Samiton Pangellah - Jesus is Lord
- mdcsbysystem
- 4 Jan
- 9 menit membaca
Catatan Khotbah: āJesus is Lord.ā Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Samiton Pangellah di Ibadah Natal di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 25 Desember 2025.

Frasa āJesus is Lord / Yesus adalah Tuhanā berbicara tentang Yesus yang seharusnya menjadi Pemimpin, Penguasa, dan juga seorang Raja yang memerintah di dalam hidup kita. Tetapi hari-hari ini kita mendapati bahwa konteks kepemimpinan tidak jelas, dan mulai menjadi kabur.
Contohnya. Kepemimpinan di kantor dirasa hanya dapat dinilai dari kita bekerja di tempat tersebut sudah berapa lama, bagaimana suasananya apakah mendukung hidup kita atau tidak. Kalau misal pemimpinnya bersikap baik dan membuat kita nyaman, maka kita akan menghormati dan menaatinya sebagai seorang pemimpin yang baik dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya kalau hubungan kita dengan dia kurang baik, maka hubungan kita hanya berjalan basa-basi saja.
Secara natur manusia, kita tidak biasa bahkan tidak suka untuk dipimpin. Kita cenderung ingin untuk menentukan dan mengendalikan semuanya.
Mengapa Natal penting dirayakan?
Kehidupan Yesus saat berada di dalam dunia ini bermula dari kelahirannya di Betlehem, mati disalib untuk menebus dosa umat manusia di atas bukit Golgota, dan bangkit dari kematian pada hari yang ketiga. Melalui kehidupan-Nya, momen Natal sangatlah penting karena Bapa sendiri menunggu selama berabad-abad lamanya dan melalui kehadiran Yesus di dunia ini, Bapa telah menggenapi janji yang sudah disampaikan melalui hamba-hambaNya, jauh sebelum Yesus lahir.
āAku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.ā (Kejadian 3:15).
Ini adalah berita Injil yang pertama sejak manusia pertama yakni Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa. Ketika mereka berdua mengalami keterpisahan dengan Allah, Dia tidak meninggalkan mereka berdua sendirian di dalam menanggung dosa-dosanya tetapi memberikan sebuah janji bahwa dari keturunan mereka berdua nantinya, akan lahir Yesus yang akan meremukkan kepala dari ular / Iblis tersebut.
Mengapa Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa?
Apakah karena ada natur / kecenderungan sifat manusia untuk jatuh ke dalam dosa? Apakah mereka memberontak, sehingga mengalami keterpisahan dengan Dia? Selain itu, apakah mereka berdua baru pertama kalinya dicobai?
Ada kemungkinan bahwa hal ini bukanlah pencobaan mereka yang pertama kali, sebab Iblis pastinya akan berusaha berulang kali untuk menjatuhkan mereka. Tetapi apa permasalahan sesungguhnya, yang membuat manusia pertama melakukan pelanggaran terhadap-Nya?
Memilih Percaya dan Mengasihi Allah.
āBerfirmanlah Allah: āBaiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.ā Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.ā (Kejadian 1:26-27).
Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sedangkan hewan dan tumbuhan tidak. Setiap dari kita diciptakan dengan kemampuan untuk bisa memilih, dan di antara semua pilihan yang ada, yang paling kompleks adalah pilihan untuk: Percaya dan Mengasihi Dia.
Kata āPercayaā berbicara tentang keputusan kita untuk mempercayai Allah, sebagai Pribadi yang pasti tidak memiliki kesalahan. Dia pasti akan memberikan yang terbaik, sebab Dia jauh lebih tahu dari kita. Tetapi permasalahannya adalah,
āBerapa banyak dari antara kita yang sudah tidak lagi mau untuk mempercayai Dia?ā
Kita lebih memilih untuk percaya pada hikmat dan kepintaran kita sendiri, padahal kita dicipta sebagai satu-satunya makhluk yang di mana Allah mau membangun hubungan karib, yang di dalamnya terdapat unsur kasih dan juga rasa percaya.
Allah tidak menciptakan Adam dan Hawa, dan kita juga tentunya, sebagai robot yang mengasihi dan percaya kepada-Nya dengan terpaksa. Dia mau agar kita memilih untuk percaya pada Dia, karena Dia memang layak untuk dipercayai dan dikasihi. Kita memilih untuk percaya pada-Nya, karena Dia masih percaya dan mengasihi setiap kita.
Karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27), maka manusia memiliki kebebasan untuk dapat memilih dan memutuskan untuk tidak percaya pada Dia.
Adam sendiri pastinya sedang berproses untuk dapat mengenal Pribadi Allah lebih karib, dan karena itulah terbuka kesempatan yang sangat lebar bagi Adam untuk melakukan banyak kesalahan di dalam proses memilih.
āKetika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.ā (Kejadian 3:8).
Setelah memakan buah tersebut, seharusnya Adam dan Hawa tidak takut dan tidak bersembunyi di antara pohon-pohonan dalam taman. Di ayat selanjutnya dikatakan pada kita bahwa,
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: āDi manakah engkau?ā (ayat 9).
Hal ini memberitahu bahwa Allah sedang mencari Adam dan Hawa karena koneksi / hubungan mereka dengan Dia sedang terputus.
Seandainya mereka berdua berani untuk mengakui di hadapan-Nya dan tidak merasa takut, Tuhan pasti memberikan jalan keluar. Tetapi kita membaca di ayat di atas, mereka berdua tidak menghampiri dan mendekat pada Allah tetapi lebih percaya tipu daya ular. Adam dan Hawa lebih memilih untuk percaya pada apa yang ular tanamkan dalam hidup mereka, yakni karena mereka sudah melanggar perintah Allah, mereka harus merasa takut dan pergi menjauh / bersembunyi dari hadapan-Nya.
āMaka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.ā (ayat 7).
Ayat di atas seolah mereka berdua membangun dinding pemisah antara Allah dengan mereka, dan memilih untuk tidak mempercayai-Nya.
Untuk membangun sebuah kepercayaan, dibutuhkan hubungan yang terus dibangun dan juga dengan berjalannya waktu. Demikian pula dengan Adam dan Hawa, yang bisa jadi masih belum memilih dan membutuhkan waktu untuk dapat percaya 100 persen pada Allah, yang menciptakan dan memelihara hidup mereka.
Itulah sebabnya Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia, dan hari ini kita sedang merayakan kelahiran-Nya melalui momen Natal.
Dua Misi Bapa pada Yesus.
Bapa memberi dua misi pada Yesus,
Misi Pertama. Menjadi Korban Pendamaian. Misi Kedua. Menjadi Anak Sulung yang percaya dan tetap mengasihi Bapa, apa pun keadaannya.
Misi Pertama. Menjadi Korban Pendamaian.
Hal ini berbicara tentang Yesus yang tidak salah, tetapi Dia dikorbankan sebagai penebusan dosa umat manusia. Yang terhilang dapat ditemukan, yang berseteru dapat diperdamaikan. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan,
āSebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.ā (Yesaya 9:5).
Yesus adalah Raja Damai, dan Dia harus lahir ke dalam dunia ini dalam rupa seorang manusia 100 persen, menjadi manusia yang bisa mengalami kematian. Mengapa? Karena hanya dengan cara itulah setiap dosa dan pelanggaran yang kita lakukan, dapat ditebus oleh-Nya.
Karena itulah masalah kita yang sesungguhnya bukan hanya dosa yang membuat kita menjadi kacau dan rusak, tetapi lebih karena keterpisahan kita dengan Bapa. Dengan kematian Yesus di atas kayu salib, setiap kita diperdamaikan dan kita bisa memanggil Dia dengan panggilan Bapa.
āSebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: āya Abba, ya Bapa!ā Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.ā (Roma 8:15-16).
Masih ingatkah kita dengan perkataan Tuhan Yesus pada salah seorang penjahat di sisi salib-Nya?
āKata Yesus kepadanya: āAku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.āā (Lukas 23:43).
Kalau Dia sudah membuka pintu pengampunan-Nya bagi penjahat tersebut, maka percayalah bahwa Dia juga sudah membuka pintu pengampunan-Nya bagi kita melalui kematian Putra-Nya,
āSebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.ā (Roma 5:10-11).
Misi Kedua. Menjadi Anak Sulung yang percaya dan tetap mengasihi Bapa, apa pun keadaannya.
Kata āsulungā hari-hari ini sudah jarang dipakai di dalam perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Kata ini memiliki arti menjadi sebuah model, yang pertama kali, serta menjadi kepala / pemimpin.
Dalam hal ini Yesus datang ke dalam dunia bukan untuk memamerkan kuasa yang Dia miliki dan juga kehendak-Nya, tetapi menunjukkan keputusan Dia yang tetap percaya dan mengasihi Bapa, apa pun keadaan-Nya. Dia menjadi model panutan untuk dapat kita ikuti, jejak keteladanan-Nya.
āKristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.ā (Roma 3:25a).
Semenjak kapan Yesus ditentukan menjadi jalan pendamaian? Pastinya sebelum Adam dan Hawa diciptakan. Bapa sudah memikirkan jauh ke depan karena manusia ini dicipta segambar dan serupa dengan Dia, maka besar kemungkinannya pada suatu hari kelak, manusia dapat salah memilih.
Dia tidak panik. Dia sudah menyediakan āObat-Nyaā jauh-jauh hari yakni Tuhan Yesus yang diberikan untuk penebusan dosa umat manusia. Dia telah ditetapkan sejak semula untuk menerima hukuman mati, sebagai ganti kita manusia yang berdosa yang seharusnya menerima hukuman dari-Nya.
Karena itu, bukalah hati kita dan terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidup. Dia adalah Pemimpin yang tidak hanya sekadar ahli dalam berbicara saja tetapi juga menunjukkan dan melakukan, apa yang Dia sudah perkatakan.
Melalui keteladanan yang diberikan Yesus pada saat datang ke dalam dunia, di mana Dia memilih untuk tetap percaya dan mengasihi Bapa dalam keadaan apa pun.. mengajar kita untuk juga tetap percaya dan mengasihi Dia, walau keadaan yang kita alami hari-hari ini bisa jadi tidak mengenakkan.
Ketika kita sebagai seorang anak pernah mengalami sakit, maka obat yang harus kita minum bisa jadi ada yang rasanya tidak enak. Tetapi bagaimanapun juga, rasa sakit dan obat yang tidak enak itu tetap adalah proses pembelajaran yang harus kita lalui. Kedua orang tua kita pada saat memberi kita obat, mereka melakukannya pasti karena mereka menyayangi dan menginginkan kita sembuh dari rasa sakit yang saat itu sedang kita alami.
Dalam segala perkara, Tuhan sedang membangun hubungan dengan kita agar apa pun keadaannya, kita tetap memilih untuk mengasihi dan percaya kepada-Nya. Saat keadaan diizinkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, jangan-jangan Tuhan sedang melatih setiap kita untuk tetap mempercayai dan menyayangi Dia.
āMaka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: āYa Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.āā (Matius 26:39).
Melalui ayat di atas, Yesus mencoba bernegosiasi dengan Bapa agar Diri-Nya tidak harus melalui momen penderitaan Salib. Tetapi kita dapat membaca ayat di atas, Yesus memilih untuk tetap percaya pada Bapa-Nya. Dia memilih untuk tetap naik ke Golgota dan menjalani momen penebusan dosa bagi umat manusia, serta percaya bahwa pada hari yang ketiga, Bapa akan membangkitkan Dia dari kematian. Yesus percaya bahwa Bapa-Nya pasti akan memberi yang terbaik bagi Diri-Nya.
Sekalipun keadaannya tidak mudah, Yesus memilih untuk tetap belajar mengasihi Bapa-Nya. Dia melakukan kehendak Bapa dengan menjadi Hamba dan Alat untuk menggenapi kehendak-Nya.
Jesus is Lord. Yesus adalah Tuhan.
Secara teori, sangat mudah untuk mengucapkannya. Tetapi berapa banyak dari kita yang memutuskan untuk tetap percaya pada Dia, apa pun keadaan yang sedang kita alami pada hari-hari ini?
Kata Sulung berbicara tentang..
Yesus adalah Nomor Satu.
Apa pun keadaan kita, tetaplah menomorsatukan Yesus. Kalau ada situasi dan keadaan yang membuat Yesus menjadi nomor dua, jangan diambil, bahkan ketika kita mengalami penderitaan sekalipun. Memang hal ini tidaklah mudah, tetapi Tuhan akan menolong setiap kita dengan memberikan kasih dan juga hikmat-Nya agar kita dapat percaya sepenuhnya kepada-Nya.. mempercayai bahwa Dia pasti memiliki rencana yang jauh lebih baik, dari segala rencana terbaik yang kita miliki.
Yesus adalah Kepala.
Belajarlah untuk jangan mencurigai Dia. Dengan berjalannya waktu kita dapat belajar,
āBukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.ā (Yohanes 15:16).
Percayalah bahwa hidup kita berada di dalam kendali terbaik-Nya. Jangan pernah keluar dari rencana yang sudah ditetapkan-Nya, bagi kita.
Yesus adalah Pemimpin.
Jadikan Dia sebagai Pemimpin dan Nakhoda, yang harus diikuti kemanapun Dia memberikan arahan. Sering kali pada waktu bangun pagi, kita hanya meminta berkat-berkat dari Dia saja. Begitu kita membuka mata pertama kali setelah bangun dari tidur, kita sepertinya sedang meminta gajian dari Dia. Cobalah kita membayangkan,
Kalau kita seorang pemimpin dan bertemu dengan karyawan A yang selalu meminta gajinya. Tetapi ada karyawan B yang selalu bertanya hari ini ada tugas dan proyek apa. Karyawan B hanya bertanya apa tugas yang harus dirinya selesaikan..
Maka, karyawan mana yang kita sukai?
Pastinya kita lebih memilih untuk memiliki karyawan B, karena tahu ketika tugas tersebut sudah berhasil diselesaikannya, maka gaji pasti akan diberikan oleh pemimpinnya sesuai dengan kinerja yang sudah ditunjukkannya.
Banyak gereja Tuhan sudah tidak lagi mempercayai Dia sebagai seorang Pemimpin dan menjadikan Dia hanya sebagai Pesuruh, yang harus melakukan apa yang diminta dan didoakan selama ini.
Banyak dari kita yang berdoa,
āTuhan, gerakkan dan kirimkanlah banyak jiwa supaya dapat memenuhi kursi yang masih kosong, yang sudah tersedia di dalam gedung gereja.ā
Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah,
āSiapa yang mengutus siapa?ā
Firman Tuhan mengatakan,
āKarena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.ā (Matius 28:19-20).
Yesus adalah Penguasa dan Raja.
Zaman sekarang memiliki banyak pilihan, dan kita tidak mau menjadi seseorang yang sepertinya tidak memiliki kendali atas apa pun. Tetapi yang menjadi perenungan bagi setiap kita adalah,
āApakah kita tetap mau untuk lebih memercayai dan mengasihi Tuhan, apa pun keadaan kita, bahkan termasuk pada saat kita diizinkan tidak memiliki kendali atas segala sesuatu?ā
Sikap untuk tetap percaya dan mengasihi Tuhan hanya dapat dibangun bila kita terus membangun hubungan yang karib bersama dengan Tuhan dalam doa dan pembacaan firman-Nya, di setiap hari. Mengalami Pribadi Tuhan dalam keseharian di hidup kita, hari lepas hari. Sama seperti yang didoakan Tuhan Yesus di taman Getsemani,
ā..tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.ā (Matius 26:39).
Milikilah sikap,
āKalau aku tidak mengerti, ajarlah aku ya Tuhan. Kalau aku tidak sanggup, latihlah aku. Dan kalau aku bandel, tolong dan didiklah aku agar dapat menjadi umat yang selalu mengandalkan Tuhan.ā
Amin. Tuhan Yesus memberkati..



Komentar