestasi, pengalaman, pekerjaan, dan pelayanan?ā
Tetap Mengandalkan Tuhan
Bp. Pdt. Erlangga pernah dipercaya untuk menjadi kepala sekolah dan juga mengurus yayasan. Beliau membesarkan sekolah dari yang pada mulanya masih dalam skala ukuran kecil, hingga kini memiliki banyak murid dan juga cabang. Hingga pada suatu hari, beliau diminta untuk membantu mengelola gereja yang telah dikelola selama ini oleh Ayah dan juga rekan-rekannya.
Karena sudah memiliki pengalaman selama ini dalam lingkungan pendidikan, Pdt. Erlangga dengan penuh percaya diri merasa bahwa dirinya juga pasti bisa membantu mengelola gereja Ayahnya.
Selang waktu berjalan, akhirnya beliau menyadari bahwa mengelola di dalam lingkungan pendidikan tidaklah sama dengan mengelola di lingkungan gereja Ayahnya. Melalui semuanya itu menyadarkan beliau bahwa pengalaman yang selama ini dilaluinya telah menjadi berhalaĀ dan membuatnya tidak lagi mengandalkan Tuhan serta mencari apa yang menjadi kehendak-Nya.
Melalui pengalaman Pdt. Erlangga, kita kembali diingatkan untuk tidak bergantung pada pengertian kita sendiriĀ dan tetap mengandalkan Dia.
Ketika kita mengandalkan sesuatu selain dari Pribadi Tuhan dan menjadikannya tuhan yang baru di dalam hidup, maka tinggal menunggu waktu saja di mana ākekeringan dan rasa hausāĀ akan datang dan menjadi bagian dari diri kita. Sebab,
āBerhala akan selalu menggeser lebih jauh sedikit, dari titik kepuasan yang semula.ā
Misalnya. Kita punya pandangan selama ini bila kita memiliki sepeda motor, maka kita akan menjadi bahagia. Setelah lama waktu berjalan memiliki motor, kita menjadi terbiasa dengannya. Lalu kita ingin memiliki mobil. Hal yang sama pun berulang. Lalu kita mulai melihat tetangga yang memiliki mobil yang jauh lebih banyak. Lalu kita merasa iri dan ingin menambah mobil lagi.
Tidaklah salah bila kita ingin menjadi lebih baik lagi, tetapi yang menjadi pertanyaannya..
āDi manakah posisi hati kita berada?ā
Titik kepuasan akan terus digeser, dan kita akan terus merasa haus serta tidak ada habisnya.
āIa akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.ā (Yeremia 17:6).
Kehausan menandakan keterpisahan hidup kita dari Sang Sumber. Karena kita terpisah dari Dia, hal ini mengakibatkan kita mengalami kekeringan. Keterpisahan mendorong kita untuk mencari kepuasan di tempat lain, selain Pribadi Tuhan.
Hati kita tidak akan pernah netral dan diciptakan untuk menyembah sesuatu. Karena itulah ketika hati kita berhenti bersandar pada Tuhan, maka hati kita sesungguhnya sedang menyembah yang lain.
Bisa jadi hal itu berwujud uang, pengakuan, kesehatan, keluarga, kendali, dan pelayanan.
Sekali lagi kita diingatkan,
āDi manakah posisi hati kita? Hal apakah yang selama ini membuat kita bangga, dan menggeser pengharapan kita jauh dari Tuhan?ā
Firman Tuhan mengingatkan,
āBetapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?ā (Yeremia 17:9).
Dari ayat di atas kita mendapati bahwa itulah kondisi hati kita yang sesungguhnya. Kita sangat membutuhkan Tuhan dan juga firman-Nya, untuk selalu mengingatkan hati kita.
Karena itu tema gereja yang berbicara tentang āStrong in the SpiritāĀ tidak memiliki arti bahwa semua sedang berjalan baik-baik saja, pekerjaan diberkati, mengalami sehat dan tidak ada sakit, serta tidak mengalami konflik apa pun..
Tetapi apa pun musim dan keadaan kita pada hari-hari ini, kita tidak akan pernah meninggalkan Tuhan dan selalu berharap hanya kepada Dia yang memberikan kita kekuatan. Amin.
Di Mana Hati Kita Bersandar?
Melalui penderitaan, Tuhan dapat menyingkapkan apa yang berada di dalam hati kita. Karena itu pertanyaannya adalah bukan seberapa kuat hati dan hidup kita dapat bertahanĀ selama ini, melainkan pada siapa hati kita bersandar?
āDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik..ā (Yeremia 17:7-8a).
Berkat bukanlah ketika keadaan kita dapat berubah.Ā Berkat sejati adalah ketika kita diubahkan melalui keadaan, dan dimampukan untuk melaluinya.
Tuhan yang selalu menjadi Sumber pengharapan di setiap permasalahan yang sedang kita hadapi. Memampukan setiap kita untuk dapat bertumbuh menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan tetap bergantung sepenuhnya hanya pada Dia.
Kristus, Sang Pokok
Dialah yang membuat kita terus berbuah..
ā..yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.ā (Yeremia 17:8).
Ketika kita selalu mengandalkan Tuhan, menempatkan Dia di tempat yang terutama dan menjadikan Dia sebagai Tuhan yang berdaulat.. maka anugerah dan kekuatan dari Dia yang terus memampukan setiap kita untuk dapat melalui berbagai musim yang ada di hidup kita.
Tahun kering masih akan tetap ada, semua orang pasti mengalaminya dan hal ini tidak dapat dihindari. Tetapi Tuhan yang terus memampukan setiap kita untuk tetap memiliki ādaun yang hijau,āĀ tetap setia berbuahāsekalipun di musim keringādan Dia yang akan memberikan sukacita dan damai sejahtera di dalam hidup kita.
Sama seperti yang diperkatakan Tuhan Yesus pada seorang perempuan Samaria,
āBarangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.ā (Yohanes 4:13-14).
Menghadapi Tahun Kering
Keteguhan DuniaĀ mengatakan..
: Saya mampu untuk hidup dengan kekuatan sendiri dan merasa cukup kuat. Saya mengandalkan diri sendiri, dan mencari kepuasan di tempat lain. Saya tidak boleh gagal, karena kegagalan nantinya dapat menghancurkan reputasi saya.
Keteguhan di dalam KristusĀ mengatakan..
: Saya tidak cukup kuat, tetapi anugerah Kristus itu cukup bagiku. Mengakui kelemahan dan menemukan kekuatan di dalam Kristus. Kegagalan memang menyakitkan, tetapi tetap percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.
Dari Rasul Paulus kita juga dapat belajar,
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: āCukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.ā Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9).
Kita berada di dalam budaya di mana semuanya harus terlihat sempurna. Tetapi kita masih bisa bergantung pada Sang Sumber, yakni Kristus, ketika kita sedang diizinkan berada dalam kelemahan.
Pada akhirnya semua akan baik-baik saja, karena Dia selalu menjadi Sumber di hidup kita.
Firman Tuhan mengatakan,
āAkuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.ā (Amsal 3:16).
Berita Anugerah
Adam pertama di taman Eden jatuh karena mencari sumber yang lain, tetapi Kristus, Adam terakhir taat sampai mati di atas kayu salibĀ agar setiap kita yang percaya kepada-Nya dimampukan Roh Kudus untuk dapat menang atas segala musim di kehidupan dan tetap teguh serta setia sampai di garis akhir.
Kristus telah memasuki padang gurun kita.
Di dalam hidupnya Dia telah menanggung keterasingan, penghakiman, dan rasa haus yang seharusnya menjadi bagian kita.. semuanya itu dialami-Nya agar kita tidak lagi ditinggalkan dan dijadikan sebagai anak-anak Allah. Supaya kemenangan-Nya juga diperhitungkan menjadi kemenangan di dalam hidup kita.
āTetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.ā (1 Korintus 15:57).
āTetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.ā (Roma 8:37).
Karena itulah bukan ketika harta benda lagi melimpah dan keadaan sedang berjalan baik-baik saja kita dapat berkata bahwa kita sedang mengalami kemenangan.. tetapi sekalipun masih berada di dalam kelemahan, kita masih dapat mengalami sukacita dan damai sejahtera di dalam Dia.Ā Firman Tuhan mengatakan,
āDamai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.ā (Yohanes 14:27).
Aplikasi Praktisnya
Pertama.Ā Kenali Apa yang Kita Andalkan
Kenali apa yang sesungguhnya kita andalkan dan menjadi pegangan di dalam hidup kita selama ini? Marilah kita mengakuinya di hadapan takhta kasih karunia Allah.
Kedua.Ā Tinggal di Dalam Anugerah
Tinggallah selalu di dalam anugerah melalui kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab, dan hiduplah oleh kuasa Roh Kudus.
Ketiga.Ā Tetap Teguh dalam Segala Keadaan
Tetap teguh dalam segala keadaan, percaya bahwa kekuatan kita terletak pada Allah yang setia. Hasilkanlah buah bagi kemuliaan-Nya.
Hari-hari ini kita diperhadapkan dengan banyak nilai dunia, dan semuanya ini harus diterangi dengan nilai kebenaran firman Tuhan. Karena itu, bacalah Alkitab kita. Bagaimana caranya kita dapat menjadi berkat dan terang Kristus dan hidup serta membagikan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.. bila kita sendiri tidak pernah membaca dan merenungkan kebenaran firman-Nya?
āSegala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.ā (2 Timotius 3:16-17).
Kehidupan Kekristenan tidak dipertahankan karena kuatnya genggaman tangan kita pada Allah, tetapi karena ada anugerah Allah yang terus memegang dan menopangĀ sehingga kita,
ā..akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.ā (Yeremia 17:8).
Tahun Kekeringan akan tetap ada di dalam kehidupan, tetapi Kristus telah menang dan Dia tinggal di dalam hidup kita. Kasih Bapa yang akan selalu setia dalam memegang dan menopang setiap kita, sehingga kita akan ātetap hijauā dan tetap setia menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya.
āBukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.ā (Zakharia 4:6).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..



Komentar