Hedwin Kadrianto - Stress Management & Spiritual Resilience
- 20 jam yang lalu
- 11 menit membaca
Catatan Khotbah: āStress Management & Spiritual Resilience.ā
Ditulis ulang dari sharing Pdm. drg. Hedwin Kadrianto, Sp.PM. di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 12 Juli 2026.
Hari-hari ini kita menjumpai tidak sedikit orang yang mudah emosi dan kehilangan kendali di dalam hidupnya. Bagaimanapun juga, yang namanya kehidupan tidak akan dapat lepas dari apa yang namanya stres dan tekanan. Bahkan ada ungkapan yang mungkin kita pernah mendengar karena ada video yang sedang viral di media sosial,
āPaling susah itu menjadi seorang Kristen, bukan di dalam gereja tetapi di jalan raya.ā
Begitu mudahnya seseorang itu ter-trigger / terpancing emosinya, padahal segala sesuatu masih bisa dihadapi dengan kepala dingin.
Bahkan ada yang merasa karena tekanan di dalam hidupnya begitu berat, ada yang sampai memutuskan untuk mengakhiri jalan hidupnya. Ada juga orang-orang yang merasa hidupnya dikecewakan Tuhan karena permohonan doanya tidak dikabulkan sesuai dengan waktu dan kehendaknya, lalu dirinya mengalami kepahitan, dan meninggalkan iman yang selama ini dibangun di hidupnya. Mereka menganggap Tuhan sudah tidak ada lagi, karena di masa sulit, mereka merasa Tuhan sudah meninggalkan dirinya.
Walau banyak masalah yang sedang dihadapi, kita sebenarnya masih memiliki pilihan untuk menghadapinya dengan kepala dingin, tetap percaya pada Tuhan, memiliki resilience / daya juang.. sembari tetap mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, pasti diizinkan atas kehendak Tuhan.


Visual Analogue Scale: adalah instrumen pengukur subjektif berupa garis lurus sepanjang 10 cm atau 100 mm yang digunakan untuk menilai intensitas rasa nyeri atau sensasi fisik lainnya (seperti kelelahan atau mual). Ujung kiri garis biasanya memiliki arti ātidak ada rasa nyeriā, sedangkan di bagian ujung kanannya berarti ānyeri terburuk yang bisa dibayangkanā.
Tetapi setiap orang dibesarkan di dalam lingkungan yang tidak sama, sehingga mereka juga memiliki respon yang berbeda-beda. Trigger / pencetus masalahnya bisa saja sama, tetapi daya tahan setiap orang dalam menghadapinya tidak selalu sama.
Ada orang yang merasa nyeri di level lima, sudah tidak kuat dalam menghadapinya. Tetapi ada orang lainnya yang nyerinya sudah di level delapan atau sembilan, baru mereka mau berobat. Semakin kuat nyeri yang dirasa seseorang yang dapat diukur melalui instrumen di atas, maka dosis obat yang diberikan oleh dokter juga semakin kuat.
Hal ini juga berlaku di dalam stres / tekanan di dalam hidup. Kita bisa saja mendapatkan perlakuan yang sama, tetapi respon setiap orang itu berbeda pada saat menghadapinya. Ada juga seseorang yang suka / mudah melukai sesamanya, bisa jadi orang tersebut memiliki luka di dalam hidupnya.
Kita memang tidak dapat menghindari stres / tekanan yang bisa datang sewaktu-waktu, tetapi kita masih bisa berdoa dan meminta pada Tuhan agar Dia memberi hikmat dan kekuatan supaya kita tidak mudah terpancing, dan memiliki respon yang benar terhadap setiap hal yang terjadi di hidup kita.
Apa itu Stres?
Dari penelitian āStress in Health and Diseaseā yang dilakukan oleh Dr. Hans Selye, founder dari stress theory / teori stres, menyimpulkan..
Stres adalah respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan / kebutuhan.
Dalam ilmu perilaku, stres dianggap sebagai persepsi akan adanya ancaman yang menimbulkan ketidaknyamanan, kecemasan, ketegangan emosional, dan kesulitan dalam beradaptasi.
Berikut adalah skala keparahan stressor psikososial yang dimiliki oleh orang dewasa..

Di bawah ini juga mengenali apa gejala stres..

Apa itu Resilence?
Menurut Merriam-Webster Dictionary, kata resilence / daya tahan memiliki arti..
: an ability to recover from or adjust easily to misfortune or change / sebuah kemampuan untuk dapat pulih dari atau menyesuaikan diri dari ketidakberuntungan atau perubahan yang diizinkan terjadi di dalam kehidupan ini.
Selain itu kita juga dapat belajar akan apa arti kata dari Coping yang merupakan respon pikiran dan perilaku terhadap situasi yang penuh dengan tekanan / stressful, dengan tujuan untuk mengatasi / mengelola / mengendalikan tuntutan atau kebutuhan dari situasi tersebut.
Kemampuan coping yang sehat membantu meminimalkan dampak negatif dari situasi yang penuh tekanan dan menghadapi permasalahan, agar tidak semakin sulit untuk ditangani.
Karakteristik Coping (Mekanisme Koping) dan Resilence (Resiliensi).
Perbedaan Coping (Mekanisme Koping) dan Resilience (Resiliensi)
Karakteristik | Coping (Mekanisme Koping) | Resilience (Resiliensi) |
Definisi | Strategi atau tindakan nyata untuk mengelola stres saat ini. | Kemampuan mental untuk pulih dan beradaptasi dari krisis. |
Fokus Waktu | Jangka pendek (berorientasi pada situasi saat ini). | Jangka panjang (berorientasi pada masa depan dan pertumbuhan). |
Sifat Tindakan | Reaktif (merespons stresor yang sudah terjadi). | Proaktif dan akumulatif (hasil dari pembelajaran masa lalu). |
Bentuk | Bisa positif (olahraga) atau negatif (menghindar). | Selalu bersifat positif dan adaptif. |
Tujuan Akhir | Mengurangi rasa sakit atau tekanan emosional segera. | Kembali ke fungsi normal atau menjadi lebih kuat dari sebelum krisis. |
Semuanya ini mengajar kita untuk dapat menjadi lebih tabah dan tangguh, setiap kita juga dapat dimampukan Tuhan untuk menjadi saksi dan terang-Nya di manapun kita berada.
Pada saat kelahiran anak pertama dari drg. Hedwin bersama dengan istrinya, berat badan anaknya hanya mencapai 1,7 kg dan perawat memberi waktu hanya 6 jam saja untuk pemberian ASI. Selain itu, para perawat juga meminta kalau semisal sang Ibu berhalangan dalam memberikan ASI, maka donor ASI dapat diberikan dengan syarat sang Ibu donor baru saja melahirkan anaknya, dan waktunya diberi batas hanya dalam rentang 1-3 bulan saja.
Karena memiliki waktu yang sangat terbatas, drg. Hedwin segera mem-broadcast info tersebut di setiap grup whatsapp yang tersedia di handphone-nya. Dan karena syarat dari perawatnya juga sangat ketat, maka tidak ada seorang Ibu-pun yang dapat memenuhi syarat sebagai donor ASI.
Dua jam telah berlalu, drg. Hedwin hanya bisa berserah dan bersyukur pada Tuhan Yesus.
Tak lama kemudian, teman dari istrinya menelepon karena ingin menjenguk dan juga bertanya perihal apa saja yang dibutuhkan untuk keperluan dari anak bayi tersebut. Lalu drg. Hedwin meminta izin apakah kiranya berkenan bila teman dari istrinya menjadi donor ASI bagi anaknya, dan singkat cerita teman istrinya tersebut bersedia..
Di setiap stres dan tekanan hidup yang ada, Tuhan itu mengetahui setiap pergumulan hidup kita dan juga pertolongan-Nya selalu tepat waktu.
Pada suatu hari drg. Hedwin bersama dengan dokter muda yang baru belajar, mengadakan kunjungan ke rumah sakit. Salah satu dari dokter muda tersebut meminta waktu pada drg. Hedwin untuk menceritakan masalah yang sedang dipergumulkannya, tetapi tidak jadi, mengingat mendesaknya waktu untuk kunjungan.
Setelah selesai kunjungan, dokter muda tersebut tidak jadi menceritakan masalahnya dikarenakan banyak kisah dari para pasien yang dikunjunginya, yang ternyata memiliki masalah yang jauh lebih berat dari apa yang sedang dialaminya.
Stres dan tekanan terkadang diperlukan, tetapi bila kita merasa menjadi terlalu berat.. maka kita dapat memandangnya sebagai kesempatan bagi kita untuk dapat bertumbuh menjadi lebih tabah dan juga lebih tangguh dari waktu sebelumnya.
Stres yang dialami Rasul Paulus.
āSebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.ā (2 Korintus 4:16-18).
āKarena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.ā (2 Korintus 5:1-10).
Dari ayat di atas kita dapat belajar bahwa Rasul Paulus sendiri mengalami 3 kategori stres..
Pertama. Secara Fisik.
āSebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.ā (2 Korintus 4:16).
āApakah mereka pelayan Kristus? aku berkata seperti orang gila aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?ā (2 Korintus 11:23-29).
Kedua. Stres Emosional.
āSebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.ā (2 Korintus 1:8-9).
āAku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.ā (2:4).
āBahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.ā (7:5).
āJika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?ā (11:29).
Lalu banyak orang yang mempertanyakan kerasulan Paulus, adanya perpecahan di dalam jemaat, banyak orang menolak Injil Kristus diberitakan, dan bahkan pemberitaan Paulus juga dianggap sesat oleh orang-orang Yahudi.
Ketiga. Stressor Lingkungan (Environmental Stressors).
Sering berada di dalam penjara, mengalami bahaya maut, karam kapal, terkatung-katung di tengah lautan, bahaya banjir, bahaya penyamun, bahaya lingkungan (kota, padang gurun, tengah laut), kedinginan, dan banyak hal lainnya.
Bagaimanapun juga, selama hidup di dalam dunia kita masih bisa bertemu dengan apa yang namanya stres dan tekanan, dan kita tidak perlu denial / menyangkalnya. Kita memang mengakui, tetapi di saat yang sama, kita juga dapat memutuskan untuk tetap memiliki pengharapan hanya pada Allah.
Dari beratnya tiga kategori stres yang dialami oleh Rasul Paulus, kita dapat belajar tentang apa dan bagaimana rahasia dari resilience-nya..
Pertama. Diperbarui Sehari ke Sehari.
āSebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.ā (2 Korintus 4:16).
Jagalah keintiman relasi kita bersama dengan Tuhan di setiap harinya melalui Saat Teduh, pujian dan penyembahan, doa, serta menaikkan ucapan syukur di setiap harinya. Diperbarui minggu demi minggu melalui waktu Sabat / hari perhentian dan peribadatan yang dikhususkan untuk memuliakan Tuhan. Waktu ini juga bisa dijadikan momen untuk merenungkan kasih dan kebaikan Tuhan, serta dapat berkumpul bersama keluarga.
Diperbarui musim demi musim melalui retret doa pribadi maupun bersama. Firman-Nya berkata,
ātetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.ā (Yesaya 40:31).
Diperbarui di dalam komunitas melalui mengikuti kelompok sel secara rutin.
Kedua. Melihat stressor dengan perspektif Allah.
āSebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.ā (2 Korintus 4:17).
Paulus memandang semua stressor sebagai āpenderitaan ringan yang sekarang ini / sementaraā. Di dalam versi New International Version ditulis dengan kata: light and momentary troubles.
Mengapa penderitaan berat yang dialami Paulus itu dapat dilihat sebagai penderitaan yang ringan?
⢠Allah hadir di tengah penderitaan.
āTetapi jawab Tuhan kepadaku: āCukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.ā Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.ā (2 Korintus 12:9).
⢠Memiliki hasil akhir yakni,
āKita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.ā (Roma 8:28).
⢠Bila kita berhenti sejenak untuk merenung dan membandingkan dengan mereka yang mengalami penderitaan tanpa adanya kehadiran dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya.. maka kita dapat mengucap syukur karena penyertaan-Nya yang memampukan setiap kita untuk dapat melalui berbagai musim di dalam kehidupan ini.
⢠Setiap penderitaan yang diizinkan terjadi dapat membangun manusia batiniah kita, bertumbuh menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
āDan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.ā (Roma 5:3-5).
Di dalam setiap penderitaan yang diizinkan terjadi, yang paling penting adalah adanya kehadiran Allah di dalam hidup, serta komunitas rohani yang dapat menguatkan pertumbuhan iman kita.
Tetaplah memiliki intensional dan selalu mengusahakan hal-hal yang berada di atas.
Paulus menganggap penderitaan beratnya hanya ssbagai penderitaan ringan bukan karena badainya mendadak hilang, tetapi ada Yesus yang selalu beserta di dalam setiap badai. Level badainya bisa jadi tetap sama, tetapi dampaknya berkurang karena Dia selalu memberikan kekuatan.
Tuhan itu Mahajenius, Dia sanggup mengubah masalah terburuk menjadi sebuah kebaikan dan menjadi pelajaran berharga bagi setiap kita.
Ketiga. Mengingat / Berfokus hanya kepada Kekekalan Surga.
⢠Kita memiliki tempat kediaman kekal di Surga.
āKarena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.ā (2 Korintus 5:1).
⢠Paulus sendiri lebih suka menetap pada Tuhan.
ātetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.ā (5:8).
⢠Hidup adalah untuk Kristus..
āKarena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.ā (Filipi 1:21).
⢠Membuat hidup kita menjadi lebih sederhana.
Kalau kita memejamkan mata sejenak dan merenung tentang apa yang nantinya akan terjadi di dalam kekekalan, maka kita akan melihat bahwa apa yang berada di dalam dunia ini sudah tidak memiliki makna apa-apa dibanding dengan kemuliaan yang kita alami bersama-Nya.
Di dalam buku PA āKarakter Hidup Baruā yang ditulis Ir. Triawan Wicaksono, M.Div., di artikel tentang āKesederhanaanā, dituliskan..
āKesederhanaan adalah hidup dengan satu fokus saja yakni, hidup bagi Allah dan mengerjakan misi-Nya. Sama seperti Kristus sendiri yang di sepanjang hidup-Nya di dunia hanya berfokus pada satu hal, yakni misi Bapa-Nya..
Kata Yesus kepada mereka: āMakanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.ā (Yohanes 4:34).
Hal ini memiliki arti, apa pun yang kita lakukan, baik studi, bekerja, menikah, melayani, dll.. semestinya dilakukan dalam rangka untuk mengerjakan misi Allah. Kita mau belajar untuk memfokuskan diri pada hal-hal yang paling penting, dan mengabaikan hal-hal yang tidak penting.ā
Pada suatu hari kita akan berhadapan dengan Bapa yang duduk di takhta-Nya. Dengan wajah-Nya yang penuh kasih menatap kita dan Dia berkata,
āAnak-Ku, engkau memusingkan diri dengan banyak hal dan perkara tetapi yang terpenting adalah bagaimana engkau dapat hidup dengan mengasihi dan menyenangkan hati-Ku..ā
Ketika hidup kita berfokus pada Allah dan pada kekekalan Surga, maka hidup kita akan menjadi lebih sederhana. Karena itulah,
āNyatakanlah komitmen kita untuk terus diperbarui di setiap harinya, dan biarlah kasih beserta dengan kuasa-Nya memampukan setiap kita untuk dapat melihat penderitaan dari sudut pandang-Nya.ā
Dia selalu hadir untuk mengerjakan kebaikan dan melatih otot rohani, agar kita terus bertumbuh menjadi lebih kuat serta memuliakan nama-Nya.
Kita tidak berdaya dan sangat bergantung pada-Nya. Ketika datang pada Tuhan, maka Dia akan memberi kelegaan, damai sejahtera, dan kita dapat beristirahat serta tinggal tenang karena Allah Mahatahu, dan jauh lebih besar dari segalanya.
Dia masih sanggup untuk memberikan jalan keluar yang terbaik bagi setiap kita. Karena itu,
Tetaplah mengasihi dan mempercayai-Nya.
Kita dapat menjadi lebih kuat di dalam Tuhan, terus dimampukan untuk dapat menguatkan, menjadi berkat, serta menjalani sebuah kehidupan yang berdampak bagi sesama.
Amin. Tuhan Yesus memberkati..



Komentar