top of page

Agus Lianto - Dipanggil menjadi Mempelai Kristus

  • 27 Jun
  • 12 menit membaca

Catatan Khotbah: ā€œDipanggil menjadi Mempelai Kristus.ā€



Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Agus Lianto di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 14 Juni 2026.


Melalui perenungan firman Tuhan yang dibagikan pada hari ini, setiap dari kita diharapkan bisa naik dalam level ketinggian dalam hidup kerohanian, yang belum pernah dicapai sebelumnya. Melaluinya kita juga dimampukan untuk dapat memiliki sudut pandang yang lebih luas dan lebih lengkap, serta memiliki pengenalan Tuhan lebih dalam lagi.


Mengapa panggilan Tuhan di dalam hidup kita itu sangat penting? Karena hal ini menunjukkan harapan Tuhan di dalam hidup kita itu seperti apa, dan nantinya menunjukkan kita ini akan menjadi seperti apa. Jangan lupakan bahwa identitas dan nilai diri kita ditentukan oleh apa yang menjadi panggilan Tuhan di dalam hidup, sebab bila kita tidak memiliki dan disuruh untuk memilihnya sendiri, maka akan terjadi kekacauan.


Contohnya kita dapat melihat pada fenomena kaum LGBT. Di Amerika sendiri, sedari kecil anak-anak sudah diberi kebebasan untuk dapat memilih identitas jati dirinya. Padahal semenjak dalam kandungan, manusia sudah jelas apa jenis kelaminnya (laki-laki atau perempuan). Ironisnya, hari ini kita menemukan adanya ratusan jenis gender yang dapat dipilih, dan tidak selalu sesuai dengan jenis kelamin yang dimilikinya.


Oleh karena itu kita perlu belajar tentang apa itu higher calling / panggilan tertinggi dari Tuhan bagi setiap kita. Karena masalah terbesar yang dimiliki manusia adalah dia tidak tahu tentang siapa dirinya, dan seberapa besar panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Mengapa Tuhan sampai mau menebus dosa umat manusia, dan mengapa Kristus menyelesaikan karya-Nya di atas kayu salib.


ā€œMaka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.ā€ (Kejadian 1:27).


Setiap dari kita telah dicipta segambar dan serupa dengan Dia. Kalau kita tidak dapat memahami hal tersebut maka kita akan memuaskan diri kita dengan hal yang remeh dan sementara, yang ada di dalam dunia ini. Tetapi kalau kita dapat mengetahui siapa jati diri kita, dan mengapa Yesus sampai mau menebus diri kita dengan darah-Nya yang mahal.. maka kita akan tahu bahwa kita tidak boleh menjalani hidup ini dengan sembarangan.


Dipanggil menjadi Mempelai Kristus.


Gereja Tuhan semenjak semula sudah ditetapkan untuk menjadi mempelai Kristus. Di dalam kitab Kejadian, Allah telah berfirman:


ā€œSebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.ā€ (2:24).

Rasul Paulus juga menegaskan,


ā€œSebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.ā€ (Efesus 5:31-32).


Rahasia Besar.


Kesatuan suami istri yang ditetapkan sejak penciptaan telah menggambarkan rencana puncak Allah untuk menyatukan segala sesuatu di bawah kaki Kristus.


ā€œSebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.ā€ (Efesus 1:9-10).


Rencana puncak Allah adalah surga dan bumi bersatu, yakni langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1-2). Kita diselamatkan, ditebus dengan darah-Nya yang mahal, dianugerahkan Roh Kudus supaya kita dapat bersiap diri untuk menyambut hal itu.


Dari semula, Allah adalah Pribadi yang berkomunitas. Di dalam Kejadian 1:26 saat Dia menciptakan manusia, ada kesatuan yang sangat intim dan karib. Sehingga itulah sebabnya dibuat kesatuan suami dan istri (ayat 27).


Allah ingin bersama dan memiliki hubungan karib dengan setiap kita. Pada saat membaca Alkitab, kita mendapati kenyataan bahwa Dia adalah Allah yang Mahakuasa tetapi juga mau ā€œmerepotkan diri-Nyaā€ dengan berbagai permasalahan manusia.


Dia suka sama kita, sekalipun tidak banyak yang menyukai diri kita sendiri. Sehingga pada akhirnya, manusia menyibukkan diri untuk melakukan banyak hal yang dapat memuaskan dirinya.


Dia ingin tinggal bersama dengan kita, dan karena itulah surga dan bumi nantinya akan dipersatukan dengan Kristus sebagai Kepala. Karena itulah kita tidak hanya mati masuk surga saja, tetapi akan ada penyatuan surga dan bumi. Tubuh jasmani kita juga akan diubah menjadi tubuh surgawi, karena surga dan bumi nantinya akan dipersatukan.


Pernikahan adalah gambaran dari kerinduan Allah yang ingin bersatu dengan setiap kita. Hal ini diungkap dari doa yang dinaikkan Yesus,


ā€œDan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.ā€ (Yohanes 17:20-21).


Dan juga,


ā€œLihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.ā€ (Wahyu 21:3-4).


Sering kali kita menyibukkan diri pada saat mau dekat dengan Dia. Pastinya, dorongan itu ada agar kita dapat membangun hubungan yang lebih serius dan lebih karib lagi bersama dengan Dia.


Hubungan kita dengan Allah adalah hubungan ikat janji yang bersifat organik, bukan transaksional seperti penyembahan berhala.


Banyak dari kita yang suka dengan hubungan transaksional. Kita melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan, dan sebagai gantinya, kita merasa bahwa Tuhan harus melakukan apa yang kita mau untuk Dia lakukan. Kenyataannya, hubungan dengan Tuhan tidak bisa dan tidak boleh dirumuskan seperti itu.


Misalnya. Anak pertama kita melakukan sesuatu, dan kita memberinya uang saku lebih. Terus kita berkata pada adiknya dan memberi tips mengenai lima cara yang harus dilakukan, agar mendapat uang saku lebih, sama seperti kakaknya. Maka ketika adiknya melakukan lima cara tersebut, kita akan merasa aneh dan kesannya terpaksa, karena adiknya melakukan sesuai dengan rumus tersebut.


Ketika kita mengenal Tuhan lebih dalam, maka ada hubungan aktif yang terbangun dua arah. Kita menyampaikan apa yang menjadi permohonan doa, dan kita mendengar serta melakukan setiap perintah-Nya. Hubungan karib ini harus terus dijaga, dan dilakukan dengan serius. Baik itu di dalam hubungan Saat Teduh kita, bergereja dan berkelompok sel, melayani Tuhan.. berikan terbaik yang dapat kita berikan kepada Dia.


Totalitas Kasih Kristus.


ā€œHai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginyaā€ (Efesus 5:25).

Ditulis dari berbagai sumber, ada tradisi unik menculik perempuan yang hendak dinikahi di Lombok, yang dikenal dengan nama Merariq (atau kawin lari). Tradisi ini merupakan ritual sakral dari Suku Sasak di mana pihak pria membawa lari sang gadis ke rumah kerabatnya untuk menghindari restu yang dipersulit atau sebagai langkah awal dari pernikahan adat.


Praktik ini bukanlah penculikan kriminal, melainkan prosesi budaya dengan aturan yang ketat. Berikut adalah tahapan penting dalam tradisi Merariq bagi Masyarakat Sasak:


Tahap Memaling (Menculik): Pria membawa lari perempuan secara diam-diam dan menyembunyikannya di rumah kerabat pria atau kepala adat.


Tahap Selabar: Pihak keluarga pria mengirim utusan untuk memberi tahu keluarga perempuan bahwa putri mereka telah ā€œdiculikā€ untuk dinikahi.


Tahap Sorong Serah Aji Krame: Prosesi musyawarah antar keluarga untuk menentukan mahar (boras) dan sanksi adat jika ada proses yang melanggar aturan.


Dalam budaya setempat, langkah ini sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dan keberanian laki-laki. Walau begitu, aturan dan tata krama dalam adat ini terus mengalami penyesuaian agar lebih harmonis dan disesuaikan dengan norma hukum modern.


Untuk mendapatkan mempelai-Nya, Kristus menyerahkan nyawa-Nya.


Firman Tuhan mengatakan,


ā€œSebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.ā€ (1 Petrus 1:18-19).


Kita perlu berhenti sejenak dan merenung mengapa Kristus sampai melakukan hal tersebut bagi setiap kita. Semuanya dengan tujuan agar kita ini mengetahui siapa diri kita di hadapan-Nya. Allah yang hanya dengan cukup berfirman, maka jadilah semua ciptaan dari alam semesta. Pribadi ini, adalah Pribadi sama yang telah menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita.


Banyak orang berpikir kalau kita hanya sekadar objek dari kasih Allah, tetapi kita ini harus tahu siapa diri kita di hadapan-Nya.


Sadarilah nilai diri kita yang sebenarnya. Hiduplah selaras dan sepadan dengan nilai tersebut.


Semakin besar cintanya, semakin besar dirinya menghargai perempuan yang akan dinikahinya.. maka semakin mahal pula mahar yang akan dibayarnya. Kristus telah memberikan nyawa-Nya, karena Dia sangat menyayangi setiap kita.


ā€œSebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?


Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?


Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ā€œOleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.ā€ Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.ā€ (Roma 8:31-39).


Dalam bahasa aslinya, kata ā€œorang-orang yang menangā€ di ayat 37 memakai kata conquerors / para penakluk.


Tuhan Yesus menguasai segalanya, Dia adalah Pemilik dari Kerajaan Allah yang tidak terguncangkan. Kita bisa saja mengalami berbagai kesulitan di dalam dunia ini, tetapi kalau kita tahu kita ini siapa dan menyadari kasih Kristus yang total mengasihi hidup kita.. maka kita tidak akan menjadi terlalu kuatir karena kita tahu, kita tidak akan pernah ditinggalkan. Kita tahu bahwa kita hidup bersama dengan Kristus, yang memiliki Kerajaan Allah yang tidak terguncangkan.


Tuhan Yesus telah menebus dosa kita dengan darah-Nya yang mahal. Dalam sakramen baptisan air, kita telah dicelupkan, dan direndam dalam komunitas Allah Tritunggal. Kita dimeteraikan di dalam fellowship / persekutuan dari Tritunggal. Kita tidak akan pernah ditinggalkan sendirian, dan diberi jaminan bahwa di dalam Yesus..


ā€œKarena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah ā€œyaā€ dan ā€œtidakā€, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ā€œyaā€. Sebab Kristus adalah ā€œyaā€ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ā€œAminā€ untuk memuliakan Allah.ā€ (2 Korintus 1:19-20).


Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari-hari ke depan. Tetapi Tuhan pasti akan memelihara hidup kita. Dia pasti akan memberkati dan memampukan setiap kita untuk dapat melewati berbagai musim kehidupan, dengan kemenangan dari-Nya.


Karena itu jadilah kuat, karena kita ini adalah mempelai Kristus. Terimalah kebenaran ini, dan hiduplah selaras dengan nilai siapa diri kita.


Kalau kita hidup di luar panggilan Allah, maka kita akan hidup dengan cara dunia. Memang selama kita hidup di dalam dunia ini, kita tetap harus bekerja dengan keras. Tetapi kita melakukannya dengan tidak kuatir dan tetap tenang. Mengapa?


Karena setiap kita pasti dipelihara oleh-Nya. Firman-Nya sendiri menjanjikan,


ā€œTUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.ā€ (Mazmur 23).


Setiap disiplin pasti ada proses pengulangannya, dan proses itu akan terus berulang sampai hal itu menyatu dan kita terbiasa dengannya. Karena itu ketika pengetahuan firman Tuhan sudah masuk dan menyatu di dalam hati, maka hal ini sebagai akibat dari adanya proses pengulangan.


Aplikasi praktisnya adalah ketika kita bangun dari tempat tidur, hal apakah yang pertama kali akan kita lakukan? Apakah kita membaca kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab terlebih dahulu? Atau kita terburu-buru membuka HP kita?


Marilah mencoba untuk membaca berulang Mazmur 23 sampai hal itu menjadi sikap mental. Setiap dari kita pasti akan mengalami pemeliharaan dari Tuhan, di dalam hidup keseharian.


Gereja yang Kudus, Tak Bercacat Cela.


ā€œuntuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.ā€ (Efesus 5:26-27).


Pengudusan kita adalah karya Kristus. Bagian kita adalah percaya, selalu siap bertobat, dan bekerja sama dengan Dia di dalam prosesnya.


Kita tidak akan bisa menguduskan diri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, bagian kita hanyalah berserah dan mau bekerja sama untuk dikuduskan dengan tujuan agar kita dapat hidup di dalam kekudusan-Nya.


Karena itu kita harus memiliki gagasan yang benar untuk hidup kudus. Setiap dari kita bisa dimampukan untuk menjalani hidup yang kudus, minimal lebih baik dari tahun yang lalu.


Bila Tuhan yang mengerjakannya, dan kita mau bekerja sama dengan Dia, maka semuanya dapat terjadi bila kita tidak menolak proses dari Dia.


Lalu, kapan sempurnanya? Nanti setelah kita bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan surga. Kalau kita sudah sempurna, maka kita tidak lagi memerlukan proses di dalam hidup ini.


Bagaimana caranya untuk hidup kudus? Tinggalkan gaya hidup yang lama, hidup dalam pertobatan dan ubahlah jalan pikiran kita yang selama ini tidak sesuai dengan kebenaran firman-Nya. Jangan menyerah. Kita juga dapat mencari apa alasannya mengapa ada di beberapa area kita ā€œjatuh bangunā€ di dalam dosa, dan mulai memperbaikinya.


Tuhan Yesus sudah menyerahkan yang terbaik di dalam hidup-Nya agar setiap dari kita bisa hidup di dalam kekudusan. Kalau kita mau tinggal dalam higher calling / penggilan tertinggi, maka hiduplah sebagai mempelai Kristus, mengetahui dan menyadari siapa jati diri kita yang sebenarnya, di hadapan-Nya. Jangan lagi hidup diperbudak dosa.


Karena itu percayalah bahwa kita bisa dikuduskan dan dimampukan utntuk hidup kudus, mau bertobat dan dimuridkan, menjalani disiplin rohani. Perkatakan firman secara berulang di dalam hidup sampai menjadi sikap mental kita. Jangan pernah menyerah untuk berubah menjadi lebih baik, terus maju, dan menjalani higher calling kita.


Sebagai mempelai-Nya, seluruh hidup kita dimiliki dan dikuduskan oleh-Nya, termasuk sejarah kelam kita di masa lalu.


ā€œEngkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.ā€ (Mazmur 10:14).


Setiap dari kita pastinya memiliki trauma di dalam kehidupan. Demikian pula dengan Bp. Pdt. Agus yang menceritakan beberapa kisah trauma dan juga pergumulan di dalam hidupnya. Tetapi dari ayat di atas kita dapat belajar bahwa Tuhan itu mau mengambil semua trauma dan kesusahan tersebut. Dia juga mau mengolahnya untuk menjadi sesuatu yang bernilai kekal di dalam hidup kita.


ā€œIsai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,ā€ (Matius 1:6).


Ayat di atas memiliki judul perikop silsilah Yesus Kristus, di mana Yesus sendiri lahir dari garis keturunan raja Daud dan istri Uria. Di hadapan Tuhan, dosa Daud tetap ditulis. Tetapi Tuhan membuatnya seperti sebuah kisah, diolah menjadi sesuatu yang bernilai kekal, yang dapat dipelajari bersama oleh para pembacanya.


Hari ini Pdt. Agus percaya pada waktu dirinya mengizinkan Tuhan mengambil semua kisah di hidupnya, semua diubah menjadi kisah-Nya..


My story become His Story. Kisah di dalam hidupnya menjadi kisah-Nya Tuhan.

Penebusan Kristus sempurna dan bersifat mutlak. Tidak ada pengalaman yang sia-sia di dalam kehidupan, bila kita mengizinkan Tuhan mengambilnya dan dijadikan His-Story / kisah-Nya dan menjadi sejarah / history. Semua gabungan kisah yang penuh trauma, disiram dengan kasih karunia-Nya. Ini adalah alasan mengapa hidup kita selalu dikuduskan dan disempurnakan-Nya.


Siap Menyambut Kedatangan Kristus.


ā€œMarilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.ā€ (Wahyu 19:7).


Sebagai mempelai Kristus, hidup ini adalah sebuah penantian penuh harap terhadap kedatangan-Nya.


ā€œJanganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.ā€ (Yohanes 14:1-3).


Ditulis dari berbagai sumber, pada zaman Yesus tradisi pernikahan Yahudi memiliki beberapa tahapan yang sangat kaya akan makna budaya dan rohani, termasuk kebiasaan di mana mempelai pria akan kembali ke rumah ayahnya untuk mempersiapkan kamar.


Berikut adalah penjelasan mengenai tahapan tradisi tersebut:


Pertunangan (Kiddushin): Ikatan resmi yang mengikat kedua belah pihak secara hukum. Meskipun sudah resmi menjadi suami-istri, pasangan belum tinggal bersama dan belum melakukan hubungan intim.


Persiapan Tempat (Chuppah/Kamar Pengantin): Mempelai pria akan pulang ke rumah ayahnya. Selama masa pemisahan (biasanya satu tahun), ia akan membangun atau menyiapkan ruangan / kamar tambahan di rumah keluarganya untuk ditinggali bersama istrinya.


Penjemputan Mempelai Wanita: Setelah kamar tersebut selesai dan sang ayah memberikan restu, mempelai pria akan datang menjemput mempelai wanita pada malam hari.


Tradisi ini sering kali dipakai oleh Yesus sebagai perumpamaan atau metafora yang indah mengenai hubungan-Nya dengan gereja-Nya.


ā€œTetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.ā€ (Matius 24:36).

Yesus pun demikian, hanya Bapa yang tahu kapan saatnya Yesus datang kedua kalinya untuk menjemput mempelai-Nya. Dia dapat menjemput kapan pun, jadi kita sendiri harus siap sedia, karena tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.


Karena itu kita tidak boleh kehilangan harapan. Sebab bila kita kehilangan, kita akan hidup dengan tidak memiliki arah dan juga kepastian.


ā€œSiapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.ā€ (Matius 24:45-51).


Biarlah setiap dari kita menjadi hamba-hambaNya yang setia dan juga bijaksana, yang didapati tetap melakukan tugas kita pada saat Dia datang dan menjemput setiap kita. Amin.


Hari pernikahan Anak Domba semakin dekat. Mari bersiap dan berjaga-jaga. Berjalanlah di dalam kebenaran dan kekudusan, sambil terus melakukan kehendak-Nya.


Sadarilah siapa jati diri kita di hadapan-Nya dan betapa hebat serta luar biasa kasih-Nya bagi setiap kita. Jangan lagi hidup dengan sembarangan dan mendukakan hati-Nya. Setiap dari kita itu berharga di hadapan Tuhan, hidupi setiap nilai yang ada di dalam kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab, sambil terus berharap Kristus akan kembali menjemput kita mempelai-Nya.


Kalau kita hanya bersenang-senang dengan dunia, maka kita tidak akan pernah siap untuk menyambut-Nya. Sebelum Dia datang, marilah mempersiapkan hati dan hidup kita.


Sadarilah bahwa setiap dari kita adalah mempelai Kristus yang kudus dan tak bercacat, setiap dari kita itu dikasihi, dijaga, dan didampingi. Teruslah mendekat pada Tuhan, dan jangan pernah tinggalkan kasih kita yang mula-mula pada Dia.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Komentar


bottom of page