top of page

Daniel Januar - Applying The Kingdom

  • 23 menit yang lalu
  • 17 menit membaca

Catatan Khotbah: “Applying The Kingdom.”


Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Daniel Januar di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 8 Maret 2026.


Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4:17).

Ayat di atas adalah khotbah pertama dari Tuhan Yesus setelah diri-Nya menang atas pencobaan di padang gurun. Bila Kerajaan Allah di zaman Perjanjian Lama (PL) digambarkan begitu jauh—hanya sebagai bayang-bayang saja, tetapi dengan kedatangan Tuhan Yesus di dalam Perjanjian Baru (PB), kerajaan-Nya itu sudah dekat. Dia ada dan hadir bagi umat-Nya, dan sedang di dalam perjalanan untuk digenapi seutuhnya menjelang kedatangan-Nya yang kedua kelak.


Pelajaran dari Kejadian 1:26.


Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26).


Kita dicipta untuk menggenapi tujuan-Nya, saat menyatakan kerajaan-Nya di atas muka bumi ini.


Pertama. Kita dicipta sesuai dengan pola Allah, yakni menurut gambar dan rupa-Nya.


“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..” (Kejadian 1:26).

Dia memakai kata “Kita” untuk menunjukkan adanya komunitas keberadaan dari Allah Tritunggal, serta betapa pentingnya kita dapat bertumbuh di dalam komunitas rohani yang sehat dan benar, serta yang membawa setiap kita untuk semakin bertumbuh karib dengan Dia, di dalam doa dan pembacaan firman-Nya. Selain itu ada beberapa “pintu gerbang” yang perlu diperhatikan dan kita usahakan, dua di antaranya adalah komunitas dan kota.


Firman Tuhan mengatakan,


“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7).


Kedua. Hidup harus memiliki tujuan.


“The greatest tragedy in life is not death, but a life without purpose. Tragedi terbesar di dalam kehidupan bukanlah kematian, tetapi hidup yang tidak memiliki tujuan.” (Dr. Myles Munroe).


Israel adalah bangsa pilihan dan mereka dikasihi Tuhan. Tetapi kita dapat membaca di Alkitab bahwa mereka menjalani kehidupan hamartia / hidup yang meleset dari sasaran, serta tidak memiliki tujuan. Di sepanjang perjalanan, mereka juga selalu mengeluh dan meragukan penyertaan dan kuasa-Nya. Alkitab memberitahu kita bahwa banyak dari mereka yang pada akhirnya dihukum Tuhan, serta tidak dapat masuk dan mengalami tanah perjanjian-Nya.


Contoh praktisnya di zaman sekarang..


Pada saat bangun tidur di pagi hari, lalu kita bersemangat di dalam menjalani hari tersebut.. hal ini memiliki arti hidup kita ini on purpose / sedang berada dan juga memiliki tujuan yang jelas. Contoh lainnya, bila di hari Minggu kita mau pergi ke gereja dan ditanya oleh tetangga rumah kita ini mau pergi ke mana, serta apa tujuannya pada saat sampai di gereja.. kita dapat menjawab pertanyaan mereka, karena kita memiliki tujuan yang jelas.


“..supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26).


“..and let them have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle, and over all the earth, and over every creeping thing that creepeth upon the earth.” (King James Version / KJV).


Mandat dari Tuhan ini tidak pernah dicabut, kita diciptakan Tuhan memiliki tujuan yang jelas. Bahkan di dalam KJV terdapat kata dominion, yang memiliki arti kekuasaan dalam hal pemerintahan. Dengan kata lain, Tuhan memberikan pada kita kekuatan dan kemampuan supaya kita tidak lagi hidup di dalam kekalahan terhadap dosa, serta mengelola dengan baik segala ciptaan-Nya.


Dinamika Kebenaran dari Kerajaan Allah yang Mentransformasi.


Pertama. Allah mengubah kegelapan menjadi terang, pada saat mempersiapkan bumi untuk diperintah Adam.


Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. (Kejadian 1:3-4).

Di ayat 2 sebelumnya dikatakan bahwa bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Ketika keadaan gelap dan kacau balau, datanglah firman Tuhan yang berkuasa mengatasi semua kekacauan tersebut:


“Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.


Kita dicipta tidak untuk hidup di dalam kegelapan, hal ini termasuk dalam kegelapan rohani.


“Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.” (Kejadian 2:8).


Dari ayat di atas kita mendapati bahwa Adam ini ditempatkan Tuhan di dalam taman di Eden, bukan di dalam hutan. Di dalam taman memiliki keteraturan dan juga keamanan.


Dari apa yang Tuhan ciptakan, yakni taman di Eden, hal ini adalah ide-Nya untuk membuat sebuah kota. Etimologi / asal usul kata dari “kota” sendiri berasal dari bahasa Prancis Kuno cité , yang berasal dari bahasa Latin civitas , yang memiliki arti “kewarganegaraan” atau “negara”. Di dalam kota merupakan tempat aman untuk ditinggali.


“Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:13-19).


Ketika Tuhan Yesus bertanya pada murid-muridNya, banyak dari antara mereka yang asal mengutip saja anggapan dari orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dari ayat di atas, kata “jemaat-Ku” dari bahasa aslinya Yunani memakai kata ἐκκλησίαν / ekklēsian, yang arti kontekstualnya dalam kehidupan Kekristenan adalah dipanggil keluar untuk menjadi murid Kristus.


Di dalam kata ekklēsian umumnya dipakai bagi sidang umum dari penduduk kota yang dikumpulkan secara resmi, sehingga kata ini bermakna ‘pertemuan/ sidang’. Sidang seperti inilah yang menjadi ciri dari kota-kota di luar Yudea, di mana Injil dimasyurkan. Dengan kata lain, ekklēsian merupakan istilah dari kota / pemerintahan.


Melalui ayat tersebut, Tuhan Yesus datang untuk membawa dan memperkenalkan Kerajaan Allah pada setiap orang yang percaya pada-Nya.


Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28).


“And God blessed them, and God said unto them, Be fruitful, and multiply, and replenish the earth, and subdue it: and have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over every living thing that moveth upon the earth.” (King James Version / KJV).


Sebelum Tuhan memberikan perintah untuk “beranakcuculah dan bertambah banyak / be fruitful, and multiply” di ayat yang sama dimulai terlebih dahulu dengan perkataan,


“Allah memberkati mereka..”

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” (1 Petrus 2:9-10).


“But ye are a chosen generation, a royal priesthood, an holy nation, a peculiar people; that ye should shew forth the praises of him who hath called you out of darkness into his marvellous light: Which in time past were not a people, but are now the people of God: which had not obtained mercy, but now have obtained mercy.” (King James Version / KJV).


Dari kata bercetak tebal di ayat di atas memiliki arti tidak ada dualisme di dalam Kerajaan Surga. Setiap dari kita memiliki panggilan dan fungsinya masing-masing. Contoh aplikasinya..


Bp. Pdt. Andreas Rahardjo dan Bp. Pdt. Daniel Sumitro dipercayakan Tuhan untuk dapat memimpin dan menggembalakan jemaat dari Gereja MDC Surabaya. Tetapi di sisi lainnya, ada juga jemaat yang dipercaya untuk dapat menjadi seorang bos / pemimpin di perusahaannya, yang dengan kata lain juga dipercaya untuk dapat menggembalakan karyawan yang dipimpinnya.


Mungkin kita tidak memiliki posisi pemimpin di pekerjaan, kita hanyalah orang tua dari anak-anak kita. Tetapi hal ini tetaplah sama, kita dipercaya untuk menggembalakan anak-anak kita.


Kalau menyadari peran kita sebagai imamat yang rajani / royal priesthood, maka di manapun kita berada, kita akan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dipercayakan Tuhan di hidup ini agar semuanya dapat diberkati dan dipelihara Dia.


Pemilik dari segala sesuatu di alam semesta memang adalah Tuhan, termasuk toko dan perusahaan kita. Tetapi teologi kita haruslah stewardship / pengelolaan dan pengawasan yang bertanggung jawab serta bijaksana terhadap sumber daya, lingkungan, atau organisasi.


Setiap dari kita dipercaya untuk mengelola dengan baik atas apa yang sudah dipercayakan Tuhan di dalam hidup ini. Ketika kita dapat mengelola dengan baik semua berkat-Nya, maka Dia yang akan memberkati dan menuntun setiap kita dengan hikmat-Nya agar kita dapat “beranakcuculah dan bertambah banyak / be fruitful, and multiply.”


Tetapi karena pemberontakan Adam yang pertama di taman Eden, melahirkan sebuah sistem yang berbeda di dalam hidup umat manusia.


Ketika Yesus lahir di masa pemerintahan Kerajaan Romawi, semua yang terjadi bukanlah kebetulan semata. Mengapa Dia lahir di timeline ini?


Karena Dia sedang memulihkan apa yang sudah hilang di dalam hidup manusia. Setiap dari kita telah diciptakan menjadi “seorang raja” yang diberi kemampuan untuk mengelola semua ciptaan-Nya. Tetapi kita sudah kehilangan otoritas, semenjak Adam pertama jatuh ke dalam dosa.


Selama kita belum bertobat dan memutuskan untuk mau masuk ke dalam rencana dan kehendak Allah, maka selama itulah kita akan tetap hidup di dalam kuasa dosa dan tidak memiliki otoritas Allah di dalam kehidupan ini.


Kedua. Kegelapan sekarang berkuasa atas hidup manusia dan melahirkan sistem dunia yang ditandai dengan:


a. Agama (penyembahan berhala palsu).


“Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.” (Ulangan 4:5).


“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37).


“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”(Markus 12:30).


b. Uang / Harta.


“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24).


“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13).


c. Illegal power / Sihir / Kekuasaan.


Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4:8-9).


Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” (Lukas 4:5-7).


Sistem ini lahir karena kegagalan Adam pertama, di mana Adam kehilangan otoritas kerajaan Allah di dalam hidupnya. Karena itulah Adam kedua, yakni Yesus Kristus datang bukan untuk memperkenalkan agama yang baru tetapi memulihkan apa yang seharusnya menjadi milik dari umat-Nya.


Bp. Pdt. Daniel Januar selalu teringat oleh apa yang pernah dibagikan oleh Bp. Pdt. Yeremia Rim,


“Kami Memang Beda (KMB).”

Memang seharusnya kehidupan Kekristenan itu berbeda dan tidak sama dengan nilai-nilai yang ada di dalam dunia ini. Kita seharusnya dapat menjadi berkat dan terang Kristus, bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya.


Ketika Tuhan Yesus mengatakan,


“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4:17).

Inilah yang sudah hilang semenjak Adam pertama memberontak terhadap otoritas dari Sang Raja. Pada saat itu Iblis yang mengambil rupa seekor ular berusaha menipu dan mengatakan,


“Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (Kejadian 3:4-6).


Padahal Allah sendiri telah berfirman,


“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26).


Iblis kembali memakai cara yang sama pada saat mencobai Yesus di padang gurun, yakni dengan mempertanyakan identitas-Nya sebagai Anak Allah, yang seharusnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya (Matius 4:1-11).


Sering kali kita juga berusaha dipancing untuk meneguhkan identitas jati diri kita. Contohnya,


“Kalau kamu pria sejati, maka kamu akan berani untuk membuktikan..”


Padahal kalau menyadari bahwa identitas kita memang benar-benar seorang pria, maka kita tidak perlu menanggapi pernyataan yang bodoh itu.


“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24).


Yesus tidak pernah membandingkan diri-Nya kecuali dengan Mamon, karena hanya Mamon yang dapat “mengusir” Allah dari kehidupan kita.


Hari-hari ini kita lazim menjumpai ada istilah money talks / uang berbicara, di mana nantinya akan membawa kepada illegal power / kekuasaan yang didapat dengan cara yang tidak benar.


Karena itulah pencobaan terakhir Iblis pada Yesus adalah menawarkan kemuliaan dunia,


Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4:8-9).


Tetapi Yesus tegas menolaknya dan berkata,


“Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (ayat 10).

Sistem inilah yang lahir dari kegagalan Adam yang pertama, yang telah kehilangan otoritas kerajaan di hidupnya. Tetapi Adam kedua, yakni Yesus Kristus, membawa dan memulihkan kembali otoritas tersebut di dalam hidup anak-anakNya.


Karena itulah kalau kita sekadar menjadikan Kekristenan hanya sekadar sebagai agama belaka, maka kita akan mengalami kegagalan untuk memiliki pola pikir dan berjalan di dalam otoritas yang sudah diberikan-Nya pada kita.


Metanoia memiliki arti adanya perubahan pola pikir, pertobatan, atau transformasi mendasar dalam cara pandang, visi, dan cara hidup seseorang ke arah yang lebih baik. Firman Tuhan berkata,


“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).


“Don’t become so well-adjusted to your culture that you fit into it without even thinking. Instead, fix your attention on God. You’ll be changed from the inside out. Readily recognize what he wants from you, and quickly respond to it. Unlike the culture around you, always dragging you down to its level of immaturity, God brings the best out of you, develops well-formed maturity in you.” (The Message).


Dari versi The Message kita kembali diingatkan, memang kita masih hidup di dalam dunia tetapi jangan mengikuti nilai-nilai dan gaya hidup yang ada di dalam dunia ini. Pusatkan perhatian kita hanya pada Allah, maka kita akan mengalami metamorfosis. Roh Kudus yang akan memampukan setiap kita untuk mengadakan perubahan dari dalam ke luar (changed from the inside out).


Karena itulah merubah apa yang ada di luar terlebih dahulu tidak akan pernah berhasil, Perjanjian Lama (PL) telah banyak menunjukkan pada kita. Banyak hukum memakai prinsip,


“Jika kamu berbuat ini.. Maka kamu akan mendapatkan hasil ini..”


Tetapi Tuhan Yesus menyentuh dan memulihkan terlebih dahulu apa yang berada di dalam hati dan pikiran kita. Firman-Nya berkata,


“berubahlah oleh pembaharuan budimu,”


Ketiga. Yesus datang membawa Injil Kerajaan yang merestorasi seluruh aspek kehidupan manusia.


“Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:14-15).


Gospel: Good News. Injil Kristus adalah Kabar Baik, tetapi Kabar Baik yang bagaimana?


The Good News, according to Jesus, is “the Kingdom of God is at hand”.

Tuhan Yesus membawa Kerajaan-Nya menjadi sebuah kenyataan, di atas muka bumi ini. Hidup-Nya sendiri merupakan realisasi dari bagaimana Kerajaan Allah itu berjalan semestinya.


Nabi Yesaya sendiri telah menubuatkan-Nya,


“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.” (Yesaya 61:1-3).


Dari ayat di atas kita belajar adanya pemulihan di segala aspek, yang dilakukan Tuhan Yesus.


Di dalam Lukas 4:16-21 dikatakan,


Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”


Gereja memiliki 2 mandat:


Pertama. Mandat Keserupaan seperti Kristus, dan hal ini sudah kita lakukan melalui pemuridan, ibadah di dalam gereja, kelompok sel, dll. Tetapi ada mandat kedua yakni, Mandat Budaya / Culture. Tuhan memberi kita mandat ini untuk memerintah / berkuasa—sama seperti yang tertulis di dalam Kejadian 1:26—tetapi untuk mengelola ciptaan yang ada di alam semesta ini, bukan untuk menguasai dan menundukkan sesama kita.


Teologi ekologi (ekoteologi) adalah cabang studi teologi yang mengintegrasikan ajaran agama dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Hal ini menekankan tanggung jawab spiritual manusia untuk merawat alam sebagai ciptaan Tuhan, bukan untuk mengeksploitasinya. Teologi ini berfokus pada hubungan yang dibangun harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam, serta menawarkan etika lingkungan berdasarkan iman.


Manusia dicipta untuk mengelola alam ini dengan baik dan bijaksana. Hutan sendiri memiliki lapisan dan bagiannya, dan semuanya itu penting serta memiliki fungsi. Kalau kita membabatnya habis, maka kita akan menerima akibatnya.


Keempat. Gereja harus kembali pada apa yang Yesus inginkan, yakni untuk menghancurkan sistem dunia.


a. Menjadi terang yang mengalahkan kegelapan dunia.


“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2).


“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,” (Efesus 5:8).


Ketika Adam yang pertama jatuh ke dalam dosa, sistem dunia masuk dalam hidup manusia. Ada kutuk yang menghancurkan hidup manusia.


Tetapi Yesus datang untuk menghancurkan kutuk tersebut. Mahkota duri, yang merupakan salah satu lambang kutuk, dipakai di atas kepala-Nya supaya duri / kutuk di dalam hidup kita dilepaskan.


Di atas salib tersebut juga terjadi pertukaran nasib. Tuhan Yesus menanggung semua kutuk dosa, agar setiap kita dapat diperdamaikan dan hidup di dalam berkat Tuhan sebagai anak-anakNya.


Karya Kristus dimulai dari kelahiran-Nya, pelayanan-Nya, kematian-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, kebangkitan-Nya dari kematian untuk mengalahkan kuasa maut, dan juga pencurahan Roh Kudus.


“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” (Kisah Rasul 1:3).


Sebelum Yesus naik ke Surga, Dia berulang kali mengajar para murid-Nya tentang Kerajaan Allah. Bahkan Dia juga mengatakan,


Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang demikian kata-Nya “telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” (ayat 4-5).


Roh Kudus diberikan di dalam hidup kita agar setiap kita dapat mengalami realitas Kerajaan Allah dan dapat hidup di dalamnya..


“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Rasul 1:8).


Ada Roh Kudus yang tinggal di dalam kehidupan umat percaya, dan Dia ingin agar kita bangkit serta menjadi terang dan kasih-Nya bagi dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini.


b. Mengalahkan sistem dunia yang jahat.


“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33).


“sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” (1 Yohanes 5:4-5).


Kejahatan ada di sekitar kita, dan beberapa dari kita pasti pernah mengalaminya. Hari-hari ini kita hidup di dalam sistem dunia yang sangat jahat. Saat jatuh ke dalam dosa, kejahatan masuk di dalam hidup manusia. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa semua yang lahir dari Dia, mengalahkan dunia. Untuk inilah Yesus mati dan bangkit, supaya kita bisa mengalahkan dan tidak hidup di dalam dosa, serta hidup di dalam realitas Kerajaan Allah.


c. Menyatakan Kerajaan-Nya di dalam dan melalui hidup kita.


Penyembahan yang benar (pengenalan akan Sang Raja).


“Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” (Yohanes 17:14).


Hidup yang dipersembahkan (mengalahkan kedagingan / hidup dalam ketaatan).


“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (ayat 17).


Menyatakan Kerajaan dan Sang Raja (hidup dalam budaya kerajaan).


“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;” (ayat 18).

Ide kelahiran baru hanya ada di dalam Kekristenan. Dari natur / sifat dosa yang diubah menjadi natur baru yang memuliakan nama Tuhan.


Kita semua tahu bahwa natur / sifat anjing adalah menggonggong. Kalau misal anak anjing kita coba kumpulkan dengan anak kucing, maka saat besar nanti anak anjing tersebut akan tetap menggonggong dan tidak akan pernah bisa diubah kebiasaannya menjadi mengeong.


Demikian pula dengan hidup kita yang dilahirkan dengan natur dosa dan tidak akan pernah bisa lepas dengan usaha dan kekuatan kita sendiri.. sampai kita mau untuk bertobat dan dilahirkan baru oleh Roh Kudus. Kita dilahirkan baru dan memiliki natur / sifat yang baru. Kalau kita sudah pernah merasakan hal yang kudus dan mulia dari Dia, maka kita tidak akan mau lagi melakukan perbuatan dosa dan mendukakan hati-Nya.


Tetaplah hidup di dalam kebenaran, dan jangan pernah mau untuk menurunkan standar dan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan yang selama ini sudah kita dapatkan di dalam hidup.


Basic of Applying The Kingdom.



Kingdom Truth / Kebenaran Kerajaan.


Kebenaran Kerajaan membawa setiap kita untuk dapat melihat pada pentingnya Kerajaan Allah sebagai nilai inti kebenaran dan mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya sudah datang di dunia, meskipun belum sepenuhnya dinyatakan. Kerajaan-Nya nanti akan dinyatakan secara utuh baru pada saat kedatangan Kristus yang kedua.


Kingdom Paradigm / Model Kerajaan.


Adalah sebuah paradigma yang dihasilkan sebagai buah dari kebenaran kerajaan. Merupakan cara pandang yang menjadi panduan utama dan filter dari sistem kegelapan. Cara pandang yang menjaga dan memastikan setiap warga kerajaan berjalan dalam terang Sabda Sang Raja.


Kingdom Culture / Budaya Kerajaan.


Sebuah budaya yang melekat erat dalam kehidupan para pemercaya (warga kerajaan) di budaya apa pun, dan di budaya manapun mereka hidup. Suatu hal yang menjadi ciri utama dan warna kehidupan dari warga kerajaan. Siapapun yang berelasi dengan mereka akan segera merasakan adanya suatu perbedaan yang signifikan.


Kingdom LifeStyle / Gaya Hidup Kerajaan.


Adalah sesuatu yang menjadi tampilan utama dari keberadaan kita di dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita harus bersikap, berbicara, dan bertindak, semuanya itu di-direct / diarahkan oleh prinsip-prinsip kerajaan.


Mengapa hal ini penting?


Kalau kita dilahirkan kembali, kita akan menyatu dengan natur / sifat dan budaya dari Kerajaan Allah. Semua prinsip-Nya akan men-direct hidup kita.


Misalnya. Gaya hidup pengampunan. Ketika kita mau melepas pengampunan pada orang-orang yang sudah melukai hidup kita, maka sesungguhnya kita melakukannya bukan untuk orang tersebut tetapi untuk kesehatan jiwa kita. Bahkan hari-hari ini dunia medis juga menemukan bahwa salah satu penyebab kanker adalah adanya kepahitan / bitterness yang dipendam bertahun-tahun.


Hiduplah di dalam pengampunan dan juga prinsip serta nilai-nilai dari Kerajaan Allah.


“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6).


“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?


Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.


Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?


Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:25-34).


Ayat di atas adalah gaya hidup dari Kerajaan Surga. Alih-alih kita memutuskan untuk menjalani kehidupan yang dikuasai oleh kekuatiran dunia, Tuhan ingin agar kita tetap menjaga sukacita dan tetap mempercayai bahwa Bapa masih sanggup untuk memelihara kehidupan kita.


Kalau kita hidup di dalam ketakutan dunia, maka kekacauan, kebencian, dan juga kekuatiran akan menguasai kehidupan kita.


Hiduplah dengan gaya hidup dari Kerajaan Allah, karena kita adalah representatif / perwakilan dari kerajaan-Nya. Setiap dari kita hidup di dalam jaminan bukan untuk kesenangan diri kita sendiri tetapi untuk menyatakan Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Ke manapun kita pergi akan membawa atmosfir dari kerajaan-Nya—setiap dari kita adalah duta besar dari Kerajaan Allah.


Setiap duta besar kebutuhan hidupnya disediakan dan dijamin oleh negara yang mengutus dirinya. Demikian pula dengan keberadaan diri kita yang merupakan duta besar dari kerajaan-Nya. Teruslah mempercayai bahwa apa yang menjadi kebutuhan di dalam hidup kita itu juga dijamin dan dipelihara oleh Raja yang telah mengutus kita.


Raja yang kita sembah dan yang mengutus kita, adalah Raja yang bermurah hati.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page