Andreas Rahardjo- Iman di tengah Krisis
- 3 jam yang lalu
- 7 menit membaca
Catatan Khotbah: “Iman di tengah Krisis.”
Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Andreas Rahardjo di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 21 Juni 2026.
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.
Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” (Matius 14:22-33).
Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami krisis dan masalah di hidupnya? Pastinya setiap dari kita pernah mengalaminya.
Tetapi melalui berbagai krisis yang diizinkan datang, Tuhan ingin memberkati dan sering kali berkat tersebut “dibungkus” dengan kertas kado yang bernama masalah. Karena itulah di balik setiap masalah yang diizinkan terjadi di dalam hidup, selalu disediakan berkat-Nya yang terbaik.
M. Scoot Peck di dalam bukunya “The Road Less Travelled” menulis di halaman pertamanya,
“Life is difficult. Hidup ini sulit.”
Banyak orang menganggap bila kita menjadi orang Kristen, maka kehidupan akan otomatis berjalan dengan mudah dan tidak akan ada masalah.
Padahal ini tidak tepat.
Kalau kita menganggap bahwa hidup ini seharusnya berjalan dengan mudah dan sama sekali tidak ada kesulitan, maka kita akan jauh dari apa yang namanya kemenangan. Tetapi kalau kita bisa menerima keadaan bahwa hidup ini memang sulit dan kita membutuhkan pertolongan Tuhan.. maka besar kemungkinannya kita akan melihat dan mengalami kemenangan di dalam hidup ini.
Karena itu jangan terkejut dan lari menghindar, bila setiap kita diizinkan bertemu dengan masalah.
Pelajaran dari Matius 14:22-33.
Pertama. Perjalanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, belum tentu bebas dari masalah.
“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.” (Matius 14:22).
Kalau kita membaca ayat di atas, maka kita mendapati bahwa Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan para murid untuk naik perahu, dan para murid taat melakukan perintah-Nya.
Melaluinya kita belajar,
Kalau kita taat pada perintah-Nya, bukan berarti hidup kita akan terbebas dari masalah di dunia ini.
Setiap kita dipanggil bukan untuk lari dari setiap masalah yang ada, tetapi menghadapinya dengan kasih dan hikmat Tuhan yang pastinya akan menuntun setiap kita. Jangan takut, karena kita tidak akan dibiarkan menghadapinya sendirian. Di balik setiap masalah, pasti ada berkat Tuhan terbaik yang sudah disediakan bagi setiap kita.
Ketika Pdt. Andreas bertanya dan bertukar pikiran pada banyak orang yang hidupnya sukses, maka dirinya mendapati bahwa hidup mereka pasti pernah mengalami berbagai ujian dan tantangan. Tetapi mereka terus bertekun dan berjuang, tidak menyerah, dan pada akhirnya mendapatkan kemenangan di dalam hidupnya.
Yang namanya orang hidup, pasti setiap dari kita pernah diizinkan menghadapi berbagai masalah, bahkan ada yang sampai membuat trauma. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa masih ada masa depan yang cerah di dalam Tuhan.
Masalah memang tetap ada, tetapi setiap dari kita dipanggil untuk menghadapinya. Kalau kita terus berlari menghindarinya, maka kita akan mengalami berbagai penyimpangan pskilogi.
Kedua. Tuhan hadir di dalam badai, dan Dia tidak membiarkan kita menghadapi masalah sendirian.
“Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.” (Markus 6:48).
Dari ayat di atas kita mendapati ada kata “melihat” yang memiliki arti bahwa Tuhan melihat kita selama ini bisa jadi telah capai dalam menghadapi berbagai masalah dan juga pergumulan.. dan Dia dapat merasakan apa yang kita rasakan.
Kata kedua adalah “datang”, yang memiliki arti Dia mau datang untuk menolong dan memberi kita kekuatan dalam menghadapi permasalahan.
“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:23).
Nama-Nya adalah Imanuel, dan hal ini bukan hanya sekadar menjadi sebuah slogan tetapi jaminan yang pasti, bahwa di dalam Yesus ada penyertaan-Nya yang ajaib dan setia. Kalau kita tahu dan menyadari bahwa Tuhan setia menyertai, maka ada kekuatan-Nya yang pasti akan menolong setiap kita.
Pada suatu hari ada anak seorang fulltimer yang digandeng Pdt. Andreas. Tetapi ketika sampai di sebuah ruangan yang penuh dengan banyak orang, anak kecil ini ketakutan dan minta digendong. Setelah orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut menyapa anak kecil ini, anak tersebut memiliki keberanian untuk berkata-kata dengan keterbatasan bahasa yang dimilikinya, sambil menunjuk lingkungan di sekitarnya.
Demikian pula dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan. Setiap dari kita pastinya memiliki banyak alasan untuk menjadi takut dengan berbagai keadaan yang terjadi di luar kendali. Tetapi kita masih bisa tetap tenang ketika menyadari bahwa kita tidak sendirian.
Firman Tuhan berkata,
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4).
Sadarilah bahwa Dia dekat, dan Dia tidak pernah meninggalkan hidup kita sendirian.
Ketiga. Masalahnya: Kehadiran Yesus sering kali tidak dikenali.
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. (Matius 14:26).
Cara Tuhan menolong dan memberikan jalan keluar terbaik atas setiap permasalahan yang sedang kita hadapi itu pastinya tidak sama dengan cara Dia menolong orang lain. Pastinya, cara dan waktu-Nya Dia juga berbeda dengan apa maunya kita.
Itulah sebabnya, cara Dia dalam menolong diri kita sering kali tidak kita kenali dan sadari..
Keempat. Kepanikan dan ketakutan itu menutup dan membutakan mata iman, tetapi ketenangan mencelikkan mata iman kita.
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. (Matius 14:26).
Mungkin kita sudah lama berdoa, tetapi kita tidak bisa melihat bahwa Tuhan sedang menolong karena perasaan kita sendiri yang selama ini bisa jadi, telah dikuasai kepanikan dan juga ketakutan.
Kelima. Iman diawali dengan sebuah permintaan dan langkah yang sangat berani.
Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (Matius 14:28).
Setiap dari kita harus memiliki titik balik dari ketakutan, bertumbuh menjadi berani melangkah bersama Tuhan. Masa depan kita bergantung dari iman yang kita miliki, untuk mempercayai setiap janji dari Tuhan. Firman-Nya berkata,
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17).
Karena itu kita harus belajar untuk hidup oleh iman, mempercayai bahwa hidup kita berada di dalam tangan Allah yang berdaulat sepenuhnya. Kalau iman kita tidak dapat menolong diri sendiri, maka iman kita juga tidak akan dapat menolong sesama yang membutuhkan pertolongan-Nya.
Jangan sampai kita menyerah dan juga kehabisan iman, karena melaluinya dapat menjadi pengalaman yang menguatkan iman pribadi dan sesama. Setiap pengalaman tersebut dapat menjadi milestone / sebuah titik atau peristiwa penting dalam suatu proses yang menandai tercapainya tahapan, kemajuan, atau target tertentu.
Keenam. Iman menjadi nyata, saat dijalani.
Kalau iman kita selama ini hanya sekadar menjadi iman secara teori saja, maka ketika menghadapi berbagai ujian dan tantangan, kita akan mudah menyerah. Tetapi kenallah Kristus secara pribadi dan jadikan Dia sebagai kebenaran di dalam hidup kita.. maka kasih dan kuasa-Nya pasti akan selalu menyertai di setiap musim, di dalam hidup kita.
Ketujuh. Goyah dan runtuhnya iman, karena kita memiliki fokus yang salah selama ini.
Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” (Matius 14:30).
Iman harus dipertahankan, karena itu jadikan setiap langkah di dalam hidup kita adalah langkah iman. Jangan sampai kita hanyut dan tenggelam karena kita terlalu mengandalkan perasaan.
Jangan landaskan hidup kita pada perasaan, karena dia adalah tuan buruk yang bisa naik dan turun tidak menentu. Tetapi dasarkan hidup kita pada iman yang benar, yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, yang memimpin hidup kita.
Berhati-hatilah, ada banyak hal di dunia ini yang dapat mengalihkan iman kita pada perasaan.
Kedelapan. Pertolongan Tuhan selalu tepat waktu, dan tidak pernah terlambat.
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31).
Teruslah percaya bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Dia pasti akan dengan bersegera menolong dan mengampuni dosa-dosa kita.
Kesembilan. Mukjizat memang terjadi, tetapi tanggung jawab awal jangan dilupakan.
“Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.” (Matius 14:32).
Pekerjaan awal dari para murid adalah menjadi seorang nelayan, dan tetap setelah angin sakal itu mereda.. mereka tetap harus mendayung perahu tersebut untuk kembali ke pantai semula.
Melaluinya kita belajar,
Tetaplah melakukan tugas dan bagian kita dengan rajin dan setia, lakukanlah apa yang bisa kita lakukan. Serahkan pada Tuhan, apa yang menjadi bagian-Nya untuk Dia lakukan.
Kesepuluh. Masa krisis sering kali membawa pewahyuan dan pengenalan yang baru tentang siapa Pribadi Tuhan.
“Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” (Matius 14:33).
Masa krisis memang diawali dengan masalah, tetapi diakhiri dengan penyembahan pada Tuhan.
Tuhan sangat menyayangi setiap kita, dan Dia tidak memiliki anak favorit. Kalau hari-hari ini kita sudah lelah dan mau menyerah dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tak kunjung usai di dalam kehidupan.. datanglah pada Tuhan.
Dia akan mengangkat dan menghibur kita.
Biarlah di balik setiap permasalahan yang diizinkan terjadi, Tuhan dapat menunjukkan masih ada berkat dan mukjizat terbaik-Nya yang sudah disediakan di dalam hidup kita anak-anakNya.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:28-30).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..




Komentar